"Menikahimu adalah ibadah terpanjang yang pernah aku ikrarkan. Namun, mengapa kini aku merasa sedang menyembah kehampaan di rumah yang tak lagi bertuan?"
Sepuluh tahun lamanya, Hana percaya bahwa kesetiaan adalah fondasi tunggal yang akan menjaga atap rumah tangganya tetap kokoh. Ia telah memberikan segalanya—masa mudanya, impian-impiannya, hingga seluruh napasnya hanya untuk melayani Aris, suaminya. Bagi Hana, rumah mereka adalah "Surga" kecil yang ia bangun dengan tetesan keringat dan doa-doa di setiap sujud malamnya.
Namun, perlahan "Surga" itu mulai terasa dingin. Aris, pria yang dulu selalu pulang dengan senyum hangat, kini berubah menjadi sosok asing yang membawa aroma parfum yang tak pernah Hana kenali. Tatapan matanya yang dulu penuh cinta, kini kosong dan seolah menembus tubuh Hana seakan ia adalah bayangan yang tak kasat mata.
Petaka itu dimulai saat sebuah nama dari masa lalu Aris kembali muncul. Aris tidak hanya lupa jalan pulang ke pelukan Hana, ia mulai "melupakan" sel
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25: Cermin di Kota Pahlawan
Surabaya menyambut Hana dengan hawa panas yang seolah sanggup membakar aspal. Deru mesin di sepanjang Jalan Ahmad Yani terdengar seperti dengung lebah raksasa, kontras dengan kesunyian pegunungan yang baru saja ia tinggalkan. Namun, bagi Hana, panas ini terasa seperti api semangat. Ia berdiri di depan sebuah bangunan tua bergaya kolonial di kawasan perak yang sedang direnovasi. Papan nama kayu jati buatan Raka sudah terpasang gagah: "Ruang Temu - Cabang Surabaya".
"Mbak Hana, tim kontraktor bilang instalasi pipa untuk area barista sudah 90 persen. Tapi ada masalah kecil di bagian pendaftaran anggota koperasi baru," lapor kordinator lapangan, seorang wanita muda bernama Laras yang baru saja lulus dari pelatihan intensif di Jakarta.
Hana menyeka keringat di pelipisnya, tersenyum tenang. "Masalah apa, Laras?"
"Ada seorang wanita yang terus datang setiap pagi sejak kita mulai renovasi. Dia tidak mau bicara banyak, hanya duduk di depan pagar dan memperhatikan kita bekerja. Saat diajak bicara, dia langsung menghindar. Tapi kemarin, dia menangis histeris saat melihat logo kita," cerita Laras dengan nada khawatir.
Hana mengernyit. Rasa ingin tahunya terusik. "Di mana dia sekarang?"
"Tadi saya lihat dia duduk di bawah pohon tanjung di seberang jalan, Mbak."
Hana melangkah keluar dari area konstruksi. Benar saja, di bawah bayangan pohon yang meranggas, duduk seorang wanita mengenakan daster batik lusuh dengan jaket denim yang kebesaran. Rambutnya kusam, dan matanya menatap kosong ke arah ruko "Ruang Temu". Saat Hana mendekat, wanita itu tampak gemetar, seolah bersiap untuk lari.
"Selamat siang," sapa Hana lembut, menjaga jarak agar tidak mengejutkannya. "Saya Hana. Pemilik tempat di seberang itu."
Wanita itu menoleh perlahan. Matanya sembab, merah, dan penuh dengan ketakutan yang sangat akrab di mata Hana. Itu adalah tatapan seekor hewan buruan yang sudah tidak punya tempat untuk bersembunyi.
"Aku... aku cuma mau lihat," suara wanita itu parau. "Apa benar tempat itu... buat orang-orang yang dibuang?"
Hana merasakan desiran tajam di dadanya. Kalimat itu—orang-orang yang dibuang—adalah kalimat yang sering ia bisikkan pada dirinya sendiri saat pertama kali meninggalkan rumah Aris. Ia duduk di trotoar di samping wanita itu, tidak peduli dengan debu jalanan.
"Tempat itu bukan buat orang yang dibuang," jawab Hana mantap. "Tempat itu buat orang yang memilih untuk menemukan dirinya kembali setelah dunia mencoba menghilangkannya. Nama saya Hana. Nama Ibu siapa?"
"Dewi," jawabnya singkat. "Suami saya... dia pengusaha sukses di sini. Tiga bulan lalu, dia membawa pulang wanita yang lebih muda. Dia bilang saya sudah tidak berguna. Dia mengambil anak-anak saya, mengusir saya tanpa membawa apa pun, dan bilang kalau saya melaporkannya, dia akan membuat saya masuk rumah sakit jiwa karena saya 'depresi'."
Hana mendengarkan dengan seksama. Cerita Dewi adalah cermin dari masa lalunya, namun dengan versi yang lebih brutal secara fisik dan mental. Dewi tidak punya "Maya" yang membantunya secara hukum. Ia benar-benar sendirian di trotoar kota besar.
"Dewi, lihat saya," Hana memegang tangan wanita itu. Dingin dan gemetar. "Sepuluh tahun saya hidup di rumah mewah, tapi saya merasa seperti mayat. Suami saya berselingkuh, membocorkan rahasia saya, dan menghina harga diri saya setiap hari. Saya pernah ada di posisi Anda—merasa tidak punya apa-apa."
Dewi menatap Hana tidak percaya. "Tapi Mbak... Mbak kelihatan hebat. Mbak punya gedung itu, punya perhiasan..." ia menunjuk cincin emas Raka.
"Gedung itu adalah hasil dari sisa-sisa keberanian saya yang saya kumpulkan satu per satu," balas Hana. "Dan cincin ini... ini adalah hadiah dari pria yang mencintai saya apa adanya, bukan karena apa yang saya punya. Dewi, kalau Anda mau, mulai besok jangan duduk di sini lagi. Masuklah ke dalam. Bantu kami mengecat dinding atau sekadar menyapu. Kami punya makanan, punya tempat istirahat, dan yang paling penting, kami punya telinga untuk mendengarkan."
Air mata Dewi tumpah. Ia memeluk Hana dengan erat, seolah-olah Hana adalah pelampung di tengah samudra yang luas. Di saat itulah Hana menyadari bahwa ekspansi ini bukan sekadar urusan birokrasi kementerian. Ini adalah misi penyelamatan.
Malam harinya, Hana duduk di teras hotelnya yang menghadap ke Jembatan Suramadu. Ia menelepon Raka yang berada di Jakarta.
"Ka, aku bertemu dengan diriku sendiri hari ini," ujar Hana pelan, menceritakan tentang Dewi.
"Itu alasan kenapa kamu dikirim ke Surabaya, Na," sahut Raka di ujung telepon. "Semesta ingin kamu menyembuhkan dirimu berkali-kali lewat orang lain. Bagaimana progres renovasinya?"
"Lancar. Tapi aku butuh kamu di sini minggu depan, Ka. Aku ingin kamu memberikan workshop singkat tentang kerajinan kayu untuk para calon anggota di sini. Aku ingin mereka tahu bahwa tangan mereka bisa menciptakan sesuatu yang indah, bukan hanya digunakan untuk menahan tangis."
Raka tertawa rendah, suara yang selalu membuat Hana merasa aman. "Apapun untukmu, Bos. Aku akan berangkat dengan truk kayu hari Selasa."
Setelah menutup telepon, Hana kembali menatap catatan ekspansinya. Tantangan di Surabaya ternyata lebih dari sekadar persaingan bisnis. Ada kekuatan "orang besar" di belakang kasus Dewi yang mungkin akan menghalangi "Ruang Temu". Namun, Hana tidak lagi merasa gentar. Ia telah menghadapi Aris, ia telah menghadapi pemerasan Baron, dan ia telah menghadapi kematian Mama Sarah.
Keesokan harinya, Dewi benar-benar datang. Ia sudah mandi, mengenakan pakaian layak yang diberikan Laras. Meskipun gerakannya masih ragu-ragu, ia mulai membantu menyusun buku-buku di perpustakaan kecil kafe.
Namun, ketenangan itu terusik saat sebuah mobil hitam mewah berhenti di depan ruko. Dua pria berbadan besar turun, mengenakan kemeja safari. Mereka mencari Dewi.
"Mana perempuan bernama Dewi? Berikan dia pada kami. Tuan Haris ingin dia kembali ke rumah sakit untuk pemeriksaan," ujar salah satu pria itu dengan nada mengancam.
Dewi bersembunyi di balik punggung Hana, tubuhnya gemetar hebat. Hana melangkah maju, berdiri tegak di depan pintu masuk.
"Maaf, tempat ini adalah milik Koperasi Wanita Nasional dan berada di bawah pengawasan Kementerian Koperasi," ujar Hana dengan suara yang lantang dan penuh wibawa. "Dewi adalah anggota kami. Jika Anda ingin membawanya, silakan bawa surat perintah resmi dari pengadilan dan didampingi oleh kepolisian. Jika tidak, silakan tinggalkan properti ini sekarang juga."
Pria-pria itu tampak ragu. Mereka tidak menyangka akan menghadapi perlawanan dari seorang wanita yang tampak anggun namun memiliki sorot mata setajam elang.
"Anda tidak tahu siapa Tuan Haris," ancam salah satunya.
"Dan Anda sepertinya tidak tahu siapa saya," balas Hana dingin. "Saya adalah wanita yang sudah tidak punya rasa takut terhadap gertakan pria seperti atasan Anda. Silakan pergi, atau saya panggilkan tim hukum kementerian sekarang juga."
Setelah pria-pria itu pergi dengan gerutu kesal, Hana berbalik dan memeluk Dewi yang menangis ketakutan.
"Jangan takut, Dewi. Di sini, kamu punya perlindungan. Kita akan mengurus hak asuh anak-anakmu lewat jalur hukum yang benar. Kita punya Maya di Jakarta yang akan membantu mencarikan pengacara terbaik di Surabaya," janji Hana.