NovelToon NovelToon
Satu Cinta Untuk Istri Ketiga

Satu Cinta Untuk Istri Ketiga

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Istana/Kuno / Aliansi Pernikahan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Mom young

Apa jadinya ketika seorang pria yang tidak memiliki perasaan harus disandingkan dengan seorang wanita yang mampu merubah seluruh hidupnya, Raja Gustaf pria dingin keturunan bangsawan itu sudah memiliki dua istri, akan tetapi selama pernikahan dengan kedua istrinya dia tidak merasakan arti cinta yang sesungguhnya.

Namun dengan datangnya Layla Candra kedalam hidupnya menjadi istri ke tiga Gustaf merasakan adanya perasaan cinta untuk Layla...

Namun Layla sendiri merasa pernikahnya dengan Raja Gustaf adalah kematiannya setiap hari, karena ia di paksa menikah oleh Ayahnya sebagai aliansi demi sebuah wilayah benteng Candra...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom young, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter~25 Kebahagiaan yang meluap dan langkah menuju kuil

Hati Layla terasa penuh hingga meluap-luap. Sejak kabar kehamilan Kak Laras diketahui, wajah istana Candra seolah disiram cahaya baru. Duka cita menyelimuti sudut-sudut ruangan itu perlahan terangkat, digantikan oleh harapan yang tumbuh bersamaan dengan nyawa kecil di dalam rahim kakak iparnya.

Layla berjalan dengan langkah ringan di taman belakang, wajahnya bersinar cerah. Ia merasa inilah anugerah terindah yang Tuhan berikan bagi keluarganya, khususnya bagi Laras yang sempat ia kira akan tenggelam selamanya dalam kesedihan.

"Anak Kak Laksamana masih ada... Benih kebaikan itu tidak hilang," gumam Layla sambil menggenggam kedua tangannya di dada, seolah sedang memeluk rasa syukur itu erat-erat. "Ini adalah tanda bahwa surga masih mendengarkan doa-doa kami."

Dengan hati yang penuh rasa terima kasih, Layla berniat pergi ke kuil besar di puncak bukit, tempat pemujaan leluhur Kerajaan Candra. Ia ingin pergi ke sana untuk mempersembahkan bunga, membakar dupa, dan bersujud memanjatkan puji syukur atas kabar gembira ini, sekaligus mendoakan agar kandungan Laras selalu selamat, sehat, dan lahir menjadi penerus yang membanggakan.

Ia bersiap mengenakan kebaya terbaiknya, berwarna putih bersih melambangkan kesucian hati, lalu menghias rambutnya dengan rangkaian bunga melati dan kenanga. Saat ia sedang merapikan selendang di depan cermin, pintu kamar terbuka perlahan. Raja Gustaf masuk, langkahnya tenang dan tatapannya selalu lembut setiap kali menatap Layla.

"Kau terlihat sangat bahagia hari ini, Layla," ucap Gustaf pelan sambil berdiri di belakang Layla, menatap pantulan wajah istrinya di cermin. Ia mengangkat tangan, perlahan merapikan sedikit helaian rambut yang berantakan. "Sinar di wajahmu ini... lebih indah dari emas dan permata manapun di kerajaanku."

Layla tersenyum, berbalik menghadap suaminya. "Baginda, bagaimana mungkin aku tidak bahagia? Tuhan begitu baik pada kita semua. Kak Laras... dia tidak kehilangan segalanya. Dia masih punya peninggalan Kak Laksamana. Rasanya, beban berat di pundakku selama ini terangkat semua."

Ia menggenggam tangan besar Gustaf, menatap mata suaminya lekat-lekat.

"Aku berniat pergi ke Kuil Agung di puncak bukit, Baginda. Aku ingin bersujud dan berterima kasih pada leluhur, juga memohon perlindungan untuk anak yang sedang dikandung Kak Laras. Aku ingin berdoa agar damai ini abadi, dan agar rasa sakit hati yang tersisa perlahan hilang digantikan kebahagiaan baru."

Gustaf mengangguk paham. Ia tahu betul bagi rakyat dan keluarga Candra, kuil itu adalah tempat yang sangat suci, jantung dari keyakinan dan budaya mereka. Ia juga tahu, meski mereka kini bersatu, ada satu hal yang berbeda di antara mereka: Gustaf dan sebagian besar rakyat Jaya Wijaya memeluk agama Islam, yang mengajarkan menyembah hanya kepada Tuhan Yang Maha Esa, tanpa perantara patung atau arca, dan tidak bersujud di tempat pemujaan lain.

Namun, saat melihat pancaran kebahagiaan di wajah Layla, saat merasakan ketulusan hati wanita itu, Gustaf tersenyum hangat.

"Kalau begitu, tunggulah sebentar. Aku akan berpakaian dan menemanimu ke sana," ucap Gustaf tenang.

Layla tertegun sejenak, matanya membelalak kaget. "Eh... Baginda? Kau mau ikut? Tapi..." Layla menunduk ragu, mengingat kembali keyakinan suaminya. "Baginda kan berbeda kepercayaan. Di kuil sana ada banyak arca dan patung leluhur. Di sana kami bersujud dan mempersembahkan sesaji. Aku takut... aku takut Baginda merasa terganggu, atau bertentangan dengan apa yang Baginda yakini."

Gustaf tertawa kecil, lalu mengusap pipi istrinya dengan lembut.

"Layla, dengarkan aku. Agama yang aku pelajari mengajarkanku untuk percaya pada satu Tuhan, untuk tidak menyekutukan-Nya, dan untuk memuliakan-Nya. Itu adalah jalanku, dan aku tidak akan pernah mengubah keyakinan dasarku. Aku tidak akan bersujud kepada patung, aku tidak akan mempersembahkan bunga kepada arca, dan aku tetap berpegang teguh pada ajaranku."

Ia menjeda ucapannya, lalu menatap Layla dengan pandangan yang dalam dan tulus.

"Tapi agama yang sama itu juga mengajarkanku... untuk menghargai, untuk berbuat baik, untuk menghormati orang lain, dan untuk mendampingi istriku di saat ia sedang bersyukur atau berdoa. Keyakinanmu adalah bagian dari dirimu, Layla. Seperti mana keyakinanku adalah bagian dari diriku." Gustaf tersenyum simpul.

"Dan mencintaimu berarti juga menerima dan menghormati apa yang kau yakini, apa yang kau muliakan, dan apa yang membuat hatimu tenang." batin Gustaf, ia masih mengukir senyum dibibirnya.

Gustaf menggenggam jemari Layla, mengajaknya berjalan keluar kamar.

"Aku tidak ikut untuk menyembah apa yang kau sembah. Aku ikut... hanya untuk mendampingimu. Aku ingin melihat tempat di mana nenek moyangmu dulu memohon perlindungan. Aku ingin berdiri di sampingmu saat kau mengucap syukur, sebagai tanda bahwa meski jalur ibadah kita berbeda, hati kita berjuang dan berharap untuk hal yang sama: kebaikan, kedamaian, dan kebahagiaan keluarga kita."

Mata Layla berkaca-kaca terharu. Ia tidak menyangka Gustaf akan sejauh itu menghargai dirinya dan budaya keluarganya. Di masa lalu, ia pernah mendengar cerita bahwa raja-raja Jaya Wijaya dulu sering merusak kuil atau memaksa kepercayaan mereka, tapi Gustaf... Gustaf membuktikan bahwa kebesaran jiwanya jauh melebihi kekuatan pedangnya.

"Baginda... terima kasih," bisik Layla dengan suara serak tertahan haru. "Kau membuatku merasa begitu berharga. Kau membuatku sadar, bahwa perbedaan bukanlah tembok pemisah, tapi jembatan yang membuat cinta kita semakin kokoh."

Gustaf tersenyum manis. "Sudah kukatakan, kan? Apa pun yang membuatmu bahagia, aku akan berusaha ada di sana. Asalkan... kau tetap di sisiku."

__

Di Halaman Kuil Agung

Perjalanan menuju kuil tidak terlalu jauh, hanya berjarak satu bukit kecil dari kompleks istana. Kuil Agung Candra berdiri megah di atas sana, bangunan batu berukir rumit yang sudah berumur ratusan tahun, dikelilingi pohon-pohon besar yang rindang dan bunga-bunga segar yang tumbuh di sekitaran tangga batu.

Sesampainya di sana, udara terasa sejuk dan tenang. Banyak pendeta dan warga yang sedang datang dan pergi, membawa bekal persembahan atau sekadar berdoa. Saat melihat Raja Gustaf dan Ratu Layla datang, seluruh orang yang ada di sana segera menyingkir dan memberi jalan, membungkuk hormat.

Gustaf berjalan tegap di samping Layla. Ia tidak mengenakan atribut kebesaran raja yang berlebihan, hanya jubah sederhana namun bersih dan sopan, sebagai tanda penghormatan terhadap tempat suci itu. Ia mengamati setiap ukiran di dinding kuil dengan rasa ingin tahu dan hormat, tanpa sedikit pun menampakkan rasa meremehkan atau jijik.

Sampai di pintu masuk ruang utama, Layla berhenti dan menoleh ke arah Gustaf.

"Baginda, di dalam sana kami akan bersujud dan mempersembahkan persembahan. Bolehkah Baginda menunggu di beranda luar saja? Atau berdiri di belakang? Aku tidak ingin Baginda merasa terbebani atau melakukan hal yang bertentangan dengan keyakinanmu."

Gustaf mengangguk mengerti. Ia tersenyum dan mengusap bahu istrinya.

"Pergilah, Layla. Lakukan apa yang menjadi kewajibanmu dan apa yang ingin kau panjatkan. Aku akan berdiri di sini, di beranda ini, menghadap ke arah dalam. Aku tidak akan masuk ke ruang pemujaan, karena itu bukan jalanku. Tapi percayalah... selama kau berdoa di dalam sana, aku juga akan berdoa dengan caraku sendiri, memohon kepada Tuhanku, memohon kepada Yang Maha Kuasa, agar mengabulkan segala harapan baik yang ada di hatimu."

Layla mengangguk dengan mata berbinar bahagia. Ia melangkah masuk ke dalam ruang utama kuil yang remang namun harum semerbak bunga dan dupa. Di sana, di hadapan arca leluhur yang besar, Layla berlutut, lalu bersujud dalam-dalam. Ia mempersembahkan bunga, menyalakan dupa, dan memejamkan mata, membiarkan seluruh rasa syukurnya mengalir keluar lewat doa-doa panjangnya.

Di luar, di beranda batu yang dingin itu, Raja Gustaf berdiri diam. Ia tidak bersujud, ia tidak merapalkan mantra, dan ia tidak mempersembahkan apa pun. Ia hanya berdiri tegak, menundukkan pandangan dengan rendah hati.

Dalam keheningan itu, di hatinya, Gustaf berbicara dengan Tuhannya sendiri, bahasa yang hanya ia dan Sang Pencipta yang mengerti.

"Tuhanku, Tuhan Yang Maha Kuasa yang menguasai segala alam... Lihatlah wanita yang kucintai ini. Ia bersyukur dengan caranya, ia memohon dengan caranya. Engkaulah yang menciptakan segala perbedaan, dan Engkaulah yang Maha Mendengar segala doa, dari mulut mana pun doa itu keluar."

"Aku tidak meminta apa-apa untuk diriku. Aku hanya memohon... ampunilah dosa-dosaku yang telah melukai banyak hati. Lindungilah anak yang sedang tumbuh di rahim Laras, jadikan ia penerus kebaikan, dan sembuhkanlah luka hati ibunya perlahan-lahan. Dan lindungilah Layla... jagalah kebahagiaannya ini, karena senyumnya adalah satu-satunya kemenangan yang paling berharga bagiku sekarang."

Angin sepoi-sepoi berhembus masuk ke celah-celah bangunan kuil, membawa aroma tanah basah dan bunga. Bagi Gustaf, momen itu terasa damai luar biasa. Ia sadar, meski berbeda cara beribadah, sumber kebaikan dan kedamaian itu satu adanya. Dan berdiri di sini, mendampingi istrinya, ia merasa lebih dekat dengan Tuhannya daripada saat ia sedang memimpin pasukan perang atau duduk di singgasana.

Tak lama kemudian, Layla keluar dari ruang utama. Wajahnya tampak begitu tenang, damai, dan puas. Ia berjalan menghampiri Gustaf, lalu menggenggam tangan suaminya erat-erat.

"Terima kasih, Baginda," bisik Layla pelan, menatap mata Gustaf dengan rasa kagum yang mendalam. "Di dalam sana, aku merasa didukung oleh dua kekuatan sekaligus: kekuatan doaku, dan kekuatan kehadiranmu di sini. Kau mengajarkanku satu hal... bahwa cinta sejati itu tidak menuntut persamaan, tapi saling menghargai perbedaan."

Gustaf tersenyum, lalu mengusap rambut istrinya dengan lembut.

"Dan kau mengajarkanku, Layla... bahwa damai itu bukan hanya soal menghentikan pedang, tapi juga soal menundukkan hati dan ego untuk saling memahami. Mari kita pulang. Ada bahagia baru yang sedang tumbuh di istana, dan kita harus menjaganya bersama-sama."

Saat mereka berjalan turun menuruni tangga kuil, berita tentang Raja Jaya Wijaya yang mengantar Ratu Layla hingga ke pintu kuil, dan berdiri menghormati tempat suci itu meski berbeda agama, perlahan tersebar ke seluruh warga yang ada di sana.

Bagi rakyat Candra, pemandangan itu adalah bukti nyata persatuan. Dan jauh di sudut taman istana, Laras yang sedang duduk menikmati udara pagi, mendengar kabar itu. Wajahnya yang biasanya dingin dan penuh kebencian, sedikit saja berubah menjadi lebih lunak. Ia masih belum bisa memaafkan sepenuhnya, tapi ia mulai sadar satu hal: Raja Gustaf bukanlah sekadar pembunuh yang haus kekuasaan. Ia adalah seorang suami yang luar biasa, dan mungkin... pria itu memang berhak mendapatkan kesempatan kedua untuk menebus kesalahannya.

1
vj'z tri
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/ di usir bocah
Seroja_layu: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
vj'z tri
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
vj'z tri
dasar memang sifat lu itu ....susah kasih tahu lalat jika bunga lebih wangi di banding sampah 🤧🤧🤧
vj'z tri
selamattt 🫣🫣🫣🫣
vj'z tri
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 masa langsung kebuka kartu lu
vj'z tri
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 salah cari lawan Mpok
vj'z tri
samperin say 🤧🤧🤧🤧
vj'z tri
hayolah keluarkan insting detektif mu 🤧🤧🤧
vj'z tri
maka nya kenalan Mpok kalau gak kenal 🤣🤣🤣🤣🤣
vj'z tri
hadeuhhhh para lampir mulai bergosip ria 🤧🤧🤧🤧
vj'z tri
kerennnnnn🎉🎉🎉🎉
vj'z tri
yakin amat mas bro ,kaya nya nanti lu yang tunduk 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
vj'z tri
mau kesel ,tapi semua itu benar 🤧🤧🤧🤧
vj'z tri
hadeuh 🤧🤧🤧kan juga gegara u nyerang tadi malam neng 🤧🤧
FiaNasa
akankah Laila bisa mewujudkan dendamnya pada guztaf
vj'z tri
yang kemarin itu di hapus ta ?
Blueberry Solenne
iya tapi tindakannya terlalu kejam
Blueberry Solenne
Dasar ibl!$ serakah ya
Blueberry Solenne
wah sekeluarga di sandera, kejam juga tu raja Gustaf
Blueberry Solenne: Heheh takut kena sensor,
total 2 replies
Blueberry Solenne
Ya Tuhan serem amat isinya kelapa orang (takut di hide jadi di plesetin)
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!