NovelToon NovelToon
Takdir Cinta Riana

Takdir Cinta Riana

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Rika nopiana

Lima tahun Riana menyerahkan hatinya untuk satu nama yaitu Irwan. Lima tahun pula ia percaya bahwa dirinya adalah satu-satunya.

Sampai sebuah kenyataan menamparnya dan menghancurkan segalanya.Ternyata selama ini Riana bukan kekasih Irwan tapi ia hanya... selingkuhan.

Riana ingin memutuskan untuk pergi. Ia muak. Tapi Irwan menolak melepasnya. "Kamu sudah terlalu dalam di hidupku" katanya, dengan nada yang membuat Riana takut sekaligus lemah.

Di tengah luka dan ancaman itu, hanya ada satu orang yang selalu ada dua lah Arif. Sahabat yang selalu menemaninya, yang hapal caranya menangis dalam diam. Arif yang ternyata sudah lama menyimpan rasa, tapi memilih pergi demi kebahagiaan Riana.

Kini Riana harus memilih. Bertahan dalam cinta yang memenjarakan, atau berani bebas meski harus kehilangan semuanya? Dan sanggupkah Arif tetap diam saat wanita yang ia cinta sedang tenggelam?

Lima tahun cinta, ternyata hanya lima tahun kebohongan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rika nopiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 25

" Mba,,,,mba Riana" bahu Riana terguncang pelan,Riana menatap linglung pada Miya salah satu karyawannya.Mereka sedang meeting di cafe cerita kopi,tepatnya di dalam ruangan pribadi Riana.Miya sedang menjelaskan laporan penjualan mereka sebulan ke belakang yang tampak mengalami penurunan.

"Kenapa Mi?" berdehem berusaha mengembalikan fokusnya.

"Mba gak nyimak laporan saya ya?" Miya menyelidik.

"Oo,,oh nyimak kok" Riana tersenyum kikuk sambil mengusap tengkuknya sendiri "Sorry gue lagi kepikiran sesuatu"

"Saya rasa kita harus bikin inovasi baru mba,kalo terus-terusan sepi,nanti yang ada kita rugi mba" papar Miya, sedikit cemas karna nasibnya dan teman-temannya bergantung pada keberlangsungan cerita kopi ini.

"Gue ngerti,gue harus cari inovasi baru.Nanti deh gue tanya dulu sama temen-temen gue barangkali mere-ka" lidah Riana mendadak keluar tak bisa melanjutkan kalimatnya, teman-teman mana yang ia maksud bahkan ia kini sudah jarang bertegur sapa lagi dengan Melly.

"Mba,kenapa mba?" tanya Miya cemas karna lagi-lagi bosnya itu terdiam.

Riana masih mencoba tersenyum untuk menenangkan Miya "Gak apa-apa kok.Kita udahan aja ya meetingnya.Kamu udah boleh pergi"

Miya belum beranjak dari situ, ragu-ragu ia bertanya pada atasannya itu "Mba,maaf ya kalo lancang tapi akhir-akhir ini aku liat mba gak seceria biasanya.Apa mba lagi ada masalah ya?mba bisa kok cerita sama saya"

Riana tertegun sejenak sebelum akhirnya ia terkekeh pelan "Sotoy loe,,,,Udah gak usah pikirin gue,sana,sana!" usirnya sambil mengibaskan kedua tangannya.

Pintu di tutup setelah Miya pergi,keheningan langsung melingkupi ruangan itu.Riana meraih figura foto di meja kerjanya,ada gambar dia dan teman-temannya dengan mengenakan pakaian yang sama.Riana tersenyum tipis sambil meraba gambar itu, "Gue kangen sama loe semua" gumamnya lirih.

Riana pulang dari cafe ketika malam sudah sangat larut,ia menunggu ojeg yang ia pesan seorang diri di depan cafe.Suara knalpot motor terdengar dari jauh,entah kenapa ia sedikit berharap itu adalah Arif yang akan mengantarkannya pulang seperti biasa namun tentu saja bukan,itu adalah ojeg yang sudah ia pesan.

"Mba Riana?" tanya pengemudi online itu ramah.Riana mengangguk. "Mba maaf sepertinya mau hujan,tapi saya cuma bawa satu jas hujannya" ucapnya,memang sejak tadi terdengar suara gemuruh disertai kilatan dari atas langit malam.Memang salahnya sendiri malah memesan ojeg.

"Gak apa-apa pak,jas hujannya buat bapak aja.Saya udah pakai jaket" ucapnya,ia tak mau harus menunggu lagi jika beralih pada taxi online,karna sekarang yang ia inginkan hanya cepat sampai di rumah dan merebahkan tubuhnya di kasur.

Dan benar saja di tengah perjalanan hujan besar turun dengan derasnya, pengemudi itu sempat menawarkan untuk berteduh sebentar namun Riana kekeh meminta pengemudi itu untuk terus jalan menerobos hujan.

Dan hasilnya hari ini Riana demam tinggi,badannya lemas tak bertenaga.Hana sudah mendatangkan dokter ke rumahnya untuk memeriksa kondisi Riana.Obat sudah di minum,plester untuk demam juga sudah terpasang di keningnya tapi belum ada tanda-tanda demamnya akan turun.

"Ri,makan dulu yu" bujuk Hana,gadis itu menggeleng pelan.Perutnya tidak bisa menerima makanan,setiap makanan yang masuk tak lama pasti ia keluarkan lagi membuat Hana semakin cemas.

"Mah,Jangan tinggalin Riana" ucapnya sambil menangis sesegukan.

"Gak sayang,mamah ada di sini kok,temenin kamu terus" Hana mengusap rambut putrinya penuh sayang.

"Riana gak punya siapa-siapa lagi selain mamah" Riana memeluk erat lengan ibunya sambil menyembunyikan wajahnya yang berderai air mata.

Hana menghela nafas panjang,ia menyadari teman-teman Riana sudah tak pernah lagi datang ke rumah ini, padahal dulu hampir setiap hari mereka berkumpul di sini.Hana tak tahu masalah apa yang terjadi di antara mereka ia juga tidak ingin terlalu ikut campur.Ia percaya Riana bisa menyelesaikan masalahnya sendiri namun melihat keadaan yang tak kunjung membaik sepertinya harus ia yang turun tangan.

Dan di hari ke tiga Riana yang masih terbaring di kasurnya terkejut saat melihat Melly dan Ido yang datang bersamaan untuk menjenguk Riana.Sebenarnya Melly mau datang karna permintaan Hana yang menelpon langsung pada gadis itu.

"Mell,loe dateng" ucap Riana berbasa-basi,ia menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang.Wajah Riana tidak semengenaskan tiga hari yang lalu,kondisinya sudah lumayan membaik walau badannya masih terasa ngilu jika di gerakkan.

Suasana aneh terasa di sana,tidak ada yang mau memulai percakapan.Melly dan Ido hanya saling tatap sambil menunjukan isyarat yang Riana tak mengerti.

"Makasih ya udah datang" ucap Riana tulus,ia sejujurnya sangat bahagia sekali bisa bertemu Melly dan Ido walau Arif tak ada di antara mereka.Diam-diam ia berharap persahabatan mereka akan kembali membaik.

"Loe sakit apa Ri?" tanya Melly pada akhirnya.

" Gue demam aja!" canggung sekali rasanya.

Melly mengeluarkan buku dari tas punggungnya "Ini buku catetan gue,tiga hari kemaren kan loe gak masuk.Kalo loe butuh,,,,kalo gak juga -"

"Gue butuh,butuh banget" sela Riana sambil merebut buku catatan itu dari tangan Melly.

"Oh iya,ini gue sama Melly beliin loe bolen lilit kesukaan loe" Ido menyerahkan kresek di tangannya dengan ragu-ragu.

Riana mengambil kresek itu dan membuka kotaknya tampak berjajar rapi bolen yang masih hangat Riana langsung saja mengambil satu dan memakannya, "Enak,masih enak kayak dulu" ucapnya tanpa ia sadari air matanya mengalir deras tanpa bisa ia tahan,ia menunduk sedikit untuk menyembunyikan tangisnya namun Melly dan Ido terlanjur melihatnya.

"Ri,,," Melly tak tega melihat Riana ia langsung memeluk gadis itu dan mengusap lembut punggungnya.Riana balas memeluk Melly tangisnya malah semakin pecah .

"Ma-maap-maapin gu-gue" ucapnya terbata-bata.Hanya itu yang ada di kepalanya saat ini.

"Udah,udah jangan nagis lagi Ri" Ido ikut menenangkan.

Setelah tenang barulah mereka bisa bicara dengan kepala dingin,Melly dan Ido mengutarakan kekecewaan mereka atas sikap Riana pada Arif.

"Gue paham posisi loe saat dia tiba-tiba ngelamar di depan banyak orang.Loe juga pasti mau nyelamatin muka dia saat itu,kalo loe tolak pasti dia bakal malu banget" ucap Ido melihat dari sudut pandang yang berbeda.

"Kita sama-sama salah,harusnya gue kasih tau loe dulu sebelumnya biar elo pun gak terpaksa nerima dia saat itu" Melly menimpali

"Gue bukan terpaksa sih,cuma gue ngerasa belum yakin aja.Gue juga ngerasa gak enak sama Arif dia harus cancel semua vendor pernikahan kita dulu" Ucap Riana dengan perasaan bersalahnya.

"iya tuh,PR banget itu.Dia waktu itu harus lari-lari dari satu vendor ke vendor lainnya karna waktunya kan mepet banget terus dia juga harus bayar penalty yang gak sedikit,gue denger dari om Roy asisten papahnya Arif katanya nyampe ratusan " Ido menjelaskan yang ia tahu.

"Ratusan apa?Ribu?" Melly penasaran.

"Juta lah bego!" Ido menoyor kepala Melly sebal.Melly tercengang dengan mulut menganga sedangkan Riana tak menyangka kerugian Arif sampai sebegitu besarnya,karna Arif tak pernah menyinggung soal ini.

Keluarga Arif memang kaya raya sepertinya uang segitu bukan masalah besar buat mereka tapi kan tetap saja sayang banget uangnya

"Ngomong-ngomong Arif kok gak ikut ke sini,apa dia masih marah sama gue?" tanya Riana,kedua sahabatnya itu saling pandang dengan tatapan aneh.

"Arif pindah ke Semarang Ri" jawab Ido pelan

"Pindah?" Riana bingung, tidak pernah bertemu di kampus ia mengira lelaki itu hanya berusaha menghindar darinya saja.

"Iya dia nerusin sekolahnya di sana" ucap Melly menambahi,oh hati Riana tak baik-baik saja saat mendengarnya berarti jabat tangan mereka terakhir kalinya itu bukan hanya tanda berakhirnya rencana pernikahan mereka tapi juga untuk salam terakhir kalinya perjumpaan mereka.

1
Nadia Zalfa
makin deg degan aja ini...semoga Arif selamat
Nadia Zalfa
Alhamdulillah bayinya sama Riana baik" saja sehat selalu ya kalian....double up kak😍
Nadia Zalfa
lanjut kak...semoga Riana segera bebas dari Irwan 😭
Reichan Muhammad
setelah 5 thn baru up lagi torrr.. kmana ajaa torrr
ana_pino: hehehe
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!