Volume 1- End
Seorang anak perempuan mencoba mewujudkan cita-citanya untuk menjadi agen rahasia. Sifatnya yang sedikit dingin menjadi daya tarik tersendiri untuk orang lain.
kebiasaannya yang lebih menyukai kesendirian dan tak suka suara bising bertentangan dengan resiko menjadi agen rahasia yang mana hari-harinya akan di penuhi serencengan peluru yang memekakkan telinga.
Pertemuan secara tak sengaja dengan agen CIA yang melihat kemampuannya dalam menganalisa sesuatu mampu menarik perhatian salah satu agensi paling terkemuka di dunia.
Pelatihan keras dengan gaya militer yang ia jalani berhasil membuatnya menjadi wanita tangguh dan kuat. Berbagai latihan baik fisik maupun mental terus ia tekuni untuk menggapai apa yang ingin ia penuhi.
Berbagai pertarungan hidup dan mati harus di hadapinya setiap kali menjalankan misi. Menemukan banyak misteri dan teka-teki dengan berbagai petualangan terus membuka matanya agar lebih mengenal dunia.
Warning!!!!
Di beberapa chapter akan ada adegan kekerasan. Mohon tanggapi ini dengan bijak.
Note:
Bukan novel terjemahan. Di larang menjiplak.
Selamat membaca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EijEnEs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sepeda?
Keesokan paginya, sinar surya menerangi kamar tidur Ana dan Chelsea. Cahaya berwarna kuning bercampur jingga itu terlihat menembus jendela kaca untuk membangunkan kedua agen muda yang harus menjalankan misi penting dari agensinya.
Udara yang sedikit panas oleh sinar matahari di karenakan ac yang mereka matikan semalam membuat dua insan itu terbangun dari tidur nyenyaknya. Merekapun membersihkan diri lalu memesan makanan untuk sarapan. Terdengar suara bel yang menandakan pesanan yang mereka pesan sudah datang. Chelsea pun membuka pintu lalu menerima makanan yang di bawa pelayan hotel.
"Kau siap untuk misi pertamamu Chel?" tanya Ana dimana mereka sudah mulai memakan makanan masing-masing.
"Of course." jawab Chelsea singkat.
Ana menatap Chelsea seksama, dia bisa melihat tak ada rasa ragu ataupun takut di mata gadis itu. Masih teringat jelas, dulu saat dia pertama kali menjalankan misi, tangan dan tubuh nya bergetar karena gugup, bahkan saat pertama kali dia menembak jantungnya berdetak tak karuan namun anak di hadapannya malah bisa makan dengan tenang padahal setiap langkah yang di ambil, bisa saja membahayakan nyawa.
"Kau masih bisa tenang di situasi seperti ini? Apa kau tak gugup atau takut?" tanya Ana heran.
"Saat aku memutuskan untuk menjadi agen, aku sudah tahu bahayanya dan resiko yang harus ku ambil. Jika aku sekarang takut atau malah ragu itu sama saja aku menyesali apa yang telah ku perjuangkan." jawab Chelsea santai sambil menyeruput kuah sup kambing yang di pesannya.
Ana mengangguk pelan, dia mencoba mencerna apa yang Chelsea katakan. Senyum tipis terpancar di wajahnya, dia menoleh ke arah Chelsea yang masih sibuk makan.
"Sesudah ini bersiaplah aku akan ke perusahan Lashwan dan kau pergi ke rumah keluarga itu di sekitar Lincoln Park." ucap Ana yang sudah menghabiskan sarapannya.
"Ana, bisakah kau meminta manager itu untuk memberikan kita sepeda agar bisa lebih cepat sampai dari pada harus berjalan kaki." pinta Chelsea yang sudah menghabiskan makanan.
"What?! Naik sepeda?" tanya Ana dengan alis yang terangkat.
"Memangnya kau mau naik pesawat jet? Bisa-bisa kita dikira konglomerat bukan orang biasa yang butuh pekerjaan." balas Chelsea dengan alis berkerut.
"Ah iya jugaa yaa. Baiklah kalau begitu." ucap Ana lalu melangkah pergi bersama Chelsea ke ruangan Tn. Rod di lantai paling dasar.
Saat mereka masuk, Rod terlihat menyambut mereka ketika pintu ruangannya terbuka. Namun, dia mengeryitkan dahinya saat melihat Chelsea.
"Dia siapa dan dimana Ms. Chelsea?" tanya Rod pada Ana.
"Dia Chelsea memangnya kenapa? Dia sama sepertiku agen yang sedang bertugas." tanya balik Ana dengan nada heran.
"Wow aku baru tahu ada agen secantik dia, kukira kau model atau pun teman yang sedang menemani Ana disini." ucap Rod sambil terkekeh. Kemarin dia memang tak melihat wajah Chelsea karena gadis itu menunduk dan pokus terhadap makanannya.
"Tn. Rod aku tak ingin berbasa-basi, kami kesini ingin meminta agar kau menyediakan dua sepeda untuk kami." ucap Ana dengan nada serius nya.
"What?!! Hahaha kalian ingin naik sepeda? Baru kali ini ada agen yang meminta kendaraan itu." jawabnya sambil tertawa namun tawanya berhenti ketika dua agen muda itu menatapnya tajam.
"Ya ya baiklah jangan memandangku seperti itu aku sudah punya istri, jangan jatuh hati padaku." ucapnya kembali tertawa.
"Tn. Rod apa kau pernah mendengar nasihat 'terlalu banyak bicara bisa membuatmu celaka'? Jika tidak aku bisa mengajarinya padamu." Chelsea berkata dengan wajah ramah namun sorot matanya dingin.
Detik berikutnya hanya tersisa Chelsea dan Ana di ruangan itu karena Rod pergi mencari anak buahnya agar bisa mencarikan sepeda untuk dua agen itu. Chelsea dan Ana hanya tersenyum miring lalu duduk di sofa ruangan.
Sekitar 20 menit kemudian, Rod menghampiri mereka dan mengatakan apa yang mereka minta sudah ada di depan, Chelsea dan Ana pun pamit setelah mengucapkan terima kasih. Saat di parkiran dimana sepeda yang mereka pesan sudah ada, dua agen muda itu pergi ke kamar mereka terlebih dulu untuk mengganti pakaian yang terkesan murah agar tak menimbulkan kecurigaan.
Mereka lalu pergi ke pusat kota dan berpencar sesuai tugas masing-masing. Chelsea pergi ke daerah Lincoln park sedangkan Ana ke daerah Magnificent Mile. Chelsea mengayuh sepedanya dengan santai seolah menikmati perjalanan yang padahal memakan waktu sekitar 40 menit karena naik sepeda.
Chelsea yang sudah melatih fisiknya dengan baik saat di FLETC tak membuat dia terlalu kelelahan saat harus menempuh jarak 7,0 mil itu. Sampai akhirnya gadis itu sampai di sebuah mansion mewah yang di ketahuinya menjadi tempat tinggal keluarga Lashwan sesuai dengan berkas yang sudah ia baca.
Dia turun dari sepedanya menuju ke pos yang tedapat seorang security, ia lalu menyerahkan brosur yang tadi ada di sakunya. Penjaga itupun membukakan pintu gerbang hingga terlihatlah deretan mobil mewah yang terparkir di dekat rumah dengan penjaga yang berjaga di pintu utama. Gadis itu lalu di arahkan ke belakang rumah dimana sedang terdapat seleksi pelayan yang akan bekerja di rumah mewah itu.
Seorang pria berbadan kekar dengan tinggi sekitar 170 cm mengamati orang-orang yang akan menjadi pelayan itu satu persatu sampai ia menyadari bahwa ada Chelsea yang baru tiba. Dia mengernyitkan dahi saat melihat wajah Chelsea yang mulus bak aktris.
"Kau mau apa disini?" tanyanya pada Chelsea.
Dengan tenang Chelsea menjawab "Tentu mencari pekerjaan tuan, aku juga butuh uang." balasnya pelan.
"Parasmu di atas rata-rata bahkan aku sempat mengira kau model meskipun pakainmu biasa. Dan kau ingin menjadi pelayan?" ucapnya menatap Chelsea.
"Ini kan keluarga Lashwan, kudengar gaji disini sangat besar jadi aku ingin bekerja di sini."
"Dari mana kau tahu ini keluarga Lashwan." pria itu bersikap siaga karena tak ingin jika mereka salah memilih pelayan yang bisa jadi mata-mata pemerintah. Sudah sepatutnya orang yang bekerja pada mafia akan selalu bersikap seperti itu.
"Keluarga Lashwan pernah masuk kategori pengusaha sukses dalam koran, majalah, maupun situs web." ucapnya dengan wajah yang tak terlihat mencurigakan.
"Hmm kau menarik, baiklah aku memilihmu, kau, kau dan yaa kau juga." ucap pria itu sambil menunjuk 3 orang lainnya.
Dia lalu membawa Chelsea dan tiga orang lainnya memasuki rumah mewah itu. Chelsea mengamati setiap sudut rumah dengan teliti, dia bisa melihat bahwa terdapat cctv di setiap sudut ruangan
Pria itu menundukkan kepala pada seorang yang duduk di kursi sambil menyilangkan kakinya dengan tangan yang mengapit batang rokok yang sedang menyala.
"Tuan Morley, ini empat pelayan baru yang kau minta." ucapnya pada Morley yang merupakan ayah Fani.
Morley menatap wajah mereka satu persatu hingga dia bisa melihat dengan jelas wajah Chelsea yang terlihat putih bersih dan polos, berbeda dengan lainnya yang terlihat tak terawat