Namanya Ainun, seorang gadis berwajah elok. Ia seorang mahasiswi di perguruan tinggi terfavorit dikotanya. Hidupnya yang terlampau monoton, menjadikannya sosok yang cuek dan cenderung galak, terutama pada lawan jenis.
Siapa sangka, pertemuannya dengan Reza yang berawal dari pertengkaran dan permusuhan, malah membuat hari-harinya berwarna. Di selingi dengan permasalahan keluarga di masa lalu yang selalu menghantuinya.
Cinta keduanya tumbuh membuat lengah Sang Ayah dalam penjagaanya. Ada banyak pelajaran yang Ainun dapatkan saat-saat Tuhan menguji cintanya. Terlebih bayang- bayang masa lalu yang terus saja menguntitnya.
Ini adalah Novel perdana Author, semoga readers suka...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olive Sparkly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 25. Siapa aku..
Happy reading.....
Ainun masih ragu untuk memulai perkataanya, terlihat si pengawal sudah setia menanti kata yang akan di ucapkan.
"Si-siapa namamu?" Tanya Ainun mencoba memulai.
"Nama saya Dika Mahendra, nona." jawab si pengawal yang ternnyata bernama Dika.
"Ooh," Ainun membulatkan bibirnya dan manggut manggut seolah ia adalah boss nya.
"Apa pekerjaanmu? Dan sedang apa kau disini?" tanyanya ketus.
"Saya salah satu pengawal Nyonya Rekha Sanders, saya diperintahkan untuk menjaga nona." jawabnya lugas.
Ainun memicingkan matanya, mengawalnya? heh! Apakah seorang Ainun butuh pengawal? Ainun tersadar, maksud pengawal disini bukanlah menjaga seperti para pengawal lainnya. Melainkan menjaganya untuk tidak kabur sebelum transaksi si nyonya besar mereka berjalan.
ceklak
Sebuah ujung gagang pintu kamar dimana Ainun berada bergerak kebawah, menandakan seseorang tengah mencoba membukanya.
"Kau, diamlah! berlagaklah seperti tidak terjadi apa-apa!" ucap Ainun setengah berbisik.
Ia lantas merebahkan posisi tubuhnya di ranjang seperti sedia kala. Dika si pengawal terkejut, ia baru menyadari ternyata ia telah ditipu oleh gadis ini.
Pintu terbuka, Dion masuk membawa seorang Dokter membawa perlengkapan medis yang biasa dibawanya.
"Kenapa dia sampai pingsan?" tanya Dion pada Dokter yang tengah memeriksa Ainun.
"Suhu tubuhnya normal, denyut nadinya juga normal, hanya nafasnya sedikit lebih cepat dan jantungnya lebih berdebar untuk tubuh yang nampak sehat." Jelasnya.
"Apakah dia habis melakukan perjalanan jauh?" tanya nya.
"Ya, dia baru sampai setelah melakukan perjalanan kurang lebih empat jam." Jawab Dion.
"Dia hanya kelelahan, dia akan baik-baik saja, aku akan meresepkan obat untuknya, sekarang biarkan dia beristirahat." ucap Dokter yang bernama Ridwan lalu menulis beberapa resep vitamin dan obat untuk Ainun.
"Siapa gadis itu? Aku sering kemari memeriksakan nyonya Rekha, tapi aku belum pernah melihatnya," tanya nya penasaran.
"Gadis itu adalah putri nyonya Rekha," Jawab Dion.
"Untuk menutupi kebusukan wanita itu, bahkan aku disebut sebagai anaknya. Benar-benar licik!" Ainun membatin.
"Baiklah, ini resep untuk gadis itu, siapa namanya?"
"Ainun"
"Ah ya, ini sudah siap, saya akan pergi, jika ada apa-apa atau ada alergi terhadap obatnya, hubungi saya." Dokter Ridwan memberikan kertas resep pada Dion.
"Baik, terima kasih banyak dok, Mari saya antar," Dion segera berlalu mengantar Dokter Ridwan keluar.
Dari mana me**reka tau namaku? Apa sebelum menculikku mereka mencuri dataku terlebih dahulu? ini tidak dapat dipercaya! Benar benar penculikan yang terencana!
Pintu tertutup kembali, Ainun pun segera membuka matanya. Melirik kearah Dika yang sedang menatapnya heran.
"Apa?" tanya Ainun memasang wajah galak. Entah kenapa rasa takutnya berangsur hilang. Tapi ia hanya berani berkata hanya pada Dika. Mungkin karena Dika adalah pengawalnya. Bisa jadi.
Dika melengos menatap ke arah lain, Benar mirip seperti ibunya!, gumamnya.
"Licik sekali boss mu itu, menculik gadis hanya untuk dimanfaatkan!" Tuduh Ainun seraya bangkit dan pergi ke arah jendela.
"Sebenarnya ini dimana, sih?" Tanya Ainun mengedarkan pandangan di depan jendala kamarnya.
Dika tidak menjawabnya, dia hanya melirik sejenak dan menatap kearah depan.
"Heiii, ya ampuuun, Aku bertanya pada jendela rupanya!"
Dika yang menyadari langsung menjawab, "Kita sekarang berada Villa Anders, nona."
"Ya, aku tau kau sudah menyebutnya tadi!" Hardik Ainun sebal.
"Kita berada dipuncak, di kota B." jelasnya.
Ainun tercengang, ia sekarang berada begitu jauh dari keluarganya. Ini kali pertamanya ia berada sangat jauh. Ainun beringsut terduduk, menangkupkan wajahnya denga kedua telapak tangannya.
Tubuhnya bergetar, ia menangis sendu sambil memeluk lututnya ke dadanya. Tangisnya semakin menjadi, ia seperti sudah kehilangan harapan untuk kembali.
Ia fikir Ia hanya akan dibawa tidak jauh dari kotanya, tapi nyatanya, kota dimana ia tinggal dan kota yang sekarang dipijak oleh kakinya itu berjarak sangat jauh.
"Huaaaaaa... Hiks Hiks" Tangisnya semakin pecah.
"Nona, anda tidak apa-apa?" tanya Dika sudah berdiri didepannya.
"Huaaaaa... Hiks Hiks," Ainun masih menangis.
Dika tidak tahu harus berbuat apa, ia kemudian melenggang pergi. Menyadari kepergian Dika, Ainun semakin menangis menjerit histeris. Huaaa Huaaaa Hiks.
"Kalian semua kejam!!"
"Dasar penculik gila"
Dan berbagai umpatan dan binatan se kebun Raya Bogor pun ia lontarkan. Tidak ada yang mengajari, bahkan ini pertama kalinya Ainun mengumpat dan benar benar ia terucap dari bibir mungilnya.
Dika datang membawa segelas air putih penuh, memberikannya pada Ainun.
"Minumlah, nona" tangannya ia sodorkan ke dekat Ainun.
"Tidak baik menangis terlalu kencang, anda masih lemah nanti pingsan lagi." ujar Dika tapi dengan nada mengejek.
Ainun mendongakkan kepalanya, menghentikan tangisannya yang masih terdengar sisa senggukannya, merampas gelas ditangan Dika dan meminumnya habis tanpa sisa.
"Jika Nyonya besar mengetahui anda menangis seperti tadi, dia akan marah. Dia tidak suka sesuatu yang lemah." Ucapnya kemudian.
Ainun bangkit, tapi matanya menatap tajam ke arah Dika. Ia mulai menyusun rencana untuk menghadapi si Nyonya besar itu.
Tak dapat dipungkiri, entah siang sore atau malam nanti, mereka pasti akan bertemu. Dia akan sesegera mungkin melarikan diri dari ruang lingkup para penculiknya, termasuk Dika si pengawalnya.
"Apakah Nyonya mu itu begitu disegani? begitu perfectsionis? Sehingga tidak menyukai suatu kelemahan!" Seloroh Ainun mempertanyakan tentang si Nyonya besar itu kepada Dika.
"Ya, beliau seperti itu."
"Sepertinya kau sangat segan ya, terhadapnya." ejek Ainun kini sudah berada didepan Dika.
"Apakah karena dia kaya raya? punya banyak kekuasaan? atau karena dia memiliki pelindung semacam seperti dirimu?" cecarnya kemudian.
"Bukan karena itu," jawab Dika.
"Lalu?" Ainun menatap manik mata Dika sambil berkacak pinggang.
"Anda tidak perlu tau, nona."
"Ckck, kenapa tidak? Bukankah aku anaknya seperti yang disebutkan pria yang tadi bersama pak dokter?" tanyanya penuh ambigu.
Dika hanya terdiam, gadis ini benar dia adalah putri dari sang Nyonya besar. meski dia tahu si gadis belum mengetahuinya.
Kriiiyuuuk kriyuuukk
Ainun memegangi perutnya, menutupi bunyi nyanyian yang berasal dari dalam perut tidak tahu malunya. Wajahnya memerah menahan malu, bisa bisanya disaat dia sedang emosi dan penuh amarah begini, perutnya bersenandung tiada malu.
"Anda lapar nona?" Tanya Dika dengan sedikit mengatup kedua bibirnya menahan tawa.
Tidak ada jawaban, Ainun berlalu kemudian duduk di ujung ranjangnya. Menekuk wajahnya menahan malu.
"Saya akan perintahkan pelayan untuk menyiapkannya, tunggulah sebentar!" serunya kemudian melangkah kan kakinya keluar kamar.
Ainun masih berfikir, kenapa ia diculik lalu dibawa pergi dan dilayani bak seorang putri raja. Diberi pengawal juga, kenapa hidup seperti mempermainkannya. Dika terlihat masih muda, mungkin usianya sekitar dua puluh lima tahunan, terlihat dari wajahnya yang lumayan tampan dan masih sangat muda untuk menjadi seorang pengawal.
Tapi masih kalah jauh dibanding dengan Reza yang lebih tampan dimatanya. Mengingat Reza, bagaimana dengannya? Ainun tidak bisa membayangkan apa yang terjadi setelah adegan penusukan malam itu.
Akan kah Reza selamat? atau dia akan....
Aaaaakhhh... Huaaaaaa Hiks Hiks
Ainun kembali menangis, meratapi nasibnya yang diculik dan dibawa ke tempat antah berantah. Keluarganya pasti sangat khawatir, Ayahnya Ibunya adik adiknya, para sahabatnya dan... Reza... Ia sangat merindukan mereka semua.
Huaaaa... hiks!
Ceklak!
To be continue....
💎💎💎
Siapa yang datang?
Dika kah? pelayan kah? atau....
nantikan jawabannya di up an selanjutnya dears....
Author ucapkan banyak terima kasih sudah bersedia membaca tulisan ala rempeyek ini, dan sudah memberikan rate bintang limanya, like dan vote juga. Aku cinta kalian.... luvvv💗 Author jadi tambah semangat nulis...
Jangan lupa juga untuk selalu meninggalkan jejak dikolom komentar yaa... Kritik dan saran kalian sangat berarti untuk kemajuan ceritaku...
so, jangan pernah bosan yaa.. pantengin terus
Salam cinta Ainun dan Rezi... luvvv
ada kalimat hamil dan kehilangan anaknya . yg di suruh ambil ngerawat si bibi sebelumnya itu yg mengenali dika. tp dia taruh di panti.
g mungkin dika muncul segini banyak partnya kalau bukan penting. entah saingannya si reza atau malah jd benar kakaknya
Ainun punya hape nih skg. tapi jika dia sangat terluka oleh apa yg diprbuat Bara pada Ridho. kenapa Ainun pas ngelihat nggak ada papinya malah menghubungi Reza?
bukannya dia mengkhawatirkan papinya? tp kok malah minta tolong sama Reza yg notabene jauh (5 jam perjalanan) dalam kondsi sakit, dan bukan bagian dr carut marut keluarganya.
pdhl papinya paling dkt jaraknya. misalpun di usir masih ada di sekitar situ. dan dia papinya bukan orang lain.
biar bagaimanapun yg bisa menyelesaikan masalahnya kan ttp aiunan dan keluarganya.
dia hnya menarik reza dlm bahaya.
papinya masih dibelain sma rekha
ainun sndr jls g bkl diapa2in
tp reza??
mlh jd ngeri.
hangat hangat, makan kolak
selalu semangat, kakak...
pantunku gak nyambung🙈tapi semoga itu bisa menambah semangat kakak dalam berkarya❤
tapi bahagia aku bacanya, ikut prok prok aja deh👏👏❤
kakak memang the best merangkai kata..😍🍃
aq smpe bingung cari 🥴🥴
terus paragraf terakhir coba d baca lagi, ad yang janggal g???
sorry sedikit bawel, soalnya aq baca isi ceritamu, bukan baca komen mu😎😎😎
kurang enk d baca
aku nyacroll kok teman kondangan nggak update tapi malah ilang.
aku smp buka profilmu buat nyariin judul.
CMIIW ya readers semua.
sebenarnya semua orang yg punya luka benturan di kepala, (entah apapun penyebabnya) tidak disarankan untuk diguncang2kan, digoyangkan, dipindahkan posisinya. efeknya fatal. dari memperparah keadaan sampai dengan meninggal. karena kepala itu identik dengan saraf dan pembuluh darah.
tapi kita bicara di Indonesia. cederung semua kecelakaan yg terjadi akan dipindahkan dl. entah karena ditengah jalan, panik, atau dianggap harus segra sadar. tanpa tahu proses yg kita berikan justru memperbesar resikonya..
saya pernah lihat kecelakaan dan menyarankan untuk menunggu petugas medis datang sebelum dipindahkan. tp malah saya yg kena omelan. buru2 mereka ingin bawa kr rs.
namun keadaan yang enggan Qt bertemu
seoalah tk ingin Qt bersatu
memecahkan rindu yg membatu