Ini benar-benar kado ulang tahun terburuk. Di saat Vira tidak mempunyai fikiran untuk menikah di usia muda, tepat di ulang tahunnya yang ke-20 orang tuanya memberikan hadiah calon suami untuknya. Jangankan bisa menolak, bahkan dia tidak punya kesempatan untuk sekedar bernegosiasi.
Begitu juga dengan Vino. Di saat dia sedang memperjuangkan kekasihnya, orang tuanya malah sudah memutuskan siapa yang akan menjadi istrinya tanpa berdiskusi dulu sebelumnya.
Tidak perduli bahkan jika Vino harus kehilangan segalanya, dia akan tetap pada pilihannya. Menikahi kekasihnya. Beberapa tawaran kerap di ajukan. Intinya jika Vino mau menikahi Vira terlebih dahulu, dia bisa menceraikannya nanti kalau memang Vino merasa tidak cocok. Tentu saja itu hanya sebuah kalimat bujukan saja. Nyatanya orang tuanya tidak akan membiarkan hal itu terjadi dengan mudah.
Gadis kampung, pasti kuno. Aku harap dia benar-benar buruk rupa sehingga aku bisa segera menceraikannya. Bukan keterlaluan, hanya saja alasan itulah yang pertama kali muncul di otak Vino.
Sayangnya, Vira adalah seekor angsa cantik yang sedang menyamar menjadi seekor itik buruk rupa.
" Hubungan kita hanya sebatas partner kerja sama. Bukan sebagai suami istri!! "
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vivi Ayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lets go to the hot night
Sebelum lanjut ke part selanjutnya, author mau meminta maaf terlebih dahulu apabila di part ini terdapat beberapa kata yang mungkin kurang sedap. Kalau tidak suka, boleh di skip but don't bullying me ok 👌.
**And please be wise**
🔞🔞🔞
Tidak menengok ke arah kanan dan kiri seperti orang yang hendak menyebrang jalan. Pandangannya hanya fokus tertuju ke ruangan tempat dia menyimpan pakaiannya. Berhasil menenteng paper bag berwarna pink lantas bergegas masuk ke dalam kamar mandi.
Secepat ultramen berubah menjadi ultra flu, oke itu tidak mungkin. Kini gadis cantik yang beberapa menit sebelumnya terlihat seperti seekor kelinci yang menggemaskan telah berubah menjadi seekor kucing liar.
Memastikan penampilannya sebelum bertempur ke medan perang.
" Tidak papa, tidak papa Savira Yunanda, hanya untuk malam ini saja. Dan anggap saja kamu sedang bersedekah, membiarkan suamimu mengintip sedikit tubuh mu." kalimat penyemangatnya sambil menatap pantulan wajahnya di cermin.
" Dia sedang memainkan ponselnya," bergumam setelah mengintip sedikit dari celah pintu kamar mandi yang sudah ia buka.
Huftthh, menarik nafas dan menghembuskan nya secara kasar.
" Vin..." berjalan ke arah suaminya dengan langkah yang terkesan lembut nan anggun sembari menyibakkan surai hitam panjangnya. Satu set linggerie berwarna merah maroon sangat kontras dengan warna kulitnya yang putih mulus. Nampak leher jenjangnya yang indah ketika Vira sedang menyibakkan rambutnya dan sesekali menengadah.
Merasa namanya terpanggil, Vino pun memutar arah pandangannya yang sedari tadi fokus menatap layar ponselnya. Demi ribuan bulir air hujan yang masih setia mengguyur alam semesta, Vino benar-benar merasa akan mati tersedak saat itu juga. Sekuat tenaga dia menahannya agar jangan sampai dia tersedak saat itu juga. Memalingkan wajahnya yang sudah memerah dan telinganya yang mulai memanas, demi untuk menyembunyikan keterkejutannya setelah melihat pemandangan yang tidak biasa yang sedang di suguhkan oleh istrinya.
Apa yang sedang dia lakukan? Di malam yang sedang hujan seperti saat ini? Kenapa aku langsung bereaksi? Apa aku selemah itu bahkan hanya melihat sekilas tubuh tripleknya. Sempat merutuki dirinya ah bukan-bukan lebih tepatnya merutuki juniornya yang tiba-tiba bereaksi tanpa seizin si empunya.
Ya ampun author ngomong apaan ini🌚🌚 ambigu aing.
" Apa yang sedang kamu lakukan? " menatap sekilas sebelum kembali memalingkan wajahnya yang kini mulai memanas.
" hei Vin, kamu benar-benar tidak tergoda oleh ku? Coba lihat ke arah sini sebentar."
Vino kembali memutarkan arah pandangannya dan hanya berani menatap wajah Vira saja, tidak berani menatap yang lainnya.
" Tidak!!" Sebisa mungkin membuat ekspresi datar tidak peduli dan tidak merasa terganggu dengan pemandangan yang sedang Vira suguhkan malam ini.
" Benarkah? Apa aku harus mencoba melepaskan kain yang tersisa di tubuhku? " malam ini Vira benar-benar bersikap tidak tau malu, dia malah membuat pose menggoda yang sudah dia pelajari sebelumnya. Belajar dari Video yang sempat di kirim oleh sahabatnya, Neneng.
Ya ampun Neng, kamu benar-benar ya, sudah mencemari otak Vira ku yang polos. Author 🌚🌚
" Tidak perlu... " Secepat kilat menolak setelah melihat jari lentik Vira menyentuh kain yang menempel di tubuhnya guna meloloskannya dari tubuhnya.
" Su... Su... Sudah kukatakan sebelumnya, bahkan sekalipun kamu telanjang, aku tidak akan tertarik. Jadi tidak perlu repot-repot melakukannya! " Mulai gelagapan.
" Kalau tidak perlu ya sudah, tidak harus sampai tergagap-gagap seperti itu juga." Responnya sambil mengangkat bahunya.
" Ganti sana, bikin mata ku sakit saja " Ucapnya ketus.
" Tanpa di suruh pun aku akan ganti sekarang juga, heuh." Melenggang menuju ruang ganti.
Ouhh aku merasa kedinginan, sepertinya aku tidak akan sanggup kalau harus tidur dengan pakaian seperti ini. Menggosok-gosok tangannya mencari setitik kehangatan.
Huft.. Huft.. Huft.. Vino terus menghembuskan nafasnya secara kasar setelah melihat Vira masuk ke dalam ruang ganti.
" Apa gadis itu sudah gila? Kenapa tiba-tiba? Kerasukan apa dia? Untuk apa dia melakukan itu? "
" Tenanglah-tenanglah, dia bukan sarang mu." Masih berusaha menenangkan adiknya.
Ya ampun makin ambigu aing🌚🌚
Selesai berganti piyama yang membuatnya kedinginan, kini dia sudah merubah penampilannya mengenakan setelan piyama Doraemon berlengan pendek dengan setelan celananya yang hanya bisa menutupi sebagian paha nya.
Heran deh thor, kenapa piyamanya Doraemon mulu sih?
Tenang-tenang sob, Vira punya sekodi piyama Doraemon di lemarinya 😅😅
" Loh Vin, kemana perginya tempat tidurku? " Tanya nya setelah menyadari sofa nya raib dari ruangan itu.
Bahkan sofa sebesar itu hilang, dia tidak menyadarinya. Gumam seseorang yang sudah menyadari benda yang hilang sedari tadi saat dia kembali setelah makan malam.
Vino tidak menjawab, dia bangkit dari tempat tidurnya menuju ke arah lemari tempat dia menyimpan handuk, selimut, bantal dan perlengkapan tidur lainnya yang di simpan sebagai cadangan. Namun dia tidak bisa menemukan apapun yang bisa di gunakan untuk sekedar alas tidur di lantai. Akhirnya dia memijit keningnya yang tiba-tiba merasa pening.
" haih, mama benar-benar bekerja keras ingin membuatku terjerat dengan bocah ini. Apa mama juga yang sudah meracuni otak anak SD itu? " Gumamnya.
" Tidurlah di kasur."
" Dan kau? " Tanya Vira namun tidak mendapat jawaban dari Vino. Vino langsung keluar dari dalam kamarnya.
" hem, yasudah kalau begitu malam ini ranjang ini milik ku." Melemparkan tubuhnya ke kasur empuk itu.
Terlihat Vino sedang mengecek beberapa kamar kosong yang ada di rumahnya. Namun sayang semuanya terkunci bahkan ruang kerjnya juga di kunci dan ada tumpukan beberapa benda yang menghalangi pintu ruang kerjanya yang terkunci. Oke ini berlebihan.
" Mamah!!" Geraman frustasi. Kembali memijit keningnya untuk kesekian kalinya.
Akhirnya pria malang itu memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Sebenarnya tidak masalah jika malam ini Vino harus tidur di sofa ruang tamu atau ruang tv, hanya saja dia malas jika harus mendapat omelan dari mama dan papa nya keesokan harinya jika mengetahui dia tidur di luar, apalagi di sana sudah terpasang beberapa cctv yang bisa di cek mamanya kapan pun. Atau mungkin sekarang bisa saja mamanya sedang mengawasi gerak-geriknya saat ini.
suka bgt sm karakter vira
dia tu ttep gemes sampek akhir
mana ceplas ceplos tanpa basa basi ga menye² meskipun karakter vino kurang greget tp ya makesense si masa iya semua karakter utama bagus² doang
hu aku maraton ampek subuh sumpah emosinya dapet bgt gabosen dan gaskip samsek de bab awal
knp baru baca skrg ya
aku datang 2023 coy