Sequel DUREN MANIS...
Si kembar Rava dan Reva sudah beranjak dewasa. Mereka mulai mengenal cinta.
Reva yang lebih supel dan nakal jatuh cinta pada Flora, gadis cantik dan judes yang bekerja di rumahnya. Tapi Flora sudah terlanjur kesal pada sikap cuek Reva yang tidak sengaja mengotori seragam Flora.
Bagaimana Reva berjuang menaklukkan hati gadis pujaannya?
Sedangkan Rava yang serius dan tenang mulai tertarik pada Diva, gadis manis yang pintar memasak. Diusia yang masih muda, Diva sudah memiliki sebuah restaurant yang selalu ramai pembeli. Diva yang selalu tersenyum mengalihkan dunia Rava yang sepi karena takut kehilangan cinta pertamanya.
Sanggupkah Rava menyatakan perasaannya pada Diva? Apalagi dengan adanya Akbar yang lebih dulu hadir menaut hati Diva.
Akankah nasib mereka sama dengan Alex dan Rio atau justru kutukan itu sudah berakhir saat Rio mendapatkan kebahagiaannya bersama Gadis?
Kisah ini adalah sequel Duren Manis yang menceritakan cinta si kembar Ravando dan Revaldo.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sanny Rama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25
Membuktikan
“Baik apanya, kak? Dia pengkhianat brengsek!”teriak
Widya kesal. Ia menghapus sudut matanya dengan kasar. Hatinya sakit melihat
pria yang dicintai kakaknya malah berkencan dengan wanita lain bahkan sampai ke
hotel.
Rava melirik Reynold, meminta bantuannya untuk
menenangkan Widya. Tapi Reynold tidak punya pengalaman menenangkan seorang
gadis. Keduanya beralih ke Steven, teman lama Reynold sekaligus calon bos-nya
nanti.
“Kenapa kalian ngliatin gue kayak gitu?”tanya
Steven. Reynold memberi kode dengan kepalanya menunjuk Widya. Steven melengos
malas, pria itu beranjak ke sisi Widya lalu memeluk gadis itu. Darah Steven
berdesir ketika Widya sudah masuk dalam pelukannya. ”Shit! Cewek ini wangi
banget. Badannya juga enak banget dipeluk gini. Nggak seperti cewek yang biasa
kukencani.”
Widya yang merasa sesak dipeluk Steven, mendorong
pria itu kuat-kuat sampai Steven jatuh terjengkang dari sofa. Reynold dan Rava
bukannya membantu Steven berdiri malah ketawa ngakak melihat Steven memegangi
pinggangnya.
“Dasar mesum!!”teriak Widya kesal. Ia menendang
kaki Steven juga sebelum bangkit dari duduknya.
“Widya, tunggu dulu. Apa kamu sudah baikan?”tanya Rava
masih khawatir.
“Aku harus kasi tau kak Diva, kak. Pria brengsek
itu berkhianat. Aku sudah duga dia sama sekali nggak cinta sama kak Diva.”kata
Widya berapi-api.
Rava masih menahan Widya dan menanyakan apa ia
punya bukti, karena kalau tidak, semuanya akan sia-sia saja. Widya duduk
kembali setelah menendang Steven sekali lagi. Ia masih kesal karena pria yang
tidak dikenalnya itu memeluknya sembarangan.
Steven yang ditendang sekali lagi, bangkit berdiri
lalu berjalan tertatih duduk di kursi yang jauh dari mereka. Widya membuka
ponselnya, ia sempat merekam Akbar dan wanita itu tadi. Rava melihat rekaman
itu, terlihat Akbar keluar dari kamar hotel sambil memeluk wanita itu.
“Kayaknya video ini nggak bisa dipakai membuktikan
Akbar selingkuh dech. Kecuali....”Rava menatap Widya yang sudah menatapnya
juga. “Kita jebak dia.”saut keduanya kompak.
Rava terkejut mendengar jawabannya kompak dengan
Widya. Gadis itu tersenyum, “Aku tahu kakak suka sama kak Diva. Kalau kakak mau
bantu aku, aku akan bicara dengan kak Diva.”kata Widya bersemangat.
“Tapi... dengar, bukan hal mudah menjebak seseorang
apalagi di hotel terkenal seperti disini. Salah-salah hotel ini bisa dituntut
oleh Akbar. Hmm, kita harus pikirkan cara lain yang lebih baik.”kata Rava
menggaruk kepalanya.
“Mungkin Steven bisa bantu.”saut Reynold menunjuk
Steven.
“Caranya?”tanya Widya kepo.
Reynold menatap Steven yang sudah merenggangkan
jari-jarinya. Ia membuka laptopnya yang sudah terpasang di atas meja, lalu
mulai mengetik sesuatu. Steven meminta nomor ponsel Akbar pada Widya. Ketika
Widya menyebutkan nomor ponsel Akbar, pria itu memintanya mendekat.
“Steven nggak bisa konsen, deketin sana.”kata
Reynold menyuruh Widya mendekati Steven.
Widya tanpa curiga mendekat pada pria itu lalu
memperlihatkan ponselnya. Steven menggenggam tangan Widya dengan sengaja, ia
tampak serius mengetik dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya masih
tetap memegang tangan Widya.
Gadis itu terkagum melihat Steven sangat terampil
mengetik dengan tangan kirinya. Ia sampai tidak sadar kalau tangannya masih
digenggam Steven.
“Aku sudah dapat lokasinya. Dia punya restaurant
juga ya. Coba aku cek ada CCTV-nya nggak.”kata Steven melepas genggaman
tangannya.
Rava dan Reynold yang kepo juga mendekat melihat ke
laptop Steven. CCTV di restaurant Akbar menampilkan pria itu sedang berjalan
masuk ke sebuah ruangan. Seorang wanita yang tampak seperti pelayan juga masuk
ke ruangan itu membawa minuman. Setelah meletakkan minuman itu diatas meja,
Akbar menarik tangan pelayan itu.
Wajah Widya merona merah menahan amarah dan rasa
malunya. Adegan 21+ mulai di putar live pada laptop Steven menjadi tontonan
gratis bagi mereka semua. Widya memalingkan wajahnya dari layar laptop. Ia
tidak merasa nyaman menonton adegan seperti itu.
Steven men-zoom wajah Akbar, merekam adegan panas
itu sambil menelan salivanya. Rava yang melihat Steven berkali-kali melirik
Widya sambil menonton adegan itu, menoyor kepala Steven.
“Jangan mikir macem-macem lu. Calon ipar gue tuch.
Lu mau mati.”ancam Rava berbisik agar tidak didengar Widya.
Widya yang merasa sedang dibicarakan, menoleh
menatap ketiga pria yang masih asyik menonton itu. Ia merasa tidak nyaman,
berkali-kali mengusap tengkuknya yang terasa dingin.
“Kak Rava, itu yang di laptop bisa jadi bukti kan?”tanya
Widya memecah keheningan yang canggung.
Rava mendekati Widya, duduk di depan gadis itu. “Kamu
bisa coba dulu. Tapi aku nggak yakin kalau Diva percaya.”
Widya bertekad akan bicara serius dengan kakaknya.
Masalahnya dia yang lihat sendiri kelakuan Akbar seperti apa. Dan Widya tidak mau
kakaknya terluka gara-gara Akbar. Tring! Ponsel Widya berbunyi tanda notif chat
masuk. Widya membukanya, itu video yang tadi dilihatnya. Widya menoleh menatap
Steven,
“Itu nomorku. Save ya. Namaku Steven.”kata Steven
sambil mengerdipkan matanya dan tersenyum pada Widya.
“Sekarang aku save, tapi kalau kamu ngirim yang
aneh-aneh, aku block.”kata Widya dingin.
Steven hanya menatap Widya tanpa mengatakan apa-apa
lagi. Ia bahkan tidak perlu melakukan apa-apa karena ketika Widya menyodorkan
ponselnya tadi, Steven sudah membajak ponsel gadis itu.
Widya segera keluar dari kamar itu setelah
mengucapkan terima kasih pada Steven, Reynold, dan Rava yang sudah membantunya.
Ia tidak sabar ingin segera pulang untuk bertemu Diva. Jam pulang kerja baginya
tinggal satu jam lagi. Tapi saat Widya kembali ke pos kerjanya, Lisa menyuruh
Widya mengambil peralatan kebersihan di gudang.
Tanpa berpikir lagi, Widya segera mengambilnya dan
pintu gudang langsung terkunci saat Widya berusaha membukanya. Widya memucat,
ia meninggalkan ponselnya di dalam tas tadi. Tas itu ia gantung di balik pintu
loker, disamping pintu gudang.
Widya mulai menggedor pintu gudang sampai tangannya
sakit dan memerah. Ia menarik nafas panjang, mencoba berpikir bagaimana cara
keluar dari sana. Widya melihat sekeliling gudang yang sempit itu. Banyak
peralatan kebersihan disana yang sering digunakan. Ia mencari sesuatu yang bisa
dipakai untuk memukul handle pintu.
Saat Widya berusaha menggapai benda mirip palu di
sudut gudang, ia tidak sengaja menginjak lap pel basah. Brak! Widya terjatuh
cukup keras, kepalanya membentur dinding gudang hingga Widya tidak sadarkan
diri.
Beberapa jam kemudian, Steven membuka pintu ruang
loker karyawan dengan tergesa-gesa. Ia menemukan tas dan ponsel Widya masih
tergantung di tempat semula. Pria itu melihat sekeliling, hanya ada pintu satu
lagi sana. Steven memutar knop kunci dan membuka pintu gudang.
“Widya!!”panggil Steven menghampiri Widya yang
masih pingsan lalu mengangkatnya.
Steven membawa Widya ke kamarnya, lalu membaringkan
gadis itu diatas ranjangnya. Bagaimana Steven bisa tahu keberadaan Widya?
Tengah malam Steven hampir tertidur ketika ia teringat pada Widya. Iseng,
Steven mengaktifkan mode pencari nomor ponsel Widya dan menemukan kalau sampai
larut malam ponsel Widya masih ada di hotel itu.
Merasa aneh, Steven keluar dari kamar mengikuti
signal yang dipancarkan ponsel Widya. Sebelum akhirnya ponsel itu mati
kehabisan daya. Untung saja tidak ada seorangpun yang memergoki Steven
menggendong Widya masuk ke kamarnya.
*****
Makasih udah mampir, jangan lupa tinggalkan jejakmu
rate bintang 5, like, komen, dan yang paling penting vote, vote, vote. Ty.