NovelToon NovelToon
Cinta Kembarku

Cinta Kembarku

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Komedi / Cintamanis / Badboy / Tamat
Popularitas:1M
Nilai: 4.9
Nama Author: Sanny Rama

Sequel DUREN MANIS...

Si kembar Rava dan Reva sudah beranjak dewasa. Mereka mulai mengenal cinta.

Reva yang lebih supel dan nakal jatuh cinta pada Flora, gadis cantik dan judes yang bekerja di rumahnya. Tapi Flora sudah terlanjur kesal pada sikap cuek Reva yang tidak sengaja mengotori seragam Flora.

Bagaimana Reva berjuang menaklukkan hati gadis pujaannya?

Sedangkan Rava yang serius dan tenang mulai tertarik pada Diva, gadis manis yang pintar memasak. Diusia yang masih muda, Diva sudah memiliki sebuah restaurant yang selalu ramai pembeli. Diva yang selalu tersenyum mengalihkan dunia Rava yang sepi karena takut kehilangan cinta pertamanya.

Sanggupkah Rava menyatakan perasaannya pada Diva? Apalagi dengan adanya Akbar yang lebih dulu hadir menaut hati Diva.

Akankah nasib mereka sama dengan Alex dan Rio atau justru kutukan itu sudah berakhir saat Rio mendapatkan kebahagiaannya bersama Gadis?

Kisah ini adalah sequel Duren Manis yang menceritakan cinta si kembar Ravando dan Revaldo.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sanny Rama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 25

Membuktikan

“Baik apanya, kak? Dia pengkhianat brengsek!”teriak

Widya kesal. Ia menghapus sudut matanya dengan kasar. Hatinya sakit melihat

pria yang dicintai kakaknya malah berkencan dengan wanita lain bahkan sampai ke

hotel.

Rava melirik Reynold, meminta bantuannya untuk

menenangkan Widya. Tapi Reynold tidak punya pengalaman menenangkan seorang

gadis. Keduanya beralih ke Steven, teman lama Reynold sekaligus calon bos-nya

nanti.

“Kenapa kalian ngliatin gue kayak gitu?”tanya

Steven. Reynold memberi kode dengan kepalanya menunjuk Widya. Steven melengos

malas, pria itu beranjak ke sisi Widya lalu memeluk gadis itu. Darah Steven

berdesir ketika Widya sudah masuk dalam pelukannya. ”Shit! Cewek ini wangi

banget. Badannya juga enak banget dipeluk gini. Nggak seperti cewek yang biasa

kukencani.”

Widya yang merasa sesak dipeluk Steven, mendorong

pria itu kuat-kuat sampai Steven jatuh terjengkang dari sofa. Reynold dan Rava

bukannya membantu Steven berdiri malah ketawa ngakak melihat Steven memegangi

pinggangnya.

“Dasar mesum!!”teriak Widya kesal. Ia menendang

kaki Steven juga sebelum bangkit dari duduknya.

“Widya, tunggu dulu. Apa kamu sudah baikan?”tanya Rava

masih khawatir.

“Aku harus kasi tau kak Diva, kak. Pria brengsek

itu berkhianat. Aku sudah duga dia sama sekali nggak cinta sama kak Diva.”kata

Widya berapi-api.

Rava masih menahan Widya dan menanyakan apa ia

punya bukti, karena kalau tidak, semuanya akan sia-sia saja. Widya duduk

kembali setelah menendang Steven sekali lagi. Ia masih kesal karena pria yang

tidak dikenalnya itu memeluknya sembarangan.

Steven yang ditendang sekali lagi, bangkit berdiri

lalu berjalan tertatih duduk di kursi yang jauh dari mereka. Widya membuka

ponselnya, ia sempat merekam Akbar dan wanita itu tadi. Rava melihat rekaman

itu, terlihat Akbar keluar dari kamar hotel sambil memeluk wanita itu.

“Kayaknya video ini nggak bisa dipakai membuktikan

Akbar selingkuh dech. Kecuali....”Rava menatap Widya yang sudah menatapnya

juga. “Kita jebak dia.”saut keduanya kompak.

Rava terkejut mendengar jawabannya kompak dengan

Widya. Gadis itu tersenyum, “Aku tahu kakak suka sama kak Diva. Kalau kakak mau

bantu aku, aku akan bicara dengan kak Diva.”kata Widya bersemangat.

“Tapi... dengar, bukan hal mudah menjebak seseorang

apalagi di hotel terkenal seperti disini. Salah-salah hotel ini bisa dituntut

oleh Akbar. Hmm, kita harus pikirkan cara lain yang lebih baik.”kata Rava

menggaruk kepalanya.

“Mungkin Steven bisa bantu.”saut Reynold menunjuk

Steven.

“Caranya?”tanya Widya kepo.

Reynold menatap Steven yang sudah merenggangkan

jari-jarinya. Ia membuka laptopnya yang sudah terpasang di atas meja, lalu

mulai mengetik sesuatu. Steven meminta nomor ponsel Akbar pada Widya. Ketika

Widya menyebutkan nomor ponsel Akbar, pria itu memintanya mendekat.

“Steven nggak bisa konsen, deketin sana.”kata

Reynold menyuruh Widya mendekati Steven.

Widya tanpa curiga mendekat pada pria itu lalu

memperlihatkan ponselnya. Steven menggenggam tangan Widya dengan sengaja, ia

tampak serius mengetik dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya masih

tetap memegang tangan Widya.

Gadis itu terkagum melihat Steven sangat terampil

mengetik dengan tangan kirinya. Ia sampai tidak sadar kalau tangannya masih

digenggam Steven.

“Aku sudah dapat lokasinya. Dia punya restaurant

juga ya. Coba aku cek ada CCTV-nya nggak.”kata Steven melepas genggaman

tangannya.

Rava dan Reynold yang kepo juga mendekat melihat ke

laptop Steven. CCTV di restaurant Akbar menampilkan pria itu sedang berjalan

masuk ke sebuah ruangan. Seorang wanita yang tampak seperti pelayan juga masuk

ke ruangan itu membawa minuman. Setelah meletakkan minuman itu diatas meja,

Akbar menarik tangan pelayan itu.

Wajah Widya merona merah menahan amarah dan rasa

malunya. Adegan 21+ mulai di putar live pada laptop Steven menjadi tontonan

gratis bagi mereka semua. Widya memalingkan wajahnya dari layar laptop. Ia

tidak merasa nyaman menonton adegan seperti itu.

Steven men-zoom wajah Akbar, merekam adegan panas

itu sambil menelan salivanya. Rava yang melihat Steven berkali-kali melirik

Widya sambil menonton adegan itu, menoyor kepala Steven.

“Jangan mikir macem-macem lu. Calon ipar gue tuch.

Lu mau mati.”ancam Rava berbisik agar tidak didengar Widya.

Widya yang merasa sedang dibicarakan, menoleh

menatap ketiga pria yang masih asyik menonton itu. Ia merasa tidak nyaman,

berkali-kali mengusap tengkuknya yang terasa dingin.

“Kak Rava, itu yang di laptop bisa jadi bukti kan?”tanya

Widya memecah keheningan yang canggung.

Rava mendekati Widya, duduk di depan gadis itu. “Kamu

bisa coba dulu. Tapi aku nggak yakin kalau Diva percaya.”

Widya bertekad akan bicara serius dengan kakaknya.

Masalahnya dia yang lihat sendiri kelakuan Akbar seperti apa. Dan Widya tidak mau

kakaknya terluka gara-gara Akbar. Tring! Ponsel Widya berbunyi tanda notif chat

masuk. Widya membukanya, itu video yang tadi dilihatnya. Widya menoleh menatap

Steven,

“Itu nomorku. Save ya. Namaku Steven.”kata Steven

sambil mengerdipkan matanya dan tersenyum pada Widya.

“Sekarang aku save, tapi kalau kamu ngirim yang

aneh-aneh, aku block.”kata Widya dingin.

Steven hanya menatap Widya tanpa mengatakan apa-apa

lagi. Ia bahkan tidak perlu melakukan apa-apa karena ketika Widya menyodorkan

ponselnya tadi, Steven sudah membajak ponsel gadis itu.

Widya segera keluar dari kamar itu setelah

mengucapkan terima kasih pada Steven, Reynold, dan Rava yang sudah membantunya.

Ia tidak sabar ingin segera pulang untuk bertemu Diva. Jam pulang kerja baginya

tinggal satu jam lagi. Tapi saat Widya kembali ke pos kerjanya, Lisa menyuruh

Widya mengambil peralatan kebersihan di gudang.

Tanpa berpikir lagi, Widya segera mengambilnya dan

pintu gudang langsung terkunci saat Widya berusaha membukanya. Widya memucat,

ia meninggalkan ponselnya di dalam tas tadi. Tas itu ia gantung di balik pintu

loker, disamping pintu gudang.

Widya mulai menggedor pintu gudang sampai tangannya

sakit dan memerah. Ia menarik nafas panjang, mencoba berpikir bagaimana cara

keluar dari sana. Widya melihat sekeliling gudang yang sempit itu. Banyak

peralatan kebersihan disana yang sering digunakan. Ia mencari sesuatu yang bisa

dipakai untuk memukul handle pintu.

Saat Widya berusaha menggapai benda mirip palu di

sudut gudang, ia tidak sengaja menginjak lap pel basah. Brak! Widya terjatuh

cukup keras, kepalanya membentur dinding gudang hingga Widya tidak sadarkan

diri.

Beberapa jam kemudian, Steven membuka pintu ruang

loker karyawan dengan tergesa-gesa. Ia menemukan tas dan ponsel Widya masih

tergantung di tempat semula. Pria itu melihat sekeliling, hanya ada pintu satu

lagi sana. Steven memutar knop kunci dan membuka pintu gudang.

“Widya!!”panggil Steven menghampiri Widya yang

masih pingsan lalu mengangkatnya.

Steven membawa Widya ke kamarnya, lalu membaringkan

gadis itu diatas ranjangnya. Bagaimana Steven bisa tahu keberadaan Widya?

Tengah malam Steven hampir tertidur ketika ia teringat pada Widya. Iseng,

Steven mengaktifkan mode pencari nomor ponsel Widya dan menemukan kalau sampai

larut malam ponsel Widya masih ada di hotel itu.

Merasa aneh, Steven keluar dari kamar mengikuti

signal yang dipancarkan ponsel Widya. Sebelum akhirnya ponsel itu mati

kehabisan daya. Untung saja tidak ada seorangpun yang memergoki Steven

menggendong Widya masuk ke kamarnya.

*****

Makasih udah mampir, jangan lupa tinggalkan jejakmu

rate bintang 5, like, komen, dan yang paling penting vote, vote, vote. Ty.

1
Eka Sari Agustina
👍👍👍👍👍
G
lanjut
Mella Soplantila Tentua Mella
dasar Reva mesuuum... ha ha hahaaa ketangkap basah sm ibu negara
Martini
di tunggu kelanjutannya Thor kan flora hamil
Martini
wah dapat mantu Sekai 2 mama jelita god
Martini
anaknya mami jelita gresek semua
Martini
bakal kena semprot tu jeny
Martini
gawangnya udah gol ya reva
Martini
selalu seru aja Thor karyamu
Martini
hahaha camer sama menantu klop geseknya
Martini
pembantu ganjen di pecat aja Thor bisng kerok itu
Martini
iya Reva itu kan bucin
Martini
jangan bikin aq baper donk Thor kasihan ravanya
Martini
aq sampai ikut nangis Thor kasihan rava perjuanganya tidak ada artinya di depan diva
Martini
diva kok sadis tadi aja berharap sekarang malah bikin rava hanjur
Martini
semoga Frank ya thor
Martini
aq setuju kalau Roger sama jeny
Martini
mungkin lagi berhai hai Thor Reva sama flo
Martini
kayaknya dapat lampu hijau dech Juan Ama devina 👍👍👍
Martini
Devina kok hadi gadis bar bar sich
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!