Adeeva harus rela menikah dengan pria yang bernama Arion demi membantu perusahaan ayahnya yang sedang di ambang kehancuran.
namun di balik itu Adeeva bisa bernafas lega karena biaa keluar dari tempat yang di bakalan rumah namun menurutnya adalah neraka.
akankah Adeeva biaa mendapatkan kebahgiaannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
025
Typo masih bertebaran di setiap sudut cerita.
____________
Adeeva kembali terbangun di pelukan Arion. Tidak seperti sebelumnya jika Adeeva terbangun akan berteriak namun sekarang Adeeva lebih suka memandangi wajah suaminya. Wajah tampan yang sangat mempesona dan sialnya Adeeva mulai terpesona.
"Apa kau sudah puas nemanatap ku" seru Arion yang matanya masih terpejam.
Adeeva yang ketahuan oleh Arion karena menatap wajahnya mencoba untuk bangun namun sayangnya tangan Arion lebih cepat dari Adeeva.
Adeeva mencoba melepaskan tangan Arion namun lagi-lagi kekuatan Arion lebih besar dari Adeeva.
"Biarkan seperti ini"
Arion kembali menelusupkan wajahnya di cerucuk leher Adeeva, menghirup wangi tubuh Adeeva yang membuatmu nyaman.
"Kau wangi, dan aku menyukainya" seru Arion. Tangannya kembali mempererat pelukannya.
"Arion, aku tidak bisa bernafas" seru Adeeva, Arion mulai mengendorkan pelukannya. Matanya kembali menatap wajah cantik Adeeva.
Wajah yang setiap hari selalu di lihatnya. "Sepertinya aku mulai tertarik padamu" seru Arion yang otomatis membuat Adeeva tidak bisa berkata apapun.
"Jangan bercanda A"
"Aku tidak bercanda" seru Arion.
"Sudahlah, lepaskan aku aku ingin bangun" seru Adeeva. Namun sebelum Adeeva bangun Arion sudah kembali menarik tubuh Adeeva dan menindihnya, menunpukan kedua tangannya di sini kiri dan kanan tubuh Adeeva dan memerangkapnya.
"Apa kau menganggap perkataanku seperti bercanda" Arion menatap tajam Adeeva.
"Lepaskan aku Arion" Adeeva mencoba melepaskan diri.
Arion mengambil tangan Adeeva dan meletakkanya di dada bidangnya yang tidak mengenakan baju sama sekali.
Tangan Adeeva merasakan detak jantung Arion yang sedikit lebih cepat.
"Apa kau bisa mersakannya, bahkan detak jantung ku pun tidak akan berbohong " seru Arion.
"Apa ini serius"
"Jika aku tidak serius untuk apa aku menikahimu"
"Bukankah aku hanya jaminan untukmu"
"Mungkin awalnya aku pikir seperti itu, namun sepertinya hatiku berkata lain ketika melihatmu "
"Lalu kontrak kita"
"Biarkan saja, kita jalani saja lebih dulu. Apa kau mau hidup bersamaku"
Adeeva tidak menjawab namun kepalanya mengangguk mengiyakan.
Arion mencium kening Adeeva perlahan, turun pada kedua mata Adeeva, pipi dan terakhir Bibir.
Ciuman Arion sangat lembut, bahkan Adeeva yang masih belum berpengalaman bisa menikmati ciuman Arion yang sangat memabukkan.
"sepertinya kau belum berpengalaman dengan ciuman" seru Arion setelah puas mekumat bibir Adeeva hingga bengkak.
"Kau yang mengambilnya" seru Adeeva kesal.
"Ah jadi aku yang pertama, bukankah aku pria beruntung untuk itu" seru Arion menggoda.
"Kau menyebalkan"
"Tapi sepertinya kau menyukai Ciuman ku bukan"
"Bisakah kita tidak membahas tentang itu,"
"Kenapa ?"
"Aku malu" Adeeva meyakinkan wajahnya dari hadapan Arion, namun sayangnya itu merupakan kesalahan untuk Adeeva.
Adeeva merasakan bibir Arion sudah mendarat di leher jenjangnya Adeeva, menciumnaya lembut. Adeeva menahan nafasnya karena ulah Arion.
"Bernafaslah, kau akan mati jika menahannya dan aku tidak ingin itu terjadi" seru Arion.
Adeeva langsung mendorong tubuh Arion dari atas tubuhnya. " kau menyebalkan" teriak Adeeva dan langsung pergi keluar kamar.
Arion yang melihat reaksi istrinya hanya bisa tertawa, hal menyenangkan lainnya yang di dapatkan dari Adeeva.
Adeeva berjalan ke dapur, seperti biasa Adeeva akan meminum teh hangat di pagi hari. Ketika memasuki dapur Adeeva melihat Jonathan yang sudah duduk dengan kopi di tangannya.
"Selamat pagi Nona, ada yang bisa saya bantu" Jonathan menatap Adeeva yang mulai mendekat.
"Aku haya ingin meminum teh hangat"
"Saya akan menyuruh pelayan untuk membuatnya"
"Tidak perlu aku bisa sendiri" Adeeva keluar dengan pakai tidur yang biasa di gunakannya di rumah Arion.
Jonathan yang melihat itu kembali menundukan kepalanya, memikirkan dirinya pada kopi yang sedang di nikmatinya. Namun dalam hati merutuki pakaian yang di kenakan oleh Adeeva.
Adeeva membuat secangkir teh untuk dirinya. Teh lemon yang menggunakan tubuh.
Adeeva juga tidak lupa membuatku kopi untuk Arion, yang Adeeva tahu Arion menyukai kopi di pagi hari.
"Apa kau ingin kopi lagi" tanya Adeeva.
"Tidak Nona, ini sudah cukup" Jonathan mengangkat secangkir kopi yang sedang di minum.
Adeeva duduk di depan Jonathan, menatap Jonathan yang sedang fokus pada layar Tab yang di bawanya.
"Aku penasaran, sudah berapa lama kau bekerja dengan Arion" Tanya Adeeva.
"Saya bekerja dengan tuan sudah hampir lima tahun"
"Wah, tetnyata kau termasuk pegawai teladan, apa kau tidak bosan bekerja dengan Arion?" kembali Adeeva bertanya.
"Tidak"
"Kau irit bicara" seru Adeeva sedikit mendengus.
"Apa kau mempunyai keluarga?"
"Saya punya"
"Kekasih?"
"Tidak"
"Sayang sekali, padahal kau tampan, atau jangan jangan kau tidak tertarik pada wanita " tanya Adeeva lagi.
Jonathan menghentikan aktifitasnya menatap Adeeva lurus. "Saya masih normal dan saya masih menyukai perempuan" sedu Jonathan.
"Aku hanya bertanya, tidak perlu semenakutkan itu" seru Adeeva. Aura yang Jonathan keluarkan sungguh menakutkan.
Arion menghampiri Adeeva dan Jonathan yang sedang meminum teh hangatnya.
"Apa yang kau lakukan" Arion mencium kepala Adeeva sekilas.
Adeeva menyodorkan Cangkir kopi kehadapan Arion.
"Minumlah, aku sudah membuatkannya" seru Adeeva.
Arion duduk di di sebelah Adeeva dengan secangkir kopi yang sudah di siapkan oleh istrinya.
"Terima kasih" seru Arion.
Jonathan yang mendengarnya hanya bisa berdehem baru kali ini Jonathan melihat Tuannya berubah. Ini adalah awal yang bagus untuk Arion.
P.s
Hai aku balik nih, aku gak akan berhenti bilang, jaga kesehatan kalian karena mencegah lebih baik dari mengobati.
See u