NovelToon NovelToon
Black Swan

Black Swan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:279.7k
Nilai: 4.8
Nama Author: chalista saqila

Aciel Lutherford datang ke panti asuhan itu dengan segala janji palsu yang ia berikan kepada si lugu Eden yang kala itu tidak tahu apa-apa. Pria itu mengadopsi Eden tanpa alasan yang jelas dan membiarkan Eden hidup tanpa status yang jelas di rumahnya hingga enam tahun lamanya. Setelah enam tahun berlalu, Eden perlahan-lahan mulai berubah menjadi sosok wanita dewasa yang mengagumkan. Usianya yang mulai menginjak dua puluh tahun membuat Aciel yang sebelumnya tidak pernah memperhatikan wanita itu, mulai berbalik untuk mengintai wanita itu dari kejauhan. Hingga suatu hari sebuah peristiwa buruk mengubah segalanya. Wanita polos itu tidak lagi menjadi sesosok angsa putih yang lembut, melainkan telah berubah menjadi sesosok angsa hitam yang selalu memancarkan luka dan lara di kedua mata bulatnya. Dan kini ia pun mulai memiliki ambisi untuk menghancurkan pria bermata coklat itu, pria yang telah membawanya pada penderitaan yang tak bertepi, Aciel Lutherford!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chalista saqila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Month Eight, One Last Time (Twenty Five)

        “Kau sudah bangun?”

            Eden tersenyum masam sambil

menggoyang-goyangkan kakinya di pinggir ranjang. Rasanya memang terlalu berlebihan jika Aciel akan menyambutnya dengan sapaan hangat yang romantis serta senyuman manis yang merekah karena kenyataanya Aciel bukan pria seperti itu. Sapaan pagi sederhana yang terdengar begitu datar sudah lebih dari cukup untuk memulai hari-harinya yang biasa saja.

            “Biar aku yang memasangkannya”

            Eden dengan cekatan segera berdiri dari ranjangnya dan berjalan menghampiri Aciel yang sedang sibuk merapikan dasi merahnya yang belum terpasang sempurna. Tak biasanya pria itu masih berada di kamarnya setelah menghabiskan malam yang penuh emosi bersamanya. Apakah pria itu memang sengaja menunggunya bangun? Atau masih ada hal lain yang ingin dikatakan oleh pria itu?

            “Bagaimana perasaanmu? Kuharap kau tidak terlihat menyedihkan lagi pagi ini karena itu sungguh bukan gayamu. Kau jauh lebih cocok dengan wajah datarmu yang terlihat mengerikan.” Ucap Eden sungguh-sungguh tanpa berniat untuk mengejek sedikitpun.

            “Perasaanku hari ini tidak lebih baik dari kemarin, tapi juga tidak lebih buruk dari kemarin. Terimakasih untuk

waktumu semalam.”

            Eden seketika menghentikan tangannya yang sedang membuat simpul untuk dasi Aciel sambil menatap pria itu tak percaya. Untuk pertama kalinya ia mendengar seorang Aciel mengucapkan kata terimakasih padanya. Wow, itu sungguh luar biasa!

            “Kau? Apa aku tidak salah dengar?”

            “Kurasa tidak. Terimakasih Eden, karena kau telah menjadi bagian dari hidupku.”

            “Emm... kurasa aku perlu tisu sekarang.”

            Eden terkekeh pelan dengan kalimat konyolnya sambil merapikan dasi Aciel yang telah terpasang sempurna. Rasanya pagi ini sungguh luar biasa karena untuk pertama kalinya ia tidak memulai harinya dengan sebuah teriakan atau pertengkaran yang biasanya terjadi diantara dirinya dan juga Aciel. Bisa dikatakan ini adalah sebuah kemajuan yang luar biasa setelah bertahun-tahun lamanya ia tinggal bersama pria itu.

            “Aku heran, kenapa pagi ini kau masih berada di sini?”

            “Aku juga tidak tahu. Boleh aku menyapanya?”

            Eden menaikan alisnya tidak mengerti. Namun beberapa saat kemudian ia mulai memahami maksud dari pria itu setelah ia mengikuti arah tatapan Aciel yang menunjuk pada perut buncitnya.

            “Oh, kau ingin menyapanya? Kemarilah, kurasa akan lebih nyaman jika aku duduk di atas kursi. Kebetulan pagi ini ia sedang aktif dan terus menendang-nendang di perutku.”

            Eden menarik tangan Aciel pelan agar mengikutinya untuk duduk di atas sofa, dan setelah itu ia mulai mengarahkan telapak tangan Aciel ke atas permukaan kulit perutnya. Rasanya benar-benar hangat dan nyaman saat telapak tangan Aciel menempel sempurna di atas pemukaan perutnya. Dan ia merasa pria itu saat ini benar-benar menginginkan anaknya. Tatapan takjub dari Aciel saat satu tendangan lolos dari dalam perutnya membuat

Eden benar-benar terenyuh dan ingin menangis. Entah kenapa ia begitu terharu ketika melihat Aciel yang terasa seperti suami sungguhan untuknya.

            “Dia menendang cukup keras. Apa itu sakit?” tanya Aciel serius sambil terus menatap perut buncit Eden takjub. Tangan kanannya masih berada di atas permukaan perut Eden, dan ia seperti menunggu tendangan berikutnya dari bayi mungilnya.

            “Lumayan sakit, tapi itu bukan masalah besar. Sekarang aku selalu berusaha menjaganya dengan baik. Bahkan aku sangat menyesal karena dulu sempat berpikir untuk melenyapkannya. Saat membayangkan kelahirannya satu bulan lagi membuat hatiku menghangat dan berdebar-debar. Aku sudah tidak sabar untuk menjadi seorang ibu.”

            Eden bercerita dengan raut bahagia yang berbinar-binar, membuat Aciel mau tidak mau juga ikut menyunggingkan senyumnya saat melihat wajah berbinar-binar yang tampak cantik. Tak bisa dipungkiri, ia juga tidak sabar menunggu kelahiran bayinya yang sudah delapan bulan ini meringkuk di dalam perut kecil Eden. Membayangkan jika sebentar lagi ia akan menjadi ayah membuat Aciel merasa takut dan juga bahagia disaat yang bersamaan. Ia takut tidak bisa mengurus anaknya dengan benar atau membahagiakan anaknya. Tapi ia juga sangat bahagia karena pada akhirnya ia berani menjalankan sebuah komitmen yang sebelumnya selalu ia hindari. Saat bayi itu lahir nantinya, perlahan-lahan ia akan berubah dan tidak akan lagi menyakiti Eden. Ia  akan berusaha menjadi seorang ayah yang baik, dan tidak akan bermain-main dengan wanita lagi. Sekarang ia akan berusaha untuk tetap setia pada wanita yang telah melahirkan anaknya yang berharga

            “Apa jenis kelaminnya? Dokter Hwang sudah memberitahumu?”

            “Oh, aku sengaja tidak menanyakannya agar menjadi kejutan. Akan sangat menyenangkan jika saat melahirkan nanti dokter meletakan bayi itu di atas dadaku sambil membisikan jenis kelaminnya. Atau mungkin kau yang akan membisikan jenis kelaminnya di telingaku.” Ucap Eden berangan-angan. Aciel merasa kehamilan ini telah membuat Eden berubah menjadi seorang wanita yang lebih lembut dari biasanya. Sikapnya akhir-akhir ini bisa dikatakan lebih tenang dan juga penurut. Setiap ia menyiapkan susu untuk wanita itu, maka Eden akan langsung meminumnya tanpa banyak melayangkan banyak protes seperti dulu.

            “Semoga aku memang bisa menemanimu saat kau melahirkan. Terkadang aku merasa takut saat membayangkan masa depanku bersama kalian. Apakah aku bisa mengontrol emosiku dengan baik, atau aku justru akan seperti ayahku.”

            “Ace... Kau bukan ayahmu, kau adalah kau. Kalian adalah dua orang yang berbeda. Jika kau takut akan menjadi seperti ayahmu, kau bisa menjadikan pengalaman hidupmu selama ini sebagai pelajaran agar tidak mengulangi kesalahan yang sama.” Ucap Eden bijak dengan senyum manis yang terkembang di wajahnya. Aciel tersenyum kecil menanggapi nasihat Eden sambil meraih jasnya yang berada di atas sofa. Ia rasa pagi ini keadannya sudah jauh lebih baik, dan ia harus segera mengakhiri semua momen manis mereka kali ini karena masih ada banyak hal yang perlu mereka lalui sebelum mereka benar-benar bisa bersatu untuk mendapatkan akhir yang bahagia.

Drrt drrt

            Gerakan Aciel terhenti tiba-tiba saat ia mengingat ponselnya yang berada di atas nakas, di sebelah ranjang Eden. Semalam ia sadar jika benda persegi itu terus bergetar-getar berisik, namun ia memilih untuk mengabaikannya karena ia terlalu sibuk bersama Eden.

            “Semalam ponselmu terus berdering, tapi kau tidak mengangkatnya.”

            Eden mengangsurkan benda persegi itu kearah Aciel dan mulai merapikan sedikit jas hitam Aciel yang sedikit terlipat di bagian tengahnya.

            “Rasanya terlalu sayang melewatkan tubuh indahmu hanya karena sebuah ponsel.” Goda Aciel sensual. Eden berdecak malas menanggapi godaan Aciel sambil menepuk dada Aciel pelan.

            “Jangan membuatku muntah di pagi hari Ace. Ingat, apa yang terjadi semalam atau apapun yang telah kita lakukan akhir-akhir ini bukan berarti aku telah mempercayaimu sepenuhnya. Kau masih memiliki banyak hal yang harus kau lakukan agar aku bisa sepenuhnya mempercayakan diriku padamu.”

            “Jessica terus menghubungiku sejak semalam.”

            Tanpa menghiraukan celotehan panjang Eden, Aciel terus menggeser layar ponselnya ke bawah untuk melihat seberapa banyak panggilan masuk yang telah ia abaikan semalam. Dan dari semua panggilan yang masuk, ternyata semuanya berasal dari Jessica, kecuali satu panggilan masuk yang baru saja ia abaikan.

            “Ck, Jessica? Ia pasti hanya sedang bersandiwara untuk mencari perhatian darimu. Ayolah Ace, meskipun kalian adalah sepasang sahabat bukan berarti tidak akan ada cinta diantara kalian. Jessica jelas-jelas memiliki perasaan untukmu, dan ia selalu berusaha untuk menarik perhatianmu.”

            Eden berdecak kesal dan mulai merasakan moodnya kembali memburuk. Setelah hal-hal manis yang telah mereka lakukan, kebersamaan mereka pagi ini justru harus ditutup dengan pembicaraan mengenai si jalang Jessica yang tidak penting.

            “Cukup Eden! Hentikan pikiran bodohmu mengenai Jessica karena wanita itu hanya mencintai mantan kekasihnya, Antony. Kau pasti mengenal pria itu. Pria yang telah menukarkan cinta Jessica hanya demi sebuah mobil. Beruntung aku telah menghajarnya dan mengusirnya dari hidupmu karena pria itu pasti juga hanya memanfaatkanmu untuk sebuah barang.” Geram Aciel kesal. Ia lantas segera menghubungi nomor Jessica untuk memastikan keadaan wanita itu. Sayangnya setelah berkali-kali ia mencoba menghubungi Jessica, justru suara operator yang selalu menjawabnya. Sepertinya ponsel milik Jessica sedang tidak aktif atau sesuatu yang buruk mungkin terjadi pada Jessica.

            “Ada apa? Kenapa tiba-tiba kau berubah menjadi panik seperti itu?” Tanya Eden ketus saat melihat perubahan wajah Aciel yang mulai terlihat tidak wajar.

            “Jessica tidak menjawab panggilanku.”

            “Lalu? Sudahlah, aku yakin wanita itu dalam keadaan baik-baik saja. Mungkin saat ini ia sedang bermesraan dengan kekasih barunya hingga ia sengaja mematikan ponselnya agar tidak ada yang mengganggu kesenangannya. Bukankah kau juga seperti itu? Sering mengabaikan banyak hal saat kau sudah menempel di tubuhku.” Cibir Eden berapi-api. Entah itu suatu kecemburuan atau tidak, namun Aciel merasa kesal dengan sikap Eden yang terlihat terlalu kekanakan di depannya.

            “Terserah, aku akan mengecek apartemennya setelah ini. Beristirahatlah di rumah dan jangan pergi kemanapun. Aku akan mengajakmu makan malam hari ini.”

            “Apa? Kau yakin?”

            Eden lagi-lagi merasa telinganya sedang bermasalah saat mendengar Aciel hendak mengajaknya pergi makan malam. Ini sungguh bukan seperti Aciel yang ia kenal.

            “Aciel, kau serius? Aciel!”

            Eden berteriak kesal memanggil Aciel kala pria itu hanya bersikap acuh sambil berjalan tenang menuju pintu kamarnya. Dan sikapnya yang acuh tak acuh itu membuat Eden merasa gemas dan juga geram disaat bersamaan.

            “Aciel! Aku.....”

Drrt drrt

            Kata-kata Eden terhenti di udara ketika Aciel memutuskan untuk mengangkat panggilan di ponselnya sebelum melangkah keluar dari kamar wanita hamil itu.

            “Ya?”

            “...............”

            “Kau siapa?”

            Eden menyimak dengan serius ketika nada suara Aciel yang mulai berubah menjadi lebih tinggi dan disertai dengan suara geraman yang tertahan.

            “..........”

            “Tony? Kau Antony Adams bukan?”

            Mendengar nama itu disebut oleh Aciel, seketika Eden langsung menajamkan pendengarannya untuk mendengarkan pembicaraan mereka lebih lanjut.

            “Brengsek! Apa yang kau lakukan pada Jessica? Jika sesuatu yang buruk terjadi padanya, maka kau adalah orang pertama yang akan kucari.”

            “Ada apa?”

            Eden terlihat ingin tahu sambil melirik layar ponsel Aciel yang telah mati. Sesuatu yang buruk pasti sedang terjadi pada Jessica. Jika tidak, Aciel tidak akan terlihat seemosi ini

            “Sica ditemukan tak sadarkan diri oleh Tony di apartemennya. Entah apa yang terjadi padanya, tapi pria keparat itu mengatakan jika ia tidak melakukan apapun. Saat ia hendak mengembalikan barang-barang pemberian Jessica, ia justru dikejutkan dengan kondisi Jessica yang sudah tak sadarkan diri di lantai ruang tamu. Dugaanku Jessica sedang melakukan percobaan bunuh diri karena cintanya bertepuk sebelah tangan.”

            “Oh, Jessica pasti hanya ingin membuat orang-orang heboh dengan tindakannya yang murahan itu. Tony pasti telah berkata jujur padamu, ia tidak mungkin melukai Jessica karena Tony adalah pria yang baik. Dulu Tony adalah salah satu kekasih terbaikku selain Andrew.” Ucap Eden santai dan terkesan tak peduli. Wanita itu sepertinya tidak memikirkan bagaimana raut wajah Aciel yang seketika berubah menggelap saat ia dengan terang-terangan membela Antony di depannya.

            “Kau sepertinya lebih menyukai pria-pria pengganggu itu daripada ayah dari bayimu.” Sindir Aciel tajam. Eden seketika tersenyum sinis kearah pria itu sambil membelai dada Aciel pelan, penuh gerakan provokasi.

            “Terima saja kenyataanya Ace, pria seperti Tony ataupun Andrew memang jauh lebih baik daripada ayah dari bayi ini. Tapi kau harus ingat, hanya pria sepertimu yang bisa merubahku mejadi wanita yang luar biasa seperti ini. Oh tunggu sebentar, aku ikut ke rumah sakit. Jangan sampai kau membuat keributan dengan Tony dan menyebabkan semuanya menjadi kacau.” Tambah Eden cepat sebelum ia melenggang pergi menuju kamar mandi.

            Sementara itu, Aciel hanya terdiam di tempat sambil melirik bekas elusan Eden di dadanya. Akhir-akhir ini ia

selalu merasakan getaran aneh setiap Eden menyentuhnya. Dan itu sangat mengganggunya hingga ia merasa benar-benar terusik.

-00-

Tok tok tok tok

tok tok

            Suara sol sepatu yang beradu dengan keramik putih yang berkilauan itu menggema nyaring di sepanjang lorong rumah sakit yang tampak lenggang pagi ini. Dengan gaya angkuh yang terlihat mendominasi, mereka terus berjalan tanpa kata sambil sesekali melirik papan nomor yang tertempel di masing-masing pintu yang mereka lewati. Eden yang usia kandungannya sudah semakin besar sesekali memelankan langkah kakinya untuk

menopang pinggangnya yang terasa berat. Memasuki bulan ke delapan, segala hal menjadi terasa melelahkan untuk Eden. Bahkan hanya untuk berjalan di sepanjang lorong rumah sakit yang pendekpun, ia merasa hal itu sangat melelahkan.

            “Bisakah kau lebih cepat?”

            “Kau duluan saja, aku tidak bisa berjalan lebih cepat lagi.” Ucap Eden terengah-engah sambil menopang

pinggangnya. Aciel lantas meninggalkan Eden sendiri di lorong itu dan mulai mencari kamar perawatan milik Jessica yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri. Lebih baik memang Eden yang menyusulnya daripada ia harus menunggu Eden yang semakin lama semakin lambat.

            “Eden?”

            Eden menoleh cepat ke belakang ketika tiba-tiba seorang pria memanggilnya. Ia yang masih mengatur deru

napasnya mencoba sebisa mungkin memberikan senyum terbaiknya pada Tony yang sedang menatapnya dengan tatapan khawatir.

            “Apa yang kau lakukan di sini?”

            “Menjenguk Jessica...” jawab Eden apa adanya sambil melirik ruang perawatan Jessica yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Ia lalu mencoba menegakan badannya yang terasa berat, dan sedikit berjalan mendekati Tony yang langsung meraih lengannya.

            “Biar kubantu. Kau sendirian?”

            “Menurutmu? Tentu saja tidak, aku bersama Aciel.”

            “Dan ia meninggalkanmu begitu saja saat kau sedang kesulitan seperti ini?” Tanya Tony sangsi. Ia merasa kasihan dengan nasib Eden yang harus memiliki seorang ayah seperti Aciel. Selain brengsek, pria seperti Aciel sama sekali tidak pantas menjadi wali untuk gadis manapun.

            “Aku yang menyuruhnya pergi karena aku perlu sedikit waktu untuk menormalkan deru napasku yang sering terasa sesak. Bayi ini mendesak paru-paruku.” Ucap Eden dengan cengiran.

            “Ia sudah semakin besar. Berapa usia kandunganmu sekarang?”

            “Delapan bulan. Sebentar lagi ia akan segera melihat indahnya dunia.”

            Tony tersenyum masam menanggapi celotehan Eden yang tampak gembira. Ia masih penasaran dengan status sang bayi yang mungkin saja adalah anaknya. Apapun memang dapat terjadi, dan ia memiliki peluang untuk menjadi ayah dari bayi itu.

            “Ayo ikut aku.”

            “Tony! Lepaskan, kau akan membawaku kemana?”

            Eden meronta-ronta kuat di dalam cekalan Tony sambil mencoba menghentikan pria itu. Namun Tony seperti menulikan pendengarannya, dan langsung menyeret Eden untuk masuk kedalam ruangan laboratorium.

            “Aku ingin janin ini dites DNA.” ucap Tony keras pada seorang perawat jaga.

            “Tony! Sudah kubilang ini bukan milikmu.” Teriak Eden gusar.

            “Eden kumohon, lakukanlah tes ini untukku. Aku hanya ingin membuktikan jika janin itu milikku atau bukan. Jika dia memang bukan anakku, aku akan melepaskanmu.”

            Seketika Eden merasa luluh dengan kata-kata lembut Tony yang terdengar tulus. Memangnya apa salahnya jika ia mencoba melakukan tes DNA, toh ia juga bisa meyakinkan dirinya sendiri jika bayi itu benar-benar anak Aciel atau anak Tony.

            “Baiklah, aku akan melakukan tes DNA. Tapi aku ingin kau berjanji satu hal padaku Tony.”

            Eden mendesah berat di depan Tony sambil menatap nanar pria tampan di depannya. Meskipun ini tidak akan adil untuk Tony, tapi ia harus mengatakannya pada pria itu.

            “Apapun hasilnya kau tidak bisa bersamaku. Meskipun anak ini adalah darah dagingmu, tapi kau tetap tidak bisa menjadi ayahnya. Kau harus membiarkanku membesarkan anak ini sendiri dengan calon suamiku.”

            “Itu tidak adil! Jika dia adalah anakku, seharusnya aku yang menjadi suamimu dan menjadi ayahnya.” Teriak Tony keras. Tujuan awalnya melakukan tes DNA adalah agar ia memiliki kesempatan untuk menjadi pendamping hidup Eden. Jika Eden tetap menolaknya seperti ini, lalu untuk apa semua tes DNA ini? Sangat tidak berguna!

            “Kalau begitu aku tidak akan melakukan tes DNA. Sejak awal aku sudah memperingatkanmu untuk tidak berharap padaku karena aku memang tidak akan pernah kembali lagi padamu. Kau hanya masa laluku Tony. Dan sekarang aku telah menemukan pria yang tepat untukku.”

            “Siapa? Siapa pria beruntung yang berhasil mendapatkan hatimu?” Tanya Tony lirih. Ia seperti telah kehilangan seluruh emosinya yang beberapa saat yang lalu terlihat meledak-ledak. Cintanya untuk Eden memang telah bertepuk sebelah tangan.

            “Kau tidak perlu tahu siapa. Sekarang apa kau benar-benar akan melakukan tes DNA untuk membuktikan status janin ini? Jika ya, maka kau harus siap untuk memenuhi syarat yang kuajukan.”

            “Baiklah, kita lakukan tes DNA. Setidaknya semua rasa penasaranku akan terbayar setelah kau melakukan tes DNA ini. Bukankah pada akhirnya aku tetap tidak bisa memilikimu, jadi lebih baik aku melakukan tes ini untuk memperjelas semuanya.”

            Mereka akhirnya melakukan serangkaian tes yang melelahkan itu, dengan Tony yang terus menunjukan raut kecewanya karena ia gagal mendapatkan wanita impiannya yang berharga.

-00-

            “Bagaimana kondisimu?”

            “Aciel....”

            Jessica memeluk Aciel erat dan langsung menangis tersedu-sedu di dada Aciel yang nyaman. Semalam ia telah merasakan bagaimana pintu kematian itu begitu dekat dengannya, dan saat ini ia sangat takut jika tiba-tiba sang malaikat pencabut nyawa akan kembali datang untuk membawa jiwanya yang rapuh.

            “Tenanglah Sica, kau aman di sini. Tidak akan ada yang menyakitimu lagi seperti kemarin.”

            “Aciel... aku takut. Seseorang sedang berusaha untuk membunuhku.”

            Aciel mengerutkan alisnya tak habis pikir sambil mengamati raut wajah Jessica yang masih histeris di depannya. Ia pikir Jessica dirawat karena melakukan percobaan bunuh diri di apartemennya.

            “Siapa? Apa Tony?”

            “Bukan, sama sekali bukan. Tony justru menolongku saat aku sedang sekarat. Semalam aku merasakan perutku benar-benar sakit hingga aku tidak bisa melakukan apapun selain menghubungimu agar kau datang menolongku. Tapi setelah berkali-kali aku mencoba menghubungimu, kau sama sekali tidak mengangkatnya. Kau mengabaikan panggilanku hingga aku tak sadarkan diri di lantai apartemenku. Lalu Tony datang dan membawaku ke sini. Saat aku sadar ia menceritakan semua kronologi kejadiannya dan memintaku untuk tidak menyeret namanya kedalam masalah ini. Aciel... apa yang harus kulakukan. Seseorang pasti sedang berusaha meracuniku.”

            “Darimana kau bisa berpikiran seperti itu Sica? Apa kau memiliki musuh?”

            Jessica terlihat ragu sambil menggelengkan kepalanya lemah di hadapan Aciel. Setahunya ia tidak pernah

benar-benar memiliki musuh yang akan sampai melukainya seperti ini. Jika musuh dalam hal persaingan fashion dan desain, mungkin ia memang memiliki banyak di luar sana.

            “Aku tidak tahu. Hanya saja aku berpikir jika sakit perutku semalam berhubungan dengan seseorang yang saat ini membenciku.”

            “Ck, kau terlalu berlebihan Sica. Tidak ada yang ingin membunuhmu atau meracunimu, kau pasti hanya salah makan. Kau membuatku khawatir.” Decak Aciel kesal, namun setelahnya ia memberikan Jessica pelukan hangat layaknya seorang sahabat yang mengkhawatirkan sahabat baiknya.

            “Kau benar, mungkin aku memang sedikit berlebihan. Jangan tinggalkan aku Ace, aku takut.”

            “Hmm... aku di sini Sica.”

            Aciel bergumam pelan di atas kepala Jessica sambil memikirkan Eden yang tak kunjung datang kedalam ruang perawatan Jessica. Padahal wanita itu sudah hampir dekat dan hanya tinggal berjalan beberapa langkah lagi. Tidak mungkin jika kehamilannya membuat Eden menjadi selambat siput. Atau sesuatu yang buruk telah terjadi pada Eden? Tapi... sepertinya tidak. Sejauh ini tidak ada hal-hal heboh yang terjadi di luar ruang perawatan Jessica. Mungkin Eden memutuskan untuk pulang setelah ia meninggalkan wanita manja itu untuk berjalan sendiri di lorong rumah sakit yang sepi. Ya, Eden pasti pulang dan sedang menunggunya dengan wajah cemberut di rumah.

            Kau benar-benar telah membuatku gila Eden. Kau adalah iblis terindah yang pernah kukenal.....

1
INdah🌹
151
Alimka Iksany
lanjut lagi nggak sih, kok nggak up lagi
ciprut
wouoowww....stlh 3thn akhirnya ada notiv dari nich cerita....kangen sm klrg Eden & aciel 🥰
Evitha Junaedy
aduuuh lama sekali kemana author?semoga sehat sll authornya
chalista saqila: Haaii... mau comeback sama cerita ini nih...
Semoga masih ttp suka sama cerita ini yaa...
Thanks untuk doanya
total 1 replies
Gita Dys
up lagi dong Thor😭😭😭😭🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏
chalista saqila: OTW up =)
total 1 replies
Chatarina Shinta
ini udah tamat blom sih thir ?
chalista saqila: Haaii... ceritanya masih berlanjut yaa
Maaf lama g up, baru buka platform ini lagi... hehe
total 1 replies
Ruth Siti Fatimah
tidak ada kelanjutannya kah..??
dhanirizky25
ini tamat udah tamat iya..??kok lama gak up😣
BIDADARIQ 1516: maaf mengganggu klo sempet mampir ya ke novel q judulnya
"cinta pertama tuan mudaku"
thanks 💕💕
total 1 replies
Dira
suka cerita nya Thor
Evitha Junaedy
kemana ko ilang thor..
Emynee Griss
ceritanya keren thor, ini termasuk cerita pertama yg aku baca pas pertama instal NT😊

ah iya, dapat salam dari Mitsuki nih, jangan lupa mampir yaa

JUST THREE DAYS : MITSUKI
Enysa
tamat kah???
Ning-Nong25
setiap eden hamil pasti ada masalah besar yang membahayakan nyawanya...
sabar ya Ed...
penting babang Ace tetep sayang...
Gita Dys
udah tamat kah ini teh??😢
Evitha Junaedy
k gk up udh lama y...
dhanirizky25
kok belum up lagi Thor.???selalu setia menunggu☺️
Chatarina Shinta
kapan lg up nya thor
Evi Novianti
nyesek thor😭😭
Gita Dys
kok gak up lagi Thor???
mmtt
sudah tamatkah?????
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!