Sehari setelah menikah, Ryan kehilangan istri dan mertuanya dalam sebuah kecelakaan. Kemudian ia harus menikahi adik dari istrinya. Namun setelah menikah, ia memperlakukan istri keduanya dengan begitu buruk. Dengan alasan ia tak pernah menginginkan pernikahan itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena_Senja🧚♀️, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25. Bab 25
Ryan masuk ke kamar papanya. Dia melihat Luna yang sedang ngobrol dengan April. Sementara papanya tidur. "Papa udah tidur?" tanyanya.
"Sudah tuan." jawab April.
"Kamu nggak kerja?" Ryan bertanya. Tapi tak ada yang menjawab. April mengerutkan keningnya sembari melirik Luna. Sedangkan Luna sibuk main hape agar tidak terlihat canggung saat ada Ryan.
"Laluna!" panggilnya.
Seketika Luna berhenti main hape. Dia menatap Ryan yang terus menatapnya tajam. "Kamu nggak kerja?" tanya Ryan lagi.
"Nggak. Aku udah pamit Anabella." jawab Luna dengan dingin.
"Makan siang bareng yuk!" ajak Ryan.
Namun belum sempat Luna menjawab. Rose masuk ke kamar itu kemudian merangkul lengan Ryan. "Aku sama mama mau ke mall, kamu harus ikut!" katanya.
"Mama?" Ryan mengerutkan keningnya.
"Hm.. Mama kamu minta aku panggil dia mama. Katanya bentar lagi aku jadi menantunya." jawab Rose dengan bangga. Dia juga menatap Luna seolah ingin pamer karena mama tiri Luna lebih sayang ke dia dibanding dengan Luna.
"Kenapa kamu tertawa? Apa yang kamu tertawakan?" Rose kesal saat melihat Luna tersenyum sinis.
"Emang kamu yakin bisa nikah dengan Ryan?" tanya Luna.
Perkataan Luna itu membuat Rose menjadi kesal. Dia membulatkan matanya mendengar perkataan Luna.
"Kamu masih harus meminta ijinku untuk menikah dengan Ryan. Atau kamu mau jadi istri simpanan?" Luna kembali tersenyum sinis. Meskipun pernikahannya dengan Ryan karena insiden tak terduga. Tapi pernikahan mereka sah.
Rose semakin kesal dengan perkataan Luna. Dia bahkan mendorong Luna karena saking kesalnya. Tapi Ryan segera menahannya. "Heh, asal kamu tahu, Ryan nikahi kamu cuma demi warisan dari papanya. Emang kamu pikir Ryan suka sama kamu?" kata Rose, dia kembali tersenyum mengejek.
Sesaat Luna terdiam. Akhirnya dia tahu alasan Ryan tiba-tiba turun ranjang, atau menikahinya setelah kakaknya meninggal. Namun Luna segera menyembunyikan rasa terkejutnya. "Mau demi apa kek, yang penting aku istri sah-nya. Tanpa seijinku, kalian nggak akan pernah bisa nikah." ucap Luna berusaha agar tetap tenang.
"Setelah Ryan dapat warisan, kamu akan diceraiin Ryan." ucap Rose lagi.
"Kamu terlalu banyak bicara!" Ryan segera membawa Rose keluar dari kamar papanya. Dia kesal karena Rose mengacaukan rencananya dengan memberitahu Luna alasan ia menikahi adik dari istrinya itu.
Melihat Rose dan Ryan keluar. Luna pun mulai menghela nafasnya. Ada sesuatu yang tidak enak di dalam hatinya. Ia pun hanya tersenyum sinis sembari menahan rasa sakit yang tiba-tiba menyergap hatinya.
"Lun, jangan dengerin dia!" April berusaha menenangkan Luna. Dia tahu Luna kaget dengan apa yang Rose katakan.
Butuh waktu cukup lama untuk Luna menenangkan diri. Dia hanya diam di dalam kamar mertuanya. Membuat April merasa kasihan kepadanya. "Makan dulu Lun!" April memberi Luna makanan yang baru ia ambil.
"Makasih Pril, tapi aku nggak lapar kok." Luna masih belum mau makan. Hatinya masih merasa tak enak. Dia tak memiliki napsu makan.
"Lun, kamu harus makan! Jangan hanya karena bos, kamu jadi sakit. Nanti pak Dewangga sedih." ucap April lagi.
Seketika Luna menatap papa mertuanya. Matanya kembali berkaca-kaca. Dia tidak ingin menyakiti orang yang begitu baik kepadanya seperti Dewangga. Ia pun akhirnya mau makan juga.
"Kamu udah lama kenal pak Ryan?" tanya April.
"Em.. Dari kecil. Kamu udah tahu tentang kisahku dan Ryan?" April mengangguk pelan. Dia sudah tahu cerita Luna dengan Ryan dari Dito.
"Pasti Dito yang cerita?" Luna tersenyum kecil.
"Kamu sama Dito udah kenal lama?" April sempat terkejut dengan pertanyaan Luna.
"Kamu..?"
"Ya, aku bisa lihat kok, kalau kamu dan Dito sepertinya dekat." ucap Luna lagi.
"Huh.." terdengar helaan nafas April.
"Aku dan Dito berasal dari panti asuhan yang sama." jawab April.
"Oh, maaf ya Pril kalau aku bikin kamu sedih." Luna merasa tak enak hati saat melihat wajah April yang sedih.
"Nggak apa kok Lun. Andai nggak ada orang baik waktu itu, aku dan Dito nggak akan bisa sekuat ini." ucap April sembari menatap Dewangga yang masih terlelap.
***********
Setelah menemani Rose dan Sinta ke mall. Ryan pergi ke perusahaan. Dia sebenarnya ingin menemani papanya di rumah. Tapi dia muak dengan kemanjaan Rose. Jadi dia memilih untuk pergi ke perusahaan. Ryan sepertinya masih kepikiran tentang perkataan Rose tadi siang. Rose membongkar rahasianya di depan Luna. "Pasti dia marah lagi." gumamnya seorang diri.
"Dit, udah ada kabar?"
"Masih tahap penyelidikan bos." jawab Dito.
"Percepat!" perintah Ryan.
"Siap."
"Oh ya, ini yang bos minta tempo hari." Dito menyerahkan sebuah berkas dengan amplop coklat besar ke Ryan.
Ryan membuka amplop coklat tersebut. Di dalamnya terdapat informasi mengenai seseorang yang Ryan inginkan. Matanya membulat melihat informasi tersebut. "Jadi dia Heksa Winata? Pemilik HW Technologi? Hebat juga dia bisa deketin Heksa Winata." senyuman sinis nampak diwajah tampannya. Namun sesaat kemudian wajahnya nampak mengeras.
Heksa Winata dikenal sebagai sosok pengusaha yang misterius. Tidak banyak yang tahu siapa dia sebenarnya. Dia juga terkenal di dunia bisnis. Pangeran di dunia bisnis teknologi yang sangat misterius. Selain pemilik perusahaan teknologi yang merupakan perusahaan besar. Dia juga seorang putra dari pemilik perusahaan mobil listrik terbesar.
Ryan meremas kertas tersebut. Dia terlihat begitu kesal dan marah.
"Hallo whats up bro.. Kangen nggak sama aku?" tiba-tiba seorang lelaki muda masuk ke dalam ruangannya.
Ryan kaget melihat lelaki itu. Begitu juga dengan Dito. Dia mengenal lelaki itu sebagai teman dari Ryan. "Gimana kabarnya pak Rey?" tanya Dito menyapa lelaki itu.
"Hallo Dito.. Baik." jawab lelaki bernama lengkap Reynaldi Hartono tersebut.
"Kapan kamu balik?" tanya Ryan masih dengan wajah dinginnya.
Rey adalah teman dekat Ryan. Dia pergi keluar negeri selama beberapa bulan untuk mengunjungi orang tuanya serta mengurus beberapa pekerjaan disana.
"Baru aja turun dari pesawat. Aku kangen banget sama kamu." Rey ingin memeluk Ryan, namun dengan cepat Ryan mendorongnya.
"Ish, kamu masih aja dingin sama orang." gerutu Rey.
"Gimana keadaan papa kamu? Aku turut berduka ya atas meninggalnya istri kamu." Rey hanya tahu semua itu dari berita yang beredar. Untuk masalah pribadi, Rey sama sekali tidak ingin campur tangan. Jadi selama dia di luar negeri, Rey tidak bertanya apapun. Takut menyinggung perasaan Ryan.
Tapi karena saat ini dia berhadapan langsung dengan Ryan. Dia juga hanya berani mengucapkan bela sungkawa tanpa bertanya berlebihan. Hanya menanyakan kabar papanya saja.
"Papa udah di rumah sih. Tapi kadang emosinya masih belum ke kontrol." jawab Ryan sedih. Dia selalu sedih ketika membahas mengenai papanya.
"Ibu tiri kamu?"
"..."