NovelToon NovelToon
Witch Hunter

Witch Hunter

Status: tamat
Genre:Perperangan / Action / Fantasi / Akademi Sihir / Iblis / Light Novel / Tamat
Popularitas:26.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ayanagi Souma

Penyihir

Makhluk biadab yang memangsa manusia. Tak peduli siapa dirimu.
Mereka akan memangsamu. Membunuhmu.

Di dunia ini sihir terbagi dua.
Sihir cahaya dan sihir kegelapan.

Berabad-abad tahun lepas. Umat manusia berperang melawan makhluk mengerikan yang dinamakan penyihir. Sang para pengguna sihir kegelapan.

Umat manusia yang berjuang melawan mereka disebut 𝘛𝘩𝘦 𝘩𝘶𝘯𝘵𝘦𝘳. Mereka menggunakan sihir cahaya untuk membunuh para penyihir.

Kini saatnya untuk memburu penyihir.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayanagi Souma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 24 –[ Pertandingan Evaluasi 02 ]–

18 Mei 2023

"Nǐ hǎo Jianying~" An Haocun datang sembari membawa pop corn. Mengambil tempat di samping Jianying. Bergaya memakai kacamata hitam.

"Apa yang kau lakukan di sini, An?" Jianying memasang wajah malas demi melihat rekannya saat investigasi rahasia. Paling dia hanya mengocehi anak muridku. Bilang dia saat menjadi murid lebih berbakat. Pikir Jianying.

An membaca raut wajah Jianying. Menggeleng. "Aku ada pesan penting untukmu, Jianying. Kau tahu? Mengapa hari ini guru besar atau Lang Zen repot-repot turut menyaksikan pertandingan evaluasi Minggu ini?"

Jianying menggeleng tak tahu. "Mengapa?"

"Dia akan mengambil Sizhu selama beberapa hari."

Jianying tertegun sejenak. "Untuk apa? Dan dari mana kau tahu itu?"

An terkekeh, "Sudah kubilang aku memiliki telinga dan mata di seantero daratan ini kawan. Lebih tepatnya Nona Luxia yang memberitahu." Mengeduk pop corn dan melemparkannya ke mulut. Matanya antusias menonton pertandingan. Lihat! Sizhu dan Anna juga kucingnya Moza sudah di tengah lapang. Berhadapan.

"Anak bermata hijau itu memang berbakat. Dan Hunter Tamer itu juga nampak langka. Dia melakukan kontrak jiwa dengan kucing besarnya, ya?" An mengoceh sendiri. Mengabaikan Jianying yang masih menoleh. Atau lebih tepatnya berpikir.

"Aku tidak keberatan jika Sizhu akan dibawa. Dia anak yang berbakat. Bola hitam pun berubah jadi putih karenanya."

An menoleh, tertarik mendengar kabar itu. "Kau menggunakan shuǐjīng qiú untuk mengetahui bakat terpendam mereka, Jianying? Itu bola langka dan mahal sekali. Seharga dengan membeli istana." An termangu takjub. Jianying rela membelikan bola seharga istana itu untuk murid kelasnya. Wow, dia sosok guru sejati.

Jianying membetulkan kacamatanya yang kendor. "Ya, bola itu rusak oleh muridku setelah tujuh kali pakai." Bagi Jianying itu bukan masalah besar. Besok-besok dia bisa membeli lagi. Mengeluarkan uang sebanyak itu kecil baginya.

An semakin termangu. Sosok pria seperti Jianying itu ibarat satu dalam seribu tahun. Dia terkekeh.

"Kau sangat menyayangi muridmu, ya? Aku salut padamu." Menepuk pundak Jianying. Puk, puk.

Sudut bibir Jianying terangkat. Menyeringai. Mengangkat bahu. Itu sih B aja. Menuruti gaya Sizhu.

"Keduanya sudah siap?" Kou, pembawa acara berseru tanya.

Kedua kepala mengangguk mantap.

Sizhu memasang kuda-kuda dengan tongkatnya. Oh ya, omong-omong tongkatnya sudah dia temukan kembali. Ternyata tongkat itu tidak hilang saat Sizhu lupa mengambilnya di arkade mall kota. Kai membawanya pulang dan lupa memberi tahu Sizhu.

Anna tersenyum semangat. Moza, kucing besar abunya juga mengeong, bersiap.

"Siap? Mulai!"

Sizhu memulai serangan. Seperti Zhàn Dòu, dia berniat membereskan lawan secepat mungkin. Namun, rencana itu tentunya Anna sudah menduganya. Jangan salah, gadis berambut hitam sepinggang itu jago bela diri. Rambut hitam legam sebahu dengan wajah baratnya kentara. Begitu juga sikap dan pakaiannya. Sizhu bersiap menghantam lawan dengan tongkat.

"Moza! Kita berpindah!"

"Meong!" siap!

Buk! Anna melakukan pertukaran posisi dengan peliharaannya. Tangan Anna terkepal, telak masuk mendarat perut Sizhu. Membuat Sizhu mundur dua langkah.

Teknik itu tidak Sizhu sangka. Itu teknik baru. Daya armor Sizhu berkurang dua puluh.

Baru sedetik Sizhu meleng, Anna berganti posisi lagi dalam sekejap dengan peliharaannya. Seperti teleportasi. Kucing besar itu mengeluarkan cakaran besar. Sizhu cepat menangkisnya, satu langkah ke samping. Memutar tongkat. Hendak membalas serangan.

Buk! Anna lagi-lagi bertukar tempat. Memukul perut Sizhu sekali lagi. Berkurang dua puluh.

Sizhu melompat jauh-jauh ke belakang. Berhati-hati. Moza mengejar, tidak memberi kesempatan kabur. Anna juga berlari mengejar, walau tak secepat kucingnya.

Zrat! Zrat!

Cakaran Moza mencecar Sizhu. Gesit kaki Sizhu melangkah, berputar mengelak. Membalas serangan.

Buk!

Lagi-lagi berpindah tempat. Anna berhasil mendaratkan pukulan di celah pinggang dari belakang Sizhu. Berkurang dua puluh.

Sizhu kewalahan, Anna dan kucingnya bermain peran serang dan bertahan dengan baik. Sizhu berusaha mengincar sang tuan kucingnya. Namun, setiap Sizhu akan mendaratkan hantaman tongkat, Anna akan berubah tempat dengan kucingnya yang sudah siap menyerang. Mencakar. Mau tak mau Sizhu menangkis.

Plak!

Memutar tongkat, hendak menghantam tubuh Moza. Splash! Anna berganti posisi, Sizhu sudah menduganya segera meluncurkan tendangan. Merubah pola serangan.

Zrat!

Sial, kucing abu besar itu lebih gesit menyerang. Mencakar lengan Sizhu, sepersekian detik Sizhu berhasil mengelak, serangan itu mengenai udara kosong. Giliran Anna yang merangsek. Berjual beli pukulan dan tangkisan. Dua lawan satu memang merepotkan. Apalagi dengan teknik Anna dan kucingnya yang baru.

Baiklah, fokus.

Sizhu menusuk daging telapak tangannya dengan kuku hingga mengeluarkan darah. Membiarkan darahnya menyatu dengan tongkat, membentuk tulisan mantra.

"死亡,以你的名义,我借用力量。( Kematian, dengan namamu aku meminjam kekuatan. )"

BLAR!

"Moza!"

"Meong!"

Mengayun tongkat dari samping. Menyebar api luas. Membakar radius lima meter ke depan.

Anna berhasil menghindar. Menunggangi kucing besarnya. Melompat tinggi ke atas, menghindari kibasan api di bawah sana.

Sizhu juga tidak memberi kesempatan lari pada lawan. Tongkatnya menembakkan bola api, melesat dari bawah, terbang ke arah sasaran di langit.

"Moza menghindar! Mode terbang!"

"Meong!"

Sayap kecil kucing itu mengepak, tumbuh bertambah besar. Terbang bermanuver, menghindari tembakan api Sizhu. Tembakan api Sizhu menyasar mengenai pelindung transparan arena. Membuat asap hitam dimana-mana. Mengejar sasarannya yang terbang di langit. Membuat penonton berseru tertahan.

Selagi Moza dan Anna terbang di langit. Sizhu tidak kehabisan akal untuk menyerang. Jika di tembak tidak bisa, maka mendekat jawabannya.

Sizhu berlari ke tepi Arena, melompat berpijak pelindung transparan, melompat lagi ke atas, mencegat jalur terbang Anna dan Moza. Mengayunkan tongkat berapinya.

BLAR!

Api Sizhu telak mengenai Anna. Membuatnya terjatuh ke bawah. Membakar sayap Moza. Daya armor proteksi Anna berkurang separuh dari seratus. Itu kritikal sekali.

Sizhu turun ke bawah. Mendarat. Tanah berdebam dibuatnya. Api tongkatnya mengambang menyeliputi Sizhu. Sizhu tampak kuat sekaligus mengerikan dengan api yang menyeliputinya.

"Aku menyerah!"

Anna mengangkat kedua tangannya. Tanda menyerah. Sizhu menyerap apinya yang berputar mengambang. Sekejap ke dalam tongkat, lalu lenyap. Kembali menjadi tongkat kayu biasa.

"Pemenangnya adalah Sizhu! Anna dan kucingnya tereliminasi!"

Sorak sorai juga tepuk tangan menggema mengganti atmosfer ketegangan. Murid-murid gadis menjerit bahagia idola mereka menang.

"Kyaa! Kak Sizhu menang lagi!" jerit salah satu gadis.

"Kak Sizhu sini jadi pacar ku!" timpal jerit gadis yang lain.

"Kak Sizhu minta tanda tangannya!" seru gadis lain. Para bujang hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar jeritan mereka.

"Terima kasih Sizhu sudah mau serius melawanku." Anna membungkuk hormat pada Sizhu. Dibalas anggukan kecil olehnya. Lantas, melempar pandangan ke atas tribun. Memandang seseorang di atas tribun khusus. Seseorang itu tersenyum lembut padanya.

"Bagaimana komentarnya Professor Jianying?"

Layar monitor berganti arah, menampakkan wajah tampan Jianying.

"Pertandingan kali ini sangat hebat. Terutama untuk Anna dan kucingnya. Teknik berpindah tempat dengan makhluk sihir itu adalah teknik yang sangat sulit dan sangat langka. Dibutuhkan ikatan yang kuat untuk melakukannya. Dan Anna berhasil melatih teknik itu hingga terbiasa. Kekurangannya mungkin dari segi menyerang. Biasanya kau membawa senjata api Anna. Mengapa hari ini kau tidak membawanya?"

Sebuah mik mengapung mendekati Anna.

"Saya ingin mencoba mengalahkan temanku dengan adil. Sizhu adalah petarung jarak dekat, karena itu saya ingin melawannya sebagai petarung jarak dekat juga." jawabnya, mantap.

Jianying mengangguk paham. "Itu adalah kehormatan sebagai petarung. Namun, ingat! Saat dalam peperangan melawan penyihir, kehormatan itu akan hilang. Gunakan apapun yang bisa meningkatkan peluang menang mu. Tapi, aku menghormati keputusan mu, Anna."

"Baik, akan saya ingat selalu Professor." Anna membungkuk hormat. Berjalan keluar.

Juga Sizhu melenggang pergi dari lapang. Menyisakan jeritan fans para gadis-gadis. Setiap pertandingan evaluasi ini, hanya Sizhu yang tidak diberi hasil evaluasi oleh Jianying. Sizhu tidak peduli, toh mungkin karena dia sudah sempurna tidak ada yang kurang dari gaya bertarungnya.

Pagi ini selalu spesial. Apalagi ada bayangan kegelapan yang sedang diam-diam mendekat. Tanpa ada satupun yang khawatir.

"Selanjutnya mari kita sambut! Jason dan Ashley! Silahkan keduanya maju ke arena!"

"Anak-anak muridmu berbakat semua ya, Jianying. Anak bermata hijau yang hebat. Hunter Tamer yang langka bukan main. Gadis bangsawan Inggris. Dan juga si botak dingin itu. Kalau tak salah, dia salah satu mantan pembunuh bayaran di Rusia bukan? Dia diperintahkan oleh ketua divisi Rusia langsung untuk belajar sihir di sini. Siapa namanya ...." An mendongak, berpikir, mengingat-ingat.

"Ah! Ya! Rurik Svyatoslav. Pengguna bakat sihir pembelah dimensi." An tersenyum tipis. Dibalik kacamata hitam yang dia kenakan, matanya menatap tajam pada Jason.

Orang Rusia itu sifatnya dingin dan kejam. Sekaligus cerdas. Dari sebuah sumber terpercaya, An mendapatkan desas-desus buruk mengenai negeri beruang merah itu. Pemimpin mereka adalah Hunter bintang spesial yang kejam. Semua yang berkaitan dengan sihir dilarang di sana. Kecuali para Hunter. Mereka sangat membenci sihir sama bencinya dengan penyihir, padahal mereka juga menggunakan sihir untuk membunuh penyihir.

Jianying menoleh, "Kau tahu banyak, An. Aku malah semakin curiga padamu." Menatap rekan duduknya curiga. An menelan ludah. Tatapan Jianying terasa tak mengenakan.

"Haha, kau harus mengetahui banyak hal jika ingin menjadi penguasa dunia gelap kawan. Arus berbahaya sebentar lagi akan tiba. Organisasi 'itu' pintar mengelabuhi kita saat rapat dua bulan lalu. Mereka akan menyatakan peperangan kapan pun. Mungkin hari ini ...."

Jianying menatap tajam An. Pria satu ini memiliki lidah ular. Dia adalah bedebah diantara para bedebah. Menjadi kepala cabang dengan muka baik, di balik muka itu, entah berapa kotor kehidupan aslinya.

"Bagaimana kau tahu organisasi 'itu' mengelabuhi kita saat rapat dua bulan lalu?" Jianying bertanya dengan nada tersirat kemarahan.

An terkekeh. "Sebelum itu, aku ingin meminta maaf padamu Jianying. Aku menukar seluruh kacamata kotakmu di kantor Beijing dengan kacamata perekam buatanku. Kubuat serupa dengan kacamata kotak favoritmu. Karena itu, aku tahu dua bulan lalu, sahabatmu mengirim pesan pada adiknya, Kai menggunakan roh api biru miliknya dan muncul dengan perantara shuǐjīng qiú (Bola hitam). Kau segera menemui Guan Zen, sedang terburu-buru akan menaiki helikopternya. Dari situ aku tahu itu adalah salah satu bawahan atau rasul dari organisasi 'itu' yang menyamar dengan sihir ilusi tingkat tinggi."

Tak!

"Aduh! Kau tidak perlu semarah itu kawan." Kepala An benjol karena dijitak keras oleh Jianying. Rasakan, itu akibatnya memata-mataiku tanpa izin.

"Lalu, apa yang ingin kau katakan? Berhenti bercanda denganku, An." Sorot mata Jianying berubah galak. An menggaruk kepala belakangnya yang tak gatal. Baiklah, serius.

"Pihak musuh akan menyatakan perang. Kita tidak ada waktu untuk menunggu hingga enam bulan. Aku sudah memberi tahu semua kepala cabang termasuk guru besar, juga Nona Luxia. Pagi ini mereka melakukan manuver besar. Sepertinya mereka sadar penyamarannya terbongkar olehmu, Jianying. Mereka memutuskan mempercepat merebut Pedang Goujian." Intonasi bicara An kali ini serius.

"Darimana kau tahu?" Jianying bertanya heran. Bagaimana dia bisa tahu rencana musuh? Kecuali satu kemungkinan ...

An menggeleng menepis kesimpulan Jianying, setelah itu mengangguk membenarkan separuhnya. Membuat Jianying kebingungan.

"Kelak aku akan beritahu." An tersenyum misterius. Jianying mengusap wajah. Menggeleng tidak percaya. Kadang, dia suka berkata yang membuat orang gelisah seperti ini. Jianying tahu karena pernah tidak sengaja menguping salah satu asisten An mengeluh tentang An yang sembarang bicara. Rumornya An memiliki delusi berlebihan. Mungkin efek samping terlalu sering mengkonsumsi opium atau obat-obatan.

"Kau bercanda An. Candaanmu garing sekali."

An terkekeh mendengarnya. "Kau akan tahu setelah pertandingan evaluasi ini berakhir." Jianying melambaikan tangan, tak percaya.

Di tengah arena, Jason dan Ashley sudah bersiap. Ashley membawa sebuah pedang.

"Siap? Mulai!"

Ashley merapal mantra air tingkat menengah. Mengacungkan pedang ke depan. "Water Sword."

Belasan air berbentuk pedang mengambang di atas kepala Ashley. Satu per satu menembaki Jason yang berdiri sepuluh meter di hadapannya.

Meleset.

Atau lebih tepatnya Jason yang menghilang dari hadapan Ashley. Bakat sihir Jason adalah jenis penguat dan stealth, alias raib, menghilang. Menjadi tak kasat mata. Tembakan pedang air Ashley hanya mengenai tanah.

Tapi Ashley tahu itu. Dia sudah mempersiapkan kartu balik khusus untuk mengalahkan Jason. Selama dua bulan ini, Jason menjadi peringkat dua karena tidak ada yang bisa mematahkan sihir menghilangnya. Kecuali Sizhu yang tinggal menyemburkan api ke seluruh penjuru. Yang membuat Jason mau tak mau terkena api.

Dia mengangkat pedangnya ke atas. Merapal sihir air tingkat tinggi.

"O god of rain, O heavens weep, your voice resound,

Let silver threads embrace the ground.

By wind’s command and thunder’s might,

Unleash the storm, awaken night!

"Drizzle, whisper, tempest rise,

Veil the land with weeping skies! create cumulonimbus clouds!"

Ashley berseru. Awan hitam kolonimbus terbentuk di langit-langit gedung arena. Air hujan mulai turun mengguyur tengah arena. Awalnya rintik-rintik, membuat Jason yang sedang dalam keadaan tak kasat mata mendongak. Angin besar juga berhembus kencang. Deras sekali, air hujan mulai menampakkan wujud Jason yang sedang tak kasat mata. Membasahi semua area lapang arena. Beruntung para penonton terlindungi pelindung transparan. Karena itu air hujan tidak menyasar mengenai penonton.

"Hah, kau cerdik juga tuan putri. Namun, ini saja tidak akan cukup." Jason mengeluarkan sebuah pistol dari jaket kulitnya. Mengacungkannya pada Ashley. Biasanya jika dia menggunakan sihir tak kasat matanya, dia akan mendekati sasaran. Lantas, menusukkan sebuah pisau belati. Seperti yang dia lakukan pada Mei Mei tiga Minggu lalu.

Ashley tertawa. "Maafkan aku. Air adalah keahlianku, tentu kau sangat tahu itu, Jason." Hujan semakin deras, satu butirnya sebesar peluru. Menghujani lawan. Menguras daya armor proteksi Jason. Berkurang satu per detik. Angin dan butir hujan juga menghalangi pandangannya. Ashley masih kering karena dia yang mengendalikan semua butir hujan sebesar peluru itu.

Air terbentuk seperti tangan, menepis tangan Jason, menjatuhkan pistolnya begitu Ashley melihat lawan mengeluarkan senjata api. Jason tersenyum miris, tatapannya berubah sadis.

"Зеркало, зеркало, открой врата иллюзий. (Zerkalo, zerkalo, otkroy vrata illyuziy.)"

Ashley merasakan sesuatu yang buruk. Segera membentuk tangan besar dari air, hendak menghabisi lawan. Memukulnya.

Wus!

Jason menghilang dari hadapan Ashley. Layar monitor pun tidak menampakkan tanda-tanda Jason. Seperti raib begitu saja. Ashley tidak kehabisan akal. Dia hendak merapal mantra selanjutnya.

Namun, Ashley sekejap terperanjat. Lihat, di depannya, muncul sosok gurunya. Wanita tinggi cantik semampai berketurunan bangsawan, dengan rambut pirang bercampur pink di ujung, panjangnya hingga sepinggang, mengenakan gaun putih kerajaan dan topi besar putih, sedang tersenyum padanya. Ashley menghentikan pukulan tangan air besarnya. Membiarkan gurunya berjalan mendekat.

"Guru Alice? ...."

Suara Ashley tercekat di ujung.

"Iya, Ashley. Ini gurumu."

Ashley terdiam. Tangan besar dari airnya runtuh. Hujan deras menjadi gerimis.

Dua langkah lagi sosok guru Ashley mendekat ...

Satu langkah ...

Ashley menyunggingkan senyum. "Aku tidak akan tertipu trik mu itu Jason."

TRANG!

Ashley mengayunkan pedangnya. Ditahan oleh pisau belati Jason. Membuatnya melompat jauh ke belakang.

"Sudah cukup pertunjukannya, pesulap."

Dari awan-awan hitam, muncul tangan super besar dari air. Mengepal. Mengarah pada Jason.

BUM!

Tangan air itu memukul Jason hingga melesak ke dalam dua meter, menghancurkan permukaan arena. Volume densitas air itu padat sekali. Seakan dihantam gedung. Jason tak sadarkan diri terkena telak pukulan tangan super besar. Sebesar luas arena.

Seketika Ashley menjadi pemenangnya. Membuat sorak tepuk tangan bergema. Tak mengetahui sebentar lagi, bahaya sedang mendekat ...

***

1
Story
Kok jadi POV 1🤔
Story
yang benar harusnya bergeming. 🤔
Ayanagi Souma: bergeming = tidak bergetar atau bergerak kecil

tak bergeming = bergerak atau bergetar kecil

source dari gugel
total 1 replies
🇮  🇸 💕_𝓓𝓯𝓮ྀ࿐
gak nyangka baca sampai sini😅
Ayanagi Souma: terima kasih sudah membaca, semoga terhibur~
total 1 replies
Filan
udah jasad masih bisa mati juga hehe
Filan
jangan2 ga ada yg baca pesan dia wkwkwk...
Filan
emang bawa2 HP terus semua orang? Ada waktu ngetik daripada ngomong?
Ayanagi Souma: ponsel si Kai punya fitur voice changer, jadi ketikan dia bisa bersuara
total 1 replies
erlis nia★🎀
bagus bang..jngn lupa mampir yeah
Ceritera ini mirip-mirip sama inuyasa, ya gak sih?
⋆.ꂵꂑꀗꈼꐞ Jr✮
apakah serigala nya kuat
⋆.ꂵꂑꀗꈼꐞ Jr✮
kayak tulisan jepang bagus/Facepalm/
⋆.ꂵꂑꀗꈼꐞ Jr✮
hadir bang.bagus novel nya
⋆.ꂵꂑꀗꈼꐞ Jr✮
bahasa Korea ya/Doubt/
⋆.ꂵꂑꀗꈼꐞ Jr✮
ngeri nya
Ayanagi Souma
Sizhu kan orang tampan dan pendiam😁👍
Filan
Dan bagaimana bisa dia terlihat ga kesakitan?
Filan: iya sih
total 2 replies
Filan
Dalam keadaan seperti itu bagaimana bisa ttp datar? /Sweat/
leasiee~。
hai kak aku mampir... yukk mampir juga di novel' ku jika berkenan 😊
Dian
Lanjut thor semangat 💪🏻
off
jadi apa yang dimaksudnya Aamon?
off
wkwkwkw kayak merasa deg deg degan lagi
/Facepalm/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!