NovelToon NovelToon
Legenda Pendekar Garuda

Legenda Pendekar Garuda

Status: tamat
Genre:Action / Fantasi / Petualangan / Mengubah Takdir / Kelahiran kembali menjadi kuat / Time Travel / Kebangkitan pecundang / Ahli Bela Diri Kuno / Fantasi Timur / Tamat
Popularitas:10M
Nilai: 4.9
Nama Author: AL Divo Febriansyah

Silahkan promo asal jangan SPAM
Sesama Author saling membantu ya Kak

Langit telah memilihku untuk mengemban tugas menghentikan turunnya utusan iblis dan menghabisi mereka semuanya, namun aku gagal.

Di saat semua sudah terasa sirna dan hancur, rupanya langit masih memberi kesempatan kedua untuknya.

Aku kembali saat berusia 10 tahun berkat pola prasasti aneh yang mengurung diriku saat jatuh dan hancur...

Di kehidupan keduaku kali ini, akan tuntaskan kehendak langit - Widura.


Terinsipirasi dari Novel Talles Of Demon, Pedang Naga Api (Karya Ricky Wicaksono), Pendekar Dewa Matahari (A. Lubis).

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AL Divo Febriansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch 25. Menyusun Rencana

Abbas nampak berpikir cukup keras. Ia benar-benar memaksa otaknya bekerja lebih keras dari biasanya. Abbas di tuntut harus menyusun rencana dan strategi untuk menghadang keluarga Komet, yang terpenting adalah Abbas hanya memiliki beberapa jam saja.

Abbas memegangi kepalanya yang berdenyut, akibat terlalu banyak berpikir. Beberapa jam berlalu, namun Abbas belum juga menemukan solusi dan strategi.

"Mereka akan melakukan penyerangan malam ini, dan menurut informasi yang di berikan oleh Widura, jika mereka di pimpin oleh tetua Dirga yang sudah mencapai pendekar bumi, belum lagi menurut Widura akan ada cukup banyak pendekar madya yang di siapkan cukup jauh dari desa pasmah.

Mereka semua akan siap bergerak jika Dirga memberi kode sedang dalam posisi tidak menguntungkan."

Abbas mulai mencoret-coret tanah kering nan bedebu di hadapannya. Abbas memposisikan jika dirinya yang menjalankan tugas untuk membunuh seseorang tanpa melalui pertarungan.

"Tentu, tentu mereka tidak membawa pasukan yang banyak, paling banyak 20 orang pasukan dan aku dapat menebak jika yang paling kuat di antara mereka adalah tetua Dirga... Jika memang kau berani memijakkan kakimu di desa Pasmah malam nanti, maka aku bersumpah akan membuatmu tertanam di desa Pasmah selamanya..."

Abbas mulai menulis beberapa taktik dan strategi untuk menghadapi keluarga Komet. Pengalaman Abbas sangat membantu dirinya dalam menyusun strategi.

"Strategi yang paling jitu adalah menjebak mereka, membuat mereka seakan menang dengan mudah dan tanpa mereka sadari mereka sudah masuk dalam perangkap," Abbas mengelus dagunya, "Tapi rencana ini memerlukan seseorang sebagai umpan. Aku tidak mungkin meletakan Widura sebagai umpan, itu sama saja aku membuat Widura masuk ke lubang buaya.

Pramesti, aku rasa itu juga bukan pilihan yang cocok dan memiliki resiko yang besar, belum lagi seseorang yang menjadi umpan harus memiliki kemampuan bertarung jarak dekat sementara Pramesti adalah tipikal petarung jarak jauh.

Pilihan terakhir adalah diriku sendiri, ini sepertinya sebuah rencana bodoh, yaitu menjadikan umpan si pembuat rencana itu sendiri, tapi kali ini aku tidak memiliki pilihan lain selain ini..."

Abbas menyadari jika ingin mendapatkan tanggapan yang besar, maka umpannya harus besar pula. Dan menurut Abbas yang paling besar dan kuat di antara mereka adalah dirinya.

Tidak membutuhkan waktu lama, Abbas sudah selesai dengan beberapa coretan di kertas dan langsung menggulung kertas itu.

Abbas langsung melangkah menuju ke arah Widura dan Pramesti yang sedang duduk di pinggir sungai, mereka nampak sedang bercerita.

"Ekhmmm..."

***

Widura dan Pramesti memilih mencari tempat yang cukup jauh dari tempat Abbas. Mereka tidak ingin menggangu Abbas yang sedang berpikir dengan keras. Mereka takut membuyarkan semua rencana yang akan di susun oleh Abbas.

Widura dan Pramesti akhirnya memilih duduk di tepi sungai yang deras. Seperti biasanya Widura melempari baru ke dalam arus sungai. Nampaknya hal itu sudah menjadi sebuah kebiasaan untuk Widura saat pikirannya sedang buntu dan membutuhkan pencerahan.

"Widura," panggil Pramesti, "Aku benar-benar terkejut saat melihat kau memiliki kemampuan yang sangat hebat sehingga dapat memukul mundur Pangeran Raden Surya Fatih, padahal dia sudah berada di tingkat pendekar raja, dia jauh berada di atasmu, tapi ku lihat kau dengan cukup muda dapat melakukan hal itu. Apakah kau sudah mencapai pendekar bumi?" tanya Pramesti kepada Widura.

"Itu hanya sebuah kebetulan yang tidak di sengaja bibi itu juga mungkin pangeran tidak ingin hamba malu di hadapannya orang banyak," kilah Widura.

"Kau terlalu merendah Widura, jika melihatmu dan pola pikirmu, aku seperti sedang berbicara dengan seseorang yang sudah berusia ratusan tahun," Pramesti dapat merasakan aura kebijaksanaan dan wibawa yang besar dari dalam diri Widura, sesuatu yang belum pernah ia temukan pada sosok orang lain.

"Haha bibi benar-benar terlalu berlebihan menilai diriku, mungkin itu hanya perasaan bibi saja," Widur kembali berkilah.

Pramesti tidak berkomentar lebih jauh. Ia memilih mengalihkan pandangannya ke arah sungai dan tanah lapang di sekitarnya.

"Tempat ini begitu indah, tapi seingatku tidak pernah ada hamparan tanah luas tidak bersama seperti ini,"

"Aku yang membersihkan tempat ini, agar dapat menjadi tempat yang nyaman dan aman untukku diriku berlatih," ucap Widura yang hanya mendapat balasan anggukan kecil dari Pramesti.

"Ekhmmm,"

"Paman," ucap Widura, "Bagaimana? Apakah paman sudah memiliki rencana yang matang? Atau paman memerlukan bantuanku atau bibi Pramesti?" tanya Widura kepada laki-laki di hadapannya itu.

"Aku sudah selesai menyusun rencana, sekarang tinggal menjalankan dan menentukan kapan kita mulai bergerak,"

Abbas mulai menjelaskan rencana yang sudah ia susun. Rencana ini cukup gila karena menggunakan dirinya sendiri sebagai umpan. Pramesti awalnya menolak, namun setelah melihat kepercayaan diri dari Abbas, Pramesti akhirnya setuju.

"Kita juga membutuhkan satu orang lagi yang bertugas sebagai pengecoh konsentrasi lawan dan aku sudah memiliki orangnya," ucap Abbas.

"Siapa???" tanya Widura dan Pramesti serempak.

"Panjul, dia yang akan bertugas mengecoh konsentrasi lawan saat aku berhasil menangkap seseorang yang berniat menikam putri Sukma Ayu, sementara putri sendiri akan tinggal di rumahku sementara waktu, aku juga akan meminta Darma untuk menjaganya dari kejauhan, agar tidak menimbulkan kecurigaan," papar Abbas kepada dua orang di hadaonnya.

"Aku setuju dengan rencanamu itu, tapi tidak bisakah kau memilih orang lain selain Panjul, dia itu sedikit gila..." seru Pramesti.

"Haha dia tidak gila Pramesti, dia hanya malas karena itulah dia berpura-pura gila agar terhindar dari misi-misi tingkat tinggi. Kau pikir orang gila mampu mencapai pendekar raja gerbang 10 seperti Panjul? Tidakkan, aku sangat mengenal laki-laki pemalas itu yang kerjanya pagi nunggu sore..."

Semua hanya diam saja mendengar penjelasan yang di paparkan Abbas mengenai Panjul. Keduanya memang di kenal cukup dekat sejak kecil, mereka sama-sama lahir dengan bakat kristal Jingga. Abbas berhasil menunjukkan jika dirinyalah mutiara sesungguhnya keluarga Lentera, sementara Panjul tidak mengalami kemajuan yang pesat seperti Abbas, ia terlalu malas untuk berlatih, meskipun begitu kekuatan dan pancaiannya patut di acungi jempol. Pendekar raja gerbang 10 adalah pencapaian yang luar biasa untuk seorang pemalas seperti Panjul.

"Aku ingin kau membuat beberapa perangkap di tengah hutan yang kau pastikan menjadi tempat berkumpulnya para pendekar madya, aku ingin Pramesti yang berjaga di sana, karena jurus jarum beracun milikmu sangat cocok jika di gunakan menghabisi musuh dari jarak jauh dan di kegelapan malam...

Sementara Widura, aku ingin kau berjaga di sekitaran rumah Pramesti, aku ingin kau memastikan tidak ada yang keluar dari sana hidup-hidup, kecuali aku dan Panjul, kau mengerti..."

"Aku mengerti paman, paman bisa mempercayakan hal itu kepadaku," ucap Widura dengan terburu-buru.

"Baiklah jika begitu, aku harus bergegas menemui Panjul terlebih dahulu..."

1
Taufan Sule Muskita
Jiaaahhhh katro gitu 😂😂
Yanto Ibon
sudah mau tamat episodenya, sepertinya susah kebaca alur ceritanya
Yanto Ibon
ada ke ANEHAN lagi ni thor. ..
kamu di bab sebelumnya mengatakan bahwa ki joko budoyo MAHA TAHU atas segala yang terjadi.

gantinama aja thor. .. jadi JOKOBODO wkwkwk
Yanto Ibon
next author harus lebih baik lagi dlm merangkai kata dan cerita
Yanto Ibon
author lagi lagi bikin cerita jd aneh /Facepalm/
𝕲𝖔𝖊𝖘 𝕼𝖚𝖒𝖎𝖊𝖟
nheriiiiiiiiiiiiiiiii perangnya benar benar ngeriiiiiiiiiiiiiiii
𝕲𝖔𝖊𝖘 𝕼𝖚𝖒𝖎𝖊𝖟
ah kasihan sukma ayu, perjuangannya seakan sia sia
𝕲𝖔𝖊𝖘 𝕼𝖚𝖒𝖎𝖊𝖟
ingat pesan sesepuh jangan jadi iblis widura
𝕲𝖔𝖊𝖘 𝕼𝖚𝖒𝖎𝖊𝖟
sehat sukses selalu tho
𝕲𝖔𝖊𝖘 𝕼𝖚𝖒𝖎𝖊𝖟
terlalu banyak ilmu dan musuh
𝕲𝖔𝖊𝖘 𝕼𝖚𝖒𝖎𝖊𝖟
mana ciung wanaranya
𝕲𝖔𝖊𝖘 𝕼𝖚𝖒𝖎𝖊𝖟
hi ngeri jurusnya goyangan malam pertama
𝕲𝖔𝖊𝖘 𝕼𝖚𝖒𝖎𝖊𝖟
hore panjul hebat
Sih Winarti
you
HeriSupriyatno 99
Luar biasa
zayick
pendekar ko sedikit sediki kaget sedikit sedikit kaget knpa gk mati saja
zayick
pendekar lemah jk bertarung trnyata banyak omongnya. menyedihkan
zayick
lemah sangat lemah. pendekar langit lawan pendekar bumi tenaga dalam langsung habis. tidak layak disebut pendekar. pulang aja nyusu lagi sama emak

sungguh menyedihkan
Windy Veriyanti
RIP Argadana
Windy Veriyanti
kalah terus...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!