Undian liburan impiannya berubah menjadi awal petaka bagi Rinjani, kesalahan satu malam yang dibuat bukan untuknya menjerat Rinjani masuk ke kehidupan seorang tuan mafia.
"Aku tidak akan menikahimu, namun lahirkan janin itu dan tinggalkan dia untuk jadi penerusku," ucapnya tajam penuh intimidasi seraya melemparkan surat perjanjian dan pulpen.
Namun bukannya takut, Rinjani malah melepaskan flatshoes kotornya, "talk to my flatshoes, sir!" ia melemparnya pada Loui, meski lemparannya seburuk lemparan balita.
Mohon dibaca dari awal sampai akhir ya guys 😉 salah satu cara untuk mendukung author dalam berkarya 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 ~ Tak mau kalah start
Loui menggenggam tangan Jani keluar dari hotel, diikuti para anak buahnya. Tidak seperti wanita lain yang akan melingkari lengannya, Jani justru diam saja jika Loui tak meraih tangannya.
Jani sempat menoleh pada Mathew dengan tatapan redup, merasa bersalah, jelas! Tapi ia bisa apa, hidup disini saja ditanggung Loui, ia bisa berada disini karena Loui, dan jujur saja haz ratt nya ikut bermain, tak tau sejak kapan Jani ingin sekali merasakan hal itu lagi, apakah bawaan hormon kehamilan?
"Apa kau lapar?" tanya Loui mendadak lembut. Jani menggeleng, "aku mau pulang dan istirahat."
Loui paham dan mengabulkan permintaan Jani, sikapnya mulai mencair pada Jani dengan membukakan pintu mobil untuk wanitanya itu, tapi tak sepatah kata pun yang Jani ucapkan termasuk kalimat terimakasih.
Sepanjang perjalanan pulang, Rinjani lebih memilih diam seribu bahasa dan menatap nyalang keluar jendela mobil. Jalanan seperti sedang menertawakan nasibnya saat ini.
Ama, Jani pengen pulang....ia menyerot air yang terasa meleleh di hidung dan menyeka pelupuk mata yang mulai buram oleh hawa panas.
"Mau kupesankan sesuatu pada Marriot atau restoran?" tanya Loui berbasa-basi sesampainya mereka di rumah, Jani menggeleng, "aku ingin langsung beristirahat." Jani keluar dari mobil tanpa menunggu jawaban Loui membuat pria itu mengernyit, ada apa dengan Rinjani?
Jani bahkan tak menyapa Marriot, sesampainya ia di rumah, ia langsung saja berjalan ke arah lantai atas dimana kamarnya berada, membawa semua perasaan tak menentunya saat ini.
Mathew tentu saja melihat perubahan itu. Dengan naluri pria dewasanya, ia segera menyusul dan menyamai langkah Jani. Loui cukup dibuat gelisah dengan adegan remaja di depan tangga itu, "mau apa dia?" gumamnya sedikit sewot.
Oscar baru saja turun dan melihat itu semua, "sepertinya setelah perjanjian kalian selesai. Rinjani tidak akan cepat-cepat pulang ke Indonesia, atau justru ia akan menjadi warga negara Amerika," ujar Oscar semakin menyiramkan minyak tanah pada percikan api.
"Kenapa? Tidak usah so tau." Sarkas Loui. Oscar mengehkeh, "aku bukan so tau, tapi kau bisa melihatnya sendiri," tunjuk Oscar dengan dagunya pada sepasang insan yang sedang kekeh-kekehan, yang satu kekeh menawarkan beberapa hal sementara yang satu lainnya kekeh menolak dan ingin pergi ke kamar.
"Kau kalah start, Lou.."Oscar berlalu dengan membuka satu persatu kancing yang memeluk erat dirinya dari jas juga kemeja.
"Curang....Apa?! Memangnya siapa yang sedang berlomba!" tukas Loui meneriaki Oscar.
"Cih, si alan. So perhatian sekali dia, memangnya dia siapa?! Ayah dari janin yang dikandung Rinjani saja, bukan!" omelnya menggerutu sendiri membuka satu kancing kemeja atas, ia merasa hari ini begitu panas menggerahkan, apakah rumah ini pindah ke Merkurius? Karena suhunya mendadak panas, seperti matahari sedang berada di atas kepala.
Loui menatap dengan angkuh kedua manusia di depannya sembari menghampiri, "minggir, kalian berdua menghalangi jalanku. Lagipula, kau jangan memaksa wanita jika dia tak mau, Matt..." tanpa sadar Loui kini nyelip diantara Jani dan Mathew.
"Apa kau tak tau wanita itu makhluk yang lembut dan tak suka dipaksa?!" ujarnya so bijak, "dasar bo doh," hardiknya pada Mathew.
Mathew dibuat melongo oleh sikap Loui, lantas yang memaksa Rinjani sampai wanita ini mengandung siapa? Jelmaan dajjal kah?
"Rinjani, bukankah kau seharusnya istirahat? Apa perlu kuantar dan kugendong sampai kamar?" tanya Loui. Rinjani menggeleng kencang, dasar mesum! Pikiran Loui memang selalu mengarah ke ranjang, Jani mendesis tak terdengar, "aku ke kamar duluan." Jani memilih melanjutkan langkahnya hingga hilang dari pandangan keduanya.
"Ck...ck....tak usah so perhatian. Mulai sekarang urusan Rinjani, biar aku yang ambil alih..." ujar Loui pada Mathew setelah kepergian Jani.
Mathew kembali dibuat mengernyit, apakah ini Loui Mackenzie yang ia kenal? Sejak kapan ia jadi manusia plin plan.
"Tapi bukankah..." belum Mathew berucap, Loui kembali memotongnya, "aku ayah calon bayi yang dikandung Rinjani, jadi...Rinjani adalah tanggung jawabku sekarang, tugasmu hanya sebatas mengawal jika aku sedang tak berada bersama Rinjani ..." angguknya mantap. Sungguh jika tidak memiliki perasaan apapun, Mathew ingin tertawa melihat kelakuan bosnya itu.
Loui berlalu meninggalkan Mathew dengan segala keheranannya.
"Aneh," gumam Mathew.
Loui tak sengaja mendengar percakapan Jani di dalam kamarnya, sepertinya wanita itu sedang menghubungi ibunya yang berada di Indonesia karena jelas ia seperti sedang menumpahkan rasa rindunya.
Jani turun ke dapur seperti biasanya disaat hari masih gelap, hanya saja ada yang tak biasa darinya pagi ini, Jani menggerai rambutnya menutupi jejak kebuasaan Loui kemarin yang tercetak sepanjang leher dan dadha.
Tangan Jani terulur mengambil celemek dan peralatan dapur.
"Untuk memasak nasi, apa yang harus kulakukan untuk pertama kali?" suara itu begitu familiar di telinga Jani, namun bukan suara Mathew.
Pria itu bahkan masih berwajah bantal dan menguap, "apa setiap hari kau selalu terbangun sepagi ini? Hoammm!" tanya nya menguap dengan t shirt yang masih kusut dan celana pendek selututnya.
Jani mengernyit tak percaya, jika sosok di depannya itu adalah Loui, apakah ia salah lihat? Apakah di Amerika pun ada jin yang dapat menyerupai manusia? Karena yang di depannya itu sungguh mirip pria itu.
Sadar jika Rinjani sedang terbengong, Loui mencebik.
"Apa kau mendengarku?" tanya Loui menyadarkan lamunan Jani, "apa yang sedang kau lakukan disini? Lagipula, tumben sekali kau terbangun....biasanya kau masih terlelap," jawah Jani.
"Mulai hari ini, aku akan membantumu menyiapkan sarapan untuk kita berdua..." balas Loui mengambil alih tempat penanak nasi yang ada di tangan Jani.
"Oo...Oke." Jani mengangguk meskipun ia masih dilanda kebingungan, setan apa kiranya yang merasuki Loui.
"Taruh beras disini," pinta Jani menarik karung beras dan menakar butiran beras.
Loui menerima dan memperhatikan apa yang dilakukan Jani.
"Cuci," pinta Jani yang melengos mengambil sayuran dan bahan lauk lain di kulkas. Loui tak kebingungan untuk sekedar mengocorkan air kran, karena ia bukan terlahir menjadi seorang pangeran.
"Begini?" tanya nya memutar kran wastafel ke arah wadah penanak nasi yang berisi beras lalu menggosok-gosok butiran beras di dalamnya.
Jani menaruh sejenak sayuran yang sudah ia bawa lalu menghampiri pria atletis bertatto yang tengah di depan wastafel sambil sibuk mengubek-ubek isian wadah.
"Jangan terlalu kencang, nanti tumpah." Jani mengambil alih beras dan membuang airnya.
Setelah itu, Jani lah yang lebih sibuk memasak dan sibuk memberitahu Loui.
"Apakah airnya harus sebanyak itu? Kenapa tidak kau ukur dulu dengan gelas takar, bagaimana jika terlalu lunak dan jadi bubur nantinya?" tanya Loui memberondong Jani dengan pertanyaan, melihat Jani hanya mengukur ketinggian air dengan garis ruas jari telunjuknya saja, terkesan tidak akurat.
"Apakah selama ini kau pernah merasakan nasi benyek? Bagaimana nasi buatanku setiap hari?" Jani menjawabnya dengan balik bertanya.
"Oke. Tapi jika beras ini berubah menjadi bubur, kau yang kusalahkan..." jawab Loui membuat Jani mendesis kesal, "lagipula siapa yang ingin memasak untukmu...jika kau tak mau aku tak memaksamu untuk memakan masakan buatanku..." balas Jani bisa kembali terpancing untuk mendebat Loui.
"Apa yang mau kau masak untuk lauk makannya? Apa yang harus kukerjakan?" tanya Loui lagi mengekori Jani.
.
.
Marriot baru saja keluar dari kamarnya, setelah tercium aroma sedap dari bumbu rempah dan beberapa kali suara Jani yang meninggi karena kesal.
"Sshhhh! Bukan begitu! Astaga!" teriak Jani kesal, mendingan ngajarin bocah tk yang lagi cooking class ketimbang pria tua ini.
Loui tertawa melihat wajah marah dan manyun itu kembali lagi, "lihatlah chef Loui beraksi," ia menaburkan garam dengan gaya yang seperti chef-chef di televisi, membuat Marriot terkekeh di tempatnya melihat Loui, pemandangan langka bahkan tak pernah ia lihat sebelumnya ini sedikit banyak membuat Marriot bertanya-tanya, tentang sisi lain Loui saat bersama Rinjani.
Jani bergegas mengecek rasa dari tumisan udang dan sayurannya, alisnya mengernyit, "apakah kau sudah menuangkan garam?"
Loui mengangguk, "sudah."
"Berapa banyak?" tanya Jani.
"Dua." jawabnya singkat.
Alis Jani mengernyit, "dua apa?" yang benar saja, jika dua sendok ia ragu, karena tumisan ini sama sekali tak ada rasanya, begitu hambar.
"Dua taburan. Jangan terlalu banyak garam, nanti tensian da rahmu naik..." jawab Loui.
"Shhhh! Pantas saja." Jani kembali mengambil toples garam dan juga gula.
Wurrrr...
Tanpa ragu, Jani menaburkan garam dan gula membuat Loui mengangkat kedua alisnya, "apa yang kau lakukan, jangan banyak-banyak! Aku tak mau ada drama keasinan, Rinjani."
"Kau rasakan saja sendiri. Besok-besok jangan ikut membantuku memasak!" ketus Jani, merasa risih saat Loui ikut membantu.
Oscar tertawa renyah meski pelan melihat Loui habis dimarahi Jani selama sesi memasak ini, entah sejak kapan mereka melakukannya, namun saat ia keluar kamar, Jani sudah membabat habis mafia konyol iti dengan omelannya.
.
.
.
.
nih qu bantu sadarkan👊👊👊
berasa cepet banget bacanya 🫢🫢
tapi kok yg ini kayanya kurang panjang ya?? hehehhe