Tiga tahun menikah, Aize akhirnya dinyatakan hamil di saat suaminya, Cakra, divonis memiliki masalah kesuburan. Aize tak pernah berselingkuh, dia selalu setia dengan pernikahannya dan tak pernah menjalin hubungan dengan pria mana pun, sehingga dia yakin anak dalam kandungannya adalah anak sang suami.
Namun, saat Aize tengah berbahagia menantikan kelahiran anaknya, pria yang mengaku telah menghamili muncul. Dia adalah, Biru saudara kembar Cakra yang selama ini tak pernah Aize dan Cakra kenal. Tiba-tiba saja dia datang membawa dendam untuk Cakra atas kesalahan orang tua mereka di masa lalu.
Akankah Aize bersikap jujur pada Cakra tentang Biru yang menghamilinya? Apakah Carkra akan menerima anak dari orang lain yang telah menikmati tubuh istrinya?
follow ig aku ya @ittaharuka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itta Haruka07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DKS ^ Bab 25
Aize merasa bimbang dengan pilihan yang diajukan oleh Birru. Dia sangat ingin bertemu dengan Arka, tapi di sisi lain dia juga ingin menjebloskan Birru ke penjara, dan seharusnya ini menjadi saat yang paling tepat.
“Kalau kamu terlalu lama berpikir, aku akan segera pergi membawa Arka ke luar negeri!” ancam Birru yang sekali lagi memaksa istri saudara kembarnya itu agar mau ikut dengannya.
“Jangan! Aku akan ikut!” sahut Aize yang tanpa pikir panjang langsung setuju dengan keinginan Birru.
Hal itu membuat Birru tersenyum penuh kemenangan. Lalu, dia menatap kedua orang tuanya yang tidak bisa berkutik sama sekali dalam situasi ini. “Kalian! Kalau kalian merasa tidak pernah adil denganku, setidaknya kalian bisa diam. Urusan kita, akan kita bahas setelah ini!”
Birru seolah lupa dengan tujuan awalnya untuk merusak kebahagian Cakra dan kedua orang tuanya. Sekarang, yang menjadi pikiran utamanya adalah Arka, bocah tampan yang telah menjungkirbalikkan dunianya.
Kini, Aize dan Birru sama-sama mengendarai taksi yang sejak tadi telah menunggu mereka di depan rumah Cakra. Di dalam mobil, Birru terus melontarkan aturan-aturan yang harus Aize taati jika ingin bertemu dengan Arka. Salah satunya, wanita itu harus berpura-pura sibuk karena tengah mengurus suatu pekerjaan dan harus membuat Arka tinggal bersama Birru dengan tenang.
“Kalau kamu tidak sanggup, kamu bisa turun!” kata Birru saat Aize masih membaca poin-poin aturan yang telah dibuat oleh Birru.
Aize menelan ludah dengan kasar. Rasanya ingin sekali dia berontak dan melawan, tapi dalam sekejap dia sadar bahwa Birru bisa saja menyakitinya dan Arka.
“Aku mau ketemu anakku!” balas Aize dengan ketus.
“Bagus, kalau begitu ikuti aturanku!”
Aize membuang muka dan membelakangi Birru. Sikap yang membuat Birru merasa kesal karena kebaikan hati versinya itu tidak dihargai oleh Aize.
Akhirnya, mereka sampai di sebuah pusat perbelanjaan. Aize terpaksa mengikuti langkah Birru yang lebar dengan setengah berlari. Jika saja yang di hadapannya saat ini adalah Cakra, pasti laki-laki itu akan menggenggam jemari tangannya dan melangkah bersama. Sayangnya, dia adalah Birru yang arogan dan semena-mena, juga tidak punya hati nurani.
Kedua manusia yang saling bersikap dingin itu sama-sama menuju ke lantai lima. Di sana adalah pusat permainan untuk anak-anak, kaum remaja, juga sebagian orang dewasa yang tengah butuh hiburan.
“Arka!” Aize segera berlari begitu melihat putranya yang tengah berdiri di depan mesin capit.
Arka yang mendengar suara sang ibu, langsung menoleh dan menghampiri Aize. “Mama!”
Pertemuan ibu dan anak itu berlangsung dramatis. Rasa rindu yang membuncah selama beberapa hari ini akhirnya tertumpahkan. Aize memeluk putranya dengan sangat erat begitu pula dengan Arka yang juga sangat merindukan ibunya.
“Arka!” Aize menciumi seluruh wajah Arka dan memastikan putranya itu baik-baik saja.
“Mama, Arka kangen. Mama ke mana aja?” tanya Arka dengan wajah cemberut. Dia benar-benar sedih karena terpisah dengan ibunya itu.
Birru langsung berdehem, mengingatkan Aize tentang isi peraturan yang harus ditaatinya selama bersama Arka.
Aize sangat paham. Dia juga tidak berani macam-macam apalagi jika itu menyangkut keselamatan putranya yang tersayang.
“Mama ada urusan, Sayang. Tapi, hari ini mama akan temani Arka ya!”
Arka tersentum, tapi itu tak berlangsung lama. Raut wajah bocah itu kembali menunjukkan kesedihan saat menyadari ibunya tidak akan lama.
“Mama akan pergi lagi?” tanya bocah itu terlihat keberatan.
Melihat kesedihan di wajah putranya, Birru menggendong Arka dan berkata, “Mama sempat-sempatin waktu buat kamu loh, Sayang. Jangan bikin Mama sedih ya, kan masih ada Papa yang temani Arka. Sekarang, kita jalan-jalan sebentar sama Mama ya. Tapi, Papa pengen lihat senyum Arka dulu!”
Aize memperhatikan interaksi Arka dan Birru. Keduanya memang sangat mirip dari segi fisik dan hal itu malah membuat Aize sedih.
***
Komennya banyakin ya gaess 😘😘😘