Ketika seorang gadis yang hidupnya hanya untuk membalaskan dendam kematian keluarganya, tapi hati gadis itu ditakdirkan untuk mencintai pembunuh keluarganya. Akankah gadis itu memilih memaafkan pembunuh keluarganya atau terus pada tujuan utamanya yaitu balas dendam? Ikuti keseruannya yuk!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Video terus berjalan. Memperlihatkan Raka yang duduk di tepi pantai melihat keganasan laut tadi malam. Tetapi sayangnya Zylva dan Gibran tidak mendengar apa yang di ucapkan Raka dan Daffi karena gemuruh ombak bercampur petir dan hujan.
"Terus? Fungsinya nunjukin ini ke gue?" Zylva mencoba bertanya. Walau nada bicaranya sudah sedikit bergetar karena merasa bersalah melihat Raka seperti itu.
"Kak Matthew nyuruh Lo ke pemakaman Cainsley." ucap Gibran.
"Hah? Kenapa dia nggak bilang gue langsung?"
Gibran menggedikkan bahunya. Kemudian menunjukkan sisa chatting-nya dengan Matthew beberapa saat lalu. "Yang jelas dia nyuruh Lo kesana." ucap Gibran lagi.
---
Sesampainya di pemakaman, Zylva tidak langsung masuk ke pemakaman. Gadis itu melihat tiga orang cowok disana. Satu orang jongkok di depan sebuah makam. Dua lainnya terlihat membujuk cowok tersebut.
"Apa tindakan gue salah?" gumam Zylva.
Setelah beberapa saat Zylva mengamati, dua cowok tersebut menyerah membujuk sahabatnya. Mereka pergi dari sana. Ketika sampai di depan pemakaman Gilang menatap Zylva dengan sorot mata amarah.
"Lo ada masalah apa?! Kenapa dia yang gak salah harus jadi korban hah?!" bentak Gilang
"Jangan teriak-teriak! Ini di pemakaman!" tegur Daffi.
"Dia juga bunuh adik-adik gue yang sama sekali tidak terlibat dunia mafia."
"Lo bukan cewek! Lo iblis!" ucap Gilang sambil melayangkan kepalan tangannya ke arah Zylva.
Gadis itu tidak menghindar. Tetapi Gilang gagal memukul Zylva karena Daffi. Cowok itu menghentikan Gilang di saat yang tepat.
"Kenapa Lo cegah?" tanya Zylva.
"Gue cegah, karena gue tahu bagi Lo yang Lo lakuin nggak salah. " ujar Daffi disambut tatapan tajam dari Gilang.
Ya Gilang tidak terima dengan kematian Cainsley. Cowok itu mencintai sepupu kesayangan Raka tersebut. "Jangan berbelit-belit Daf."
"Lo maupun Raka gak bisa disalahin disini. Raka gak ingin membunuh keluarga Lo. Dia dipaksa orang tuanya karena dia pewaris utama di keluarga mereka. Raka harus kuat secara mental dan fisik. Makanya itu setiap tahun dia harus berhasil membunuh satu musuhnya." terang Daffi panjang lebar. "Sedangkan Lo juga nggak bisa disalahin. Karena Lo cuma balas perbuatan dia. Gue tahu sakitnya liat orang tua dibunuh di depan mata gue sendiri. Karena gue juga pernah ngalamin itu. Gue juga pengen balas pembunuhnya, keinginan itu tetap ada bahkan hingga sekarang. Sayangnya dia udah mati di tangan orang lain." ucap Daffi lagi.
Zylva hanya diam mendengarkan penjelasan Daffi. Dia merasa sedikit deja vu. Daffi ini jika di keluarganya adalah perpaduan Varrel dan Reygan. Cowok teliti, bijaksana, dan emosian. Dia adalah penjelas yang baik.
"Kenapa Lo malah bela dia hah?!" tanya Gilang.
"Gue gak bela siapa-siapa. Gue ngomong dari berbagai sudut pandang." jawab Daffi. "Ayo pergi!" ajak Daffi sambil menyeret tangan Gilang pergi dari sana. Karena jika terus disana Gilang mungkin tidak akan bisa menahan emosinya.
Zylva mengalihkan pandangannya lagi kepada Raka. Kemudian menatap bunga mawar putih di tangannya. Kemudian segera berjalan memasuki area pemakaman tersebut.
*
"Sorry, gara-gara gue Lo harus pergi." ucap Raka. "Gue tahu banyak impian Lo yang belum terwujud. Gue akan berusaha wujudin itu." sambungnya lagi di dalam hatinya. Tangan cowok itu tak hentinya mengusap batu nisan Cainsley. Matanya terlihat sembab.
Tiba-tiba seseorang meletakkan seikat bunga mawar putih di makam adik sepupunya tersebut. Kemudian ikut jongkok di samping Raka. "Sorry udah bunuh Lo." ucap Zylva.
"Ngapain Lo kesini?" tanya Raka. Cowok itu tidak bisa marah. Karena itu adalah balasan atas perbuatannya dahulu.
"Kenapa? Bukannya tempo hari Lo juga ke makam orang tua gue?" tanya Zylva.
"Kenapa minta maaf? Lo nyesel bunuh dia?" tanya Raka lagi.
"Lo juga minta maaf ke orang tua gue." jawab Zylva. "Dan gue gak pernah nyesel bunuh dia."
"Lo benci gue? Lo benci dia juga?"
Zylva menghela napas kemudian menatap mata Raka. Zylva melihat dengan jelas mata Raka yang sembab. "Gue cuma benci Lo. Gue gak benci dia. Makanya gue minta maaf udah bunuh dia." ucap Zylva.
"Setelah ini siapa lagi? Mama gue? Papa gue? Lucy? Daffi? Gilang? Gak bisa kah gue motong antrian? Biar gue duluan aja."
Zylva tidak menjawab pertanyaan Raka. Raka pun juga sudah tahu jelas jawaban yang akan Zylva berikan. Gadis itu menggulung lengan kiri bajunya. Kemudian menggoreskan kuku tajamnya ke kulit mulusnya. I'm Killer. Tulisan yang terukir dari goresan kuku gadis tersebut.
"Apa maksud Lo hah?!" bentak Raka. Cowok itu terlihat panik melihat darah yang keluar dari lengan Zylva. Raka segera mengeluarkan sapu tangannya dan menempelkannya ke luka Zylva agar darahnya berhenti keluar.
"Gue juga pembunuh. Bikin tato pernyataan gak salah kan?"
Raka melihat lengan kirinya, terlihat tulisan ralat bekas luka yang sama persis dengan yang ada di lengan Zylva.
"Tangan cewek gak boleh lecet." ucapnya. Kemudian beranjak pergi dari sana.
Zylva hanya menatap punggung Raka yang menjauh. Kemudian melihat sapu tangan yang ada di atas lukanya. Tangan gadis itu tergerak mengambil sapu tangan tersebut. Sudah tidak ada darah. Tetapi sedetik kemudian, darah kembali merembes dari lukanya. Zylva segera menempelkan sapu tangan itu lagi.
"Sepupu Lo itu sebenarnya baik. Tapi dia pengecut dan berakhir jadi jahat." ucap Zylva sambil menatap batu nisan Cainsley.
"Gue gak pernah benci Lo. Lo mati itu nebus kesalahan kakak Lo. Gak usah dendam sama gue." ucap Zylva lagi.
Mata Gadis itu beralih melihat lahan kosong di dekat makam Cainsley. "Sebentar lagi Lo bakal punya teman. Om dan tante Lo bakal nemanin Lo di kuburan biar nggak sepi. Siapa tau kalian bisa party di dalam sana." celetuk Zylva kemudian beranjak pergi dari sana.
Agak gila memang. Tapi itu adalah Zylva, mulutnya memang ceplas-ceplos. Dan kalau ngomong nggak pernah di saring. Di Tempat seperti ini pun gadis itu sama sekali tidak merubah kalimat yang ingin dia ucapkan. Gak takut gitu ya kalau tiba-tiba yang di dalam kubur marah terus neror? Tentu nggak. Mana mungkin seorang Zylva takut hal begituan.
...***...
...Bersambung......