Api di Bumi Majapahit adalah buku ke dua dari Trilogi Naga api....Dianjurkan membaca Pedang Naga Api sebagai buku pembuka sebelum membaca Api di Bumi Majapahit agar semua misteri tersambung..
Seribu tahun setelah pertempuran pendekar langit merah dengan pendekar terkuat pengguna Naga api dan bertepatan dengan berdirinya Kerajaan Majapahit, sebuah perguruan silat misterius bernama Tengkorak merah muncul kedunia persilatan dan kembali membuat kekacauan.
Mereka mencari kitab ilmu kanuragan tanpa tanding yang pernah dimiliki oleh Sabrang Damar, Pendekar terkuat pengguna Naga api yang menghancurkan Pendekar langit merah. Ilmu kanuragan yang mampu mengendalikan energi Banaspati itu bernama Kitab Api Abadi.
Disaat yang bersamaan seorang pemuda yang sangat membenci ilmu kanuragan karena masa lalu kelamnya justru menjadi harapan baru dunia persilatan untuk menghancurkan kekejaman Perguruan tengkorak merah yang memiliki ilmu kanuragan tinggi.
Pertemuan pemuda itu dengan seorang gadis dari perguruan aliran putih merubah segalanya.
Apakah pemuda itu akan terseret kedalam pusaran dunia persilatan atau justru dia tetap memilih menjauhi Ilmu kanuragan yang sangat dibencinya?
Semua perjalanan hidup pemuda itu di kemas dalam novel berlatar belakang kerajaan terbesar nusantara Majapahit.
Update Setiap Hari
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ricky Wicaksono, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hibata
Sinar matahari pagi mulai menyelimuti bukit Cetho dan menutup malam berdarah itu. Arkadewi masih duduk mematung, wajahnya dibenamkan diantara dua lututnya. Air matanya terus mengalir tanpa bisa dibendung.
Dia merasa sangat bersalah karena dialah pemyebab Arya menjadi seperti itu.
"Nona, sebaiknya anda ikut denganku. Aku akan kembali ke keraton dan melaporkan masalah penyerangan di bukit Cetho". ucap Batara pelan.
Arkadewi hanya menggelengkan kepalanya, dia benar benar tidak ingin beranjak dari tempat itu sampai Lima purnama yang dijanjikan wanita misterius itu.
Batara menarik nafas panjang sambil menatap Arkadewi. "Baiklah jika anda tetap ingin disini sementara, aku harus kembali ke Majapahit".
Setelah kembali tak mendapatkan jawaban dari Arkadewi, Batara menundukkan kepalanya dan melangkah pergi.
"Apa yang harus kukatakan jika bertemu bibi Mentari?" gumam Arkadewi pelan.
Arkadewi tiba tiba meraih pedangnya saat mendengar suara langkah kaki mendekat namun wajahnya sedikit tela saat melihat Ciha berlari kearahnya.
"Apa yang terjadi? segel udaraku merasakan energi mengerikan dari arah sini" tanya Ciha sambil mengatur nafasnya. Dia berlari sekuat tenaganya saat segel udaranya merasakan energi besar.
"Dia berubah tuan, sesuaru merasukinya" ucap Arkadewi lirih.
"Dia?" Ciha melihat kesekelilingnya, dia baru menyadari Arya tidak ada disana.
"Maksudmu Arya?".
Arkadewi mengangguk pelan.
Ciha menarik nafasnya panjang, wajahnya tampak tampak khawatir.
"Sudah kuduga, kemunculanya yang terlalu cepat akan menimbulkan masalah". Ciha tampak berfikir sejenak sebelum melanjutkan ucapannya. "Kemana perginya anak itu?".
"Aku tidak tau, seorang pendekar wanita membawanya pergi. Dia memintaku untuk menemuinya di Lembah tanpa cahaya lima purnama lagi".
"Lembah tanpa cahaya? kau yakin?" tanya Ciha pelan.
Arkadewi mengangguk pelan "Tuan mengenalnya?".
"Jika memang dia yang membawa Arya pergi maka itu jauh lebih baik, ikut denganku kembali ke Bintang langit aku akan menceritakan pendekar wanita itu". ajak Ciha.
***
Saraswati meletakkan tubuh Arya disebuah amben yang terbuat dari bambu. Dia menatap wajah pemuda itu sesaat sebelum melangkah pergi.
"Apa yang sebenarnya dipikirkan guru, bagaimana bisa dia membiarkan pemuda itu pergi setelah segel itu terlepas". Saraswati mengumpat dalam hati.
Saraswati duduk diatas sebuah batu di pinggir sungai, air mata mulai menetes dipipinya kala mengenang kembali kejadian sepuluh tahun lalu saat dirinya bertengkar dengan Mentari, orang yang sudah dianggapnya sebagai ibu sekaligus gurunya hingga dia melarikan diri dari hutan kematian.
Walau saat itu dia sangat membenci Mentari namun jauh dilubuk hatinya dia sangat menyayangi gurunya itu.
Sejak saat itu perasaan menyesal setiap hari menghantuinya dan kini dia merasa bisa memperbaiki kesalahannya dulu dengan merawat keturunan gurunya.
"Semoga guru mau memaafkanku" gumamnya dalam hati.
Sesosok tubuh tiba tiba muncul didekat Saraswati sambil menundukkan kepalanya.
"Jika Anda masih memikirkan nona Mentari mengapa anda tidak menemuinya langsung?". ucap Pendekar itu pelan.
Saraswati menggeleng pelan "Ada misi yang jauh lebih besar saat ini, aku akan menemui guru jika semua misi kita telah selesai". Saraswati menoleh kearah pendekar yamg wajahnya terlihat ditutupi kain dan memakai caping dikepalanya. "Apa yang membawamu kemari?".
"Ketua meminta anda menghadap, kemunculan Megantara akan menggegerkan dunia persilatan. Kita harus segera mengantisipasinya".
"Baik, katakan padanya aku akan menemuinya besok".
"Apa akan baik baik saja menyembunyikan Megantara di lembah tanpa cahaya ini?" tanya pendekar itu tiba tiba.
"Aku paling tidak suka kau ikut campur urusan pribadiku". Dalam sekejap mata, Saraswati telah berada dibelakang pendekar itu dengan pedangnya. "Bicaralah satu kata lagi maka hari ini kupisahkan kepalamu dari tubuhmu".
"Kau terlalu terbawa perasaan nona, aku hanya bertanya". Pendekar itu berusaha tersenyum kecil untuk menutupi rasa takutnya.
"Dia adalah keturunan guruku, biar aku yang mengurusnya". Saraswati melepaskan pedang yang menempel dileher pendekar itu.
"Aku adalah temanmu, tak mungkin aku mengkhianatimu namun aku ingin kau berhati hati pada sesuatu yang ada didalam tubuh anak itu. Seperti kata ketua, anak itu bagai dua sisi mata pisau. Dia bisa menjadi penyelamat dunia persilatan tapi jika dia tidak bisa mengendalikan sisi gelapnya maka dia akan menjadi ancaman terbesar dunia persilatan".
Saraswati bangkit dari duduknya dan berjalan masuk kedalam gubuknya. "Terima kasih atas perhatianmu, aku akan mengingatnya" ucap Saraswati tanpa menoleh sedikitpun.
***
"Dia murid bibi Mentari?" Arkadewi mengernyitkan dahinya setelah mendengar ucapan Ciha.
Ciha mengangguk pelan, "Saraswati atau lebih terkenal dengan nama Pendekar serbuk bunga adalah seorang gadis berbakat yang diangkat oleh nona Mentari menjadi muridnya . Beberapa kali dia datang kemari karena diutus nona Mentari untuk membicarakan masalah gulungan tuan Wardhana. Dia adalah murid yang sangat baik dan ramah, aku tidak tau bagaimana dia bisa kabur dari hutan kematian namun yang kudengar mereka bertengkar dan Saraswati memutuskan meninggalkan gurunya".
Arkadewi terlihat mencoba mengingat nama itu namun tidak berhasil, dia benar benar belum pernah mendengar nama Saraswati ataupun pendekar serbuk bunga.
"Mungkin kau belum pernah mendengar namanya karena hanya beberapa orang saja yang pernah bertemu dengannya, tapi kau pasti pernah mendengar tentang sebuah kelompok misterius bernama Hibata bukan?".
"Hibata? Organisasi misterius yang paling dihindari oleh seluruh pendekar dunia persilatan?" Arkadewi mengernyitkan dahinya.
Ciha mengangguk pelan "Hibata awalnya dibentuk oleh leluhurmu tuan Wardhana untuk melindungi Malwageni. Nama Hibata diambil dari nama gunung paling misterius di daratan Celebes. Tak ada yang tau berapa dan siapa saja anggota Hibata karena tuan Wardhana sangat merahasiakannya. Setelah kematian tuan Wardhana, Hibata justru berkembang sangat pesat. Sejak saat itu tidak diketahui lagi siapa ketuanya dan dimana markas mereka".
"Jadi bibi Saraswati anggota Hibata?" tanya Arkadewi.
"Itu kabar yang kudengar, setelah dia melarikan diri dari Hutan kematian tak lama tersiar kabar jika Saraswati direkrut oleh Hibata namun tak ada yang tau pasti kabar itu karena Hibata tak pernah bisa dilacak. Setelah Malwageni runtuh Hibata mendeklarasikan diri menjadi sebuah organisasi. Tak ada yang tau apa tujuan mereka namun yang menarik adalah mereka menghancurkan beberapa perguruan yang sepertinya memiliki hubungan dengan Masalembo".
"Apa Saraswati adalah manusia yang sama seperti kalian?".
Ciha terkekeh mendengar pertanyaan Arkadewi.
"Manusia seperti kami? apa maksudmu?".
"Abadi seperti tuan dan bibi Mentari". Arkadewi tersenyum malu setelah menyadari kesalahan pertanyaannya.
"Tidak, dia ditemukan nona Mentari saat masih kecil, jadi kupastikan dia manusia seperti dirimu" sindir Ciha sambil tersenyum kecil.
"Jika benar yang membawa Arya adalah Saraswati maka kita bisa sedikit tenang, dia tidak mungkin membunuh keturunan gurunya sendiri".
Ciha membuka salah satu gulungannya dan menunjukkan pada Arkadewi.
"Naraya Dwipa?" Arkadewi mengernyitkan dahinya.
"Ini adalah catatan Trah Dwipa yang ditulis tuan Wardhana setelah perang besar saat itu. Apa yang ada didalam tubuh anak itu adalah warisan trah Dwipa yang akan diturunkan keseluruh garis keturunanya. Hanya Naraya dan Sabrang yang mampu mengendalikan mahluk itu, itulah kenapa selain dua orang itu trah Dwipa selalu mati muda termasuk tuan Arya Dwipa dan Prana Dwipa yang merupakan ayah dari Arya. Hanya mereka sendiri yang mampu mengendalikan sisi gelap Dwipa".
"Jadi itu alasan Arya tak pernah diajarkan ilmu kanuragan sama sekali?".
Ciha mengangguk pelan "Tenaga dalam dan ilmu kanuragan hanya akan mempercepat sisi gelapnya bangkit". Ciha menarik nafasnya panjang sebelum melanjutkan ucapannya. "Semoga Saraswati dapat membimbing anak itu".
"Apa itu semacam kutukan?".
"Aku lebih senang menyebutnya sebagai bakat yang sangat besar. Kebangkitan mahluk terkuat masa lalu tak akan bisa dicegah dan apa yang kau sebut kutukan tadi itulah yang bisa mengehentikan kebangkitannya". Ciha menutup gulungannya dan memasukkannya kembali kedalam pakaiannya.
"Besok kita pergi ke hutan kematian untuk menemui nona Mentari. Masalah ini jauh lebih rumit dari perkiraanku".
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Bagi yang belum mengikuti buku pertama dari Trilogi Naga api berjudul Pedang Naga api mungkin akan sedikit bingung dengan jalan ceritanya. Jadi disarankan juga membaca Pedang Naga api.
Celebes adalah sebuah nama pulau di Nusantara jaman dulu yang sekarang dikenal sebagai pulau Sulawes.
Sedangkan Hibata adalah nama sebuah gunung di Sulawesi utara.
info nya bang gimana , kalau misalnya Masih dijual chat via noveltoon ya udah saya follow