Mendapat beasiswa di Universitas ternama di Ibu kota Seoul membuat gadis cantik bernama YURIE berurusan dengan 7 pria tampan, dari keluarga terpandang dan kedudukan besar di Universitas tersebut.
Sebut saja pria-pria tampan itu adalah Y7. Pria yang sudah dijodohkan oleh para orang tua mereka. Diantara mereka YUDANTA HUGO lah yang paling tampan, angkuh, sombong, cuek, serta dingin.
Tak disangka YURIE tertarik pada salah satu Y7.
"Kau tahu sedang berhadapan dengan siapa???" YUDANTA HUGO
"Maaf itu tidak penting. Awas aku sudah terlambat!" YURIE
**
•Bagaimana kisah mereka? antara YUDANTA HUGO dengan YURIE?
•Siapakah dari Y7 yang berhasil membuat YURIE tertarik? bahkan itu pandangan pertama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanzhuella annoy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 25. Makan Berdua
Di kamar mandi Yurie berdiri di depan cermin. Pikirannya kacau akibat kedatangan Yudanta dalam apartemen miliknya. Dia tak habis pikir pria yang selama ini ia hindari datang ke apartemen dan bahkan berbuat sesuka hati.
Merasa lelah ia segera melakukan ritual mandi, ingin segera beristirahat pada selanjutnya.
Hanya butuh waktu lumayan singkat ia sudahi dan mengenakan pakaian. Sesaat kemudian duduk di atas kasur.
"Semoga saja dia sudah pulang," gumam Yurie sangat berharap pria itu sudah pulang.
Dengan engan untuk bertemu hingga membuatnya memutuskan untuk rebahan sejenak. Ingin tengelam dalam tidur.
Entah kenapa mata itu tak bisa diajak kompromi, sejak tadi sangat sulit dioejam. Bayangan wajah Yudanta memenuhi isi kepalanya. Sampai-sampai ia merutuki dirinya atas pikiran kacau itu.
Merasa haus membuatnya terbangun dan terpaksa keluar kamar. Dia yakin bahwa Yudanta sudah meninggalkan apartemen.
Beda halnya di meja makan. Sampai sekarang makanan itu tak tersentuh oleh Yudanta. Entah apa yang membuatnya menunggu.
Tatapannya tak lepas dari pintu kamar, berharap penuh pintu itu segera terbuka oleh pemiliknya. Katakanlah saat ini ia seperti orang kehilangan akal. Sangat gengsi tapi berharap sesuatu yang lumrah terjadi.
KLEK
Pintu kamar terbuka
Mata Yurie membulat mendapati sosok yang tak diharapkan kehadirannya tersebut masih duduk di kursi meja makan dengan tatapan datar.
Yurie membeku tak tahu harus ngapain hingga membuat langkahnya terhenti di ambang pintu kamar. Dia tak habis pikir dengan sosok itu, ia mengira bahwa Yudanta sudah pergi meninggalkan apartemen tapi sosok itu malah masih betah berdiam diri di meja makan.
Karena kehausan membuatnya terpaksa melangkah ke dapur. Sekali lagi keterkejutan me ghampirinya, dimana makanan itu masih utuh di atas meja makan.
Raut wajah Yurie menjadi sinis karena dia berpikir bahwa Yudanta hanya ingin mengerjainya dengan suruh memasak tapi tak disentuhnya sama sekali.
Dengan perasaan jengkel ia membuka lemari es, mengeluarkan air mineral untuk menyegarkan kepalanya yang sudah mulai memanas.
"Sepertinya senior kurang kerjaan?" sindiran halus dilemparkan Yurie kepada Yudanta.
Sindiran itu tak membuat Yudanta gentar bahkan ingin menjawab. Yurie menjadi terpancing sendiri, rasa jengkel semakin membuatnya tidak tahan. Ingin sekali menarik pria itu untuk keluar dari apartemennya.
"Aku ingin istirahat, sebaiknya senior segera pergi!" Kini Yurie tidak tahan lagi dan begitu saja mengatakan hal yang sejak tadi ingin dilayangkan. Sungguh ia berharap pria itu segera pergi.
Yudanta mendongak hingga tatapan mereka bertemu. "Apakah kedatanganku begitu menganggu?" sindir Yudanta pada akhirnya berbicara juga. "Apa begini caramu memperlakukan tamu?" ia menekankan kata tamu padahal dia sendiri yang ingin bertamu tanpa diundang.
Perkataan Yudanta membuat Yurie semakin jengkel. Tentu saja ia sangat terganggu, dan satu lagi ia tak pernah mengundang sosok angkuh tersebut. Bahkan hubungan diantara mereka ada perselisihan.
"Buat apa senior memenuhi kebutuhan dapur? dan buat apa suruhku memasak tapi makanan sama sekali tak disentuh?" ucap Yurie dengan nada ketus sembari meliring makanan utuh itu di atas meja tepat di hadapannya.
"Lama-lama aku bisa setres," gerutunya yang tentunya tak dapat didengar oleh pria tersebut.
"Temani aku makan!"
Yurie tercengang mendengar kata perintah itu.
"Apa kau tidak mendengar?" ia kembali menekankan.
"Ada apa dengannya?" gumam Yurie dengan mata menyipit.
"Cepatlah aku sudah lapar," gerutunya dengan mulut mengerucut.
Entah karena bodohh atau apa Yurie menurut. Duduk di depan Yudanta dalam diam.
Yudanta mulai menikmati dalam diam. Cita rasa itu membuatnya terus dan terus. Sungguh masakan buatan Yurie sangat enak tapi sengaja tak ingin di puji.
Yurie sejak awal memperhatikan cara makan Yudanta. Ada perasaan senang ketika dengan lahapnya ia makan.
"Buka mulutmu!" Pinta Yudanta tiba-tiba hingga membuat Yurie tercengang. "Buka!" Perintahnya kembali.
"Aku tidak lapar," tolaknya.
"Buka kataku!" Yudanta tetap kekeh.
"Bisanya hanya memaksa," gerutu Yurie.
Dengan perasaaan gugup ia perlahan membuka mulutnya, menanti suapan itu datang. Satu suapan diterimanya, dengan perlahan ia mengunyah. Debat jantungnya kembali tidak normal menerima perlakuan tak terduga itu.
Mereka makan bersama dalam diam tanpa sepatah kata. Hanya ada irama kunyahan halus dari keduanya.
Rona wajah bersemu merah sangat terpancar. Bahkan Yudanta bisa saja menyadarinya jika ia sedikit teliti.
Silih berganti suapan itu. Dada Yurie bergemuruh menerima perlakuan lembut itu, perlakuan seperti sepasang kekasih kepada pasangannya. So sweet banget.
Yurie mengira adegan seperti ini hanya ada di drama-drama yang sering ia tonton. Tapi hari ini adegan itu terjadi kepada dirinya. Serasa mimpi tapi ini adalah nyata.
Yudanta menyodor air minum kepada Yurie. Dengan kikuk Yurie meraih gelas itu dan meneguknya hingga setengah gelas. Lalu kembali meletakkannya ke atas meja.
Tanpa diduga Yudanta meraih gelas tersebut dan meneguknya hingga tandas tanpa merasa jijikk sama sekali karena itu adalah bekas minuman Yurie.
Mulut Yurie menganga melihat apa yang dilakukan Yudanta. Dia benar-benar tak habis pikir dengan tamu tanpa diundang itu.
Drrtt
Ponsel di atas meja makan bergetar. Dengan tatapan datar Yudanta meraih ponsel tersebut setelah mengetahui siapa yang menghubunginya.
"Segera kunci pintu!" Kalimat singkat seperti peringatan itu. Yudanta beranjak dan berjalan menuju pintu keluar.
"Terima kasih atas semua belanjanya senior," ucap Yurie hingga langkah Yudanta terhenti sejenak. Tanpa menjawab ia segera membuka pintu apartemen dan keluar dengan berbicara dalam sambungan telepon.
Setelah menutup pintu dan menguncinya Yurie menghela nafas panjang. Lega karena pada akhirnya tamu tak diundang itu pergi meninggalkan apartemen.
"Saatnya tidur," ucap Yurie seakan merasa bebas.
...Bersambung...
mkn ya gak pernh up2 lgi