Arthur adalah seorang anak yang terlahir dengan Mana atau energi sihir yang cacat.
ia lahir di dunia sihir dimana dunia tersebut sihir sangat dibutuhkan. ia memiliki cita cita untuk menjadi Penyihir terhebat di kerajaan dan juga mencari tahu tentang ingatan-ingatan samar yang sering ia lihat dalam mimpinya.
Akankah ia mampu menjadi penyihir terhebat dan menguak semua pertanyaan mengenai ingatan tersebut?
Note:
Main character tidak dibuat langsung overpower. akan ada developement character atau pembangunan karakter agar lebih menarik oleh karena itu Alur akan berjalan sedikit lambat.
ini adalah karya pertama saya. bila ada kesalahan atau kurang seru tolong di maklumi yaa.
agar author semangat lanjutin jangan lupa like dan komen.
mohon dukungannya yaa terimakasih🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pandu Diwanata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejaran
Arthur menghentikan langkahnya.
"Damian?!" Ucapnya dalam hati. Ternyata seseorang yang baru saja berpapasan dengannya adalah Damian. Namun Damian tak melihatnya karena Arthur berjalan sambil menundukkan kepalanya.
"Damian!" Seru Arthur.
Damian yang mendengar suara itu pun dengan segera langsung menoleh.
Damian sendiri terlihat lebih tampan dari biasanya karena ia terlihat seperti benar-benar seorang Wizard.
Ia menggunakan sebuah zirah besi berwarna merah lengkap dengan jubah di belakangnya.
"Dasar!, kupikir kau akan membusuk disana" Damian mengejeknya sambil tertawa.
Keduanya pun akhirnya melakukan perbincangan pendek karena sudah lama tak bertemu.
"Bagaimana bisa kau bebas?" Tanya Damian. Ia juga penasaran bagaimana sobatnya itu bisa keluar dari permasalahan buntu tersebut.
Arthur pun menceritakan semua yang terjadi padanya hingga ia bisa keluar dari penjara tahanan dan sekarang bisa berada disini.
"Dion belum ditemukan?" Damian sedikit memasang wajah khawatir.
"Iya hingga saat ini ia berstatus buronan" Ucap Arthur yang wajahnya mendadak menjadi serius.
"Kupikir kau harus tetap berhati-hati. Apalagi dengan pemikirannya yang pendek itu Ia pasti berpikir bahwa ia sudah melakukan ini terlalu jauh dan akan melanjutkan ambisinya untuk menghabisimu"
"Iya kau benar Damian, cepat atau lambat dia pasti akan datang kembali mencariku. Ngomong-ngomong bagaimana kabar Elina dan Jordi"
"Saat ini mereka telah masuk ke dalam pasukan sihir dan pasti sibuk melakukan tugasnya masing-masing"
"Elina masuk ke dalam pasukan apa?" Tanya Arthur penasaran.
"Dia berhasil masuk ke dalam pasukan elit ibukota"
"A-apa?p-pasukan elit? Di Roma?" ia langsung terperangah mendengar perkataan temannya barusan.
"Ya dia memang anak yang sangat berbakat" Damian memuji kehebatan Elina yang dapat magang ke dalam pasukan elit di Ibukota.
"Bagaimana dengan Jordi? Apakah ia berhasil ?" Tanya Arthur.
"Ya dia juga berhasil masuk ke dalam pasukan sihir di kota ini"
"Wah hebat sekali dia" Arthur sedikit memalingkan wajahnya dari Damian. Ia merasa bangga sekaligus sedih melihat dirinya yang hingga kini belum masuk ke dalam pasukan sihir.
"Sepertinya aku punya saran untukmu" Ucap Damian.
"Saran apa itu?"
"Daripada membuang waktumu disini lebih baik kau pergi ke pasukan sihir Kuda perak. Karena Kapten Lazarus adalah seorang yang perfeksionis. Oleh karena itu kau tidak bisa untuk berada disini"
"Iya kau benar, sebaiknya aku segera pergi dari sini" Ucap Arthur.
Mendengar perkataan dari temannya itu memang sedikit menyakitkan baginya. Tapi itulah Damian. Sejak dulu memang ia seperti itu. Dia adalah seorang yang sangat jujur dan objektif ketika berbicara sehingga tak akan ragu menyebutkan kekurangan orang lain jika orang tersebut meminta pendapatnya.
"Berhati-hatilah, aku harap kita dapat bertemu kembali" Ucap Damian.
"Iya, sampai jumpa!" Arthur pergi meninggalkan markas Naga merah.
Jarak puluhan kilometer telah ia tempuh namun tak menghasilkan apapun.
Meskipun begitu Arthur masih memiliki sedikit harapan ketika melihat daftar list tim sihir yang harus ia kunjungi.
"Masih ada 2 lagi ditambah satu rekomendasi dari Damian" Ucapnya sambil melihat selembar kertas yang ia pegang.
Arthur pun segera pergi mengunjungi markas tempat sihir yang selanjutnya.
.
.
.
.
Sementara itu di luar tembok kota Verona terdapat seorang pria bertubuh besar yang terus berlari dengan penuh ketakutan. Tubuhnya penuh dibasahi oleh keringat.
Pria itu terus berlari ke tengah hutan untuk menjauhi kota. Pria itu tak lain adalah buronan yang selama ini menjadi perbincangan warga di seluruh penjuru kota Verona. Karena baru kali ini ada kasus seorang siswa sekolah sihir yang membunuh seorang Wizard.
Pria itu adalah Dion Fagioli putra dari mantan kapten padukan sihir gagak hitam Dimitri Fagioli.
Tak lama kemudian akhirnya Dion dapat keluar dari hutan itu dan menemukan sebuah jalan sepetak di antara hutan itu.
"Tidak bisa, aku tak boleh berhenti, aku tak ingin dipenjara" Ucap Dion dalam hati. Ia terus memaksa kakinya untuk terus berlari mengikuti jalan sepetak itu.
Namun apa daya. Ia belum makan maupun minum apapun sejak kemarin bahkan selama ini ia hanya mengonsumsi buah yang ada di hutan.
Oleh karena itu tubuhnya pun tak memiliki cukup energi untuk dipaksa berlari.
Akhirnya ia tersungkur ke tanah.
Ada satu hal yang Damian lupa. Selama ini ia masih belum bisa tertangkap karena melarikan diri melalui hutan.
Hutan adalah hal yang paling Wizard tak sukai karena akan sering bertemu dengan Beast. Oleh karena itu mereka hanya mencari melalui jalur jalur yang telah dibuat.
"Itu dia!!! Ayo cepat tangkat anak itu" Seorang pria menggunakan zirah besi berteriak ke arah Dion.
Dion pun tersentak kaget mendengarnya. Dan menoleh kebelakang.
Terlihat ada belasan Wizard yang sedang mengejarnya. Ada yang naik kuda, berlari maupun menggunakan sapu sihir. Mereka adalah Wizard dari berbagai pasukan sihir.
"Tidak, tidak, tidak, aku tidak mau dipenjara" Dion kembali berusaha berlari meskipun ia sudah tak punya tenaga lagi.
Ia merasakan seluruh tubuhnya menjadi panas. Sepertinya itu adalah reaksi dari tubuhnya yang terlalu dipaksakan.
Tiba-tiba satu busur panah yang dialiri dengan Mana melesat dengan begitu cepat dan menancap tepat di belakang betis milik Dion.
Ia pun kembali terjatuh dan berteriak kesakitan.
Melihat para Wizard yang mendekat membuat air matanya mengalir begitu deras. Baru kali ini ia merasa ketakutan yang teramat sangat.
"Ayah, ibu, aku mohon…. Tolong selamatkan aku" Ucap Dion. Ia bertiarap di atas tanah sambil menangis.
Ia terus menangis hingga lupa dengan para Wizard itu.
Setelah beberapa lama ia baru menyadarinya.
"A-ada apa ini? Kemana perginya mereka?" Dion merasa ganjil karena para Wizard itu tak kunjung juga menghampirinya. Padahal ia sudah tak bisa bergerak lagi. Apakah ini hanya mimpi menurutnya.
Karena merasa penasaran, ia pun kembali menoleh kembali ke belakang.
Betapa terkejutnya ia saat mendapati pemandangan yang begitu mengerikan.
Para Wizard itu telah terbelah menjadi beberapa bagian. Tubuh mereka terpencar di sepanjang jalan sepetak itu. Darah mengalir kemana-mana hingga membuat warna jalan itu pun ikut berubah menjadi berwarna merah.
"A-ada apa ini? A-apa yang terjadi pada mereka? Apakah mereka diserang oleh seekor beast?" Ucapnya dalam hati sambil merasakan kengerian atas pemandangan yang ia lihat.
Karena tak kuat untuk terus melihat pemandangan itu, ia pun menoleh ke depan. Dan masih dalam posisi tiarap.
Namun ada hal aneh kembali yang ia dapati.
Ada sepasang kaki di hadapannya. Itu berarti ada yang sedang berdiri di depannya. Bulu kuduknya mulai berdiri dan seluruh tubuhnya gemetar sangat kuat saat ia melihat ke atas untuk memastikan apa yang ada di depannya.
Ternyata objek di depannya itu adalah seseorang yang menggunakan jubah putih dan topi caping. Namun bukan itu yang membuat Dion gemetar dengan sangat luar biasa.
Tetapi anting rumbai berwarna merah di kedua telinga orang itu lah yang membuatnya sangat ketakutan.
Orang itu diam tak bergeming sedikitpun.
Tak lama orang itu mengangkat sedikit topi capingnya sehingga terlihatlah sebagian wajah orang itu.
Dia adalah seorang pria dewasa dengan rambut hitam yang pendek. Wajahnya pun ditutupi oleh kain berwarna putih juga. Namun ada yang sedikit aneh dari penampilannya.
Matanya memiliki retina yang sangat kecil. Sehingga sekilas terlihat seperti seluruh matanya berwarna putih.
Dion yang melihatnya hanya bisa diam kaku. Ia tak bisa menggerakkan seluruh badannya. Bahkan ketakutannya itu membuat lidahnya juga ikut kaku sehingga tak dapat berbicara.
"Nak, seperti kamu berada di jalan yang tersesat" Ucap pria itu sambil tersenyum sangat lebar. Saking lebar senyumannya itu sehingga terlihat sangat menakutkan.
.
.
.
.
.
Bersambung
Jangan lupa likenyaaa
finally
semangat terus thor 💪
semangat terus Thor 💪
thank's. up nya cerita ini makin menarik
👍👍👍👍👍
tunggu kelanjutan kisah ini .......!!!
buat author semangat terus 💪
maaf. ya Thor. 🙏🙏🙏 komentar aku julid ....
semangat Thor 💪
Arthur adalah seorang dewa kematian karena itu aku mengingatkan pada author tentang kekuatan Arthur.
seorang dewa kematian haruslah kuat dan tak tertandingi kekuatannya tapi disini kekuatan Arthur masih lemah .
next Arthur harus kuat
jangan bikin pembaca jadi malas baca alias bosan karna MC nya lemah.
apa lagi MC disini adalah dewa kematian yaitu dewa yg paling ditakutkan bahkan oleh para dewa .
oke Thor semangat terus ya...💪😘😘💖💖👍👍