Di usia 35 tahun, Ghufran Arfathan sukses besar memimpin GA Corp. Baginya, wanita hanyalah pengganggu kesuksesan, membuatnya tak peduli dicap "bujang lapuk". Ia percaya harta bisa membeli segalanya, termasuk wanita.
Namun, keyakinan itu runtuh saat ia mengunjungi sebuah desa dan terpikat oleh Zhawa Khalisha (22 tahun). Berbeda dari wanita kota, Zhawa tampil bersahaja dengan gamis longgar dan hijab. Terpesona, Ghufran mencoba menaklukkan hati Zhawa menggunakan kekayaannya lewat berbagai hadiah fantastis.
Sayangnya, Zhawa menolak mentah-mentah karena ia telah memiliki tunangan. Penolakan itu menjadi tamparan keras bagi ego sang miliarder. Ghufran kini sadar, berlimpahnya harta di rekening bank ternyata tidak berdaya di hadapan kesetiaan seorang gadis desa. Perjuangan konyol sang CEO lapuk demi mengejar cinta pertamanya pun dimulai!
Yuk ikuti kisahnya si 'Bujang lapuk' dan jangan lupa berikan dukungannya untuk Author Ramanda ya, terimakasih 🙏🏻.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TITIK TERENDAH
Badai yang menerpa kehidupan Ghufran seolah enggan beranjak, justru kian hari kian mengamuk hebat. Roda bisnis GA Corp yang biasanya berputar gagah di puncak kejayaan, kini merosot tajam ke jurang kehancuran. Ghufran telah memeras seluruh sisa tenaga dan pikirannya, mengunci diri di dalam ruang kerja selama berhari-hari demi membalikkan keadaan. Namun, semakin keras ia mencoba, hasil yang didapat justru semakin memburuk. Kegagalan demi kegagalan proyek besar terus menghantam perusahaannya bertubi-tubi.
Kondisi tersebut diperparah oleh pola hidup Ghufran yang sudah melampaui batas kewajaran manusia. Ia nyaris tidak pernah menyentuh makanan, dan waktu tidurnya terpangkas habis digantikan oleh bergelas-gelas kopi hitam pekat. Tubuhnya yang dahulu tegap kini mulai menyusut, menyisakan raut lelah yang teramat sangat.
Siang itu, Doni melangkah masuk ke dalam ruangan CEO dengan tangan gemetar, membawa laporan keuangan kuartal terbaru. "P-Pak Ghufran... ini laporan dari divisi keuangan. Karena kegagalan tiga tender beruntun kemarin, perusahaan kita secara resmi dinyatakan mengalami kerugian hingga mencapai angka triliunan rupiah."
Ghufran yang sedang berdiri menatap jendela besar langsung membeku. Lembaran kertas yang disodorkan Doni perlahan bergoyang di tangannya. Tiba-tiba, pandangan mata Ghufran mengabur, kepalanya berputar hebat, dan dadanya terasa begitu sesak laksana dihantam godam besar. Tanpa sempat mengeluarkan sepatah kata pun, tubuh tegap itu tumbang, ambruk tak sadarkan diri ke atas lantai marmer.
"Pak Ghufran! Pak Bos! Tolong!" teriak Doni panik luar biasa. Dengan tangan gemetar, ia langsung merogoh ponselnya untuk memanggil ambulans, lalu segera menghubungi dua orang yang menurutnya harus tahu, Zhawa dan Rian.
Sirene ambulans memecah keheningan koridor rumah sakit Citra Hospital. Tubuh lemah Ghufran dengan cepat dilarikan ke dalam ruang IGD. Di depan pintu bercat putih itu, Doni tampak mondar-mandir dengan wajah pucat pasi dan keringat dingin yang membanjiri pelipisnya.
Tak berselang lama, derap langkah kaki yang tergesa-gesa terdengar menggema. Rian dan Zhawa tiba secara bersamaan dengan gurat kepanikan yang teramat jelas di wajah mereka.
"Don! Bagaimana keadaan Ghufran, Don?!" tanya Rian setengah berteriak, langsung mencengkeram bahu Doni begitu sampai. Di sampingnya, Zhawa hanya bisa menggigit bibir bawahnya, menahan air mata yang sudah menggenang di pelupis.
"Saya belum tahu, Pak Rian. Dokter masih melakukan pemeriksaan darurat di dalam," jawab Doni dengan suara yang bergetar.
Keheningan yang mencekam kembali menyelimuti mereka bertiga, sampai akhirnya pintu IGD terbuka. Seorang dokter paruh baya melangkah keluar dengan wajah yang sarat akan keprihatinan. Rian langsung menghambur maju, memotong langkah sang dokter. "Dokter, bagaimana sahabat saya, Dok? Dia tidak apa-apa, kan?"
Dokter tersebut menghela napas panjang, menatap Rian dan Zhawa bergantian. "Kondisi fisik Tuan Ghufran sangat lemah. Tubuhnya sudah berada di ambang batas kemampuan, karena beliau sama sekali tidak ada asupan nutrisi yang masuk dan kurangnya istirahat yang sangat ekstrem dalam jangka waktu lama. Ditambah lagi dengan tekanan stres yang terlalu berat, saat ini pasien mengalami koma."
Koma.
Satu kata itu laksana petir di siang bolong yang menyambar dada Rian dan Zhawa. Tangis Zhawa seketika pecah, tubuhnya melemas hingga ia harus berpegangan pada kursi koridor agar tidak terjatuh. Sementara Rian terpaku di tempatnya berdiri, matanya membelalak tak percaya.
"Koma, Dok? Tidak mungkin... Ghufran itu orangnya kuat, dia hampir tidak pernah sakit," lirih Rian dengan suara yang tercekat di tenggorokan. Hatinya mendadak didera rasa bersalah yang teramat sangat, hingga dadanya terasa terhimpit sesak.
Setelah dokter pamit untuk memindahkan Ghufran ke ruang ICU, Rian melangkah masuk terlebih dahulu ke dalam ruangan dengan langkah gontai. Ia menatap sosok sahabat karibnya yang kini terbaring tak berdaya di atas ranjang rumah sakit, dikelilingi oleh berbagai alat medis dan selang infus. Wajah Ghufran terlihat sangat kurus, dengan lingkar hitam yang mencekung dalam di sekitar kedua matanya.
Rian perlahan berlutut di samping ranjang, menggenggam tangan Ghufran yang terasa dingin. Air mata pria itu akhirnya luruh tanpa bisa dibendung lagi. "Fran... maafkan aku, Fran. Hampura pisan... Semuanya berawal dari kebohonganku yang mengkhianati kepercayaanmu. Aku tidak menyangka kalau niatku yang sok tahu ini justru menghancurkanmu sampai ke titik serendah ini."
Rian mengusap air matanya dengan kasar, lalu berdiri tegak dengan tatapan mata yang mendadak berubah menjadi sangat tajam dan dingin. Rasa bersalahnya kini bertransformasi menjadi sebuah tekad yang membara. Sebagai sahabat yang memegang tanggung jawab atas kekacauan ini, ia tidak akan tinggal diam.
Rian membalikkan badannya, menatap Doni yang berdiri di dekat pintu. "Doni, serahkan semua dokumen dan berkas proyek yang sedang dikerjakan oleh Ghufran kepada saya sekarang juga."
"Maksud Pak Rian?" tanya Doni bingung.
"Perusahaan Ghufran merosot terlalu jauh dan tidak masuk akal hanya dalam waktu singkat. Aku yakin, ada pengkhianat di dalam GA Corp yang sengaja bermain dan memanfaatkan situasi saat Ghufran sedang lemah seperti ini," tegas Rian dengan nada suara yang penuh dengan ancaman. Ia lalu menoleh ke arah Zhawa yang masih setia menangis di ambang pintu. "Zhawa, tolong jagalah Ghufran di sini baik-baik. Biarkan aku dan Doni yang mengurus bajingan-bajingan di kantor yang sudah berani mengusik ketenangan sahabatku. Aku berjanji akan memperbaiki segalanya."
Setelah Zhawa mengangguk pelan, Rian langsung melangkah lebar keluar dari ruangan bersama Doni, bersiap untuk menghancurkan siapa pun yang mencoba meruntuhkan takhta sahabatnya.
Kini, di dalam ruang ICU yang sunyi, hanya menyisakan suara ritmis dari alat pendeteksi detak jantung yang menggema pelan. Zhawa melangkah mendekati ranjang, menatap wajah suaminya yang masih memejamkan mata dengan sangat rapat.
Zhawa duduk di kursi samping tempat tidur, lalu perlahan meraih tangan kanan Ghufran yang tertancap jarum infus. Ia menggenggam jemari suaminya itu dengan sangat erat, lalu menempelkannya ke pipinya sendiri yang sudah basah oleh air mata.
"Kang Ghufran... maafkan Zhawa," bisik Zhawa dengan suara yang terputus-putus akibat isak tangis. "Semua kekacauan dan penderitaan Akang ini berawal dari kekerasan hati Zhawa. Zhawa salah karena sudah egois, memaksa pernikahan ini terjadi hanya karena ingin membalas budi atas kebaikan Akang kepada keluarga Zhawa."
Zhawa menatap lekat wajah pucat Ghufran, meratapi setiap kalimat kejam yang sempat dilontarkan suaminya di kantor kemarin. Sekarang ia mengerti, ucapan kejam itu adalah bentuk pertahanan diri dari seorang pria tulus yang hatinya telah terluka sangat dalam karena merasa dimanfaatkan.
"Zhawa berjanji, Kang... kalau Akang bangun nanti, Zhawa tidak akan pernah mengungkit masalah utang budi itu lagi," tutur Zhawa dengan ketulusan yang membuncah dari lubuk hatinya. "Zhawa akan memperbaiki semuanya dari awal. Zhawa akan belajar untuk mencintai Akang dengan tulus sebagai seorang suami, bukan sebagai seorang penolong. Jadi, Zhawa mohon... Akang harus kuat dan harus bangun, ya?"
Penyesalan dan harapan kini melebur menjadi satu di dalam ruang rawat yang dingin itu. Di tengah badai kebohongan yang telah merubuhkan pertahanan sang CEO gila kerja, kini hanya tersisa seutas ketulusan dari seorang istri yang berjanji akan menanti suaminya membuka mata, demi memulai kembali kisah mereka yang sesungguhnya.
terimakasih