NovelToon NovelToon
Penyesalan Berdarah Sang Mantan Suami

Penyesalan Berdarah Sang Mantan Suami

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami
Popularitas:21.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira ohyver

​"Setelah lima tahun menjadi pelayan tak bergaji bagi suami dan keluarga mertuanya, Rania pergi membawa luka dan kembali sebagai badai yang akan menghancurkan kerajaan mereka."

Selamat membaca...jangan lupa dukung authir yaa...terimakasih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Berita Kehancuran di Layar Kaca

Krieeet...

​Rendra Wijaya mendorong pintu tripleks kontrakan petaknya dengan sisa-sisa tenaga yang hampir habis. Sendi-sendi di seluruh tubuhnya terasa benar-benar mau lepas setelah seharian penuh ia menjadi kuli panggul semen di sebuah proyek ruko. Bahunya lecet, memar kemerahan, dan kaos oblong tipisnya basah kuyup oleh keringat yang bercampur dengan debu bangunan yang pekat. Di tangan kanannya yang dekil, Rendra menenteng seplastik kecil berisi obat darah tinggi generik milik ibunya dan dua bungkus mi instan untuk makan malam mereka.

​"Bu... Rendra pulang. Ini Rendra sudah belikan obat Ibu," ucap Rendra sembari melangkah masuk ke dalam ruangan yang hanya berukuran tiga kali empat meter itu.

​Namun, tidak ada sahutan.

​Suasana di dalam kontrakan terasa benar-benar sunyi dan dingin. Rendra mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan yang sempit. Kasur lantai tipis tempat ibunya biasa berbaring tampak kosong, seprainya pun masih rapi. Pakaian bekas yang tadi pagi dilipat Ibu Ratna juga masih berada di posisinya, tidak bergeser sedikit pun.

​Kening Rendra berkerut, rasa cemas mendadak menyergap dadanya. "Bu? Ibu di mana?" panggil Rendra lagi, kali ini suaranya mulai naik satu oktav. Ia memeriksa kamar mandi sempit di sudut ruangan, tapi hasilnya nihil. Ibu Ratna tidak ada di sana.

​Perasaan Rendra mulai tidak enak. Jantungnya berdegup dengan ritme yang semakin cepat dan tidak beraturan. Setahu dia, sejak kondisi mentalnya terguncang akibat penangkapan Tyas sebulan lalu, Ibu Ratna tidak pernah mau keluar rumah sendirian. Wanita tua itu selalu ketakutan jika bertemu dengan orang asing atau tetangga sekitar yang tahu tentang borok masa lalu keluarga mereka.

​Rendra meletakkan bungkusan mi instan dan obat di atas lantai semen, bergegas keluar kembali ke gang sempit. Langkah kakinya terasa sangat berat saat menghampiri Bu Ati, pemilik warung kelontong madura yang posisinya tepat berada di depan gang kontrakan petaknya.

​"Permisi, Bu Ati... Maaf mengganggu," tanya Rendra dengan sopan sembari menyeka keringat di pelipisnya. "Apakah Bu Ati melihat ibu saya keluar sore tadi? Saya baru pulang kerja dan kontrakan kosong."

​Bu Ati yang sedang merapikan dagangannya menoleh. Begitu melihat wajah Rendra, ekspresi wajah wanita paruh baya itu mendadak berubah menjadi sangat aneh—perpaduan antara rasa sinis, kasihan, dan juga cemoohan.

​"Lho, Mas Rendra belum tahu?" tanya Bu Ati dengan nada suara yang sengaja ditinggikan. "Itu... ibu sampeyan sejak pagi-pagi sekali sudah pergi naik angkot katanya mau cari keadilan. Tapi sekarang... aduh, mending Mas Rendra lihat sendiri saja deh di televisi. Kebetulan saya lagi nyalain berita infotainment di dalam warung."

​Mendengar kata "televisi" dan "berita", seluruh bulu kuduk Rendra seketika meremang. Rasa pening yang luar biasa mendadak menyerang kepalanya hingga pandangannya sempat mengabur. Dengan tubuh yang gemetar hebat, ia melangkah masuk ke dalam warung kecil milik Bu Ati, menatap lurus ke arah sebuah televisi tabung berukuran empat belas inci yang bertengger di atas rak kayu.

​Di atas layar kaca yang agak bersemut itu, tampak tayangan berita utama hari ini yang bener-bener membuat dunia Rendra runtuh seketika.

​Seorang presenter wanita dengan suara yang lantang sedang membacakan narasi berita:

"...Seorang wanita lansia berinisial R, siang tadi diamankan oleh pihak Kepolisian Polres Jakarta Selatan setelah nekat melakukan aksi unjuk rasa palsu dan provokasi di depan gedung Arania International. Wanita tersebut diduga kuat merupakan ibu kandung dari tersangka kasus penggelapan dana abadi yayasan kanker anak, Tyas Wijaya. Pihak kepolisian menyatakan bahwa aksi tersebut murni merupakan tindakan pencemaran nama baik dan upaya memutarbalikkan fakta..."

​Kamera televisi kemudian berganti menampilkan rekaman video amatir saat kejadian di depan gerbang kantor Rania siang tadi.

​Rendra membelalakkan matanya sempurna, napasnya tercekat di tenggorokan hingga ulu hatinya terasa sangat sesak. Di dalam layar kaca itu, ia melihat ibunya sendiri—Ibu Ratna—sedang menangis meraung-raung di atas aspal sembari memegang papan kardus yang menyudutkan nama Rania. Dan yang paling menghancurkan jiwa Rendra adalah adegan berikutnya, saat dua petugas polwan dengan sangat tegas mencengkeram lengan ibunya, lalu memaksa kedua tangan tua itu ke belakang untuk dipasangkan borgol besi yang dingin.

​Klik!

​Wajah Ibu Ratna yang pucat pasi, ketakutan, sekaligus menanggung malu yang luar biasa terpampang nyata di televisi saat diseret masuk ke dalam mobil tahanan polisi di tengah sorakan makian dan hujatan dari ratusan warga serta wartawan yang menonton di tempat kejadian.

​"B-Bu... Ibu..." gumam Rendra dengan suara parau yang hampir tidak terdengar. Air matanya seketika menetes, mengalir deras melewati pipinya yang kotor oleh debu semen. Tubuhnya lemas, hingga ia terpaksa berpegangan pada tiang kayu warung agar tidak jatuh tersungkur di atas lantai.

​"Aduh, Mas Rendra... ibumu itu nekat banget ya," celetuk Bu Ati dari balik meja etalase, memanaskan suasana tanpa secuil pun belas kasihan. "Sudah tahu adiknya salah karena makan uang anak yatim penderita kanker, kok ibunya malah mau memfitnah mantan istrimu yang sudah sukses itu? Sekarang malah kena batunya sendiri 'kan? Ditangkap polisi, masuk tv seluruh Indonesia, ditonton jutaan orang. Kasihan ya, padahal sudah tua tapi harus ngerasain dinginnya sel penjara..."

​Setiap kata yang keluar dari mulut Bu Ati terasa seperti sembilu yang benar-benar mencabik-cabik harga diri dan batin Rendra hingga hancur lebur tanpa sisa. Rasa malu, keputusasaan, dan penyesalan yang sangat berdarah-darah kembali menggasak dadanya dengan kekuatan penuh.

​Rendra membalikkan tubuhnya, berlari pincang kembali menuju kontrakan petaknya seperti orang kesetanan. Ia menutup pintu tripleks rapat-rapat, menjatuhkan dirinya di atas lantai semen yang dingin di samping bungkusan mi instan dan obat ibunya. Ia memeluk kedua lututnya sendiri, menangis meraung-raung dalam kesunyian malam yang mencekik batinnya.

"Ya Tuhan... Kenapa jadi seperti ini?! Kenapa keluargaku hancur hingga tidak bersisa?!" ratap Rendra dalam hati dengan penyesalan yang bener-bener membakar jiwanya.

​Pikiran Rendra kembali ditarik paksa pada bayang-bayang masa lalu. Dulu, saat ibunya dan Tyas bersikap sangat angkuh, mereka sering kali mengancam akan memenjarakan Rania atas tuduhan-tuduhan palsu hanya karena Rania menuntut hak nafkah anaknya. Dulu, ibunya selalu merasa paling berkuasa di dalam rumah, memperlakukan Rania seperti sampah yang tidak berharga. Dan sekarang, dalam waktu satu bulan, dua orang wanita yang paling ia sayangi dan ia bela mati-matian di masa lalu, kini sama-sama membusuk di balik jeruji besi dengan status sebagai sampah masyarakat yang paling dibenci se-Indonesia.

​Sementara dirinya? Rania sengaja membiarkannya hidup bebas di luar sini... bebas untuk menjadi kuli serabutan yang kelaparan, bebas untuk tidak punya uang, dan bebas untuk merasakan siksaan batin menyaksikan satu per satu anggota keluarganya dikuliti dan dihancurkan oleh hukum karma.

​Rendra menatap obat darah tinggi milik ibunya yang tergeletak di lantai. Obat itu kini tidak ada gunanya lagi. Pemiliknya sekarang sedang mendekam di dalam sel tahanan yang dingin, mungkin sedang menangis ketakutan di sudut ruangan yang pengap bersama para pelaku kriminal lainnya.

​"Nia... Maafkan Mas, Nia... Tolong hentikan semua ini... Mas mohon..." Rendra bersujud di atas lantai semen, memukul-mukul kepalanya sendiri ke dinding tripleks hingga dahinya memar.

​Namun di tengah deru suara kereta api yang melintas memecah keheningan malam di luar sana, Rendra tahu betul bahwa tangisannya tidak akan pernah didengar oleh siapa pun. Panggung hukuman mati bagi mental keluarganya yang dirancang oleh Rania benar-benar berjalan dengan sangat sempurna, dan malam ini, Rendra hanya bisa meringkuk sendirian di dalam kegelapan, meratapi nasib hidupnya yang sudah tamat dan tidak akan pernah bisa diperbaiki lagi.

1
Himna Mohamad
kereeeen 👍👍👍👍👍
Himna Mohamad
👍👍👍👍👍
Anonim
Yah begitu..... BUAT MEREKA MENDERITA
aku
kan bener lagi kata tetanggaku, tidak ada yg lebih mengerikan selain tidak ada uang adalah wanita yg bls dendam krn skt hati 😌😌
aku
lagian lu udh dikasih kesempatan bukannya lnjut hdp lbh baik malah cari mati. hedehh gk pinter 😁
Dwi Setyaningrum
wah wah penyesalannya hanya Krn terpuruk wkt itu setelah ekonominya mulai membaik berbuat ulah lagi..hadehhh..
Dwi Setyaningrum: minta dirujak thor..🤭😂
total 2 replies
𝐀⃝🥀Yαͫηᷰυͫαᷰя⒋ⷨ͢⚤ •§͜¢•🦢🍒
tanpa rania kamu bukan apa" rendra🤭
𝐀⃝🥀Yαͫηᷰυͫαᷰя⒋ⷨ͢⚤ •§͜¢•🦢🍒
ternyata gisela itu anak buah perusahaan lain
𝐀⃝🥀Yαͫηᷰυͫαᷰя⒋ⷨ͢⚤ •§͜¢•🦢🍒
iya tinggalin aja wes Rendra
𝐀⃝🥀Yαͫηᷰυͫαᷰя⒋ⷨ͢⚤ •§͜¢•🦢🍒
suami jahat Rendra
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
hukuman rania belum sbrpa ini
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
korupsi demi apa ini baskoro
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
wah nyonya datang
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
tiket exclusive😄😄😄😄
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
ini sih cari mati dia🤣🤣🤣
pst dapat cap pelakor😄🤭
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
badainya terlalu dasyat
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
seorang ibu bisa ngomong kasar begini
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
kena jebakan balik kah
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
menghamliri kalian past
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
enam bulan ga bisa bikin kamu tobat tyas
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!