NovelToon NovelToon
PUTRI MAFIA YANG TAK TERSENTUH.

PUTRI MAFIA YANG TAK TERSENTUH.

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Mafia / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Thahara Maulina

Liora William Anderlecht, putri dari keluarga konglomerat terbesar di Italia, tumbuh dalam luka akibat pengkhianatan ibunya sendiri.
Sejak kecil, ia dipaksa menjadi kuat melindungi tiga adik laki-lakinya dan menggantikan peran seorang ibu yang telah pergi.

Dingin. Tegas. Tak tersentuh.
23 tahun berlalu, setelah kematian sang ayah, Liora mengambil alih kekuasaan keluarga. Namun dunia yang ia hadapi bukan hanya tentang bisnis…

Melainkan juga bayang-bayang masa lalu.

Karena ayahnya… adalah mantan ketua mafia.

Kini, Liora bersumpah akan melindungi keluarganya dengan segala cara.
Dan siapa pun yang berani menyentuh mereka…

Akan merasakan balas dendamnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thahara Maulina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17. Hati Yang Terbelah.

“Liora… ada apa denganmu? Mengapa wajahmu terlihat begitu bahagia hari ini?” tanya John dengan suara pelan, seolah ragu akan jawabannya sendiri.

Liora menatapnya dalam diam, sorot matanya lembut namun tegas.

Setelah beberapa detik, ia berkata dengan senyum kecil yang tampak menenangkan.

“Aku dan Javi akan segera menikah, John.”

Senyumnya tidak terlalu lebar, tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa keputusan itu telah bulat di dalam pikirannya.

“Beberapa waktu lalu,” lanjutnya perlahan, “keluarga sahabat Ayah datang untuk menjodohkan kami. Ini juga bagian dari upaya untuk mempererat hubungan keluarga. Semacam tradisi lama yang Ayah ingin kami jaga.”

John membeku sejenak.

Wajahnya tetap tersenyum kecil, tetapi matanya… menyimpan luka yang dalam, lebih dalam daripada yang bisa ia sembunyikan.

Dadanya terasa berat seolah ada sesuatu yang menekan dari dalam.

Hatinya seperti diremas.

Namun ia tetap berdiri tegak, berusaha terlihat baik-baik saja.

“John… kamu tidak senang mendengar kabar ini?” Liora bertanya lagi, kini dengan raut khawatir.

John menggeleng perlahan.

“Aku bahagia untukmu, Liora. Kamu pantas mendapatkan kebahagiaan… dan cinta yang baru.”

Tapi suaranya bergetar, terdengar dipaksakan, seolah kata-kata itu menyakitinya sendiri.

Liora menatapnya lebih lama, membaca sesuatu yang John coba sembunyikan.

Setelah hening beberapa saat, ia berbicara lagi lebih pelan dari sebelumnya.

“John… boleh aku bertanya sesuatu?”

John mengalihkan pandangan ke arahnya.

“Apa… kamu juga menyukaiku?”

Pertanyaan itu membuat John sontak memalingkan wajah, seakan tak sanggup menatap mata Liora.

Namun Liora tidak membiarkannya kabur.

Dengan lembut, ia meraih dagu John dan mengangkatnya, memaksa lelaki itu menatap matanya.

Begitu ia melihat mata John yang sudah dipenuhi air, Liora terkejut.

Ada kesedihan yang begitu dalam disana kesedihan yang sudah lama dipendam.

“John… jawab aku,” ucap Liora hampir berbisik. “Apakah kamu mencintaiku?”

John memejamkan mata sejenak, seolah mengumpulkan keberanian yang selama ini tidak pernah ia miliki.

Lalu ia menggenggam tangan Liora yang masih menyentuh pipinya.

“Aku mencintaimu, Liora Wiliam Anderlecht.”

Dalam sekejap, ia menarik Liora ke dalam pelukannya, memeluknya seolah takut ia akan hilang kalau dilepas.

“Aku sudah mencintaimu sejak lama….”

Suaranya bergetar, sarat dengan perasaan yang tertahan selama bertahun-tahun.

“Kita tumbuh bersama… sejak kecil kita selalu bermain bersama. Bukan hanya aku, tapi juga Javi.”

John menarik napas panjang, suaranya semakin lirih.

“Aku hanya anak yang diangkat keluargamu untuk menjadi asistenmu… tapi hatiku… hatiku tidak pernah bisa menganggapmu hanya sebagai majikan.”

Air mata jatuh tanpa bisa ia tahan.

“Rasanya berat sekali… melihatmu bersama Javi.”

“Dia sahabat kita. Tapi dia pergi ke Amerika begitu lama… sementara aku selalu ada di sampingmu.”

“Aku tidak tahu bagaimana harus melepaskanmu begitu saja, Liora… karena aku takut kehilanganmu.”

Liora terdiam, tubuhnya kaku.

Ia tidak pernah menyangka bahwa John yang selalu terlihat tegar dan tenang menyimpan perasaan sedalam ini.

“Maafkan aku… Liora,” bisiknya penuh penyesalan. “Aku tidak seharusnya membiarkan perasaan ini tumbuh.”

Di Luar Ruangan

Tanpa mereka ketahui, seseorang telah tiba.

Javi berdiri tepat di depan pintu.

Ia hendak masuk… namun langkahnya berhenti saat melihat John memeluk Liora.

Ia terdiam lama.

Matanya tidak menunjukkan kemarahan—hanya keheningan yang sulit ditebak.

Perlahan ia menghela napas dan memutuskan untuk mundur.

“Aku tidak boleh mengganggu mereka…” gumamnya.

Namun ketika ia berbalik, ia hampir bertabrakan dengan seseorang.

Heron Wiliam Anderlecht.

“Javi?” tanya Heron, terkejut.

“Om…” Javi menunduk sedikit. “Maaf.”

Heron menatapnya penuh tanya. “Ada apa?”

Mereka berjalan ke ruang lain, dan Heron langsung to the point.

“Javi… apakah kamu tahu bahwa John menyukai Liora?”

Javi mengangguk tanpa ragu.

“Saya sudah tahu sejak lama, Om.”

Heron memperhatikan wajahnya dengan serius.

“Lalu… kenapa kamu menerima perjodohan ini?”

Javi terdiam beberapa detik sebelum menjawab.

“Karena aku tahu… John lebih mencintai Liora daripada aku.”

“Aku pergi ke Amerika, Om. Bertahun-tahun.”

“Dan selama itu, John selalu ada di sisi Liora.”

Ia tersenyum kecil meski perih terlihat dari sorot matanya.

“Aku bisa melihatnya dari cara John menatapnya. Dari cara dia memeluk Liora tadi.”

“Aku tidak ingin memaksa cinta yang sebenarnya bukan untukku.”

Heron menatapnya lama, terharu sekaligus kagum.

“Kalau begitu… bagaimana jika Liora memilihmu?”

Javi menjawab mantap.

“Aku akan menikahinya.”

“Tapi jika dia memilih John… aku akan merelakannya.”

“Karena aku ingin tetap menjadi sahabat mereka, bukan batu yang menghalangi.”

Heron menghela napas, kemudian mengangguk.

“Baik, Javi. Om akan bicara dengan Liora nanti.”

Kembali ke Ruangan Liora

John masih memeluk Liora.

Setelah semua emosi yang ia keluarkan, tubuhnya akhirnya menyerah pada kelelahan.

Tanpa sadar, ia tertidur di pelukan Liora.

Liora tersenyum kecil sambil membelai rambutnya.

“Dasar anak kecil…” bisiknya hangat.

Beberapa menit kemudian, John terbangun dengan wajah panik.

“Liora… maaf, aku sampai tertidur…”

Wajahnya langsung memerah karena malu.

Liora justru tertawa kecil.

“Tidak apa-apa, John. Kamu terlihat sangat lelah.”

John menarik napas panjang sebelum berbicara kembali.

“Liora… menikahlah dengan Javi.”

“Aku akan bahagia jika kamu bahagia.”

Liora terdiam, hatinya terasa kacau.

“John…”

Namun sebelum ia sempat mengatakan apa pun pintu terbuka.

Dan Javi masuk.

“Tidak.”

Suara Javi tegas namun tenang.

Keduanya menoleh.

“Liora tidak perlu menikah denganku,” ucapnya.

“Ia harus memilihmu.”

Liora membelalakkan mata.

“Javi… apa maksudmu?”

Javi tersenyum lembut.

“Aku bisa melihatnya, Liora.”

“John mencintaimu lebih dalam daripada aku.”

“Ayahmu… bahkan sudah tahu hal ini sejak lama.”

Ia mendekat satu langkah.

“Percayalah pada hatimu.”

“John adalah orang yang ditakdirkan untukmu.”

Tubuh Liora bergetar.

Suaranya hampir patah.

“Aku… aku tidak tahu… Aku mencintai kalian berdua…”

Javi tersenyum pahit—tersenyum sambil melepaskan.

“Aku akan pergi malam ini ke Amerika. Ada meeting bisnis.”

“Tapi satu hal yang tidak akan berubah… aku tetap sahabat kalian.”

Ia menatap John.

“John… jagalah Liora.”

John mengangguk tegas.

“Aku akan menjaga permata kita ini.”

Javi tersenyum kecil sebelum pergi.

Di Kediaman Bram Alexander

“Pa… Ma… ini Javi,” ucapnya ketika memasuki ruang keluarga.

Saat orang tuanya memandangnya, Javi menunduk dalam-dalam.

“Aku ingin membatalkan pernikahan.”

Bram terkejut. “Kenapa, Nak?”

Javi kemudian menceritakan semuanya tentang perasaan John, tentang hati Liora yang goyah, tentang keputusannya untuk tidak memaksakan apa pun.

Saat ia selesai, ruangan itu senyap.

Namun akhirnya kedua orang tuanya tersenyum lembut.

“Jika itu keputusanmu,” ujar mereka, “kami mendukungmu. Kami percaya kamu akan menemukan kebahagiaanmu sendiri.”

Javi mengangguk, tersenyum tipis.

“Makasih, Pa… Ma.”

Malam itu…

Satu hati memilih melepaskan.

Satu hati terluka namun tetap bertahan.

Dan satu hati hati Liora mulai bertanya…

Siapa sebenarnya yang ditakdirkan untuknya?

1
Meri Nofrita
segampang itu memaafkan wanita yg sudah menyakitinya walau bergelar seorang ibu...
Thahara Maulina: karena anaknya kesabaran dan sifat pemaaf nya lebih besar Dari pada sang ibu kak.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!