NovelToon NovelToon
The Predator’S Possession

The Predator’S Possession

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mafia / CEO
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Callalily

Benedict Franklin, pemilik Equinox Ventures dan pemimpin organisasi Veto, adalah pria yang hanya percaya pada angka dan kekuasaan. Baginya, emosi adalah kelemahan, dan tatapan matanya mampu meruntuhkan siapapun dalam hitungan detik. Namun, hidupnya yang penuh kendali berubah saat ia bertemu dengan Zara Clarance Harrison. Bagi Zara, hidupnya sudah cukup indah hanya dengan aroma tepung dan manisnya gula di toko kue kecil miliknya. Namun, dunianya yang tenang, hancur dalam semalam ketika ayahnya, David Harrison, menggunakan dirinya sebagai jaminan hutang kepada Benedict Franklin

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Callalily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 24

Sisa hari itu berjalan dengan sangat lambat bagi Zara. Sepanjang siang hingga toko tutup, Zara menenggelamkan dirinya pada kesibukan. Ia menguleni adonan, menakar bahan-bahan, dan melayani pelanggan yang datang. Setiap kepulan asap hangat dari oven mengikis sedikit demi sedikit rasa pening ke kepalanya, walau potongan ingatan tentang malam tadi tetap saja mengganggu di sela-sela kegiatannya.

Matahari akhirnya tenggelam, digantikan oleh malam yang dingin. Setelah memastikan seluruh toko sudah bersih, Zara kembali ke mansion dengan tubuh lelah namun pikiran yang jauh lebih tenang.

Tepat saat Zara melangkah masuk ke koridor utama mansion, pintu depan terbuka. Zara seketika membeku di tempat.

Benedict melangkah masuk. Wajah pria itu terlihat lelah, namun matanya tetap setajam biasanya. Pria itu langsung menghentikan langkahnya begitu menyadari keberadaan Zara. Keheningan mendadak menyelimuti ruangan itu. Zara meremas jemarinya yang mendadak dingin.

“Kau… kau baru pulang?” tanyanya, mengutuk dirinya sendiri karena suaranya sedikit bergetar.

Benedict tidak langsung menjawab. Ia menyerahkan jasnya kepada penjaga yang berjaga di dekat pintu, lalu berjalan pelan mendekati Zara. Langkah sepatunya yang berketuk diatas lantai terdengar seperti hitungan mundur bagi Zara. Pria itu berhenti tepat dua langkah di depan Zara.

“Bagaimana kepalamu?” tanya Benedict, suaranya datar.

“Sudah jauh lebih baik. Sup buatan Anna tadi pagi sangat membantu” jawab Zara.

Zara berdehem kecil. “Uhm, Tuan….. soal semalam…. Anna bilang kau yang membawaku ke kamar.”

Sebela alis Benedict terangkat. “Kau tidak ingat?”

“Aku…. hanya ingat sampai aku meminum wine milikmu,” jawab Zara jujur, wajahnya mulai terasa panas karena malu. “Aku benar-benar minta maaf jika aku…. melakukan atau mengatakan sesuatu yang tidak sopan padamu. Aku tidak terbiasa minum alkohol.”

“Kau memang mengatakan banyak hal, Zara” ucap Benedict, sengaja menggantung kalimatnya untuk menyiksa rasa ingin tahu gadis di hadapannya.

“Apa…. apa yang kukatakan?”

Benedict tidak menjawab. Ia justru menegakkan kembali tubuhnya, lalu melangkah melewati Zara begitu saja menuju arah tangga. Namun, setelah berjalan beberapa langkah, pria itu menghentikan langkahnya tanpa berbalik.

“Saranku, jangan pernah menyentuh alkohol lagi jika kau sedang bersamaku,” ucap Benedict rendah, suaranya menggema di koridor yang sepi.

“Kemarin malam mungkin kau aman, tapi aku tidak bisa menjamin malam-malam berikutnya.”

Setelah mengatakan itu, benedict kembali melangkah menaiki tangga. Zara menghembuskan napas panjang, ada rasa lega karena nyawanya selamat, namun rasa penasaran yang masih mengganjal di dadanya justru membuat Zara tidak bisa tidur nyenyak.

Maka, pagi-pagi sekali, saat fajar bahkan belum sepenuhnya menyingsing di langit, Zara sudah terbangun. Ia telah membersihkan diri dan mengenakan pakaian rapi. Setelah mengumpulkan seluruh keberaniannya, Zara melangkah menuju kamar utama tempat Benedict berada.

Zara berdiri di depan pintu, jantungnya berdegup kencang. Ia menarik napas dalam, lalu mengetuk pintu beberapa kali. Keheningan sempat merayap selama beberapa detik, sebelum pintu itu mendadak terbuka dari dalam.

Benedict berdiri diambang pintu. Pria itu tampaknya baru saja selesai mandi, rambutnya masih sedikit basah dan ia hanya mengenakan kaus hitam serta celana panjang. Matanya menyipit, menatap heran sekaligus terkejut mendapati Zara sudah berdiri di depan kamarnya sepagi ini.

“Kau? apa yang kau lakukan di depan kamarku sepagi ini?” tanya Benedict dengab suara beratnya. “Kau mengigau?”

Zara menelan ludah, mencoba menstabilkan suaranya. “Aku tidak mengigau, Tuan. Aku sadar sepenuhnya.”

“Lalu?” Benedict bersandar pada bingkai pintu, melipat tangan di depan dada.

“Aku…. aku ingin mengajakmu ibadah pagi bersamaku.”

Benedict menatap Zara dengan tatapan yang sulit diartikan. Sebuah tawa pendek lolos dari bibirnya.

“Ibadah pagi? kau mengajak orang sepertiku untuk beribadah? kau pasti bercanda.”

“Aku tidak bercanda,” sahut Zara. “Aku tahu kau lelah. Aku tahu kepalamu penuh dan harimu selalu berat. Kupikir saat dunia terasa terlalu bising dan memberatkan, hal yang pertama harus kita lakukan di pagi hari adalah berserah diri. Mencari ketenangan sebelum menghadapi hari.”

“Lagi dan lagi kau bertingkah seolah tahu tentang diriku,” desis Bendict rendah. “Tanganku sudah terlalu kotor. Tempatku bukan disana.”

“Justru karena duniamu terlalu keras, kau butuh tempat untuk bersandar, Tuan” balas Zara, suaranya melembut. “Kau tidak perlu menjadi orang suci untuk berdoa. Aku hanya….. aku hanya ingin menemanimu memulai pagi ini. Agar kau tidak perlu membawa semua beban itu sendirian lagi.”

Benedict terpaku. Ia menatap Zara dalam diam selama beberapa menit yang terasa begitu panjang. Selama sembilan tahun terakhir, tidak ada seorang pun yang pernah peduli pada ketenangan jiwanya, apalagi mengajaknya kembali bertemu Tuhan.

Benedict mengembuskan napas berat. “Beri waktu lima menit.”

Zara menyunggingkan senyum yang sangat tulus di ambang pintu. Pagi itu, Zara meyakini bahwa Benedict tidak seburuk apa yang ia pikirkan.

Lima menit berlalu. Pintu kamar kembali terbuka. Benedict melangkah keluar, pria itu kini sudah mengenakan pakaian rapi.

“Dimana?” tanya Benedict singkat.

“Kita pergi ke gereja, Tuan. Di dekat toko rotiku, ada katedral kecil yang selalu mengadakan misa pagi. Suasananya sangat tenang di jam sekarang.”

Benedict mengangguk samar, mengambil lucu mobilnya sendiri tanpa memanggil sopir, lalu memberi isyarat agar Zara mengikutinya.

Sesampainya di katedral kecil bernuansa gotik kuno itu, suasana memang sangat sunyi. Belum ada jemaat lain yang datang. Zara melangkah masuk lebih dulu, lalu mengambil tempat di salah satu bangku kayu panjang bagian tengah. Benedict mengikuti langkahnya, ia duduk di sebelah Zara, menyilangkan tangan di dada sambil menatap altar di depan mereka dengan tatapan datar.

“Kau tidak ingin menyalakan lilin atau berdoa?” tanya Zara pelan, takut suaranya menggema di dalam kapel.

“Jika aku mulai berdoa, kurasa langit-langit tempat ini akan runtuh seketika.”

Zara tidak membalas ucapan Benedict. Ia justru mengikis jarak diantara mereka.

“Baiklah, jika kau belum siap mengucapkan apa pun…. biar aku yang berdoa. Kau hanya perlu duduk disini, mendengarkannya, dan menenangkan kepalamu.”

Zara kemudian memejamkan matanya, menautkan jemarinya di depan dada, dan mulai merapalkan doa paginya dengan khusyuk. Suaranya yang lembut saat berbisik di tengah keheningan kapel entah bagaimana memberikan efek yang luar biasa pada kepala Benedict.

Benedict tidak memejamkan mata. Ia justru menatap sajak Zara yang diterpa cahaya lilin altar. Setelah sekian lama, ia merasa pundaknya sedikit lebih ringan hanya dengan mendengarkan gadis disampingnya berbisik memohon perlindungan dan kedamaian untuk hari mereka.

Begitu Zara selesai dan membuka matanya, ia memutar tubuhnya perlahan untuk menghadap Benedict.

“Bagaiman perasaanmu?” tanya Zara. “Lebih baik?”

“Aneh,” jawab benedict. “Sudah terlalu lama sejak terlahir kali aku merasakan ketenangan yang….. seperti ini.”

1
rurry Irianty
novel dark romance favorit kuuu
Bude Yanti
aku suka lajut kan
Nanda
novel ini bagus, cocok dibaca sama orang yang suka genre dark romance
Nanda
KAK SEMANGAT UP NYAAA
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!