NovelToon NovelToon
Melintasi Waktu Untuk Membalaskan Dendam

Melintasi Waktu Untuk Membalaskan Dendam

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Sistem / Transmigrasi
Popularitas:114.6k
Nilai: 5
Nama Author: Delia Ata

Pamela Anderson, ketua Mafia yang di hianati oleh adik tiri dan suaminyanya, ia dibunuh dengan keji bersama anak yang dikandungnya.

Tapi anehnya, setelah jasadnya dimakamkan, ia hidup kembali dalam tubuh seorang gadis gemuk bernasib malang.

Gadis itu seperti dirinya, dihianati saudara tiri dan tunangannya. Gadis itu tewas tenggalm disungai, sebab tunangannya lebih memilih menyelamatkan selingkuhannya.

"Beristirahatlah dalam damai Song Aran, aku akan membuat mereka menyesal karena sudah membautmu menderita."

Janji Pamela Anderson setelah ia mendapatkan harta karun berupa liontin giok yang didalamnya terdapat ruang dimensi.

Cerita ini cuma karangan fiksi semata. Lokasinya bukan negara tertentu, cuma khayalan penggabungan saja.

Jika ada yang kurang pas, harap dimaklumi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Delia Ata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24

Xiao Jian mengambil tangga, meletakkannya di pintu masuk ruang bawah tanah. Pria itu meminta sang istri untuk menaikinya lebih dulu.

"Apa kau tidak ingin tahu berapa banyak perak yang suamimu ini miliki..?"

Song Aran menggeleng "Aku bertanya bagaimana bisa kau memiliki banyak uang karena aku takut kau mendapatkannya dengan cara yang salah. Lagi pula kalau kau tidak ingin memberi tahu, untuk apa aku bertanya..?"

Xiao Jian mengambil beberapa barang sebelum meninggalkan ruang bawah tanah, dan menutup pintu seperti semula.

"Apa kau marah makanya tidak mau tahu berapa banyak uangku..? "

"Tidak, untuk apa marah..? akan lebih mudah jika kau yang menyimpannya, agar ketika mau membeli biji-bijian tidak perlu repot memintanya padaku."

Wajah Xiao Jian mendadak suram kecewa, dan itu tertangkap oleh indera pengelihatan Song Aran.

"Em, tapi aku juga penasaran, seberapa kaya suamiku ini..? apa banyak sekali perakmu..?" Song Aran merengkuh mesra lengan kokoh sang suami.

Senyum cerah langsung terbit dibibir Xiao Jian “ada sisa sekitar tiga tael dari berburu serta tanaman herbal, tapi ginsengnya berkualitas bagus, jadi terjual dua puluh tahil.”

Xiao Jian menjabarkan semua pengeluarannya dalam beberpa hari ini. Dimulai dari uang seserahan, membeli jepit rambut, palawija dan obat-obatan. Tak luput dijabarkan.

“Aku masih punya lima tahil tiga ratus lima koin.” pungkas Xiao Jian.

Song Aran merasa sangat terharu sebab sang suami mau mejelaskan segamblang itu soal hartanya. Meski memang mereka suami istri, tapi tidak semua pasangan akan mau sejujur itu. Terlebih soal uang dan harta.

Contohnya saja Mateo.

Keduanya mengobrol sembari memasak. Walau dapur setengah runtuh, tapi masih bisa digunakan.

Xiao Jian bertugas sebagai kepala koki, sedangkan Song Aran asistennya.

Mereka memasak menu mie putih polos, dengan kaldu dari daging babi rebus, rebung kering, dan jamur. Aromanya saja sudah cukup membuat air liur menetes.

"Cobalah masakanku," kata Xiao Jian, meletakkan semangkuk mie dihadapan Song Aran, lalu menambahkan beberapa potong daging.

Melihat mie yang berkilauan dengan irisan daging yang besar, selera makan Song Aran naik drastis.

"Enak, segar sekali..!" puji terkesima Aran, setelah menelan dua suapan mie.

"Apa itu cukup..? kalau tidak, aku akan memberimu lagi."

Xiao Jian sangat bahagia melihat sang istri makan dengan lahap hasil kreasinya.

"Nafsu makanku tidak besar, ini sudah sangat cukup."

Melihat Xiao Jian belum menyentuh sumpitnya, Aran pun menurunkan titah "Kau juga harus makan."

Xiao Jian mulai makan juga. Gerakannya cepat tapi tetap anggun dan rapi.

Usai makan, mereka membersihkan semua perkakas, mengembalikan ketempat semula sebelum menuju kota.

Saat mereka sampai dijalan utama, sudah ada gerobak keledai yang menanti.

"Kakak Jian, aku sudah menunggumu cukup lama." ucap pemuda kusir.

"Salam kakak ipar..!" si pemuda menyapa Xiao Aran ramah.

"Namanya Lin Yei, dia saudaraku." Xiao Jian memberi tahu, sebelum membantu Aran naik ke gerobak keledai itu.

"Kalian berdua memiliki hubungan yang sangat baik." Song Aran melirik Lin Yei.

Lin Yei adalah saudara kandung Xiao Jian, tiga saudara lainnya di rumah cuma kerabat sedarah.

"Ya, kami memang sangat dekat. Aku berhutang budi pada Kakak Jian, berkatnya aku tidak perlu lagi berkeliaran tanpa tujuan." balas Lin Yei.

Setelah Song Aran duduk, Xiao Jian menepuk bahu Lin Yei "sudah cukup bicaranya, cepat jalan..!"

"Siap..!" balas Lin Yei penuh semangat.

Gerobak melaju stabil, setelah Lin Yei mencambuk pelan bokong keledai.

Gerobak itu tidak terlalu besar, membuat Xiao Jian dan Song Aran yang duduk berhadapan bisa saling memandang.

"Sejak kapan kau memesan gerobak ini..? Lin Yei juga sepertinya bukan dari desa kita..?"

"Ya, dia dari desa sebelah. Orang tua Lin Yei meninggal dunia sejak dia masih bayi. Meski pun paman-pamanku mengatakan jika mereka mau membesarkan Lin Yei, tapi dia selalu diperlakukan tidak adil."

Xiao Jian menghela nafas sejuta nelangsa.

"Lin Yei yang paling banyak bekerja, tapi diberi makan paling sedikit. Ketika dia berusia empat belas tahun, pamanku mengusirnya. Pertama kali kami bertemu, Lin Yei berusia dua belas tahun tapi tubuhnya seperti anak dibawah sepuluh tahun. Aku mentraktirnya burung pegar panggang, dari sana awal kedekatan kami."

"Gerobak keledai ini awalnya aku berikan padanya, tapi Lin Yei menolak. Akhirnya kami putuskan untuk membagi hasil dari jasa sewanya."

"Jadi kau juga punya keledai..? apa masih ada lagi yang tidak kuketahui..?" tanya Aran tersenyum ranum.

"Tidak ada, cuma itu yang kumiliki. Tapi aku punya beberapa teman di kabupaten yang menjalankan bisnis jasa pengawalan. Nanti akan kukenalkan padamu," jawab Xiao Jian jujur.

"Kakak ipar, Kakak Jian sangat menyukaimu. Aku pernah melihatnya diam-diam bersembunyi hanya untuk melihatmu dari kejauhan." Lin Yei buka suara.

"Sekarang dia menceritakan semua rahasianya padamu. Bahkan keluarganya saja tidak tahu tentang keledai ini."

"Diam, jangan bicara omong kosong." pekik gugup Xiao Jian, dengan wajah memerah sampai ketelinga.

Song Aran tercenung. Matanya berkilau cerah, seolah semua bintang dilangit berpindah kesana.

"Benarkah..? kapan itu..?"

"Kakak ipar---

"Diam, fokus saja mengendalikan keledainya." potong gugup Xiao Jian.

"Ah, rupanya aku sudah terlalu banyak bicara. Hal semacam ini seharusnya diceritakan sendiri oleh Kakak Jian kepada kakak ipar."

“Ran'er, nanti aku ceritakan. Kalau sekarang tidak bisa, nanti bocah ini akan mulai mengoceh omong kosong lagi.” Xiao Jian menggaruk kepalanya malu.

“Baik, aku akan menunggu sampai kau menceritakannya. Ngomong-ngomong, kau mengajakku kekota mau membeli apa..?"

“Nanti kau akan tahu.” ucap Xiao Jian penuh teka-teki.

Laju gerobak keledai lebih cepat dari pada pedati sapi. Hal itu membuat mereka segera tiba di pintu masuk kota.

Setelah Xiao Jian membantu Song Aran turun dari gerobak, dia memberi Lin Yei satu tael perak.

"Pergi ke toko biji-bijian, beli seperti yang kukatakan sebelumnya. Kita akan bertemu di sini dalam satu jam.”

“Baik..!" balas Lin Yei patuh.

Melihat Xiao Jian menghabiskan satu tahil perak lagi, Song Aran tak kuasa berkata "Jika kekeringan itu benar-benar terjadi, bukankah seharusnya kita menyiapkan lebih banyak obat dan senjata untuk bekal diperjalanan saat mengungsi.? apa sisa perakmu masih cukup untuk membelinya..?"

"Kau tenang saja, masih banyak waktu. Aku bisa beburu dan mencari herbal untuk ditukar dengan uang." balas Xiao Jian lembut.

Song Aran mengangguk "jangan terlalu lelah, kita baru saja menikah. Aku tidak mau menjadi janda diusia muda."

Xiao Jian terkekeh "aku akan hidup seribu tahun lagi untuk selalu menemanimu."

"Ah, ternyata manisnya madu tidak bisa mengalahkan manisnya bibir suamiku." balas Song Aran bersama mimik wajah yang dibuat menggemaskan.

Xiao Jian tergelak.

Song Aran melihat sekitar, dimana ia dibawa oleh sang suami ke Rumah Gadai Qinghe.

Dahi Aran sontak saja mengkeret kasar.

Untuk apa dirinya dibawa kesana..?

1
Fauziah Daud
lanjuttt
Sribundanya Gifran
lanjut
chataleya
wah jangan2 anak tuan besar tuh
Memyr 67
𝖽𝖾𝗁. 𝗐𝖺𝗇𝗀 𝗁𝗎𝖺. 𝗌𝖾𝗄𝖺𝗅𝗂 𝗅𝖺𝗀𝗂, 𝖺𝖽𝖺 𝗍𝗒𝗉𝗈 𝗇𝖺𝗆𝖺 𝗍𝗈𝗄𝗈𝗁𝗇𝗒𝖺, 𝖺𝗄𝗎 𝖻𝖺𝖻𝖺𝗒
Memyr 67
𝗅𝖺? 𝖺𝖽𝖺 𝗅𝖺𝗀𝗂 𝗇𝖺𝗆𝖺 𝖺𝗇𝖾𝗁
Memyr 67
𝗍𝖺𝗆𝖻𝖺𝗁 𝖻𝖺𝗇𝗒𝖺𝗄 𝗍𝗈𝗄𝗈𝗁 𝗍𝗈𝗄𝗈𝗁 𝗇𝗀𝗀𝖺𝗄 𝗃𝖾𝗅𝖺𝗌. 𝗄𝖺𝗅𝖺𝗎 𝖾𝗉𝗂𝗌𝗈𝖽𝖾 𝖾𝗉𝗂𝗌𝗈𝖽𝖾 𝖻𝖾𝗋𝗂𝗄𝗎𝗍𝗇𝗒𝖺 𝗆𝖺𝗌𝗂𝗁 𝗄𝖾𝗅𝗎𝖺𝗋 𝗇𝖺𝗆𝖺 𝗇𝖺𝗆𝖺 𝗍𝗈𝗄𝗈𝗁 𝖺𝗇𝖾𝗁 𝖻𝗂𝗇 𝖺𝗃𝖺𝗂𝖻, 𝖺𝗄𝗎 𝖻𝖺𝖻𝖺𝗒
Memyr 67
𝗅𝖺? 𝗂𝗍𝗎 𝗂𝗌𝗍𝗋𝗂 𝗃𝖾𝗅𝗆𝖺𝖺𝗇 𝗂𝖻𝗅𝗂𝗌 𝗒𝗀 𝗌𝖾𝗅𝖺𝗅𝗎 𝖽𝗂𝖻𝖾𝗅𝖺 𝗑𝗂𝖺𝗈 𝗁𝖾𝗇𝗀. 𝖽𝖺𝗌𝖺𝗋 𝗌𝗎𝖺𝗆𝗂 𝗀𝗈𝖻𝗅𝗈𝗀
Memyr 67
𝗂𝗌𝗍𝗋𝗂 𝖻𝖾𝗋𝗆𝗎𝗅𝗎𝗍 𝗍𝖺𝗃𝖺𝗆, 𝗌𝗈𝗆𝖻𝗈𝗇𝗀 𝗉𝖾𝗅𝗂𝗍, 𝖽𝗂𝖻𝖾𝗅𝖺 𝗍𝖾𝗋𝗎𝗌 𝗌𝖺𝗆𝖺 𝗑𝗂𝖺𝗈 𝗁𝖾𝗇𝗀. 𝖺𝗉𝖺 𝗌𝗂𝗁 𝗒𝗀 𝖽𝗂𝗅𝗂𝗁𝖺𝗍 𝗑𝗂𝖺𝗈 𝗁𝖾𝗇𝗀 𝖽𝖺𝗋𝗂 𝗂𝖻𝗅𝗂𝗌 𝖻𝖾𝗍𝗂𝗇𝖺 𝗌𝖾𝗉𝖾𝗋𝗍𝗂 𝗂𝗌𝗍𝗋𝗂𝗇𝗒𝖺?
Memyr 67
𝗃𝖺𝖽𝗂 𝗄𝗈𝖼𝖺𝗄 𝗀𝗂𝗇𝗂 𝖼𝖾𝗋𝗂𝗍𝖺𝗇𝗒𝖺
Andira Rahmawati
thorr knp blm up...dr kemarin kutunggu2 ..
Memyr 67
𝗒𝖺𝖺𝗁, 𝗆𝖾𝗇𝖺𝗇𝗍𝗎 𝗄𝖾𝗅𝗎𝖺𝗋𝗀𝖺 𝗑𝗂𝖺𝗈 𝗆𝖺𝗌𝗎𝗄 𝗅𝗂𝗇𝗀𝗄𝖺𝗋𝖺𝗇 𝗇𝖾𝗋𝖺𝗄𝖺, 𝗆𝖾𝗇𝗂𝗄𝖺𝗁𝗂 𝗉𝗎𝗍𝗋𝖺 𝗉𝗎𝗍𝗋𝖺 𝖽𝖺𝗋𝗂 𝗐𝖺𝗇𝗀 𝗅𝗂𝗇 𝗒𝗀 𝗍𝖺𝗆𝖺𝗄 𝗌𝖾𝗋𝖺𝗄𝖺𝗁 𝖽𝖺𝗇 𝗌𝗎𝗉𝖾𝗋 𝗉𝖾𝗅𝗂𝗍
Memyr 67
𝗁𝖺𝖽𝗈𝗈𝗁. 𝗄𝖾𝗅𝗎𝖺𝗋𝗀𝖺 𝗑𝗂𝖺𝗈 𝗂𝗇𝗂, 𝗉𝗎𝗇𝗒𝖺 𝗄𝖾𝗉𝖺𝗅𝖺 𝗄𝖾𝗅𝗎𝖺𝗋𝗀𝖺 𝗌𝖾𝖻𝗈𝖽𝗈𝗁 𝗑𝗂𝖺𝗈 𝗁𝖾𝗇𝗀
Memyr 67
𝖺𝗉𝖾𝗌 𝖻𝖾𝗇𝖾𝗋 𝗌𝗈𝗇𝗀 𝖽𝖺𝗎𝗁𝗈𝗇𝗀. 𝗆𝖾𝗇𝗂𝗄𝖺𝗁𝗂 𝗐𝖺𝗇𝗂𝗍𝖺 𝗒𝗀 𝗁𝖺𝗇𝗒𝖺 𝗂𝗇𝗀𝗂𝗇 𝗌𝖾𝗆𝗎𝖺 𝗁𝖺𝗋𝗍𝖺 𝗌𝗈𝗇𝗀 𝖽𝖺𝗎𝗁𝗈𝗇𝗀 𝖻𝗎𝖺𝗍 𝖺𝗇𝖺𝗄 𝖺𝗇𝖺𝗄 𝗄𝖺𝗇𝖽𝗎𝗇𝗀𝗇𝗒𝖺 𝖽𝖺𝗇 𝗍𝗂𝖽𝖺𝗄 𝗆𝖾𝗇𝗒𝗂𝗌𝖺𝗄𝖺𝗇 𝗌𝖾𝖽𝗂𝗄𝗂𝗍𝗉𝗎𝗇 𝖻𝗎𝖺𝗍 𝖺𝗇𝖺𝗄 𝖺𝗇𝖺𝗄 𝗄𝖺𝗇𝖽𝗎𝗇𝗀 𝗌𝗈𝗇𝗀 𝖽𝖺𝗎𝗁𝗈𝗇𝗀.
Memyr 67
𝗌𝗂𝖺𝗉𝖺 𝗇𝗂? 𝖽𝖺𝖽𝖺𝗄 𝖽𝖺𝖽𝖺𝗄 𝖺𝖽𝖺 𝗊𝗂𝗇𝗀 𝗌𝗁𝖺𝗇?
Memyr 67
𝗆𝖾𝗆𝖺𝗇𝗀 𝗌𝗎𝖽𝖺𝗁 𝗉𝖾𝗋𝗇𝖺𝗁 𝗄𝖾 𝗀𝗎𝖺 𝗁𝗂𝗋𝖺 𝗒𝖺? 𝗅𝗂𝖺𝗍 𝗌𝗍𝖺𝗅𝖺𝗄𝗍𝗂𝗍 𝗒𝗀 𝗍𝖺𝗃𝖺𝗆?
Memyr 67
𝖺𝗒𝖺𝗁 𝗑𝗂𝖺𝗈 𝗃𝗂𝖺𝗇 𝗇𝗀𝖺𝗉𝖺𝗂𝗇 𝖺𝗃𝖺? 𝖺𝗇𝖺𝗄𝗇𝗒𝖺 𝗒𝗀 𝗆𝖾𝗇𝗀𝗁𝖺𝗌𝗂𝗅𝗄𝖺𝗇 𝗎𝖺𝗇𝗀 𝖽𝖾𝗇𝗀𝖺𝗇 𝗆𝖾𝗇𝗃𝗎𝖺𝗅 𝗁𝖾𝗐𝖺𝗇 𝖻𝗎𝗋𝗎𝖺𝗇, 𝗍𝖺𝗉𝗂 𝖺𝗇𝖺𝗄𝗇𝗒𝖺, 𝗑𝗂𝖺𝗈 𝗃𝗂𝖺𝗇, 𝗒𝗀 𝗉𝖺𝗅𝗂𝗇𝗀 𝗆𝗂𝗌𝗄𝗂𝗇? 𝗍𝗎 𝗎𝖺𝗇𝗀 𝖻𝖺𝗇𝗒𝖺𝗄 𝖽𝖺𝗋𝗂 𝗆𝖾𝗇𝗃𝗎𝖺𝗅 𝗁𝖾𝗐𝖺𝗇 𝗄𝖾 𝗆𝖺𝗇𝖺? 𝖻𝖾𝗀𝗈 𝗇𝗂 𝖺𝗒𝖺𝗁𝗇𝗒𝖺.
ᵉᶠ ↷✦; 𝓔 𝓵 𝓵 𝓮 ❞
dari awal praduga itu ternyata benar, kalo Xiao Jian bukan anak kandung mereka
miss blue 💙💙💙
curga lian keturunan pedagang chen. 🤔🤔🤔
chataleya
Wang Lian ini ternyata lebih buruk daripada tuan crab
Sribundanya Gifran
lanjut thor💪💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!