NovelToon NovelToon
Pergi Sakit Bertahan Sulit

Pergi Sakit Bertahan Sulit

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu / Dunia Masa Depan
Popularitas:242
Nilai: 5
Nama Author: Anisa Rahayu

Cinta adalah anugerah... tapi bagaimana jika cinta harus kamu berikan pada orang lain?

Aletta syavira levania dan Dilan Wijaya Kusuma saling mencintai sejak SMA – cinta yang tumbuh perlahan seperti bunga di musim hujan. Namun ketika sahabatnya Tamara Amelia Siregar mengaku jatuh cinta pada Dilan untuk pertama kalinya, Aletta membuat keputusan berat, melepaskan orang yang dicintainya demi menyenangkan sahabatnya.

"Dia butuh kesempatan, aku mohon Dilan, aku jaminan kamu akan lebih bahagia sama dia." Ucapnya dengan nada yang memelas sampai Dilan pun tak tega untuk menolaknya

Untuk memenuhi janjinya, Aletta mencari cinta baru melalui media sosial dan bertemu Jonathan Adista sanjaya. Sementara itu, Dilan dengan berat hati menjalin hubungan dengan Tamara. Di depan orang lain, semuanya terlihat sempurna – dua pasangan yang harmonis dan bahagia. Namun di balik senyum dan candaan, setiap tatapan Aletta dan Dilan menyimpan rasa rindu yang tak bisa disembunyikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Segera setelah Silvia menelepon dan menceritakan penemuan ruangan rahasia yang tersembunyi di balik tembok itu, Bapak Kosan langsung bergegas datang ke lokasi dengan wajah yang tampak sangat cemas dan serius.

Beliau bahkan tidak menunggu lama, seolah-olah sudah menduga hal ini akan terjadi suatu hari nanti.

Sesampainya di sana, Bapak Kosan langsung diantar oleh Silvia dan teman-temannya menuju ruangan di mana pintu semu itu berada.

Baru saja Widi hendak mengulurkan tangannya untuk mendorong dan membuka kembali pintu ruangan kosong itu, Bapak Kosan dengan sigap dan suara yang keras menahannya.

"JANGAN DIBUKA!!" seru Bapak Kosan dengan nada tegas dan keras yang membuat semua orang di sana terkejut dan terdiam seketika.

Tangan Widi yang hampir menyentuh daun pintu itu langsung ditarik kembali dengan cepat, wajahnya pucat mendengar bentakan Bapak Kosan.

"Maaf, Pak... Kami cuma mau menunjukkan di mana letaknya," kata Silvia dengan suara lirih dan menunduk takut.

Bapak Kosan menghela napas panjang, lalu wajahnya melunak sedikit namun masih terlihat sangat serius. Dia menatap mereka satu per satu dengan pandangan yang dalam.

"Anak-anak... Dengarkan Bapak baik-baik. Tolong jangan pernah, jangan sekali-kali membuka pintu ruangan ini lagi, apalagi sampai masuk ke dalamnya. Bapak melarang kalian keras-keras untuk itu. Ruangan ini bukan tempat yang baik, dan isinya juga bukan hal yang baik. Selama pintu ini tertutup rapat dan tidak diganggu, maka semuanya akan aman. Tapi kalau dibuka dan diganggu, hal-hal buruk dan menakutkan pasti akan terjadi terus-menerus," jelas Bapak Kosan dengan nada berat dan penuh peringatan.

"Baik, Pak... Kami mengerti dan menuruti perintah Bapak. Kami nggak akan membukanya lagi," jawab Aletta mewakili teman-temannya, hati-hati dan penasaran namun juga takut.

"Bagus kalau begitu. Karena masalah ini sudah cukup parah dan ruangan ini sudah terbuka lagi, Bapak tidak akan membiarkannya begitu saja. Bapak sudah menelepon Pak Ustadz yang kemarin datang, beliau sedang dalam perjalanan ke sini lagi. Kali ini kita akan menyelesaikan masalahnya sampai tuntas, supaya tidak ada gangguan lagi selamanya," kata Bapak Kosan dengan tegas.

Tak lama kemudian, Pak Ustadz yang bijaksana dan berwibawa itu pun datang kembali ke kosan. Wajahnya tenang namun tajam, seolah ia sudah bisa merasakan suasana dan energi yang ada di rumah itu.

Beliau langsung masuk dan berdiri di depan pintu ruangan yang tertutup rapat itu, menatapnya lekat-lekat seolah bisa melihat apa yang ada di baliknya.

Pak Ustadz berdiri tegak di tengah ruangan, menatap ketujuh gadis itu satu per satu dengan pandangan yang menembus ke dalam hati. Suasana menjadi sangat hening dan menegangkan, tidak ada seorang pun yang berani bersuara atau menatap mata Ustadz.

Lalu, Pak Ustadz membuka suara dengan nada bicara yang rendah namun jelas dan berwibawa.

"Anak-anakku... Sebelum kita membersihkan dan menutup kembali ruangan ini dengan benar, Bapak Ustadz ingin bertanya kepada kalian semua. Dengarkan baik-baik dan jawablah dengan jujur, karena kejujuran adalah kunci untuk menyelesaikan masalah ini dan mengembalikan kedamaian. Apakah di antara kalian ada yang pernah masuk ke dalam ruangan ini, bahkan saat pintunya masih tertutup dan tidak diketahui orang lain? Atau yang lebih penting lagi... Apakah ada di antara kalian yang pernah membawa teman laki-laki masuk ke rumah ini secara diam-diam, melanggar aturan, dan bahkan menyembunyikannya di dalam rumah ini tanpa sepengetahuan yang lain atau pemilik rumah?" tanya Pak Ustadz dengan tegas.

Mendengar pertanyaan itu, jantung mereka semua seakan berhenti berdetak. Wajah mereka saling berpandangan bingung dan kaget. Tidak ada satu pun yang berani mengaku atau menjawab. Hening terasa makin menyesakkan dada.

Namun, perlahan terdengar suara isak tangis yang tertahan dari arah belakang. Semua mata tertuju ke sana, dan ternyata itu adalah Oca.

Dia menunduk dalam, bahunya naik turun karena tangis yang semakin menjadi-jadi. Tubuhnya gemetar hebat seolah ketakutan luar biasa.

"Oca? Kamu kenapa, Nak? Kalau kamu tahu sesuatu atau melakukan sesuatu, ceritakan lah sekarang juga. Jangan disimpan lagi, karena itu malah akan membahayakan dirimu dan teman-temanmu yang lain," kata Pak Ustadz lembut namun tegas kepada Oca.

Oca mengangkat wajahnya yang sudah basah oleh air mata, matanya merah dan tatapannya penuh rasa bersalah serta ketakutan. Dia menatap teman-temannya bergantian, lalu berbicara dengan suara yang terbata-bata dan tersendat-sendat karena menangis.

"Maafkan saya... Maafkan saya semuanya... Saya salah, saya jahat, saya pengecut..." isak Oca memulai pembicaraannya. "Sebetulnya... Sebetulnya saya sudah tahu kalau ada ruangan di sana dari lama. Waktu itu, beberapa hari sebelum kita ngeliwet bareng teman cowok, ada Dimas, pacarku, datang ke sini. Alasannya dia mau membantuku mengerjakan tugas sekolah dan bimbingan belajar di sini, padahal saya tahu itu melanggar aturan keras kosan ini."

Oca mengusap air matanya dengan kasar, lalu melanjutkan ceritanya yang menyedihkan itu.

"Waktu itu, tiba-tiba Ibu Penjaga kosan lewat di depan pintu dan mau masuk untuk mengecek keadaan. Saya panik sekali dan takut sekali kalau ketahuan dan dimarahi habis-habisan, bahkan takut diusir dari sini. Karena panik dan takut, saya teringat pernah melihat celah kecil di dinding belakang itu. Tanpa berpikir panjang, saya menyuruh Dimas masuk ke sana, masuk ke dalam ruangan kosong itu secara diam-diam. Saya menyembunyikan pacarku di dalam ruangan itu cukup lama sampai Ibu Penjaga pergi dan keadaan aman lagi. Saya nggak bilang sama siapa pun, saya sembunyikan sendiri karena takut dimarahi dan dijauhi sama kalian semua... Maafkan saya... Maafkan saya ya teman-teman... Saya nggak bermaksud bikin kalian susah dan kena masalah..." teriak Oca di sela tangisnya yang semakin keras dan menyayat hati.

Mendengar pengakuan jujur namun mengejutkan itu, suasana menjadi sangat hening dan kaku. Semua teman-temannya, mulai dari Aletta, Silvia, Widi, Cika, Luna, hingga Marina menatap Oca dengan mata terbelalak tak percaya.

Mulut mereka terbuka lebar karena kaget dan terkejut luar biasa. Mereka tidak menyangka sama sekali, tidak pernah menyangka bahwa semua masalah dan teror yang mereka alami selama ini bermula dari kesalahan yang dilakukan oleh sahabat mereka sendiri, Oca.

"APA?! Loh menyembunyikan laki-laki di ruangan itu?! Dan loh nggak bilang-bilang sama kita sama sekali?!" seru Widi dengan nada suara yang tinggi dan campuran antara kaget dan marah. Wajahnya merah padam menahan amarah yang meluap-luap.

"Oca... Kok loh tega sih sama kita? Kita selama ini ketakutan setengah mati, nggak bisa tidur, diganggu terus-terusan, capek hati dan pikiran, padahal penyebabnya karena kesalahan loh yang sembunyikan pacar loh di sana?!" kata Cika dengan nada kecewa yang mendalam, matanya berkaca-kaca menahan tangis karena merasa dikhianati.

"Loh tahu nggak, Oca? Kita hampir gila ketakutan di sini! Kita sudah bersihkan rumah, sudah dipanggil Ustadz, tapi malah makin parah gangguannya. Ternyata karena loh bawa orang asing masuk ke tempat terlarang itu diam-diam... Loh bener-bener bikin kami kecewa banget!" tambah Luna dengan suara gemetar karena marah.

Bahkan Bapak Kosan dan Pak Ustadz pun tampak sangat kaget dan terkejut mendengar cerita itu. Bapak Kosan menggelengkan kepalanya berkali-kali dengan wajah sedih dan kecewa.

"Ya Tuhan... Jadi benar dugaan Bapak. Kamu tahu nggak, Nak Oca? Itu ruangan bukan sembarang tempat. Memasukkan laki-laki asing ke sana secara diam-diam dan melanggar aturan itu sama saja dengan membuka gerbang kemarahan makhluk yang ada di sana," kata Bapak Kosan dengan nada berat.

Suasana menjadi semakin tegang dan penuh emosi. Teman-teman Oca merasa sangat marah dan kecewa, hampir saja mereka memarahi Oca habis-habisan karena rasa sakit hati yang mendalam. Namun, tiba-tiba saja sebelum ada yang sempat bicara lagi, kejadian mengerikan terjadi lagi!

Oca yang tadi menangis tersedu-sedu dan menunduk, tiba-tiba tubuhnya menjadi kaku sekeras kayu. Matanya terbalik ke atas, matanya putih semua, dan bibirnya mengatup rapat.

Dua menjerit panjang dengan suara yang berat, kasar, dan sama sekali bukan suaranya yang biasa. Tubuhnya terlempar ke belakang seolah didorong oleh kekuatan besar yang tak terlihat.

"HUAAAAAA!!!!! DIAM KALIAN SEMUA!!! JANGAN MENYALAHKAN DIA!!! ITU SALAH MEREKA DUA ORANG YANG BERANI MENGOTORI TEMPAT SUCI TUBUHKU!!!" teriak suara kasar itu dari mulut Oca.

Semua orang langsung mundur ketakutan, wajah mereka pucat pasi kembali. Pak Ustadz segera melangkah maju dengan tenang dan tegas, berdiri tepat di depan tubuh Oca yang kini melayang dan berguling-guling di lantai.

Pak Ustadz menatap tajam ke arah sosok yang merasuki Oca itu, lalu berkata dengan suara lantang dan tegas.

"Hai makhluk yang ada di dalam sana! Dengarkan kata-kataku. Masalah mereka akan diselesaikan dengan baik dan mereka akan mempertanggungjawabkan kesalahannya. Tapi kamu... Kamu sudah cukup lama berada di sini dan menyakiti hati penghuni rumah. Sekarang saya perintahkan kamu untuk pergi dari tubuh gadis ini dan pergi ke tempat asalmu! Pergilah ke makam tempatmu dikuburkan dengan tenang, jangan mengganggu kehidupan manusia lagi. Dan beritahu juga kepada arwah lelaki yang ikut mengganggu bersama kamu, dia juga harus pergi ke makamnya masing-masing dan meminta ampun kepada Tuhan!" perintah Pak Ustadz dengan tegas dan berwibawa.

Setelah beberapa saat meronta dan menjerit marah, akhirnya tubuh Oca lemas jatuh ke lantai, napasnya berat dan dia kembali sadar perlahan, namun masih sangat lemah dan ketakutan.

Setelah keadaan menjadi sedikit tenang dan Oca sudah dibantu duduk serta diminumkan air putih, Bapak Kosan akhirnya membuka suara dan menceritakan sejarah kelam rumah dan ruangan itu dengan nada yang sangat berat dan sedih. Semua orang mendengarkan dengan saksama dan bulu kuduk mereka berdiri mendengar ceritanya.

"Anak-anakku... Sekarang Bapak ceritakan semuanya supaya kalian paham kenapa tempat ini begitu angker, kenapa ruangan ini ditutup rapat dan dilarang keras untuk dibuka atau dimasuki siapa pun," mulai Bapak Kosan dengan suara rendah.

"Dulu, puluhan tahun yang lalu, rumah ini ditempati oleh seorang wanita muda yang cantik, baik hati, dan sangat taat beragama. Dia tinggal sendirian di sini. Suatu hari, datanglah seorang pemuda yang dikenalnya sebagai teman baiknya. Pemuda itu berpura-pura baik dan sopan, padahal hatinya jahat dan punya niat buruk. Di ruangan itulah kejadian mengerikan itu terjadi. Pemuda itu memaksa, melecehkan, dan melakukan perbuatan asusila kepada wanita muda itu di dalam ruangan ini. Wanita itu berjuang sekuat tenaga, menangis, dan berteriak minta tolong, tapi tidak ada yang mendengarnya. Akhirnya, karena merasa sangat malu, sakit hati, dan tidak sanggup menanggung rasa sakit serta aib itu, wanita malang itu mengakhiri hidupnya di ruangan ini tepat di tempat itu juga," cerita Bapak Kosan dengan mata berkaca-kaca.

Suasana menjadi sangat hening dan sedih. Mereka semua menatap pintu ruangan itu dengan rasa iba dan ngeri yang mendalam.

"Sejak saat itu, arwah wanita itu tidak tenang dan selalu marah, terutama kepada pasangan muda, laki-laki yang berbuat jahat, atau orang yang melanggar norma dan aturan. Ruangan ini ditutup rapat dan disembunyikan agar tidak ada lagi yang masuk dan mengganggunya.

Tapi ketika Oca membawa pacarnya masuk ke sana dan menyembunyikannya, itu sama saja membuka kembali luka lama dan kemarahan wanita itu.

Dia marah besar karena menganggap kejadian itu sama persis dengan apa yang menimpanya dulu. Itulah sebabnya gangguan makin menjadi-jadi dan tidak mau berhenti," lanjut Bapak Kosan menjelaskan semuanya.

Mendengar cerita itu, Oca menangis semakin keras lagi karena merasa sangat bersalah dan takut. Dia baru sadar betapa besar kesalahannya dan betapa berbahayanya perbuatannya itu.

Setelah semua rahasia terbongkar dan semua masalah jelas, akhirnya momen perpisahan pun tiba. Tak lama setelah kejadian itu, terdengar suara klakson kendaraan dari depan. Ternyata mobil jemputan yang akan membawa mereka pulang ke rumah masing-masing sudah tiba.

Namun, sebelum berangkat, terjadi hal yang sangat menyentuh hati. Oca yang masih terisak menangis berdiri di depan teman-temannya, menunduk penuh penyesalan.

"Teman-teman... Gue tahu gue salah besar, gue sudah menyusahkan kalian, membuat kalian ketakutan, dan menyembunyikan kebenaran dari kalian. Gue pantas dibenci dan dimarahi habis-habisan. Tapi gue mohon... Maafkan gue... Gue sungguh-sungguh menyesal dan nggak akan mengulanginya lagi seumur hidupku," kata Oca dengan suara tulus.

Aletta adalah orang pertama yang mendekat dan memeluk Oca dengan erat. "Sudah, Oca... Jangan menangis lagi. Kami tahu kamu menyesal. Kami juga tahu kamu nggak bermaksud menyakiti kami. Semuanya sudah terjadi, dan yang terpenting sekarang semuanya sudah jelas dan selesai. Kami maafkan kamu dengan tulus. Kita kan teman, kita saudara. Masalah seberat apa pun pasti bisa diselesaikan dan dimaafkan kan?"

"Iya bener kata Aletta," tambah Silvia. "Kami juga minta maaf kalau tadi sempat marah dan kasar sama kamu. Kami cuma kaget dan takut saja. Tapi kami nggak pernah benci sama kamu, Oca. Kami tetap sayang sama kamu apa pun yang terjadi."

Satu per satu teman-temannya mendekat dan memeluk Oca, saling berpegangan tangan dan menangis bersama-sama bukan lagi karena takut atau marah, tapi karena rasa lega dan persahabatan yang semakin kuat. Mereka saling memaafkan dan berjanji untuk selalu jujur satu sama lain mulai sekarang.

Namun, penyesalan Oca tidak berhenti sampai di situ. Ia sadar bahwa ia juga harus mempertanggungjawabkan perbuatannya kepada arwah wanita itu. Oca segera menelepon pacarnya, Dimas, dan menceritakan semuanya dengan jujur serta memintanya untuk datang segera. Dimas yang mendengar cerita itu juga merasa sangat takut dan bersalah, ia pun segera datang ke sana.

Bersama-sama dengan Bapak Kosan dan Pak Ustadz, Oca dan Dimas, serta ketujuh gadis itu pergi ke makam wanita malang yang meninggal dulu di ruangan itu. Di sana, mereka memohon maaf dengan sungguh-sungguh, membacakan doa bersama, dan meminta agar arwah wanita itu diampuni oleh Tuhan dan beristirahat dengan tenang selamanya.

Setelah semuanya selesai dan hati mereka terasa benar...benar-benar tenang dan damai, akhirnya mereka pun bersiap untuk pulang. Mobil jemputan yang terparkir di depan sudah menyala mesinnya, seolah ikut menunggu momen perpisahan ini berakhir.

Mereka berjalan pelan keluar dari gerbang kosan itu, sesekali menoleh ke belakang seolah ingin mengabadikan kenangan terakhir di tempat yang telah memberikan begitu banyak cerita, suka, duka, ketakutan, dan pelajaran berharga bagi mereka. Bapak Kosan berdiri di depan pagar, tersenyum haru sambil melambaikan tangan mengantar kepergian mereka.

"Hati-hati di jalan ya, anak-anakku. Terima kasih sudah melewati semua ini dengan keberanian dan kejujuran. Bapak mendoakan kalian semua menjadi anak-anak yang sukses, berbakti, dan selalu dijaga oleh Tuhan Yang Maha Esa," ucap Bapak Kosan dengan suara lembut namun penuh ketulusan.

"Terima kasih banyak juga, Pak. Terima kasih sudah sabar membimbing dan membantu kami sampai akhir. Maafkan kami kalau selama ini banyak salah dan merepotkan Bapak," jawab Silvia mewakili yang lain, matanya kembali berkaca-kaca.

Mereka satu per satu masuk ke dalam mobil, duduk di kursi masing-masing. Oca duduk di tengah-tengah diapit oleh Aletta dan Widi, seolah ingin terus merasakan dukungan dan kehangatan dari sahabat-sahabatnya itu.

Begitu mobil mulai bergerak perlahan menjauhi kosan tua itu, suasana di dalam mobil sempat hening sejenak, seolah masing-masing dari mereka sedang tenggelam dalam pikiran dan perasaannya sendiri.

Namun, keheningan itu akhirnya dipecahkan oleh suara isakan halus dari Oca. Dia menunduk dalam, air matanya kembali menetes, namun kali ini bukan karena takut atau rasa sakit hati, melainkan karena rasa syukur dan penyesalan yang sudah terobati.

"Teman-teman..." panggil Oca lirih, suaranya terdengar lemah namun tulus. "Sekali lagi... maafkan gue ya. Gue nggak tahu kalau kesalahan gue itu bakal membawa dampak seburuk ini buat kalian semua. Gue bener-bener merasa bersalah banget. Kalau kalian nggak maafin gue, gue terima kok... Gue pantas mendapatkannya."

Mendengar itu, Aletta segera menggenggam tangan Oca dengan erat, mengusap punggung tangannya perlahan.

"Oca, sudah ya... Jangan bicara begitu lagi," kata Aletta lembut menatap wajah sahabatnya itu. "Kami sudah bilang kan? Semuanya sudah selesai, semuanya sudah dimaafkan. Kita semua sama-sama punya kekurangan dan kesalahan. Loh sudah jujur mengakuinya, loh sudah berani bertanggung jawab, dan loh sudah meminta maaf dengan tulus. Itu yang paling penting. Kami nggak pernah benci sama loh, dan nggak akan pernah meninggalkan loh cuma gara-gara kejadian ini."

"Betul kata Aletta," sambung Silvia sambil menepuk bahu Oca. "Justru lewat kejadian ini, kita jadi belajar banyak hal. Belajar kalau kejujuran itu penting, belajar kalau melanggar aturan ada akibatnya, dan yang paling penting... belajar bahwa kita harus saling menguatkan satu sama lain, apa pun yang terjadi. Jadi jangan merasa bersalah terus-menerus ya, nanti loh sakit lagi."

Cika yang duduk di kursi depan ikut menoleh dan tersenyum hangat. "Iya, Oca. Anggap saja ini jadi pelajaran paling berharga buat kita semua, bukan buat loh saja. Kita selamat melewati semuanya bersama-sama kan? Berarti persahabatan kita kuat, nggak gampang hancur cuma karena masalah."

Oca mengangguk pelan, menghapus air matanya dan mencoba tersenyum kembali, senyum yang terasa lebih tulus dan lega dari sebelumnya.

"Makasih ya teman-teman... Kalian emang sahabat terbaik yang pernah gue punya. Gue janji, mulai sekarang gue bakal lebih hati-hati, bakal jujur sama kalian, dan nggak akan menyembunyikan apa pun lagi. Kita bakal berteman sampai kapan pun kan?"

"Tentu saja!" jawab mereka serentak, lalu tertawa bersama, suara tawa yang terdengar lepas dan bahagia.

Di sela-sela perjalanan pulang itu, pikiran Aletta melayang jauh. Dia teringat akan pesan yang dia kirimkan kepada Jonathan beberapa hari yang lalu, pesan panjang berisi keluh kesah dan kerinduannya yang mendalam.

Dia pun merogoh sakunya, mengambil ponselnya, dan melihat layarnya. Betapa terkejut dan bahagianya dia, ternyata ada balasan pesan masuk dari Jonathan! Pesan itu masuk sejak tadi siang saat mereka sedang sibuk dengan urusan di kosan, jadi dia tidak sempat membacanya.

Dengan hati berdebar, Aletta membuka pesan itu dan membacanya perlahan

"Sayangku Aletta... Maaf banget baru bisa baca dan balas pesanmu sekarang. Ponselku baru dikembalikan hari ini karena libur tiba. Aku baca semua ceritamu, aku merinding sekaligus sedih banget membacanya. Maafkan aku ya nggak ada di sana buat nemenin kamu dan menenangkan kamu. Tapi aku bangga banget sama kamu, kamu hebat, kamu kuat, dan kamu berani menghadapi semuanya bareng teman-temanmu. Terima kasih sudah cerita dan percaya sama aku. Aku juga kangen banget sama kamu, rasanya pengen buru-buru ketemu dan memeluk kamu erat-erat. Sabar ya sayang, nanti kalau aku pulang liburan, kita pasti bertemu. Jaga kesehatanmu, jaga dirimu baik-baik, dan tetaplah jadi gadis pemberani yang aku kenal. Aku sayang kamu selamanya."

Membaca pesan itu, hati Aletta terasa begitu hangat dan bahagia. Matanya kembali berkaca-kaca, namun kali ini air mata bahagia yang menetes. Dia merasa lengkap, merasa semua bebannya sudah hilang sepenuhnya. Dia segera membalas pesan itu dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya.

"Makasih ya Sayang... Aku juga sayang banget sama kamu. Aku sehat dan baik-baik aja kok, sekarang rasanya damai banget. Aku tunggu kepulanganmu ya. Sampai ketemu nanti!"

Mobil terus melaju membelah jalanan, menjauhi masa lalu yang kelam dan membawa mereka menuju masa depan yang cerah dan penuh harapan.

Matahari mulai terbenam di ufuk barat, meninggalkan semburat warna jingga yang indah di langit, seolah menyambut kepulangan mereka dengan kehangatan dan kedamaian.

Perjalanan panjang itu akhirnya sampai juga di tujuan. Satu per satu mereka turun dari mobil, berpamitan satu sama lain, dan berjanji untuk tetap saling berhubungan serta bertemu lagi di puskesmas tempat mereka bekerja.

Sesampainya di rumahnya, Aletta disambut oleh pelukan hangat Puspa yang sudah menunggu di depan pintu.

"Selamat pulang, sayang! Ibu kangen banget sama kamu," sapa Puspa lembut.

"Aku juga kangen banget sama Ibu," jawab Aletta sambil memeluk Puspa erat, merasakan kenyamanan dan keamanan yang selama ini dia rindukan.

Malam itu, setelah mandi dan makan bersama keluarga, Aletta berbaring di tempat tidurnya sendiri yang empuk dan wangi. Dia menatap langit-langit kamarnya dengan senyum bahagia.

Semua kejadian di kosan itu kini terasa seperti mimpi panjang yang menegangkan namun mengajarkan banyak hal. Di bersyukur kepada Tuhan karena telah dilindungi, diberikan teman-teman yang baik, dan diberikan kekuatan untuk melewati segalanya.

Perlahan matanya terpejam, tubuhnya yang lelah pun beristirahat dengan tenang dan nyenyak, tanpa rasa takut, tanpa gangguan, hanya kedamaian yang abadi menyertai tidurnya.

~be to continuous~

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!