Clarissa Mahendra adalah ratu kampus yang ditakuti cantik, angkuh, dan tak segan menghancurkan siapa pun yang mendekati cowok pujaannya. Namun, di balik riasan tebal dan gaya hidup mewahnya, Clarissa menyimpan rahasia mematikan: Vonis Leukemia Stadium 3.
Di tengah perjuangan hidup dan mati, ia justru terasing di rumahnya sendiri. Ayahnya sosok yang dingin, dan kakak kembarnya, Bastian, membencinya karena menganggap Clarissa penyebab kematian ibu mereka saat melahirkan.
Kini, Clarissa sengaja memakai topeng "jahat" agar dunia membencinya. Ia ingin pergi dalam sunyi, tanpa ada yang merasa kehilangan. Namun, mampukah ia terus bersandiwara saat waktu yang ia miliki perlahan habis sebelum malam menjemputnya selamanya?
"Satu rahasia, seribu kebencian, dan satu takdir yang tak bisa dihindari."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
API DI BALIK DINGIN
Pagi harinya, suasana romantis di rumah singgah Novena segera berganti dengan aroma rumah sakit yang steril. Clarissa kembali ke bangsal perawatan untuk memulai siklus kemoterapi konsolidasi kedua. Namun, ada yang berbeda dari raut wajahnya. Jika dulu ia masuk ke ruangan ini dengan ketakutan yang meluap, kini ia melangkah dengan ketenangan seorang pejuang yang tahu untuk siapa ia pulang.
Adrian setia berada di sampingnya, menggenggam tangan Clarissa hingga ke pintu ruang tindakan. Momen ciuman di bawah gerimis semalam masih menyisakan kehangatan yang menjalar di dada mereka masing-masing, memberikan kekuatan yang tak kasat mata namun sangat terasa.
"Ingat janji aku semalam, Sayang?" bisik Adrian tepat di telinga Clarissa sebelum suster mendorong brankarnya. "Aku nunggu di sini. Setiap tetes obat yang masuk ke tubuh kamu, bayangkan itu adalah cahaya yang lagi bersihin sisa-sisa kegelapan."
Clarissa mengangguk pelan, membetulkan letak jilbab putihnya. "Aku kuat karena ada kamu, Adrian
Siklus kedua ini ternyata jauh lebih agresif. Cairan kimia yang mengalir melalui kateter vena di dadanya terasa seperti api yang membakar setiap inci pembuluh darahnya. Clarissa menggigil hebat di bawah selimut tebal, sementara suhu tubuhnya melonjak drastis.
"Suster, tekanan darahnya menurun!" teriak Bastian yang panik melihat monitor jantung adiknya kembali berbunyi nyaring.
Adrian masuk ke ruangan dengan izin khusus, ia segera duduk di kursi samping ranjang. Ia melihat Clarissa merintih kesakitan, bibirnya yang semalam ia cium kini kembali membiru dan pecah-pecah. Hati Adrian hancur, namun ia tahu ia harus tetap menjadi karang yang kokoh.
"Aku di sini, Clar... aku di sini," Adrian membisikkan doa-doa di telinga Clarissa, sementara tangannya mengusap kening Clarissa yang berkeringat dingin.
Dalam igauan sakitnya, Clarissa menggumamkan nama Adrian berkali-kali. Ia seolah sedang berada di padang pasir yang sangat panas, dan hanya suara Adrian yang menjadi oase penyejuknya. Ia membayangkan kembali momen manis semalam, mencoba memutar memori itu berulang-ulang sebagai pengalih rasa sakit yang menyiksa tulang-tulangnya.
Setelah melewati enam jam yang mencekam, kondisi Clarissa mulai stabil meski ia masih dalam keadaan setengah sadar. Adrian tidak beranjak satu senti pun. Ia bahkan melewatkan makan siangnya, hanya meminum air putih untuk menjaga tenaganya.
Bastian yang melihat itu merasa terharu. Ia mendekati Adrian dan menepuk bahunya. "Dri, lo makan dulu sana. Biar gue yang jaga. Lo bisa pingsan kalau begini terus."
"Nggak, Bas. Gue sudah janji sama dia semalam buat nggak lepasin tangannya," jawab Adrian dengan suara serak. "Gue baru sadar, Bas. Gue lebih takut kehilangan dia daripada takut sama masa depan gue yang berantakan karena cuti kuliah."
Bastian menghela napas, ia duduk di sofa ruang rawat. "Dulu gue pikir lo cuma cowok basket yang mau main-main sama adek gue yang sombong. Tapi sekarang gue tahu, lo adalah satu-satunya alasan dia masih mau bertahan hidup.
Malam tiba di Singapura. Clarissa akhirnya membuka matanya perlahan. Hal pertama yang ia lihat adalah wajah Adrian yang tertidur dengan posisi duduk, kepalanya bersandar di sisi ranjang tepat di dekat tangan Clarissa.
Clarissa menggerakkan jarinya yang lemah, menyentuh rambut Adrian yang berantakan. Adrian seketika terbangun, matanya yang merah langsung menatap Clarissa dengan binar lega.
"Kamu sudah bangun? Ada yang sakit? Mau minum?" tanya Adrian bertubi-tubi.
Clarissa tersenyum tipis, meski wajahnya masih tampak sangat lemas. "Aku... aku inget ciuman semalam, Adrian. Itu yang bikin aku bangun."
Adrian tersipu, ia mencium punggung tangan Clarissa dengan penuh rasa syukur. "Itu baru permulaan, Sayang. Masih banyak momen indah yang nunggu kita di Jakarta nanti. Kamu harus sembuh total."
Keesokan paginya, seorang kurir mengantarkan sebuah paket besar ke kamar rawat. Ternyata itu dari teman-teman kampus di Jakarta, termasuk Maya dan Bianca. Di dalamnya ada sebuah video kompilasi semangat dari seluruh mahasiswa angkatan mereka, serta sebuah kado khusus: sebuah set jilbab sutra berkualitas tinggi dengan berbagai warna pastel.
Ada sepucuk surat dari Bianca:
_"Clar, kami semua rindu padamu. Sherly sudah mengundurkan diri dari kampus karena malu setelah videonya berbalik menyerangnya. Sekarang kampus terasa lebih tenang, tapi sepi tanpa tawa jujurmu. Cepat pulang, sang Ratu Hijrah kami!"_
Clarissa tertawa kecil membaca surat itu. Ia menatap Adrian yang sedang membantu suster merapikan tempat tidurnya. Di detik itu, Clarissa menyadari bahwa penyakitnya bukan lagi sebuah hukuman, melainkan sebuah proses pembersihan. Ia kehilangan mahkota rambutnya, tapi ia mendapatkan mahkota iman, keluarga yang kembali bersatu, dan cinta sejati dalam sosok Adrian.
"Adrian," panggil Clarissa saat suster sudah keluar.
"Iya, Sayang?"
"Bisa bantu aku duduk? Aku mau coba pakai jilbab baru pemberian Bianca. Aku mau kelihatan cantik di depan kamu hari ini."
Adrian tersenyum, ia membantu Clarissa duduk dengan penuh kelembutan. Hidup mungkin masih memberinya ujian fisik yang berat, tapi bagi Clarissa dan Adrian, cinta mereka sudah melampaui batas rasa sakit.
Siklus kedua berhasil dilewati, namun dr. Chen memberikan peringatan bahwa hasil pemeriksaan darah menunjukkan adanya potensi infeksi.