Tidak pernah terbayang sebelumnya. Lelaki yang dulu sangat mencintainya kini berubah drastis setelah pernikahan terjadi.
Pernikahan yang seharusnya penuh kebahagiaan justru berbanding terbalik dari angannya selama ini.
Tidak tau mengapa suaminya tiba-tiba bersikap dingin terhadapnya. Bahkan di malam pertama mereka suaminya meninggalkannya begitu saja.
Suamiku Membenciku....
Follow Akun Ig saya: lisa_gultom
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elizabetgultom191100, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pria Menyebalkan
Rencana pelarianku yang tanpa jejak masih berlanjut hingga pagi hari menyapa. Pagi-pagi sekali, tepatnya pukul setengah lima pagi aku sudah di stasiun, mengejar jadwal kereta tercepat.
Sengaja memilih menggunakan kereta adalah caraku yang tidak akan terpikirkan oleh Mas Arian maupun keluargaku yang lain.
Kini aku sudah duduk di kursi penumpang yang tepat di dekat jendela. Hujan rintik-rintik yang semakin lama, semakin deras seolah menangisi kepergianku dari kota ini. Kota kelahiranku dimana aku dibesarkan, dimana aku menemukan sahabat dan juga cintaku yang mau tak mau harus kutinggalkan di pagi hari yang masih berkabut ini.
Air mata sialan ini menetes tanpa kuminta. "Berhentilah keluar." Rutukku sambil mengusap air mataku dengan kasar.
"Heh dasar bodoh." Tiba-tiba suara bariton terdengar dari sampingku.
Aku menoleh, mendelikkan mata kepada pria yang menatapku dengan senyum menjengkelkan.
"Kau bicara padaku?" Aku menunjuk diriku sendiri.
"Bukan." Jawab pria itu dengan jenaka.
"Lalu?"
"Pada hujan yang bergoyang." Pria itu tergelak akan ucapannya sendiri.
"Dasar gila." Gerutuku kesal. Hatiku sedang kacau pagi ini dan pria ini semakin membuatku kacau balau.
"Kalau tidak rela pergi, ya jangan pergi." Ucap pria tadi. Dia bicara dengan siapa aku tidak tau, karena kursi di hadapan kami kosong, lalu bicara dengan siapa?
Apa mungkin dia orang jahat atau orang gila? Aku jadi ketakutan, lalu menggeser lebih dekat ke jendela kemudian memasukkan Sling bag-ku ke dalam jaket tebalku. Semua harta bendaku ada di sini, kalau sampai diambil orang, bisa gagal semua rencanaku.
Aku kembali teringat pada Mas Arian ketika pria di sampingku tidak bicara lagi. Memang Mas Arian sudah sepenuhnya memiliki hatiku, air mataku tiada hentinya berurai setiap memikirkannya.
"Ck mengganggu sekali. Kalau mau nangis jangan di sini. Emang kenapa nangis sih, diputuskan pacar ya." Pria menyebalkannya tadi kembali mengoceh yang lagi-lagi membuyarkan acara melow solo-ku.
Aku menatap kesal pada pria itu, untung aku bukan tipe wanita bar-bar, kalau tidak wajah pria ini pasti sudah hancur kucakar.
"Apa aku mengenalmu?" Tanyaku dengan sedikit sinis.
"Tidak." Jawabnya singkat.
"Kau mengenalku?"
"Untuk apa aku mengenalmu?" Eh malah tanya balik.
"Menyebalkan." Desisku membalikkan tubuhku ke arah jendela kereta.
Terdengar pengumuman bahwa kereta akan segera berangkat. Dan aku benar-benar tidak dapat menahan tangisanku saat itu juga. Seperti kata pria di sampingku tadi, aku memang tidak rela meninggalkan kota ini.
Ingin sekali aku meloncat dari kereta ini sekarang juga, tapi hati dan pikiranku menolak keras. Tangisanku masih berlanjut ketika suara sirine kereta menggelegar di sepanjang stasiun hingga kereta bergerak perlahan dan lama kelamaan semakin berpacu dengan kencang.
"Ini, hapus ingusmu itu. Ck cantik sih, tapi sayang jorok." Sebuah tangan dengan sapu tangan di atasnya terulur di depanku.
Aku mengangkat pandanganku, menatap pria itu kesal. Sruukk... aku menarik ingusku yang meler dari tadi. Aduh malu sekali. "Terima kasih atas perhatiannya. Tapi maaf aku tidak butuh." Jawabku dengan sinis.
"Sama-sama." Pria itu mengambil tanganku lalu meletakkan sapu tangan itu di atas tanganku.
Aku menatap kesal pria itu dan sapu tangan bergantian. Sruukk.. ingusku meler lagi. Pria itu tergelak tanpa tau malu penumpang kereta di seberang kami memperhatikan.
Aku buru-buru mengelap ingusku dengan sapu tangan pria menyebalkan itu.
"Terima kasih perhatiannya. Tapi maaf, aku tidak butuh." Pria itu mengulangi perkataanku tadi dengan nada mengejek.
Karena saking kesalnya aku mengembalikan sapu tangan yang kini berlumuran ingusku di telapak tangannya.
"Iuhh... dasar wanita jorok." gerutu pria itu.
Aku tertawa dalam hati melihat wajah kesalnya. Memangnya enak, dari tadi selalu membuatku kesal.
Beberapa detik kemudian, aku tersadar. Aku tersenyum? Pikirku. Inilah pertama kalinya aku tersenyum tanpa beban sejak pernikahanku dengan Mas Arian.
TBC ☘️☘️☘️
kan govlok,,baru lihat foto aja langsung percaya tanpa tahu kebenaran nya,,seharusny kau selidiki dulu kebenaran foto itu,,asli atau editan,,kapan perlu kau panggil too ahli telematika untuk melihat asli ato palsu,, cape' deh,,olang kaya tapi GOBLOK🙉🙊🙈