Mengulik kisah seorang pria bernama Rafael yang menerima kesepakatan menjadi bapak rumah tangga dan membiarkan istrinya berkarier di luar rumah.
Seiring bertambah usia pernikahan, kesepakatan mereka perlahan mulai mengusik ego dan jadi dilema bagi Rafael sebagai laki-laki.
》Apakah Rafael bisa bertahan menjalani aktivitasnya sebagai bapak rumah tangga dan melihat kesuksesan karier istrinya?
》Ikuti kisahnya di Novel ini: "Lara Di Tapal Batas"
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24.
...~•Happy Reading•~...
"Jadi saat party kantor itu, kalian sudah tunangan?" Jarem masih penasaran dan tidak tahan untuk tidak bertanya.
"Mau dijawab?" Tanya Rafael kepada Laras, singkat.
"Tidak perlu." Ucap Laras sambil menggeleng. Rafael mengangguk. "Mari kita masuk." Ajak Laras lalu mengambil salah satu koper. Jarem terdiam dan tidak berani mengikuti. Sikap dan raut wajah Rafael mengirimkan sinyal, bahwa ancamannya bukan sekedar menggertak.
"Jarem ditempatkan di sana juga?" Rafael bertanya sambil jalan ke ruang tunggu.
"Setahuku, tidak. Mungkin ke kota lain." Laras menjawab cepat, agar tidak merusak suasana hati Rafael.
"Ok. Tidak usah pikirkan Jarem. Hubungi yang mau jemput untuk kasih tahu penerbangan kita." Rafael kembali fokus, karena dia tidak melihat Jarem atau Tolly ada di ruang tunggu.
~••
Setelah tiba di kota tujuan, Laras dan Rafael diantar ke rumah yang disediakan perusahaan. "Ada pejabat kantor yang tinggal di sini?" Tanya Laras sambil melihat komplek perumahan yang akan ditempati.
"Iya, Bu. Tapi hanya beberapa yang dari luar kota." Jawab sopir, sopan.
"Baik. Apa rumah ini pernah ditinggali?" Tanya Laras kepada sopir lagi setelah mereka tiba di salah satu rumah.
"Iya, Bu. Tapi sudah direnovasi dan mengganti semua perabot sebelum kedatangan Ibu Laras. Silakan dilihat-lihat, Bu." Sopir mempersilahkan masuk setelah menurunkan koper. Rafael hanya diam menyimak sambil melihat-lihat lingkungan sekitar.
"Baik. Terima kasih." Laras merasa senang melihat perabot yang disediakan untuknya masih baru.
"Saya sopir selama Ibu tugas di sini." Ucap sopir sambil memberikan kunci mobil.
"Baik. Saya mau istirahat. Nanti kita bicara setelah saya masuk kantor."
"Baik, Bu. Saya permisi." Sopir mengganguk hormat kepada Rafael yang masih berdiri di halaman.
Setelah sopir meninggalkan mereka, Rafael masuk ke dalam rumah. "Rafa, bagaimana menurutmu? Apa ini cukup nyaman?" Tanya Laras sambil menarik tangan Rafael ke kamar.
"Lebih dari nyaman bagiku..." Rafael tidak meneruskan, jika dibandingkan rumahnya di kampung atau kamarnya di lantai atas. Agar tidak menjadi topik yang tidak nyaman dibahas.
"Ok. Kalau begitu, tidak perlu diganti." Laras merasa lega.
"Istirahat. Aku keluar kunci pagar dan ambil koper. Pergunakan sisa waktu untuk istirahat sebelum lakukan inspeksi." Ucap Rafael.
"Rafa, ini pembicaraan pengantin baru?"
"Bukan. Pembicaraan dengan pejabat yang baru tiba di tempat tugas." Bisik Rafael sambil tersenyum.
"Kau sedang menyindirku?"
"Tidak. Pengantin baru tidak membutuhkan pembicaraan. Istirahat, supaya punya tenaga." Bisik Rafael lalu keluar mengunci pintu pagar dan membawa masuk koper ke kamar.
'Coba lihat. Sok kuat.' Rafael membatin saat melihat Laras sudah tertidur. Rafael membuka koper untuk mengganti kaos. Tidak lama kemudian Rafael naik ke ranjang dan tidur di samping Laras.
Sambil memeluk pinggang Laras, Rafael membatin. 'Semoga jalan yang kita tempuh ini benar dan baik untuk masa depan kita.' Rafael berdoa dan berharap dalam hati, permintaan Laras untuk lebih cepat menikah tidak menjadi persoalan dalam rumah tangga mereka. Rasa lelah mengakibatkan Rafael ikut tertidur.
~••
"Rafa, bangun. Aku lapar." Laras membangunkan Rafael sambil menyentuh hidungnya yang mancung dengan ujung jari.
Rafael jadi membuka mata perlahan. Dia menggerakan badan setelah menyadari Laras di sampingnya. Dan mereka dalam keadaan setengah telan^jang. "Kau bikin aku makin lelah. Tolong pesan makan dari luar." Ucap Rafael, lalu bangun duduk.
"Mau makan apa?" Laras bertanya sambil memegang ponsel.
"Apa saja. Asal bisa patahkan tombak lapar yang mulai tusuk perutku." Jawab Rafael asal.
"Baiklah. Aku sudah dari tadi ketusuk."
"Kenapa baru bangunin?"
"Abis kau tidur nyenyak bett..."
"Selain masih jet lag, tenaga terkuras." Ucap Rafael sambil menunjuk tubuh Laras.
"Sudah ke sana. Aku gak jadi-jadi pesan makan." Laras memukul punggung Rafael tanpa penutup.
"Tadi lupa cek air di kamar mandi. Semoga air sudah jalan. Kalau belum, borong air mineral." Ucap Rafael yang sudah turun menuju kamar mandi dengan mengenakan boxer.
Rafael langsung menyalakan kran. "Ok, Laras. Aman. Mau duluan, atau aku?"
"Duluan saja. Aku belum selesai pesan makan. Bingung menu mana yang cocok."
"Pesan fast food yang pasti-pasti saja." Saran Rafael sambil membuka kopernya untuk mengambil pakaian ganti.
"Ok. Aku pesan." Ucap Laras sambil menepuk dahinya. Dia lupa, kalau sudah di tempat tugas baru, dan belum tahu jenis makanan yang enak.
Selesai mandi, Rafael keluar kamar untuk melihat situasi. "Laras, sudah jam berapa? Di luar sudah gelap." Rafael kembali masuk ke kamar.
Laras langsung melihat ponselnya. "Jam 7 lewat."
"Pantesan lapar pake tombak." Rafael mengusap perutnya. "Aku lihat isi kulkas. Semoga ada yang bisa dimakan sambil menunggu."
"Iya, ya. Tadi gak cek isi kulkas." Laras membenarkan. Pikirannya hanya cek kamar dan tempat tidur.
"Ini baru pembicaraan pengantin baru." Ucap Rafael sambil tersenyum.
Laras jadi melempar bantal ke arahnya. "Sayang sudah sangat lapar."
"Kalau tidak lapar, mau apa?"
"Minta gendong keluar kamar."
"Nanti kita keluar kamar, pake gaya gelinding." Rafael hampir tepuk dahi dengar candaan laparnya.
Tidak lama kemudian, dia kembali sambil membawa buah-buahan dalam piring. "Mari bangun. Aku temukan buah dalam kulkas. Makan ini untuk bertahan." Rafael memetik anggur dan menyuapi Laras.
"Kalau tahu begini, aku bawa bolu yang dibikin Mama." Ucap Laras sambil ikut comot anggur.
"Penyesalan biasanya di belakang. Orang tua sudah lewatin pengantin baru, jadi sudah tahu seluk beluknya."
"Rafa, abis makan kita jalan-jalan lihat kota, ya?" Laras mengalihkan.
"Kita belum tahu sikon kota ini. Agak riskan kalau malam. Lebih baik besok saja, supaya lebih tenang."
"Baiklah. Besok setelah aku pulang kantor, ya."
"Besok sudah langsung masuk kantor?"
"Gak. Cuma lihat-lihat, supaya hari senin sudah tahu seluk beluk kantor."
"Ok. Karna kau sudah bicara kantor, aku jadi ingat. Selama kau tugas di sini, aku tidak usah melamar ke perusahaan di sini. Kalau kau selesai dalam 6 bulan dan pindah lagi, aku harus berurusan dengan perjanjian kerja perusahaan."
"Iya. Gak usah. Lagian cuma 6 bulan. Itu di atas kertas. Kalau selesai lebih cepat, mungkin pindah lebih cepat lagi."
"Ok. Aku akan pikirkan kesibukanku untuk mengisi waktu." Rafael jadi serius.
"Bagaimana kalau selama di sini, belajar nyetir mobil? Biar sekalian urus SIM dll." Laras mengusulkan yang sudah dia pikirkan sepanjang penerbangan.
"Boleh. Besok kita lihat-lihat. Mungkin ada tempat yang cocok." Rafael mulai menyadari, profesi yang disepakati bersama Laras akan dimulai. Dia akan mengantar jemput Laras ke kantor. Tetapi dia tidak membahas, agar mereka tidak beradu argumentasi dalam kondisi perut lapar.
"Pengantar sudah di depan." Laras memecah kebisuan yang tiba-tiba menyelimuti mereka.
"Ok. Aku simpan ini dikulkas." Ucap Rafael sambil berdiri dan membawa piring buah keluar kamar.
Hatinya mulai memikirkan sesuatu yang bermanfaat untuk mengisi waktunya. Sebab semua yang dia rencanakan untuk masa depannya mulai menyimpang dari yang dia harapkan.
...~•••~...
...~•○♡○•~...