ini adalah part 2 dari novel "Diremehkan Karena Miskin Ternyata aku punya sistem analisis nilai"
disarankan baca part 1 terlebih dahulu
**
setelah mendapatkan kemampuan sistem, kehidupan Rahmat Pratama berubah drastis. Dia yang awalnya dihina, miskin, dan terlilit hutang, kini telah berdiri di puncak .
Namun, kejayaan itu hanyalah awal dari badai yang sesungguhnya.
Saat Rahmat merasa telah menguasai segalanya, sebuah serangan siber mematikan dari organisasi misterius bernama Black Spider nyaris menghapus seluruh asetnya.
Sertifikat Galeria yang ia bangun dengan darah dan keringat hampir saja berpindah tangan dalam hitungan detik.
Black spider kembali menyerang, bukan dengan fisik melainkan dengan serangan dari dalam.
Rahmat juga menyadari satu kenyataan pahit: Sistem Analisis Nilai miliknya bukan
sekadar keberuntungan jatuh dari langit.
Ada sejarah gelap yang ditinggalkan oleh sang pemilik pendahulu, dan mengenai sang pencipta asli yang kini datang untuk menagih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22—Kiper Edan
Peluit ditiup! Bunyinya cempreng, khas peluit tukang parkir yang dipinjam Alfian.
"SERBUUUUU! JANGAN BIARKAN DIA BERNAPAS!" teriak Rozak sembari memimpin pasukannya. Sepuluh orang—termasuk Alfian yang lari tanpa kacamata karena takut pecah—melesat ke arah Rahmat layaknya kawanan banteng yang melihat kain merah.
Rahmat hanya berdiri tenang, kakinya menginjak bola plastik bermotif macan itu
.
"Mat, mereka banyak banget!" seru Danu panik, tangannya masih memegang plastik es teh yang es batunya sudah mencair. "Gue kiper ya! Gue nggak mau lari!"
"Gue juga jaga gawang bareng Danu! Gawang kita harus dua lapis!" tambah Raefka, langsung berdiri di depan tumpukan tas.
Gawang mereka sekarang kipernya dua! Ini udah kayak main sepak bola sembarangan tanpa aturan, semua berantakan kayak kapal pecah.
Rahmat terkekeh. Saat Alfian mencoba melakukan tackle terbang yang sangat tidak estetik, Rahmat hanya menggeser bola ke kiri sedikit.
SREEEET!
Alfian meluncur bebas di atas rumput kering, berakhir dengan menabrak tiang gawang buatan mereka sendiri. "Aduh! Mataku... eh, kacamata mana?!"
gumamnya linglung.
[ DING! ]
━━━━━━━━━━━━━━━
[SISTEM ANALISIS: DRIBBLE LEVEL GHOIB]
* Skill Aktif: Casual Step.
* Efek: Gerakan Anda terlihat lambat tapi mustahil direbut oleh orang yang sedang cemburu buta.
━━━━━━━━━━━━━━━
Rahmat mulai menggiring bola. Rozak mencoba menghadang dengan gaya "Spider-Man", tangannya merentang lebar.
"Kamu tidak akan lewat, Sultan Ducati! Kanaya adalah milik kami bersama!"
"Gue cuma mau latihan pentas, Rozak!" Rahmat melakukan nutmeg—mengalirkan bola di sela kaki Rozak.
Rozak terdiam kaku. Ia merasa harga dirinya sebagai Ketua Sekte runtuh seketika.
"Mustahil! ... dia melewatiku seolah aku ini tiang listrik...."
"Enggak lo juga tolol diam aja kayak patung!" Seru kesal para penonton.
Sementara itu, di pinggir lapangan, Bella berteriak heboh. "AYO KAK RAHMAT! GOOOOL-IN! KALAU GOL AKU KASIH GORENGANNYA DUA!"
Mendengar janji gorengan dari gadis SMA Batu Bara itu, energi Rahmat seolah mendapat buff tambahan. Ia melesat melewati tiga orang anggota "Garda Depan Alya" yang mencoba menjepitnya. Mereka bertabrakan satu sama lain karena Rahmat tiba-tiba berhenti mendadak.
"Woy! Hati-hati dong!"
"Elu yang nabrak, kampret!"
"Fokus ke bola kocak! Jangan malah berantem terus!"
Kekacauan terjadi. Sepuluh orang itu malah saling menyalahkan. Rahmat memanfaatkan momen itu untuk menendang bola ke arah gawang lawan.
TAK!
Bolanya ringan, kena angin sedikit langsung melenceng ke arah Danu yang lagi asyik minum es teh di gawang sebelah.
"Woy, Mat! Bolanya ke sini!" teriak Danu. Ia refleks menendang bola itu kembali ke depan dengan kaki kirinya.
Bola plastik itu melambung tinggi, terkena angin panas , lalu memantul di kepala Rozak yang sedang bengong.
Plak
"Bajingan apaan in!" Dia mengaduh kesakitan. Kocak efek dari pantulan bola itu malah mengarah ke ambang kekalahan mereka.
akhirnya... pelan-pelan... masuk ke gawang lawan yang kosong melompong karena semua orang tadi sibuk ngejar Rahmat.
GOL!
Keheningan melanda lapangan selama tiga detik.
"TIDAK MUNGKIIIIIN!" Rozak berlutut dramatis.
"Kalah karena sundulan tidak sengaja?! Ini pasti konspirasi sistem!"
"Tidak! Kalin serius yang main ngapa!?" Teriak para penonton geram karena Melih tingkah kocak mereka.
Alfian yang baru ketemu kacamatanya langsung lemas lagi.
"Kita... kita harus jadi cheerleaders?"
Rahmat berjalan santai ke tengah lapangan, menjabat tangan Danu. "Nice assist, danu. Es teh lo emang sakti."
Bella berlari masuk ke lapangan, mengabaikan peraturan "larangan orang luar masuk area sekolah". Ia menyodorkan botol air dingin ke Rahmat. "Keren banget! Kak Rahmat tadi kayak Messi, tapi versi lebih ganteng!"
[ DING! ]
━━━━━━━━━━━━━━━
[MISSION PROGRESS]
* Skor: 1 - 0 (Menuju Pembantaian).
* Kondisi Mental Lawan: Hancur Lebur.
* Saran: Cetak satu gol lagi untuk menutup penderitaan mereka.
━━━━━━━━━━━━━━━
Alfian berdiri lagi, wajahnya penuh tekad yang salah arah. "Belum selesai! Ini baru satu gol! Pasukan! Formasi 'Cinta Tak Sampai'! Rapatkan pertahanan!"
"SERBUUUU!"
Kali ini alfian menjadi kiper sorot matanya kembali serius. Ia berubah menjadi seorang defender terbaik.
Alfian berdiri di depan gawang dengan kaki gemetar namun tatapan matanya berubah total. Ia tidak lagi membetulkan kacamatanya yang miring; ia membiarkannya begitu saja. Ada aura aneh yang menyelimuti tubuh kurus itu, seolah-olah ia baru saja memencet tombol overdrive.
"Pasukan! Jangan biarkan Rahmat lewat! Aku yang akan menjadi benteng terakhir!"
teriak Alfian, suaranya tidak lagi cempreng, melainkan penuh wibawa yang membuat Rozak dan sisa anggota sekte lainnya merinding.
"Wuidih, Alfian kerasukan setan apa nih?" celetuk Danu sembari menyedot sisa es tehnya.
Rahmat menyipitkan mata. Suasana jadi aneh, alfian sedikit berubah. Aura ini sama seperti saat dia berhadapan dengan Reno Tempo hari, dia tahu bahwa alfian bukan orang sembarangan sejak hari itu.
Ia mulai menggiring bola plastik macan itu lagi. Kali ini, ia tidak bermain-main. Rahmat menggunakan 30% kecepatan fisiknya, hanya 30% tentu saja itu sudah sangat cukup untuk amatiran begini.
Ia melesat seperti bayangan, melewati Rozak dan tiga orang lainnya dalam sekejap mata hingga mereka hanya bisa merasakan angin kencang yang lewat.
"Gila?"
"Apaan barusan itu!?"
"Cepat banget!"
Dia sampai di gawang. Dia ingin mengakhiri semua drama ini dengan keputusaaan semua orang, maka dari itu dia mengeluarkan kekuatan fisiknya sebesar 50%
"Sekarang!"
Rahmat mengayunkan kaki kanannya dengan tenaga yang cukup untuk membuat bola plastik itu melesat lurus dan tajam.
WUSH!
Bola itu meluncur kencang ke pojok atas gawang. Secara teori, tidak ada manusia normal—apalagi kutu buku seperti Alfian—yang bisa bereaksi terhadap kecepatan itu.
Itu kemampuan 50% bahkan manusia selevel kiper nasional tidak akan bisa merespon.
Namun, di luar dugaan...
HAP!
Alfian melompat dengan sinkronisasi yang sempurna. Ujung jarinya berhasil menyentuh permukaan bola plastik yang licin itu.
Meski bolanya tetap terpental keluar lapangan karena saking kencangnya, aksi Alfian barusan benar-benar di luar nalar. Ia mendarat dengan posisi berguling profesional, lalu bangkit berdiri dengan napas terengah-engah.
Lapangan mendadak hening. Sorak-sorai penonton terhenti.
Rahmat terpaku di tempatnya. Barusan itu... dia nyaris menangkap tendanganku? batin Rahmat heran. Ia tahu betul kecepatannya barusan tidak mungkin bisa diikuti oleh mata manusia biasa.
"Sial kita kalah! Dua poin nol. Sial!" Umpat alfian.
Dari semua orang itu mereka mengatakan bahwa itu sangat wajar, alfian tak mungkin bsia menang melawan siswa yang baru baru ini naik daun.
Namun bagi Rahmat itu seperti tendangan dari uluk hatinya. Dia bisa merespon 50% kemampuan kekutannya. Dia sebenarnya siapa?
Rahmat merasa aneh lalu dia melihat data-data Alfian dari kemampuan sistem dan seperti orang biasa saja.
Tidak begitu istimewa
[SYSTEM ANALYSIS: TARGET CHARACTER]
━━━━━━━━━━━━━━━
Nama: Alfian
Usia: 17 Tahun
Status: Siswi SMA Garuda Kelas XI IPS 2, ketua fans club alya.
Latar Belakang: Seorang siswa teladan yang terobsesi dengan budaya pop dan idol. Membangun "Garda Depan Alya" berawal dari hobi mengoleksi poster, yang kemudian berkembang menjadi organisasi massa sekolah yang cukup solid.
Nilai Kepribadian: 8/10 (Setia kawan, namun sedikit delusional jika menyangkut Alya).
Kemampuan Khusus:
[Pengetahuan Wibu - Grade A]: Mengetahui seluruh jadwal, makanan kesukaan, dan golongan darah Alya secara mendetail.
[Orasi Massa - Grade B]: Mampu menggerakkan sekumpulan jomblo hanya dengan modal teriakan "Demi Kesucian Alya!".
[Ketahanan Mental (Broken Heart) - Grade S]: Tetap tegak berdiri meskipun melihat idolanya dibonceng motor Ducati.
[Keberuntungan Konyol - Grade A]: Seringkali terhindar dari masalah besar karena situasi yang tidak masuk akal (seperti reflek tangkapan botol tadi).
Catatan Sistem: Tidak ada yang spesial dari jenis manusia ini hanya orang gila ngenes
Rahmat mengusap dagunya, menatap Alfian yang sedang memijat pinggangnya yang encok setelah melakukan penyelamatan gila tadi.
Hanya manusia biasa? batin Rahmat sangsi. Mana ada manusia biasa yang bisa menyentuh bola tendangan 50% kekuatanku hanya dengan modal keberuntungan?
"Woy, Rahmat! Jangan sombong lo ya!" teriak Alfian sembari membetulkan kacamatanya yang kini sudah penuh noda keringat. "Cuma kalah dua kosong doang! Besok-besok kalau gue udah latihan sama Kapten Tsubasa di mimpi, lo bakal kalah!"
"Heh, mimpi aja dulu sana," balas Rahmat, mencoba kembali ke mode santai. “Dan karena kalian kalah, ingat-ingat buat ikut latihan sebagai suporter kami, jangan lupa dengan rumbai-rumbai.”
“NANI!?”