NovelToon NovelToon
Kisah Cinta: Daisy Dan Tuan Jenderal

Kisah Cinta: Daisy Dan Tuan Jenderal

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Wahyuni Shalina

Daisy, seorang wanita muda berusia dua puluh tiga tahun dengan paras bak boneka, adalah sosok jenius di balik lagu-lagu hits global dan komik-komik legendaris yang merajai dunia. Meski hidup dalam kemewahan sebagai kerabat dekat Sang Raja, ia memilih tetap rendah hati. Namun, kebebasannya terusik saat kepulangannya dari Oxford disambut dengan berita perjodohan. Ia harus menikah dengan Matthew von Eisenberg, seorang Duke sekaligus Jenderal Agung berusia dua puluh enam tahun yang kaku dan dingin. Di balik kemegahan pernikahan mereka, ada dinding es yang tinggi. Enam bulan pertama berlalu dengan keheningan, hingga sebuah tugas negara memaksa Matthew pergi ke medan perang selama dua tahun, meninggalkan pernikahan yang bahkan belum sempat dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24: Ledakan di Balik Pintu Paviliun

Malam itu, aula pertemuan para bangsawan di Ibukota terasa seperti sarang ular yang dilapisi emas. Musik klasik mengalun lembut, namun di balik setiap senyuman dan denting gelas sampanye, ada bisikan-bisikan tajam yang siap menyayat.

Matthew berdiri di sudut ruangan dengan segelas wiski yang tidak ia sentuh. Pikirannya tidak di sana. Di saku seragamnya, terselip sebuah surat kumal yang ia terima sore tadi. Surat itu tanpa nama pengirim, namun isinya sangat spesifik mengenai Maira—mengenai bagaimana wanita itu menderita karena kekejaman masa lalu Matthew. Matthew tidak tahu itu mungkin provokasi, sebuah upaya dari musuh politiknya untuk merusak stabilitas mentalnya yang baru saja mulai tenang karena kehadiran Daisy. Namun, bagi pria yang sedang belajar mencintai dengan cara yang kaku, surat itu adalah racun yang manjur.

Di tengah aula, Daisy menjadi pusat perhatian. Ia mengenakan gaun sutra berwarna hitam yang kontras dengan kulit putihnya. Ia tampak begitu tenang, namun sebenarnya, Daisy sedang berperang dengan rasa pening di kepalanya. Ia sudah meminum beberapa gelas cocktail kuat untuk menutupi rasa cemburu dan bingungnya atas sikap Matthew yang mendadak dingin. Gengsinya melarangnya untuk terlihat lemah, jadi ia mengkondisikan dirinya seolah-olah ia adalah ratu es yang tak tersentuh.

Tiba-tiba, langkahnya terhenti. Beatrice, putri seorang marquis yang sudah lama menyimpan dendam karena kalah bersaing mendapatkan posisi Duchess Eisenberg, berdiri di hadapannya.

"Ah, Duchess Daisy. Kita bertemu lagi. Kau tampak... sedikit pucat malam ini," Beatrice berbisik dengan nada manis yang berbisa. "Atau mungkin kau baru menyadari bahwa kau hanyalah pengganti untuk pelayan rendahan itu yang sebenarnya? Kudengar Jenderal kesayanganmu itu sedang sibuk mencari jejak kekasih lamanya lagi. Kasihan sekali, kau punya segalanya, tapi suamimu tetap mencari bayangan wanita lain."

Daisy terdiam. Kepalanya yang sudah berat akibat alkohol terasa berdenyut lebih kencang. Ia tidak membalas. Ia hanya menatap Beatrice dengan tatapan kosong yang dingin, lalu berjalan melewatinya begitu saja. Namun, kata-kata itu—pengganti, kekasih lama—meresap masuk ke dalam hatinya yang sedang rapuh.

Perjalanan pulang ke Eisenberg Manor berlangsung dalam keheningan yang mematikan. Matthew duduk di sisi lain mobil, matanya menatap keluar jendela, sementara Daisy memejamkan mata, berusaha menahan mual dan gejolak emosi yang ingin meledak.

Begitu mobil berhenti di depan paviliun, Daisy turun dengan langkah yang sedikit tidak stabil. Matthew segera menyusulnya, mencoba meraih lengannya karena menyadari Daisy berjalan agak sempoyongan.

"Saya bisa jalan sendiri, Jenderal," desis Daisy, menepis tangan Matthew dengan kasar.

Begitu mereka masuk ke dalam paviliun dan pintu utama tertutup, suasana yang tadinya beku mendadak mendidih. Matthew, yang merasa bingung dengan sikap Daisy yang semakin agresif sejak di pesta, mencoba menghadangnya di aula depan.

"Daisy, cukup. Kau sedang mabuk. Biarkan aku membantumu ke kamar—"

"Jangan sentuh saya!" Daisy berteriak. Suaranya pecah, sesuatu yang belum pernah didengar Matthew selama tiga tahun lebih.

Daisy berbalik dan menatap Matthew dengan mata yang merah—bukan karena alkohol, tapi karena air mata yang sudah menggenang. Ia melangkah maju dan mulai memukul dada bidang Matthew. Pukulannya tidak bertenaga, hanya seperti tepukan lemah bagi seorang jenderal seperti Matthew, namun setiap hantaman itu terasa menyakitkan bagi hati sang Jenderal.

"Dasar pria menyebalkan... Pria yang paling menyebalkan sedunia!" Daisy terus meracau, memukul dada Matthew berulang kali. "Kenapa Anda pulang? Kenapa Anda harus membuat saya merasa seperti ini?"

Matthew terpaku. Ia membiarkan Daisy memukulnya. Ia tidak tahu apa yang terjadi. Ia tidak tahu bahwa Daisy baru saja bertemu Beatrice yang meracuni pikirannya. Yang ia tahu, istrinya yang biasanya tenang dan kaku, kini sedang hancur di depannya.

"Daisy, tenanglah..." Matthew mencoba menangkap kedua tangan Daisy, namun Daisy terus memberontak.

"Anda membohongi saya! Anda benar-benar menyebalkan, Anda mengabaikan saya, Anda hanya menganggap saya aset!" Tangis Daisy pecah. Ia menyandarkan dahinya di dada Matthew, tangan kecilnya masih terus memukul lemah kancing-kancing seragam Matthew. "Dasar pria menyebalkan... Saya benci Anda... Matthew, saya benci Anda..."

Matthew merasakan kemejanya mulai basah oleh air mata Daisy. Rasa posesif dan pelindung di dalam dirinya bergejolak hebat. Ia tidak peduli lagi pada surat palsu tentang Maira. Ia tidak peduli lagi pada ketakutannya menjadi monster. Melihat Daisy seperti ini membuatnya sadar bahwa ketakutannya akan menyakiti Daisy justru sedang menyakiti wanita itu lewat pengabaiannya.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Matthew melingkarkan lengannya yang kokoh di sekeliling tubuh Daisy. Ia menarik Daisy ke dalam pelukan yang sangat erat—pelukan yang seolah-olah ingin menyatukan kembali kepingan hati Daisy yang retak.

"Dasar... pria... menyebalkan..." igauan Daisy melemah. Ia sudah tidak memiliki tenaga lagi untuk memukul. Ia hanya bisa terisak di pelukan Matthew, menghirup aroma cendana yang selalu ia rindukan di tengah kebenciannya.

Matthew menggendong Daisy, kali ini dengan sangat lembut, bukan seperti karung beras, melainkan dengan posisi yang sangat intim. Dia menggendong istrinya dengan posisi seperti bayi yang tidur dalam dekapan dadanya. Ia membawa Daisy menuju kamar mereka. Sepanjang jalan, Daisy tetap menggumamkan kata-kata yang sama, "Menyebalkan... Matthew menyebalkan..."

Di dalam kamar yang gelap, Matthew membaringkan Daisy di tempat tidur. Ia melepaskan sepatu Daisy dengan gerakan yang sangat pelan. Ia menarik selimut hingga ke leher istrinya. Matthew duduk di tepi ranjang, menatap wajah Daisy yang masih tersedu-sedu dalam tidurnya.

"Aku memang menyebalkan, Daisy," bisik Matthew pelan. Ia mengusap pipi Daisy yang basah dengan jemarinya yang kasar.

Matthew merogoh sakunya, mengeluarkan surat provokasi tentang Maira itu, lalu meremasnya hingga hancur. Ia tidak menyadari bahwa seseorang di luar sana sedang mencoba menghancurkan satu-satunya hal yang membuatnya merasa hidup. Seseorang sengaja memprovokasi mentalnya agar ia menjauh dari Daisy.

Daisy bergerak sedikit dalam tidurnya, tangannya meraba-raba mencari sesuatu. Matthew memberikan tangannya untuk digenggam oleh Daisy. Genggaman Daisy sangat erat, seolah-olah ia takut Matthew akan menghilang menjadi hantu lagi.

"Jangan pergi... pria menyebalkan..." gumam Daisy sekali lagi sebelum ia benar-benar tenggelam dalam tidur yang lelap akibat alkohol.

Matthew tidak pergi. Ia tetap duduk di sana, membiarkan tangannya digenggam oleh Daisy sepanjang malam. Pagi harinya, Daisy pasti akan kembali ke mode gengsi setinggi langit dan kembali memanggilnya "Jenderal". Ia pasti akan pura-pura lupa tentang kejadian memukul dada semalam.

Namun, bagi Matthew, semuanya sudah berubah. Ia tidak akan lagi menjadi hantu. Jika ia harus menjadi monster untuk melindungi kebahagiaan Daisy dari orang-orang seperti Beatrice atau pengirim surat misterius itu, maka ia akan melakukannya.

Malam itu di Glanzwald, badai emosi telah berlalu, meninggalkan dua manusia yang meski masih saling kaku, namun mulai menyadari bahwa "kebencian" di antara mereka hanyalah bentuk lain dari rasa takut untuk saling mengakui cinta.

"Tidurlah, Daisy," bisik Matthew, menatap wajah istrinya di bawah cahaya rembulan. "Maafkan aku,"

1
Nia Nara
Pernikahan itu panjang, nanti 10 atau 20 tahun lagi, tiba2 maira kembali, terlalu beresiko.
Nia Nara
Kalau aku jadi daisy, aku tidak akan memberikan kesempatan kedua.
Fbian Danish
aku suka sekali ceritamu Thor. pendek, ringan, GK bertele2... cocok sekali untuk hiburanku disela puyengnya mikirin dunia😄😄 fighting thor💪💪💪💪
W.s • Bae: benar banget kak 😄 terimakasih ya😍🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!