Dita, siswi kelas 12 SMA, harus menerima nasib pahit ketika ayahnya yang terlilit hutang dan terbaring sakit memaksanya menikah dengan Arjuna, seorang polisi duda beranak satu.
Pernikahan itu dijadikan tebusan atas kecelakaan yang melibatkan Arjuna dan membuat ayah Dita kritis.
Meski tak sepenuhnya bersalah, Arjuna menyetujui pernikahan tersebut demi menebus rasa bersalahnya. Di tengah perbedaan usia dan penolakan putri Arjuna terhadap ibu sambungnya yang masih belia, Dita dan Arjuna harus menghadapi ujian besar untuk mempertahankan rumah tangga mereka.
Apakah cinta diantara mereka akan tumbuh, atau pernikahan itu berakhir dengan perpisahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejujuran yang menyesakan dada
Hari keberangkatan itu akhirnya tiba. Suasana di kediaman Diningrat sejak subuh tadi sudah diselimuti kesibukan yang emosional. Koper-koper besar milik Angga sudah tertata rapi di bagasi mobil. Langit Jakarta yang mendung seolah ikut merasakan beratnya perpisahan ini.
Di tempat lain, Maudy baru saja keluar dari pusat servis ponsel dengan senyum kemenangan yang mengerikan. Ponselnya akhirnya menyala kembali. Selama beberapa hari ini ia merasa buta dan tuli karena kehilangan semua nomor kontak orang-orang suruhannya, mantan anak buah Gareng yang masih berkeliaran.
"Tunggu pembalasanku, Dita. Foto ini akan menghancurkan mu hari ini juga," gumam Maudy sambil menatap layar ponselnya yang kini sudah berfungsi normal.
Bandara Internasional Soekarno-Hatta
Keluarga besar Diningrat berkumpul di area keberangkatan internasional. Dita berdiri di samping Arjuna, matanya menatap sosok Angga yang kini terlihat jauh lebih dewasa dengan jaket tebal dan tas ranselnya. Anehnya, rasa sedih yang dirasakan Dita tidak sedalam yang ia bayangkan beberapa hari lalu. Mungkin karena ia mulai menerima takdirnya, atau mungkin karena sosok Arjuna yang selalu berada di sisinya memberikan rasa aman yang berbeda.
Siena berdiri di antara kakek dan neneknya. Ajaibnya, hari ini ia tampak jauh lebih jinak. Tanpa kehadiran Maudy yang terus-menerus membisikkan racun di telinganya, Siena menjadi lebih kalem. Meski ia masih bersikap acuh tak acuh dan belum mau bicara pada Dita, setidaknya ia tidak lagi berteriak atau membuat ulah yang memalukan.
Arjuna menghela napas lega melihat perubahan putrinya. Ia merangkul pundak Dita dengan tangan kirinya yang sudah mulai pulih, memberikan kekuatan pada istrinya itu.
"Ga, jaga diri baik-baik di sana. Jangan lupa kabari Ibu kalau sudah sampai," isak Bu Kinan sambil memeluk putra bungsunya erat-alih.
Pak Prasetyo menepuk bahu Angga dengan bangga namun matanya tampak berkaca-kaca. "Belajar yang rajin. Bawa pulang gelar itu untuk kebanggaan keluarga Diningrat."
Bulan, kakak perempuan Angga, juga ikut memeluk adiknya. "Jangan nakal di negeri orang ya, Ngga! Jangan lupa oleh-olehnya!" goda Bulan di sela tangisnya.
Kini giliran Arjuna. Kedua kakak beradik ini saling berhadapan. Arjuna menarik Angga ke dalam pelukan laki-laki yang hangat. "Mas titip cita-citamu di sana. Jadilah pria yang tangguh."
Angga mengangguk mantap. "Terima kasih, Mas Juna. Jaga... jaga keluarga kita baik-baik."
Tatapan Angga beralih ke arah Dita. Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari, ia menatap mata Dita tanpa rasa benci atau dingin. Hanya ada sorot mata penuh perpisahan yang tulus.
"Dita... aku pamit. Titip Mas Juna dan orang tuaku," ucap Angga singkat namun sarat makna.
Dita mengangguk pelan, seulas senyum tipis menghiasi bibirnya. "Hati-hati di jalan, Ngga. Semoga sukses di Tokyo."
Suara pengumuman keberangkatan menggema di seluruh terminal. Angga melambaikan tangan untuk terakhir kalinya sebelum melangkah masuk ke dalam area imigrasi. Ia berjalan dengan mantap, membawa semua kenangan pahit dan manisnya di Jakarta untuk ia kubur dalam-dalam di bawah salju Tokyo nanti.
Arjuna menatap punggung adiknya hingga menghilang di balik kerumunan. Ia merasakan tangan Dita menggenggam jemarinya dengan lembut, seolah memberikan dukungan.
"Ayo kita pulang, semuanya sudah selesai di sini," ajak Arjuna dengan suara yang jauh lebih tenang.
Namun, ia tidak tahu bahwa di luar sana, Maudy sedang memacu mobilnya menuju rumah mereka dengan sebuah "bom" digital yang siap menghancurkan ketenangan yang baru saja mereka rasakan.
*
*
Setibanya di rumah dari bandara, kelelahan fisik dan mental tampak jelas di wajah Arjuna. Tanpa banyak bicara, ia langsung menuju lantai atas untuk beristirahat, mengingat tugas kepolisian sudah menantinya esok pagi buta.
Sementara itu, Dita memilih untuk menenangkan diri di taman belakang. Cahaya rembulan yang keperakan jatuh di hamparan rumput, menciptakan suasana tenang yang ia butuhkan. Tak lama, Bulan datang membawakan dua cangkir teh hijau hangat.
"Melamun saja, iparku yang cantik?" sapa Bulan ramah sambil menyodorkan cangkir.
Dita tersenyum tipis. "Hanya mencari udara segar, Mbak."
Keduanya pun terlibat obrolan panjang. Bulan yang hangat ternyata sangat terbuka, membuat Dita merasa diterima di keluarga ini. Perlahan, kecanggungan di antara mereka mencair, dan Dita merasa memiliki sosok kakak perempuan yang bisa diandalkan.
Di Dalam Kamar Utama
Arjuna baru saja meletakkan jam tangannya di meja kerja saat matanya menangkap secarik kertas yang terlipat rapi. Ia membukanya, mengenali tulisan tangan adiknya yang khas. Semakin dalam ia membaca, rahangnya semakin mengeras. Otot-otot di lehernya menonjol, dan tangan kirinya meremas kertas itu hingga ringsek tak berbentuk.
"Jadi, kekasih Aga itu... Dita?" bisik Arjuna dengan suara parau yang sarat akan guncangan. "Kenapa kau tidak bilang dari awal, Ga? Kalau aku tahu... aku tidak akan pernah mengambil kebahagiaanmu."
Arjuna terdiam, dadanya naik turun dengan napas yang memburu. Namun, di tengah rasa bersalahnya, muncul sebuah perasaan asing yang menyesakkan. "Tapi... kenapa hatiku sesakit ini? Kenapa aku merasa tidak rela jika Dita harus kulepaskan?"
Ia kembali membuka remasan kertas itu, membaca baris terakhir yang tersisa:
"...Tolong bahagiakan Dita, Mas Juna. Bahagianya adalah bahagiaku juga. Aku ikhlas. Aku yakin Mas akan mencintainya melebihi cintaku. Dan tolong, hati-hati dengan Tante Maudy, dia sudah tahu rahasia ini dan ingin menghancurkan kalian. Cegah dia sebelum Ayah dan Ibu tahu."
Wajah Arjuna berubah bengis. Kilat amarah terpancar dari matanya. "Kau tidak perlu khawatir, Aga. Aku akan membereskan Maudy. Tapi sebelum itu..." ia menjeda kalimatnya, "...aku butuh kejujuran dari wanita itu!"
Tepat saat itu, pintu kamar terbuka. Dita melangkah masuk dengan sisa senyum dari obrolannya dengan Bulan. Namun, senyum itu sirna seketika saat melihat Arjuna berdiri di tengah ruangan dengan sorot mata yang menakutkan, persis seperti saat ia sedang menginterogasi penjahat kelas kakap.
Tanpa peringatan, Arjuna menerjang maju dan mencengkeram kuat kedua bahu Dita, menekannya hingga Dita tersentak ke belakang.
"Apakah kau dan Aga adalah sepasang kekasih?!" desis Arjuna tepat di depan wajah Dita.
Deg!
Jantung Dita seolah berhenti berdetak. Lidahnya mendadak kelu, seluruh persendiannya lemas.
"A.... Apa maksudmu, Pak? Jangan bertanya yang aneh-aneh!" jawab Dita terbata-bata, mencoba melepaskan diri namun cengkeraman Arjuna terlalu kuat.
"Aku butuh kejujuran darimu, Dita! Katakan!" bentak Arjuna, dikuasai oleh rasa cemburu yang membakar logikanya. Ia merasa dikhianati, bukan oleh adiknya, tapi oleh kenyataan bahwa istrinya memiliki masa lalu yang begitu dalam dengan orang yang paling ia sayangi.
"A...aku... aku...!"
Belum sempat Dita menyelesaikan kalimatnya, Arjuna membungkam bibir gadis itu dengan lum*tannya yang rakus dan brutal. Ia mencium Dita dengan penuh tuntutan, seolah ingin menghapus jejak pria lain dari ingatan istrinya.
Dita terbelalak, tangannya memukul-mukul dada bidang Arjuna, berusaha memberontak karena merasa sesak napas. Namun Arjuna seolah tuli dan buta oleh emosi. Air mata Dita mulai mengalir deras membasahi pipinya, ia merasa terhina dan takut dengan sikap Arjuna yang dianggapnya tidak senon*h ini.
Suasana kamar yang semula tenang kini berubah menjadi medan badai emosi yang mencekam, menyisakan isak tangis Dita di tengah dominasi Arjuna yang tak terkendali.
Bersambung...
skrng saatnya hempaskan itu c ulat bulu Maudy jauh jauh Juna