Dalam kisah ini, seorang mantan aktivis kurus berkacamata bernama Tento dan sahabatnya Perikus, mantan santri absurd yang pernah lari dari pesantren, terjebak dalam konspirasi gelap. Mereka menyelidiki cairan misterius B16 yang disuntikkan ke karyawan pabrik, membawa mereka menyusuri lorong-lorong bawah tanah, desa, pasar, hingga pelabuhan. Di perjalanan, mereka bertemu profesor eksentrik, jurnalis pemberani, dan saksi-saksi yang hilang. Di balik thriller menegangkan ini terjalin humor liar, obrolan soto ayam, dan persahabatan yang tak lekang. Bahasanya jenaka, penuh panca indera, namun juga memaksa merenungkan keadilan. Ini adalah perjalanan menantang dari gang sempit Malang sampai gelapnya pelabuhan, di mana dua orang biasa menghadapi raksasa korporasi demi menyelamatkan nyawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Timotius Safari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Paspor dan Panggung
Musim hujan telah mulai menunjukkan tanda-tandanya di Malang. Hujan deras turun hampir setiap sore, membuat aroma tanah basah memenuhi udara dan memperlihatkan embun tipis di jendela rumah. Pohon-pohon trembesi di pinggir jalan menjatuhkan daunnya yang lebar, menutupi trotoar. Di teras rumah kontrakan, mereka duduk melingkar, kaki diselonjorkan, mengelilingi beberapa piring pisang goreng dan tempe mendoan yang baru digoreng. Uap panas menguap dari cangkir teh melati. Suara hujan di atap seng menjadi latar belakang obrolan mereka.
“Kita diundang ke Geneva,” ucap Rina, menatap layar ponselnya. “Email dari Global Research Ethics Council sudah masuk. Mereka mau kita berbagi pengalaman di konferensi mereka bulan depan. Mereka juga mengajak kita untuk melakukan workshop tentang partisipasi komunitas dalam penelitian.” Ia tersenyum, tetapi ada kekhawatiran di matanya. “Mereka bilang, semua biaya ditanggung. Tapi kita butuh paspor, visa, dan persiapan mental.”
Budi memiringkan kepala, seolah melamun. “Aku belum pernah ke luar negeri,” katanya. “Pesawat ke Kalimantan saja sudah bikin aku pusing. Bagaimana kalau delapan belas jam terbang? Dan makanan Eropa? Apakah ada sambal?” Mereka tertawa. Perikus menepuk bahu Budi. “Aku juga belum pernah. Tapi kita harus terbang seperti reog terbang,” katanya, mengibaratkan hal lucu. “Bahasanya begitu, kita harus terbang lebih tinggi.”
Pak Hadi masuk membawa dua amplop besar. “Ini paspor kalian,” katanya. “Kami mengurusnya cepat di kantor imigrasi. Petugasnya baik, katanya kalian harus segera pergi. Tapi untuk visa, kita harus ke Kedutaan Swiss di Jakarta.” Mereka membuka paspor, melihat foto mereka dengan latar belakang biru. Budi memandangi fotonya, tertawa. “Aku terlihat seperti bos mafia,” katanya. Mereka tertawa.
Mereka mulai bersiap-siap. Mereka mencari informasi tentang visa Schengen dan persyaratan. Rina membuat daftar: surat undangan, paspor, foto, rekening bank, surat sponsor dari lembaga. Mereka pergi ke toko fotokopi untuk mencetak dokumen. Aroma tinta printer memenuhi ruangan, suara mesin fotokopi terus berputar. Anak-anak sekolah berdiri di samping, mencetak tugas. Mereka menandatangani berbagai surat. Budi bertanya, “Kenapa kita harus membuktikan kita punya uang? Apakah mereka takut kita menjarah keju?” Rina tersenyum. “Begitulah persyaratannya, supaya mereka yakin kita akan pulang. Mereka tidak tahu, kita senang pulang untuk makan soto,” jawabnya.
Untuk biaya tak terduga, mereka memutuskan mengadakan acara amal di Malang. Mereka meminjam balai RW, memasang poster “Konser Amal: Dari Soto ke Geneva.” Budi menggambar poster lucu: reog membawa mikrofon, di latar belakang Danau Toba dan Menara Geneva. Mereka mengundang komunitas musik lokal, tarian reog, stand-up comedy. Pakde Selam mengirim soto ayam gratis; Bu Rini menyumbang pangsit goreng; Pak Surya dari Kalimantan mengirim amplop berisi uang dari hasil penjualan ikan bakar; Rina menghubungi teman bandnya; Budi mengajak seniman menggelar pameran kecil.
Malam konser, balai penuh. Lampu-lampu warna-warni menggantung, panggung kecil dipasang. Bau sate ayam, soto ayam, dan gorengan bercampur, menggoda perut. Anak-anak berlarian, mengenakan topeng reog dari kertas. Budi membuka acara dengan lawakan. “Selamat malam, semua. Terima kasih datang. Kami bukan band, tapi kami akan membawa suara ke Geneva. Jadi beli tiket, dan doakan kami tidak tidur sepanjang pesawat.” Gelak tawa pecah. Perikus tampil dengan stand-up, bercerita tentang pengalamannya menyamar sebagai janitor di bandara. “Jadi, aku menyamar jadi petugas kebersihan, masuk ke area diplomatik, menempelkan pelacak. Tapi satu-satunya yang lebih takut dari itu adalah ketika ibu kos menagih uang kontrakan,” katanya, membuat penonton terpingkal. Rina bernyanyi lagu perjuangan, suaranya merdu. Orang-orang menangis dan tertawa. Mereka mengumpulkan cukup dana untuk tiket kereta dan biaya visa. Mereka merasa hangat, didukung komunitas.
Beberapa hari kemudian, mereka berangkat ke Jakarta. Mereka duduk di kereta ekonomi, membawa tas berisi berkas dan amplop. Di stasiun Gambir, mereka naik taksi ke kawasan Kuningan tempat kedutaan Swiss. Gedung kedutaan tampak megah, dinding kaca, dikelilingi taman dan petugas keamanan. Mereka mengantri di luar bersama orang-orang berpakaian rapi yang akan ke Eropa untuk bekerja atau berlibur. Perempuan bermata biru di loket memeriksa berkas mereka. “Pendaftaran?” katanya. Rina menyerahkan dokumen. “Kami ingin visa Schengen,” katanya. Petugas memeriksa. “Apa tujuan kunjungan Anda?” Rina menjelaskan konferensi. “Kami diundang, dan biaya ditanggung.” Petugas mengangguk, mengetik. “Silakan duduk. Kami akan memanggil.”
Mereka duduk di kursi plastik, memandang layar yang memanggil nomor. Ruangan ber-AC, bau plastik dan parfum. Mata mereka menatap jam. Setelah setengah jam, nomor mereka dipanggil. Mereka menuju bilik kaca. Pria berkacamata memeriksa paspor, foto, surat. “Kenapa Anda semua pergi? Apakah Anda punya pekerjaan tetap di sini?” tanya pria itu. “Kami kerja sukarela di yayasan,” jawab Rina. “Kami akan pulang.” Pria itu mengangguk. “Kalau begitu, visa akan jadi dalam seminggu. Ini bukti, silakan cek email,” katanya. Mereka keluar, merasa lega. “Ternyata tidak drama,” kata Budi. “Aku pikir mereka akan bertanya apakah kita punya keju di rumah,” tambahnya. Mereka tertawa.
Saat mereka di Jakarta, mereka menerima pesan dari LPSK. “Mohon hadir di sidang putusan Singh minggu depan,” bunyi pesan. Mereka menatap satu sama lain. “Kita harus menghadiri. Ini penutup kasus ini,” kata Profesor. Mereka mengatur jadwal. Mereka menunggu visa dan sidang.
Sementara menunggu, mereka bekerja mengurus yayasan. Mereka membuat poster, brosur, website. Mereka menulis testimoni para korban. Mereka bertemu mahasiswa kedokteran yang ingin belajar tentang etika penelitian. Mereka bertemu dokter-dokter muda yang bersumpah tidak akan menjadi Singh kedua. Mereka menghadiri kuliah umum, menjelaskan B16, B17, B18. Rina berbicara tentang kekuatan komunitas. Perikus berbicara tentang keajaiban minyak kayu putih (dengan humor). Budi menunjukkan lukisan-lukisannya: satu menggambarkan Joko dengan topeng reog, di belakangnya pabrik; satu menggambarkan reog menempelkan pelacak ke kapal. Lukisan-lukisannya dipamerkan di kafe, menarik anak muda. “Seni bisa menyampaikan apa yang tak bisa diucap,” kata Budi, sambil duduk di kursi kafe, meminum cappuccino. Orang-orang membeli lukisan, uangnya masuk ke yayasan.
Setelah seminggu, visa mereka siap. Mereka mengambil paspor di kedutaan. Pada hari yang sama, mereka menghadiri sidang putusan Singh. Pengadilan penuh wartawan, aktivis, dan korban. Hakim membacakan putusan dengan suara datar: “Terdakwa Anand Singh terbukti bersalah atas pelanggaran etika, eksploitasi manusia, dan korupsi. Dijatuhi hukuman penjara 20 tahun dan denda sekian miliar.” Ruangan hening sejenak, lalu riuh. Singh menunduk, ekspresinya datar. Widya duduk di belakang, menatap ke bawah. Wajah Pak Hadi terlihat lega, tetapi ada kesedihan. “Ini belum mengembalikan anak-anak kita,” katanya. Joko, yang duduk di barisan depan dengan kursi roda, menatap Singh. “Semoga dia sadar,” bisiknya. Dr. Singh dibawa keluar dengan borgol. Media memburu, menyorot, menulis.
Malam itu, mereka berkumpul di warung Pak Mulyono, merayakan putusan. Pak Mulyono menyalakan lampu lampion, menyiapkan kopi lebih dari biasanya. Warga berdatangan, membawa kue, buah, dan tawa. Mereka memutar lagu-lagu lama, menari. Seorang anak kecil dengan topeng reog menari di depan mereka, terjatuh, bangun lagi, tertawa. Budi menggosok kepala anak itu. “Kamu reog berikutnya,” katanya. Anak itu tersipu. Saat malam semakin larut, mereka membahas Eropa. “Kita perlu belajar bahasa sedikit,” kata Rina. “Bonjour, thank you,” kata Budi sambil menirukan gaya Prancis, membuat yang lain tertawa. “Mereka pakai bahasa Jerman di Swiss,” kata Profesor. “Oh, ich liebe dich,” balas Budi, meski salah. Mereka tertawa lagi.
Beberapa hari kemudian, mereka menerima tiket dan itinerari. Mereka terbang ke Singapura, transit, lalu ke Zurich. Mereka membuat paspor di tas jinjing, khawatir hilang. Budi memegang tasnya erat, takut kecurian. Mereka berlatih presentasi: Rina bicara tentang pengalaman sebagai korban; Professor membahas etika penelitian; Budi bicara tentang seni dan humor sebagai alat perlawanan; Perikus bicara tentang kekuatan komunitas dan kearifan lokal; Pak Hadi menceritakan kisah Joko; Sondi ikut untuk mewakili Samosir. Mereka menyiapkan slide, memilih baju formal.
Hari keberangkatan tiba. Mereka berada di Bandara Soekarno-Hatta, mengurus bagasi. Suara pengumuman boarding, aroma kopi bandara, dan wajah-wajah asing. Mereka melewati imigrasi, menunjukkan paspor baru dengan bangga. “Selamat Jalan,” kata petugas, tersenyum. Mereka menunggu di gate, menatap pesawat besar yang akan membawa mereka. Budi menggenggam lengan kursi, gugup. Rina menenangkannya. “Kita akan baik-baik saja. Ini seperti perjalanan ke Danau Toba, tapi lebih tinggi,” katanya, tersenyum. Mereka naik pesawat, duduk, mendengarkan instruksi pramugari. Mesin pesawat berdengung, mulai bergerak, lepas landas. Mereka merasakan tarikan, kemudian ringan, melihat awan dari atas. Budi menutup mata, memegang rosario, bergumam pelan. “Akhirnya kita terbang lagi,” bisik Perikus, tertawa.
Mereka transit di Singapura, menunggu beberapa jam. Changi Airport memukau mereka dengan taman indoor, air terjun raksasa, dan toko mewah. Budi berkeliaran di dekat gardu kopi, mencoba cappuccino yang “lebih mahal dari soto,” katanya. Mereka melintasi petugas yang tersenyum, kamera, belanja. Mereka menaiki pesawat Swiss Airlines, terbang ke Zurich. Dalam penerbangan, mereka menonton film, mendengar lagu. Tento mencatat presentasinya, Rina membaca buku tentang etika riset, Budi menggambar pramugari dengan sayap, Perikus mendengarkan nasihat Pak Hadi tentang sopan santun di luar negeri. “Jangan lupa bilang danke,” kata Pak Hadi sambil menepuk bahu. Mereka tertawa.
Sesampainya di Zurich, udara dingin menyambut mereka. Napas mereka keluar seperti asap. Lampu-lampu bandara berwarna putih, petugas berseragam biru berbicara bahasa asing. Mereka mengambil bagasi, berjalan ke stasiun kereta. Kereta cepat membawa mereka ke Geneva. Di jendela, mereka melihat pegunungan Alpen yang tertutup salju, danau biru, rumah-rumah kayu. Budi menatap kagum. “Ini seperti film,” katanya. Mereka sampai di Geneva, kota yang cantik dengan bangunan tua, air mancur Jet d’Eau, dan bendera negara-negara.
Mereka masuk ke hotel sederhana, meletakkan tas, dan langsung tidur, jet lag. Esoknya, mereka pergi ke PBB, tempat konferensi diadakan. Mereka melihat gedung dengan pilar, bendera negara-negara berkibar. Mereka mengenakan batik, meletakkan name tag di dada: “Tento – Indonesia, Yayasan Joko Karin.” Mereka bersalaman dengan aktivis dari Afrika, Amerika Latin, Eropa. Semua tersenyum, berkata, “We support you.” Mereka duduk di ruangan besar, mendengarkan pembukaan. Bahasa Inggris dan Prancis bergema. Mereka mendengarkan penerjemah di headset. Profesor berbicara di panel, Rina mengangkat tangan, Budi menunjukkan lukisan, Perikus bercerita tentang minyak kayu putih, Sondi menyanyikan lagu Batak. Orang-orang terharu. Mereka berdiri, tepuk tangan. Perjalanan mereka dari warung kopi ke Geneva menjadi nyata.
Tapi kisah ini tidak berakhir di Geneva. Ketika mereka keluar dari gedung, mereka menerima pesan dari Maya: “Data menunjukkan B18 dikirim ke laboratorium rahasia di Jerman Timur. Orang yang membawanya adalah profesor kontroversial, Dr. Klaus. Dia punya koneksi ke perusahaan farmasi global. Hati-hati, jalan kalian akan lebih berat.” Mereka menatap gedung PBB yang megah, lalu menatap ponsel. Mereka sadar, perang belum selesai. Namun, di tangan mereka ada peta baru, keyakinan baru, dan dukungan internasional. Mereka menatap satu sama lain, tersenyum lelah. “Setelah ini, kita mungkin harus beli sepatu hiking,” kata Budi. “Kenapa?” tanya Rina. “Kita akan mendaki pegunungan Eropa. Bahasanya begitu, kita harus naik level,” jawabnya. Mereka tertawa, lalu berjalan di bawah langit biru Geneva, siap menghadapi tantangan berikutnya.