NovelToon NovelToon
Lini Masa Dibalik Lensa

Lini Masa Dibalik Lensa

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Anak Genius / Konflik etika / Murid Genius
Popularitas:433
Nilai: 5
Nama Author: Donny Kusuma Jaya

Arlan adalah seorang remaja SMA kelas 2 yang lebih suka mengamati dunia dari balik lensa kamera analognya daripada berinteraksi langsung. Baginya, cinta adalah konsep abstrak yang sulit difokuskan, sampai ia menemukan sebuah gulungan film tua di laboratorium sekolah yang tertukar dengan miliknya. Pencarian pemilik film itu membawanya pada perjalanan yang tidak hanya mengenalkannya pada cinta, tetapi juga pada keberanian untuk keluar dari zona nyaman.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Donny Kusuma Jaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Labirin Perak dan Perangkap Cahaya

Langkah kaki Arlan dan Maya bergema di atas konblok tua yang lembap. Gang Soka bukanlah sekadar jalan sempit; itu adalah usus dari Kota Gede yang melilit di antara tembok-tembok tinggi setinggi tiga meter. Cahaya matahari pagi hanya mampu mengintip tipis di celah-celah genting, menciptakan garis-garis chiaroscuro yang tajam kontras antara hitam pekat dan putih menyilaukan. Bagi Arlan, berjalan di sini terasa seperti masuk ke dalam mekanisme internal sebuah kamera raksasa yang sedang rusak.

"Lan, ada yang nggak beres," bisik Maya. Suaranya gemetar, tertelan oleh sunyi yang terlalu dipaksakan. "Biasanya jam segini warga sudah mulai mengetok perak. Tapi di sini... kok sepi banget?"

Arlan berhenti. Ia mengatur napasnya, mencoba mempertajam indra pendengarannya. Benar kata Maya. Kota Gede dikenal dengan detak jantungnya yang berupa dentingan palu pengrajin perak. Namun di Gang Soka, hanya ada desau angin yang terjepit di antara dinding bata. Ia meraba saku jaket denim hijaunya, memastikan kertas alamat itu masih ada.

"Sinyal benar-benar mati, May," ucap Arlan sambil melirik ponselnya yang kini tak lebih dari lempengan logam tak berguna. "Bukan cuma blur, tapi seolah-olah ada 'dinding' frekuensi di sekitar kita."

Mereka sampai di depan sebuah pintu kayu jati yang sudah menghitam dimakan usia. Di atas kusennya, tertempel nomor rumah yang sudah karatan: 13. Tidak ada papan nama "Sang Pencuci Perasaan". Hanya ada sebuah simbol kecil yang diukir sangat halus di gagang pintu: sebuah lingkaran dengan garis-garis fokus di dalamnya.

Arlan mendorong pintu itu. Tidak terkunci.

Begitu melangkah masuk, mereka disambut oleh aroma sulfur yang sangat kuat, bercampur dengan bau asam asetat—aroma khas ruang gelap fotografi yang sangat intens. Ruangan itu luas namun sesak oleh rak-rak yang dipenuhi botol kimia, gulungan negatif film yang tergantung seperti tirai, dan ratusan bagian kamera tua yang dibedah. Di tengah ruangan, sebuah lampu gantung kuno memberikan cahaya kuning yang berkedip-kedip.

"Selamat datang, Arlan Rayyan," sebuah suara berat bergema dari sudut ruangan yang gelap.

Bukan suara parau pria bertopi pet. Bukan pula suara tenang "Sang Pencuci Perasaan" yang dibayangkan Arlan. Suara itu memiliki nada dingin, penuh perhitungan, dan sangat familiar.

Seorang pria melangkah keluar dari balik tirai hitam. Si Kurator.

Ia masih mengenakan kacamata frame tipisnya, namun kali ini ia tidak memegang kamera tele. Di tangannya terdapat sebuah tablet digital yang menampilkan denah Gang Soka dengan titik-titik merah yang berkedip. Di belakangnya, dua pria berbadan tegap berdiri dengan tangan terlipat di dada.

"Lo... gimana bisa?" Arlan spontan menarik Maya ke belakang punggungnya.

"Arlan, Arlan... kamu pikir saya sebodoh itu?" Si Kurator tertawa kecil, suara tawanya memantul di antara botol-botol kimia. "Kamu membakar film itu di Tugu dengan sangat dramatis. Tapi kamu lupa satu hal: saya adalah seorang kurator. Saya tahu mana seluloid asli tahun 1950-an dan mana film stock baru yang sengaja kamu lumuri bahan kimia supaya bau lama."

Arlan terdiam. Rahangnya mengeras. Ternyata triknya di Tugu sudah terbaca.

"Kamu pikir saya membiarkanmu pergi dari Tugu karena saya takut polisi?" Si Kurator melangkah maju, memamerkan layar tabletnya. "Saya membiarkanmu pergi supaya kamu membawa saya langsung ke sini. Ke bengkel milik 'Sang Pencuci Perasaan'. Tempat di mana seluruh arsip kakekmu yang sesungguhnya disimpan. Terima kasih sudah menjadi pemandu jalan yang sangat kooperatif."

Maya mencengkeram lengan jaket Arlan. "Lan, kita dijebak."

"Tepat sekali, Nona Maya," Kurator menoleh pada Maya dengan tatapan meremehkan. "Labirin Kota Gede ini punya satu kelemahan: hanya ada satu jalan masuk dan satu jalan keluar. Dan sekarang, anak buah saya sudah menutup kedua ujung Gang Soka dengan perangkat jammer sinyal tingkat militer. Di sini, tidak ada pameran digital, tidak ada share location, dan tidak ada bantuan."

Kurator kembali menatap Arlan. "Sekarang, berikan 'Kamera Ketiga' milik kakekmu. Saya tahu Bara—pria bertopi pet yang malang itu—sudah memberi tahu lokasinya melalui kertas di sakumu. Serahkan, atau saya akan memastikan ruangan ini menjadi ruang gelap abadi untuk kalian berdua."

Arlan memutar otak dengan cepat. Matanya menyisir ruangan. Ia melihat baki-baki berisi cairan kimia yang masih basah. Ia melihat sebuah lampu flash studio tua yang berdiri di pojok kiri, kabelnya terhubung ke stopkontak dinding.

"Gue nggak punya kamera itu," ucap Arlan, mencoba mengulur waktu. "Bara cuma kasih alamat, bukan barangnya."

"Jangan berbohong!" bentak Kurator. "Kakekmu menyembunyikannya di sistem 'Pencucian Perasaan'. Di suatu tempat di balik tembok ini ada kompartemen rahasia. Cari, Arlan! Gunakan mata fotografimu!"

Salah satu anak buah Kurator merenggut Maya, menariknya menjauh dari Arlan.

"Lepasin dia!" teriak Arlan.

"Cari kameranya, atau Maya akan kehilangan 'fokus'nya selamanya," ancam Kurator sambil mengeluarkan sebotol kecil cairan asam kuat dari rak. "Satu tetes ini di wajah seorang pelukis, dan dunianya akan menjadi abstrak permanen."

Darah Arlan mendidih. Ia dipaksa untuk berpikir dalam tekanan shutter speed yang ekstrem. Ia melihat ke arah lampu flash studio lagi. Ia ingat pelajaran dasar fotografi: cahaya yang terlalu kuat akan membutakan sensor, baik itu sensor kamera maupun mata manusia.

"Oke! Oke, gue cari!" Arlan mengangkat tangannya, berpura-pura menyerah.

Ia melangkah perlahan menuju meja kerja yang penuh dengan botol kimia. Tangannya meraba permukaan meja, seolah sedang mencari tombol rahasia. Namun, matanya tertuju pada sebuah botol besar berisi Magnesium bubuk bahan kuno untuk menghasilkan cahaya kilat yang sangat besar sebelum lampu flash elektrik ditemukan.

"Kakek gue pernah bilang," Arlan mulai bicara dengan nada rendah, tangannya diam-diam meraih kabel lampu studio dan mencampurkan sedikit bubuk magnesium ke dalam baki pengembang yang terbuka. "Fotografi bukan cuma soal nangkep cahaya, tapi soal gimana kita ngerusak kegelapan."

"Apa yang kamu bicarakan?!" Kurator mulai curiga.

"SEKARANG, MAY! TUTUP MATA!" teriak Arlan.

Arlan menendang kabel lampu studio tepat ke dalam baki kimia yang sudah ia campur bubuk magnesium. Terjadi reaksi arus pendek yang memicu ledakan cahaya putih yang luar biasa menyilaukan—sebuah bom cahaya manual yang kekuatannya sepuluh kali lipat dari flash kamera biasa.

BLAAAAAASSSSSSSTTTT!

Seluruh ruangan putih seketika. Si Kurator dan anak buahnya berteriak kesakitan, menutupi mata mereka yang terkena overexposure mendadak. Dalam kegelapan yang menyusul setelah bintik-bintik cahaya putih di mata, Arlan menyambar tangan Maya.

"Lari, May! Lewat pintu belakang lab!"

Arlan tidak butuh melihat. Ia sudah merekam denah ruangan itu di kepalanya saat pertama kali masuk. Mereka menabrak tirai hitam, melewati barisan botol yang pecah, dan keluar melalui jendela kecil yang menuju ke gang tikus di belakang bangunan.

Mereka berlari menembus labirin Kota Gede. Kali ini, Arlan tidak mengandalkan mata, tapi insting. Ia mengikuti arah angin dan bau perak yang mulai tercium dari bengkel-bengkel warga yang jauh.

"Lan... mereka... mereka masih ngejar!" Maya terengah-engah, suaranya hampir hilang.

Suara sepatu boots yang berat terdengar menghantam konblok di belakang mereka. Si Kurator tidak melepaskan mereka begitu saja. Di labirin ini, Kurator memiliki keunggulan teknologi: ia memiliki drone kecil yang kini berdenging di atas kepala mereka, memantau pergerakan mereka dari udara meskipun sinyal seluler mati.

"Masuk ke sini!" Maya menarik Arlan ke sebuah celah sempit di antara dua rumah tua yang hampir roboh.

Mereka berhimpit di dalam celah yang hanya selebar 40 centimeter. Arlan bisa merasakan detak jantung Maya yang berpacu kencang bersentuhan dengan dadanya. Bau jaket denimnya yang apek terkena keringat bercampur dengan wangi rambut Maya yang kini acak-acakan.

Di luar celah, drone itu lewat dengan suara dengungan yang mengancam. Bayangan anak buah Kurator melintas cepat.

"Kenapa mereka sebegitu pengennya sama kamera itu, Lan?" bisik Maya di sela napasnya yang berat.

Arlan merapatkan tubuhnya, mencoba menghalangi Maya dari pandangan luar. "Karena kamera itu isinya bukan cuma foto. Kakek gue pake teknik 'Double Exposure' yang ekstrem. Di bawah foto pemandangan yang kelihatan biasa, ada data lokasi persembunyian emas rampasan perang yang dipake buat mendanai politik kotor keluarga elit sekarang. Kalau foto itu dicuci dengan teknik 'Pencuci Perasaan', lapisannya bakal kebuka."

"Dan si Kurator itu... dia bekerja buat keluarga itu?"

"Mungkin lebih dari itu. Mungkin dia salah satu dari mereka."

Tiba-tiba, suara dengungan drone berhenti tepat di depan celah mereka. Lampu merah kecil dari kamera drone itu berkedip, seolah-olah sedang mengunci target.

"Ketemu," suara Kurator terdengar dari speaker kecil di drone tersebut, dingin dan menang.

Arlan menatap lensa kecil di drone itu. Ia tidak lagi merasa takut. Ia meraih kamera analognya, melepaskan tutup lensa A.R., dan kali ini ia tidak membidik untuk keindahan. Ia menggunakan lensa beratnya sebagai senjata.

BRAKK!

Arlan menghantamkan kameranya tepat ke arah drone yang terbang rendah itu hingga hancur berkeping di lantai gang.

"Kita nggak bisa terus lari, May," Arlan menatap Maya dengan tatapan yang paling fokus yang pernah ia miliki. "Labirin ini harus berakhir di sini. Kita harus cari 'Sang Pencuci Perasaan' yang asli. Dia satu-satunya orang yang tahu gimana cara ngelawan balik dengan cara mereka."

"Tapi dimana dia, Lan? Rumah nomor 13 tadi ternyata jebakan."

Arlan teringat kembali stempel di kertas tua itu. Lensa kamera yang dikelilingi rantai. Di dalam gang Kota Gede, ada satu tempat yang memiliki simbol yang sama, namun bukan di pintu. Melainkan di sebuah sumur tua di tengah pemukiman.

"Sumur perak," gumam Arlan. "Ayo, May. Kita harus ke pusat labirin ini."

Di kejauhan, suara langkah kaki kembali mendekat. Perburuan di Kota Gede memasuki babak paling mematikan. Cahaya matahari pagi kini mulai naik tinggi, namun bagi Arlan dan Maya, pertempuran yang sesungguhnya baru saja akan dimulai di bawah tanah, di tempat di mana perasaan dan sejarah dicuci hingga bersih.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!