Nasib Alea, memutuskan menikah dengan pria yang sudah dia pelajari selama kurang lebih 2 tahun.
Siapa sangka pernikahan itu tidak sesuai dengan impian. Keluarga dari suaminya bukanlah orang sembarangan, menginginkan keturunan yang jelas dari menantu mereka. Alea jelas mampu memberikan keturunan untuk keluarga suaminya.
Tetapi masalah sesungguhnya bukan terjadi pada dirinya, tetapi pada Dharma suaminya yang mengalami masalah pada hubungan seksual.
Sampai akhirnya kekonyolan dari sang suami, meminta sahabatnya yang sudah dianggap sebagai keluarga untuk menggantikan posisi dirinya menanamkan benihnya rahim istrinya.
Bagaimana Alea menghadapi pernikahannya yang tidak waras, terjerat dalam hubungan yang tidak benar dengan sahabat suaminya. Lalu apakah Alea akan bertahan dan justru menjalin hubungan intes dengan Raidan sahabat suaminya?"
Ayo jangan lupa untuk memberi dukungan pada karya saya, baca dari bab 1 sampai akhir dan jangan pernah nabung bab....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonecis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30 Ketahuan
Alea dan Raidan terlihat berada di atas ranjang di ruangan pribadi Raidan. Raidan bersandar di kepala ranjang dan sementara Alea berbaring dengan berbantalkan paha Raidan.
"Apa hubungan kita berdua juga sama saja dengan hubungan Dharma dan mantan sekretarisnya itu?" tanya Alea
"Perselingkuhan maksud kamu?" tanya Raidan sembari mengusap-usap pucuk kepala Alea.
"Hmmmm, bukankah perselingkuhan itu dimulai ketika berpamitan pergi dengan penuh kebohongan, tidak bisa tampak tenang dan selalu ada rasa takut, was-was akan ketahuan," ucap Alea.
"Dharma yang memulai semuanya, ide gilanya membuat kita berdua terjerat dalam hubungan ini, aku tidak mungkin melupakan wanita yang pertama kali aku sentuh bahkan aku adalah laki-laki yang menyentuhnya pertama kali," jawab Raidan.
"Lalu sampai kapan semua ini? Sebenarnya aku ingin lepas dari pernikahan ini, tapi aku tidak memiliki keberanian apapun. Aku takut jika Dharma akan mengganggu keluargaku, jika aku nekat mengambil keputusan untuk berpisah darinya," ucap Alea.
"Wajar saja jika kamu memikirkan hal itu. Tetapi bukan berarti kita berdua tidak berusaha. Kita akan terus berusaha sampai menemukan jalan keluar dari semua ini. Alea saat ini kamu sedang mengandung anakku dan aku tidak rela anak itu menjadi cucu orang lain dan juga putra orang lain," ucap Raidan terdengar begitu serius.
"Aku juga tidak rela jika aku dijadikan hanya sebagai tempat memproduksi untuk menguntungkan Dharma," jawab Alea.
Raidan tersenyum dan kemudian mengecup bibir Alea. Hubungan rahasia mereka semakin lama memang akan semakin terus terjalin tanpa sepengetahuan Dharma.
****
Ketika beberapa jam bertemu dengan Raidan. Alea keluar dari ruangan itu. Langkah terlihat begitu indah dengan wajahnya tampak fress yang sejak tadi senyum-senyum.
Alea berdiri di depan lift dengan memencet tombol lift tersebut. Saat pintu lift terbuka, Alea di kagetkan dengan Dharma berada di dalam lift sampai matanya melotot.
"Mas...." ucapnya.
"Sayang kamu tidak berniat untuk masuk?" tanya Dharma.
"I-iya," jawab Alea dengan terbata kemudian langsung masuk ke dalam lift dengan berdiri sebelah Dharma dan hanya mereka berdua yang ada di dalam lift tersebut.
Jantung Alea berdebar begitu kencang, layaknya seorang pencuri yang baru saja ketahuan dan lebih membuatnya takut Dharma tidak kaget melihat keberadaannya di perusahaan itu.
"Pita suara kamu bermasalah?" tanya Dharma terdengar begitu dingin membuat Alea melihat kearah Dharma.
"Batal janji dengan Sisil, jadi kamu bawa makanan itu ke kantor," ucap Dharma.
"Sisil...." sahut Alea.
"Hmmm, tidak sengaja tadi aku bertemu dengan Sisil. Aku mengingat bagaimana kamu sangat excited menyiapkan makan siang untuknya dan aku menanyakan keberadaan kamu yang kebetulan tidak bersamanya, ternyata 2 jam sebelumnya kalian membatalkan janji," ucap Dharma.
"Oh, iya. Sisil tiba-tiba saja ada janji dengan yang lain, jadi kami tidak jadi bertemu," jawab Alea dengan gugup.
"Lalu kamu berniat membawa makanan yang sudah kamu buat ke kantor, apa makanan itu dibawakan untukku?" tanya Dharma menatap penuh curiga.
Alea terdiam, pertanyaan itu hanya akan memberikan jawaban jebakan untuknya, jelaskan bekal yang sejak tadi dia pegang sudah kosong.
"Sayang, aku sedang bertanya pada kamu?" tanya Dharma menatap serius Alea.
"Iya. Tadinya aku ingin membawa makanan untuk kamu, makanan sebanyak ini tidak mungkin aku makan sendiri, tetapi ketika di kantor, aku tidak melihat kamu, jadi aku memberikannya kepada Raidan," jawabnya mau tidak mau harus jujur.
Dharma sangat mengetahui jika di kantornya Alea tidak memiliki orang yang dia kenal, karena sewaktu sebelum menikah dengan Dharma, Alea tidak bekerja di kantor itu melainkan di kantor lain.
"Raidan," sahut Dharma sedikit menekan suaranya ketika mendengar nama itu.
"Hanya tidak sengaja berpapasan. Aku tidak mungkin membawa makanan ini kembali pulang nanti juga tidak mungkin menunggu kamu, pasti rasanya sudah tidak enak," jawabnya.
"Begitu," sahut Dharma terdengar santai menarik nafas panjang dan membuang perlahan ke depan.
Tiba-tiba Dharma menghadap Alea dan melangkah mendekati Alea, refleks membuat Alea mundur sehingga tubuhnya sudah bersandar pada dinding lift, wajah cantik itu terlihat takut, tidak tahu apa yang dilakukan Dharma kepadanya yang tiba-tiba saja membelai rambutnya.
"Sayang, bukankah aku sudah mengatakan kepada kamu jangan pernah bertemu dengannya, jangan berbicara dengannya walau hanya sepatah kata saja, apalagi harus memberikan makanan yang kamu buat dengan sengaja, dengan penuh semangat kepada laki-laki itu. Aku bisa marah sayang," ucap Dharma dengan suara terdengar begitu menakutkan.
Alea tidak menyangka jika Dharma mulai mencurigai dirinya bertemu secara diam-diam dengan Raidan.
"Kamu mengerti?" tanya Dharma.
Alea menganggukkan kepala, Dharma tersenyum penuh dengan kemenangan.
"Jangan mengulanginya lagi. Oke, sebagai hukumannya kamu tidak akan boleh keluar rumah tanpa ada aku di samping kamu. Hmmmm, aku juga belum bertemu dengan Daniel, bukankah sebagai atasan harus berbincang-bincang dengan Daniel yang diberi tugas untuk menjaga istrinya," ucap Dharma.
Wajah Alea semakin panik dengan perbuatan Dharma. Bagaimana tidak, sudah pasti selama ini Daniel mengetahui pergerakannya, Daniel bahkan mengantarnya ke Bandara dan beberapa kali Daniel juga menyaksikan dia bertemu dengan Raidan.
"Mas mencurigaiku?" tanya Alea.
"Tidak sayang, apa yang harus aku curigai. Aku tahu istriku ini tidak mungkin melanggar aturan yang aku buat. Tetapi urusanku dengan Daniel adalah urusan pekerjaan, seorang bawahan harus melaporkan pekerjaannya pada atasan," ucap Dharma.
"Ya, itu memang urusan. Mas dengan Daniel," sahut Alea berusaha untuk setenang mungkin.
"Kamu tidak tersinggung, jika aku harus mempertanyakan bagaimana pekerjaannya selama menjaga kamu?" tanya Dharma.
"Untuk apa juga aku harus tersinggung, bukankah. Mas, baru saja mengatakan bahwa itu adalah urusan pekerjaan," jawab Alea dengan tersenyum dan sepertinya rasa takut dan sudah mulai hilang.
"Mas tiba-tiba saja bersikap seperti ini kepadaku, berbicara sedikit menakutkan dengan penuh kecurigaan dan menatapku dengan penuh selidik, padahal selama ini aku tidak pernah menaruh rasa curiga rasa curiga apapun kepada Mas. Walau belakangan ini hatiku mulai tidak tenang," ucap Alea.
Tiba-tiba saja dia berani untuk menyinggung suaminya itu.
"Apa maksud kamu Alea? Apa kamu curiga bahwa aku memiliki selingkuhan?" tanya Dharma.
"Semoga saja tidak dan tidak mungkin. Mas, memiliki selingkuhan," jawab Alea.
Dharma tersenyum mendengar perkataan istrinya itu.
Pintu lift kembali terbuka. Alea melihat ke arah depan pintu lift ternyata bukanlah lantai bawah.
"Ayo sayang!" ajak Dharma memegang tangan istrinya itu dan membawanya keluar dari dalam lift.
Alea cukup kebingungan dengan Dharma membawa Alea berjalan di koridor kantor dan lantai itu adalah lantai di mana menjadi ruangan Raidan.
"Mas kita mau kemana?" tanya Alea panik.
"Aku ada pekerjaan sebentar. Kamu harus menemani ku dan setelah itu nanti kita akan jalan-jalan," jawab Dharma.
"Tapi. Mas...." Alea tidak bisa menolak dan lebih kaget lagi ketika Dharma berhenti tepat di depan ruangan Raidan.
Ceklek.
Dharma membuka pintu ruangan itu.
"Apa ada yang ketinggalan," sahut Raidan dari dalam dengan mengangkat kepala yang ternyata sudah duduk kembali di mejanya.
Raidan cukup kaget dengan kehadiran Alea kembali dan lebih kaget lagi di saat Dharma ada di sana yang sekarang memegang pergelangan tangan Alea.
"Raidan sepertinya baru ada yang keluar dari ruangan ini?" ucap Dharma tersenyum pernah curiga memasuki ruangan tersebut membawa istrinya.
Alea terlihat panik, apalagi dia saat ini berada di ruangan Raidan.
"Ohhhh, iya sekretarisku baru saja masuk mengantarkan dokumen, jadi aku berpikir bahwa itu adalah dia," jawab Raidan dengan tenang.
"Aku pikir setelah Alea yang terakhir keluar dari ruangan ini," ucap Dharma penuh dengan sindiran.
Tatapan mata Raidan langsung tertuju ke arah Alea. Ini kondisi sudah tidak baik-baik saja, terlihat bagaimana Alea tanpa gelisah dan seperti mengkhawatirkan sesuatu.
Bersambung......