Baru 3 tahun usia pernikahan Audy Danita dan Faiz Wiratama sudah dilanda berbagai konflik. Padahal diawal pernikahan semua berjalan baik dan romantis. Hingga akhirnya ketika sudah hadir buah hati mereka, keadaan di dalam rumah semakin berubah tidak menentu. Yang seharusnya kehadiran seorang anak menjadikan sebuah keluarga semakin harmonis, namun yang terjadi malah sebaliknya. Faiz jadi jarang di rumah. Pulang kerja telat dan sesampai di rumah selalu sibuk dengan gadgetnya. Sehingga Audy merasa Faiz tidak memperhatikan dia dan anak-anaknya lagi. Audy pun menyadari mungkin Faiz bosan terhadapnya karena kini penampilan tidak secantik dulu lagi. Audy full mengurusi rumah dan anak-anak saja setelah Faiz menyuruhnya resign dulu setelah menikah. Apa yang membuat Faiz berubah? Akan kan Audy mempertahankan rumah tangganya setelah kerap ribut dan Faiz menyebut kata "cerai"? Atau Audy berusaha untuk kembali menjadi dirinya sendiri seperti masa lajang sehingga banyak yang mengaguminya walaupun bergelar istri? Berakhir Talak kah rumah tangga mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah dwi julianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24
Ponsel Audy berdentang-denting oleh notifikasi pesan whatsapp yang masuk. Malam ini ia memang tidur awal, apalagi setelah Cindy sudah dikelon oleh Faiz tadi ketika ia sedang makan. Jadi tak lama setelah makan matanya sudah benar-benar mengantuk. Besok juga ia harus siap pukul 5 pagi untuk merias pengantin bersama Devin.
Dilihatnya jam menunjukkan pukul 2 pagi. "Siapa yang mengirimkan pesan di jam tidur seperti ini?", pikir Audy. Selama ini tidak pernah ia mendengar ponselnya begitu ramai di tengah malam buta.
Ternyata pesan whatsapp dari Chiko. Audy menyipitkan matanga yang masih kabur.
"Apa ada masalah dengan venue dan tim?", batin Audy.
Chiko: Audy, aku hampir gila. Setelah berhasil menemukanmu kembali, kamu seperti hadir memberi rasa dan harapan.
Chiko: Aku benar-benar gak bisa kayak gini terus, Audy. Rasa ku ternyata lebih dari sekedar rindu. Beberapa tahun belakangan ini aku mencarimu, lalu takdir membawa kita dalam pertemuan ini.
Chiko: Aku tau kamu pasti masih memiliki rasa cinta untuk ku. Jika kamu mau melepaskan suamimu, aku akan meninggalkan Angelica. Bawa semua anak-anakmu bersama ku.
Chiko: Kita bisa melanjutkan mimpi-mimpi kita. 7tahun bukan waktu yang sebentar.
Chiko: Aku gak tau misteri apa yang Tuhan takdirkan hingga aku terus merasakan bayang-bayangmu. Aku gak bisa membohongi hatiku. Aku selama ini berusaha mencintai Angelica tapi rasa itu gak pernah ada.
Audy mengerutkan keningnya. Ia tak berniat sama sekali membalas pesan Chiko. Ada perasaan jijik membaca kalimat-kalimat Chiko. Besok ia harus bicara pada Devin tentang kelakuan Chiko. Audy merasa tak nyaman.
Audy bangun pukul 4 pagi. Rasanya lemas sekali. Karena gara-gara notifikasi pesan-pesan Chiko dan membaca isinya membuat Audy baru menyambung tidur lagi pukul 3. Dan sekarang di pukul 4 pagi ia sudah harus bangun.
Ia ke kamar Faiz. Membangunkan Faiz untuk menemani Cindy. Hari ini Faiz libur ngantor. Jadi ia yang akan mengasuh Cindy.
"Faiz.. Faiz.. Faiz.." panggil Audy. Tapi sepertinya Faiz baru tidur. Dengkurannya besar sekali.
Audy memutuskan untuk bersiap-siap dulu. Setelah semuanya beres, ia baru membangunkan Faiz lagi.
"Faiz.. Faiz.. Faiz.." Faiz menggeliat kemudian membuka mata.
"Aku udah mau berangkat merias pengantin. Kamu bisa temani Cindy di kamar. Aku berangkat dulu." Faiz tak menjawab. Ia hanya bangun dan menuju kamar Audy.
Dibukanya tirai sedikit, ia melihat Devin mengangkat box make up Audy. Seharusnya ia yang mengantarkan Audy sampai ke mobil Devi n, kemudian menitipkan Devin agar menjaga istrinya baik-baik. Tapi, Audy tak pernah memperkenalkan rekan kerjanya itu kepada Faiz.
Karma itu berjalan seiring waktu. Dulu Faiz tak pernah memperkenalkan Citra pada Audy. Faiz pun tak pernah bercerita soal Citra yang sering menghubunginya dan sejauh apa hubungan mereka. Kini hal yang sama terjadi saat Audy berada di luar rumah. Faiz tak pernah tahu apa-apa.
Diperjalanan, Audy langsung bicara pada Devin.
"Chiko dimana? Lo tau kan Chiko mantan gue? Duh itu orang gak bisa dikasih angin sekali. Dia tadi ngirim pesan whatsapp banyak banget jam 2 pagi. Udah gitu isinya ngelantur. Gue risih, Dev?" tembak Audy.
"Sabar.. Sabar.. Ibu hamil gak boleh emosian. Kita selesaikan baik-baik." jawab Devin yang fokus menyetir.
"Masalahnya lo tau sendiri rumah tangga gue aja lagi runyam." jawab Audy.
"Iya gue ngerti. Tapi tipikal orang kayak Chiko gak bisa lo main keras. Gue tau dia gimana. Orangnya lumayan nekat. Gini, kita selesain aja dulu project satu ini. Setelah ini kita cari solusi gimana elo tetep bisa dapet project bareng gue tapi gak bareng Chiko." Devin menenangkan Audy. Audy menarik napas dan menghela pelan. Ia harus menjaga moodnya agar hasil riasannya nanti pun sempurna.
Sesampai di lokasi wedding nampak Chiko yang sepertinya belum tidur sama sekali. Tapi ia kelihatan nampak bersemangat. Ia ingin menghampiri Audy tapi Devin mengalihkan perhatiannya dengan mengajak Chiko pada kesibukan lain. Devin paham bahwa Audy butuh mood yang terjaga baik sebelum merias. Untungnya trik Devin berhasil.
Setelah selesai merias pengantinnya bersama marissa dan tim, Audy tidak mau keluar dari ruangan rias di gedung tersebut. Ia malas bertemu Chiko.
"Audy, kamu mau ku ambilkan minum atau makanan?" tawar Marissa.
"Boleh kalo kamu gak keberatan." jawab Audy. Ia memegang ponselnya melihat status-status whatsapp untuk menghilangkan kejenuhan. Padahal seharusnya ia keluar untuk memantau pengantinnya. Tapi ia meminta tim marissa melakukannya karena ia juga mudah lelah saat ini.
Tiba-tiba Audy melihat status Faiz. Ia memasang foto Cindy yang sedang bermain di taman pagi. Kebiasaan yang dulu sering mereka lakukan saat Cindy belajar berjalan.
Audy ingin melakukan panggilan video tapi suara mic dan soundsystem seperti akan membuat ia bicara berteriak pada Cindy.
Ia hanya mengirimkan pesan whatsapp pada Faiz.
Audy: ❤
Namun Faiz hanya melihat dan tak membalas. Hati Audy merasakan lain sekali. Rasa yang tidak senyaman biasanya.
Marissa datang membawakan makanan dan minuman pada Audy. Kebetulan ia memang tak sempat sarapan.
Rasanya ia ingin segera pulang menemui Cindy dan Faiz. Menghabiskan waktu bersama mereka.
..
so baik..
jgn konflik trs Thor yg di sajiin bosen yg bacanya
aku jdi ikut emosional