Season 1
Pelangi adalah gadis cantik yang pernah mengalami kepahitan hidup karena perceraian orang tuanya.
Saat ia bertemu Bintang yang bernasib sama dan sering dijadikan bahan olok olok teman temannya karena perceraian kedua orangtuanya menumbuhkan simpati di hatinya.
Rasa simpati itu lambat laun berubah jadi sayang.
Bintang yang merasakan kasih sayang Pelangi berharap Pelangi bisa menjadi ibunya.
Akankah harapan Bintang terwujud?
Season 2
Bintang dan Pink kini telah dewasa. Bintang yang tumbuh besar bersama Pink, sangat menyayanginya.
Akankah Bintang tetap menganggap Pink sebagai adiknya ataukah perasaannya berubah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dwi Rohyati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji Anggi pada Embun
Pada jam yang sama.. di kamar hotel, Anggi sedang berbaring
Pikirannya melayang (tahukan ke siapa)
Dia datang dengan seorang wanita tapi masih berani mengajakku bicara lebih dekat dan akrab. Apa maunya coba? Tapi kenapa ia ingin akrab denganku.. apa karena aku tinggal di rumah mamanya dan dekat dengan anak-anaknya.
Anggi terus gelisah. Ia membolak balikan badannya. Malam makin larut., namun Anggi belum juga tidur.
"Mila kok belum kembali ke kamar, ya. Apa pestanya masih berlangsung?" gumam Anggi.
"Kak Wahyu.. tadi janji mau telpon kok nggak ada telpon juga. Aku jadi kangen sama ayah, bagaimana kabar ayah sekarang. Apa sebaiknya aku menghubunginya.. ah nggak.. ujung ujungnya nanti wanita itu akan cari masalah.. "
Mungkin karena lelah akhirnya Anggi tertidur
***
Pagi hari Anggi melakukan rutinitasnya seperti biasa, bangun pagi, mandi dan sholat subuh. Dan ia juga selalu menyempatkan membaca Al-Quran tiap habis sholat shubuh.
Selesai melakukan rutinitasnya, Anggi menatap sekitar.
Kok Mila nggak ada. Apa semalam ia nggak balik ke kamar. Kalau nggak balik, ia tidur dimana?
Tok Tok Tok
Anggi langsung berdiri masih dengan mengenakan mukena nya, ia membuka pintu kamarnya.
"Mila... kamu darimana pagi-pagi? Dan kamu masih memakai gaun tadi malam, kamu semalam nggak balik ke kamar ya?" tanya Anggi.
"O.aku kemarin bertemu dengan saudara jauh ku.. dan dia mengajakku tidur di kamarnya. Kebetulan ia menginap di hotel ini juga. " jawab Mila yang langsung masuk ke kamar mandi.
Kok Mila aku ngerasa aneh ya, biasanya kalau ada apa apa Mila akan memberitahu aku. Tapi tentang tidur di kamar saudaranya, kenapa ia nggak ngasih kabar ke aku ya
Mila keluar dari kamar mandi. Rambut basahnya dia tutupi dengan handuk.
Ia lalu mengambil baju di kopernya dan masuk kembali ke kamar mandi untuk ganti baju.
Anggi hanya diam memperhatikannya.
Mila kok jadi pendiam. Biasanya ia sangat cerewet. Kenapa nggak ada cerita tentang saudaranya.
Mila selesai ganti baju. Ia duduk di ranjang. Tangannya memainkan ponsel. Tapi ia nampak seperti memikirkan sesuatu.
"Kamu kenapa, Mil?" tanya Anggi.
"Hm."Mila mendongakkan kepala menatap Anggi. "Aku nggak papa. " jawabnya lalu mengalihkan pandangannya ke ponsel lagi.
"Mil, kita sudah lama berteman. Aku tahu ada yang terjadi, karena sikapmu berubah. Katakan ada apa Mila?"
"Sudahlah Anggi, kita memang berteman. tapi boleh kan kalau aku simpan masalahku sendiri. Tidak semua masalah harus aku bagi ke kamu kan?" kata Mila agak kasar.
Anggi terkejut. Bertahun tahun ia bersahabat dengan Mila baru sekarang Mila berkata kasar padanya.
"Kau marah padaku Mil?Apa karena Reza?" tanya Anggi.
Mila tersenyum sinis.
"Kau akan membiarkan persahabatan kita rusak hanya karena seorang pria, Mila?" tanya Anggi, Ia tak percaya persahabatannya dengan Mila akan menjadi begini.
"Hanya karena seorang pria ya.. ? gampang kau mengatakan itu Nggi karena disini bukan kau yang disakiti. Bukan kau yang dirugikan. Tapi aku.. !" Mila berkata dengan nada tinggi
"Tahukah kau Nggi kenapa Reza mengajakmu ke Jakarta?"
"Untuk kerjaan kan? Apa ada hal lain selain itu?"
Mila menggeleng
"Bukan.. nggak ada kerjaan di sini. Ia mengajakmu ke sini karena ia ingin mengenalkanmu sebagai tunangannya pada rekan bisnisnya. "
"Kau jangan bercanda Mila. "
"Aku tidak bercanda Anggi" kali ini Mila berteriak.
"Aku tidak bercanda" Mila mengulang ucapannya dengan nada lebih rendah. "Kemarin ia akan mengenalkanmu.. tapi saat dikenalkan kamu nggak ada. yang ada aku. Jadi kemarin malam aku harus berpura pura menjadi tunangannya. "
"Bukankah kau menyukainya, Mil?"
"Iya.. aku memang menyukainya Nggi. Jika dia tak menghinaku. Mungkin aku akan dengan senang hati berpura pura jadi tunangannya. " kata Mila sedih. Matanya berkaca kaca. Lalu ia terisak isak.
Anggi duduk di samping Mila. Ia memeluk gadis itu. Namun Mila menepis pelukannya.
dert dert dert
Ponsel Anggi bergetar. Ada pesan masuk. Pesan dari Reza.
Turun. Kita check out dan balik sekarang.
"Ayo turun, Mil. Kita ditunggu di bawah!" ajak Anggi.
Mila langsung mengambil kopernya dan keluar kamar tanpa berkata-kata.
Anggi mengikutinya dari belakang.
Setelah menyelesaikan proses check out mereka bertiga berjalan keluar dari hotel. Saat mencapai lobi ada seseorang yang memanggil Anggi.
"Pelangi!" sapa seorang wanita.
Pelangi menoleh, ia melihat Embun yang melambaikan tangan dan berjalan ke arahnya.
Reza dan Mila ikut berhenti dan menatap Embun.
"Nyonya Genta, anda mengenalnya?" tanya Reza heran.
Bagaimana Pelangi bisa mengenal istri dari pengusaha nomor satu di negeri ini.
"Oh.. itu. Kami kebetulan pernah bertemu saat saya ke kotanya beberapa hari yang lalu. " jawab Embun.
"Bisa kita bicara empat mata sebentar? Ada beberapa hal yang ingin kusampaikan padamu. " pinta Embun pada Pelangi.
"Maaf saya harus minta ijin Pak Reza dulu Nyonya. Karena kami akan pulang. Takutnya ketinggalan pesawat. "
"Maaf, Pak Reza. Apa saya bisa pinjam Pelangi barang satu atau dua jam? Karena saya ada keperluan penting dengannya. Biar nanti saya yang mengurus kepulangannya. " Embun berkata pada Reza.
Reza berpikir, jika ia bisa mendekati Tuan Genta melalui istrinya akan sangat menguntungkan perusahaannya. Jadi ia harus menyenangkan istri Genta dulu agar jalannya kelak terbuka lebar.
"Oh silahkan, Nyonya. Lagi pula saya masih ada keperluan di sini. Tadi saya bermaksud mengantar mereka berdua ke bandara jadi nggak papa kalau menunda kepulangan barang satu atau dua hari. " kata Reza.
"Mil, kau ikut aku atau... " perkataan Anggi dipotong Mila.
"Aku pulang saja. " kata Mila yang langsung pergi. Reza yang melihat Mila pergi, langsung berpamitan pada Anggi dan Embun. Ia menyusul Mila. Anggi memperhatikan mereka. Tampak ada perdebatan di antara mereka sampai akhirnya Reza menarik tangan Mila.
"Yuk.. ikut aku!" ajak Embun.
Anggi mengikutinya. Mereka menuju taman hotel.
"Ada apa ya.. Nyonya?"
"Jangan panggil Nyonya, panggil saja mbak."
"Baik, Mbak Embun. "
"Kau sudah tahu namaku.. pasti dari Langit ya?"
Anggi mengangguk.
"Bagaimana keadaan mereka Pelangi?"
"Panggil Anggi saja mbak. Mereka siapa ya mbak?Keluarga Langit? Mereka baik-baik saja. "
"Emm.. maksudku keadaan anak-anakku. Bagaimana mereka sekarang?"
Anggi menghela nafas.
"Pink sebenarnya masih terlalu kecil untuk memahami masalah orang tuanya. Ia mengenal Mbak Embun hanya dari foto yang ditunjukan Oma. Bintang yang keadaannya tidak baik Mbak. Ia sangat terpengaruh dengan perceraian kalian. Ia sempat menjadi anak yang pemarah dan murung, rendah diri juga suka menyendiri. Karena ia sering di ejek soal perceraian kalian. Tapi, alhamdulilah, keadaannya kini sudah jauh lebih baik. " Anggi menjelaskan.
"Aku tahu, semua karena kehadiranmu pasti. " Embun tersenyum
"Anggi.. aku titip anak-anakku. Aku mohon sayangilah mereka. Jika nanti kau sudah menikah dengan Langit.. aku mohon jangan abaikan mereka. " Embun memohon sambil memegang tangan Anggi.
Anggi merasa bersalah. Ia tahu Embun telah salah paham karena Langit pernah berkata bahwa Anggi adalah calon istrinya. Padahal kenyataannya tidak ada hubungan apa apa di antara mereka.
"Mbak Embun tenang saja. Aku benar-benar menyayangi mereka. Meski kelak aku bukan istri Langit, tapi aku pasti akan menjaga mereka semampuku." janji Anggi pada Embun.
Embun mengangguk dan tersenyum lega.
"Terima kasih. Dan sebagai balasannya, kau bisa menghubungiku jika kau butuh bantuan. Aku pasti akan membantumu. "
"Mbak.. boleh aku bertanya?"
Embun mengangguk.
"Apa benar mbak Embun meninggalkan mereka hanya karena seorang pria?" Anggi bertanya dengan ragu.
Embun tersenyum.
"Menurutmu, apakah aku tipe wanita seperti itu Anggi?"
"Saya memang baru mengenal Mbak, namun feeling saya bilang , mbak bukan wanita seperti itu. Apalagi Mbak sangat menyayangi anak anak. Mbak pasti punya alasan yang kuat kenapa rela berpisah dengan mereka. Bahkan Mbak rela dibenci oleh merek. "
Embun menghela nafas berat.
"Dua tahun yang lalu, perusahaan Langit goyah. Ada seseorang yang menyerangnya. Hingga perusahaannya menanggung hutang yang tidak sedikit. Aku berusaha menolongnya. Pada saat itu aku datang ke Genta, suamiku yang sekarang. Ia bersedia membantu Langit tapi syaratnya aku harus meninggalkan mereka dan menikah dengannya. Semula aku menolak. Namun melihat Langit yang nampak menderita dan frustasi, aku jadi khawatir. Aku khawatir ia tidak akan bisa menanggung beban jika harus kehilangan usaha yang ia rintis dengan susah payah. Aku juga memikirkan anak anak. Apa jadinya mereka jika ayahnya bangkrut. Akhirnya aku menerima tawaran Genta. "
"Bagaiman mbak bisa mengenal Tuan Genta?"
"Aku dan Genta dulunya pernah bersama. Kami berpisah saat Genta dijodohkan. Namun tiga tahun yang lalu istrinya meninggal karena penyakit yang dideritanya. Dan sebenarnya kami masih saling mencintai Genta adalah cinta pertamaku."kata Embun sambil tersenyum.
"Apakah Tuan Genta yang menyerang perusahaan Langit?"
"Bukan..saingannya yang melakukannya. "
Anggi mengangguk angguk. Ia baru memahami masalah yang terjadi di keluarga Langit.
"Kau mau langsung pulang apa bermalam lagi di Jakarta?" tanya Embun.
"Saya ingin mengunjungi sepupu saya, Mbak. Sekalian mumpung lagi disini. "
*Ok... ini kartu namaku. Tolong kau hubungi aku dan kabari perkembangan anak anakku. Kumohon. "
Anggi mengangguk. Mereka lalu berpisah.
mngkin Amelia anak temannya mama senja