Di kehidupan sebelumnya, Aluna dibenci dan dikucilkan oleh keluarga kandungnya sendiri karena hasutan Chika–anak yang diadopsi oleh Keluarga Anggara hingga tewas mengenaskan. Tidak hanya itu, Chika yang memang sudah mengincar harta kekayaan Keluarga Anggara pun akhirnya menghabisi semua anggota keluarga Anggara tanpa sisa. Hal tersebut membuat Aluna menyesal akan sikapnya yang selalu diam dan menerima saat ditindas.
Saat takdir memberi Aluna kesempatan untuk hidup kembali, Aluna berjanji untuk mengubahnya.
"Aku pasti bisa melindungi dan mempertahankan keluargaku! Pasti!" ucap Aluna penuh keyakinan.
Tapi, lho kok? Kenapa sikap semua orang tidak sama seperti di kehidupan sebelumnya? Sebenarnya apa yang terjadi?
Yuk, ikuti kisah SUARA HATI ALUNA. Jangan lupa like, komen, dan rate bintang 5 nya ya. Terima kasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samudra lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Ya, semua orang melarang Chika untuk bangun saat mendengar suara hati Aluna.
"Seharusnya biarkan dia berlutut lebih lama, bukan langsung memaafkannya. Dulu saja aku dihukum berlutut sangat lama oleh Kak Andi gara-gara dia menuduhku mengambil jam tangannya. Padahal jam tangan itu dia yang memberikannya sendiri padaku Bahkan aku sampai demam dan lututku sakit sampai berhari-hari."
Aruan dan Armand menatap Andi seolah bertanya kapan pria itu menghukum Aluna. Andi sendiri bingung. Kakak pertama Aluna itu menggeleng.
Ketiganya kemudian berpikir mungkin Aluna hanya bermimpi mengenai hal itu. Sementara reaksi berbeda ditunjukkan oleh Marvin. Pria itu mengepalkan tangan dan semakin menyesali perbuatannya yang dulu langsung pergi meninggalkan Aluna hanya karena gadis itu menolak lamarannya. Harusnya ia tetap tinggal dan mengawasi, meski dari kejauhan sehingga Alunanya tidak akan mengalami penderitaan seperti itu.
"Ma, Kakak, kenapa kalian tidak mengizinku berdiri apa kalian belum memaafkanku?"
Chika kembali memasang wajah sedih, meski tadi tidak berhasil.
Aruan, Andi, dan Armand saling tatap.
"Kami tidak mengusirmu itu sudah menjadi anugerah. Jadi, jangan protes hanya karena kamu masih dihukum berlutut."
Bukan Andi atau Aruan yang berbicara apalagi Armand, tetapi Aluna. "Iyakan, Kakak? Ma?" lanjutnya sambil menatap Andi dan yang lainnya seraya tersenyum.
Seakan mendapatkan komando ibu dan kedua kakak Aluna itu mengangguk cepat sebagai jawaban.
"Tapi–"
"Sudah jangan protes! Bukankah kamu menyesal artinya hukuman apa pun yang diberikan kamu harus menerima," potong Marvin.
Chika mendengkus. Marvin–lelaki yang diidamkannya ikut mendukung Aluna. Sementara Aluna memasang wajah manis seolah dirinya tidak pernah memprovokasi.
"Ternyata begini rasanya jadi orang jahat? Menyenangkan juga. Biar saja Chika makin kesal."
Aluna cekikikan sendiri. Marvin, Aruan, Andi, dan Armand ikut senang dengan kebahagiaan yang dirasakan oleh Aluna. Keempat orang itu tersenyum melihat Aluna yang sejak tadi tertawa kecil. Tapi, ditahan ketika semua orang menatap ke arahnya.
"Nyonya, Tuan Andi, ada Mas Eza datang katanya mau melapor sesuatu."
Seorang asisten rumah tangga datang memberitahu.
"Sepertinya ini saatnya kebenaran itu terungkap," batin Aluna.
"Eza?" Aruan bingung.
"Dia orang yang aku bayar untuk mengikuti dan menyelidiki papa. Juga mencari keberadaan Bagas," jelas Andi.
"Kalau begitu ayo kita temui dia!" ajak Aruan tak sabar.
Aruan dan yang lainnya langsung pergi ke ruang tamu dimana Eza menunggu dan mengabaikan Chika.
"Ma, Kak, apa aku sudah boleh berdiri?" tanya Chika setengah berteriak.
Aluna menyuruh Chika untuk tetap berlutut melalui tatapan dan isyarat tangan, dia kemudian menyusul yang lainnya.
"Tuan Muda haruskah kita ikut campur?" tanya Edwin pada Marvin.
"Sepertinya itu terlalu berlebihan. Tapi, apa salahnya kita ikuti mereka," jawab Marvin.
Marvin sebenarnya tidak ingin tahu permasalahan internal keluarga Anggara. Tapi, dia juga tidak bisa membiarkan Aluna menghadapi masalah lagi. Marvin tidak ingin menyesal untuk yang kedua kalinya. Cukup sekali, ia membiarkan Aluna menderita. Kali ini apapun yang terjadi, dia tidak akan membiarkan bahaya atau masalah apa pun mendekati Alunanya.
Marvin dan Pak Edwin menyusul paling terakhir. Bagaimanapun, mereka belum menjadi keluarga secara resmi.
***
"Pak Eza bagaimana hasil penyelidikan Bapak?" tanya Andi tanpa basa-basi begitu mereka bertemu dengan Eza di ruang tamu.
Eza adalah detektif swasta yang sengaja disewa oleh Andi untuk mengawasi ayahnya. Dan saat tahu Bagas kabur setelah membocorkan file perusahaan, Andi pun menyuruh Eza untuk menyelidiki mantan asisten pribadinya itu juga.
Eza mengambil map dari dalam tas kerjanya lalu mengeluarkan isinya.
"Seperti dugaan Nyonya Aruan, Pak Abimana menemui Bunga dan ikut tinggal bersama wanita itu."
Eza menunjuk foto Abimana yang berdiri di depan pintu apartemen dengan seorang wanita–Bunga.
Di foto itu, Bunga memeluk lengan.Abimana dengan mesra–bukan lagi seperti adik angkat seperti yang dulu dikatakan Abimana.
"Apartemen ini–"
"Apartemen mewah di kawasan Grand Rose milik perusahaan Anggara. Bunga sudah tinggal di sana sejak sepuluh tahun lalu," lanjut Eza.
"Dasar pria brengsek! Aku harus membuat perhitungan dengannya!" Aruan tentu emosi.
Kali ini bukan dugaan lagi kalau suaminya sudah berselingkuh karena sudah ada bukti.
"Apa mereka cuma tinggal berdua?" tanya Andi penasaran.
Dia ingat kalau melalui suara hatinya, Aluna mengatakan kalau Bunga memiliki anak.
"Iya, mereka memang tinggal berdua. Tapi, ada seorang laki-laki seusia Pak Andi yang datang ke sana setiap hari. Sayangnya saya belum tahu dimana laki-laki itu tinggal," jawab Eza.
"Kak, apa dia anak papa dan Tante Bunga?" tanya Armand.
"Mungkin," jawab Andi karena ia sendiri tidak tahu.
Eza mengeluarkan foto laki-laki seusia Andi dan meletakkannya di atas meja. Sayangnya foto itu hanya menunjukkan bagian belakang dan samping pria itu.
Aluna mengambil foto itu dan mengamatinya.
"Apa ini anak haram papa dengan Si Bunga?" Aluna membatin. "Tapi, perawakan ini kenapa terlihat tidak asing ya. Aku seperti pernah melihatnya. Tapi, dimana?"
Aluna mencoba mengingat-ingat dimana ia pernah melihat pria itu.
"Luna, apa kamu mengingat sesuatu, Nak?" tanya Aruan.
Aluna menoleh menatap ibu kandungnya itu sebentar kemudian menggeleng.
"Aku tidak ingat," jawab Aluna sambil meletakkan kembali foto itu ke atas meja.
"Kenapa kita tidak langsung datang saja sih ke apartemen itu untuk mencari jawaban? Bukankah itu lebih praktis? Siapa tahu tidak hanya menangkap perselingkuhan papa dengan Bunga, tapi kita juga bisa tahu siapa laki-laki di dalam foto itu sebenarnya," batin Aluna.
Brak!"
Aruan menggebrak meja, membuat semua orang kaget.
"Kita tangkap basah mereka!" seru Aruan berapi-api.
Benar kata Aluna, lebih baik tangkap langsung mereka.
"Ayo, Andi, Armand!" ajak Aruan.
Andi dan Armand langsung setuju. Mereka masuk ke dalam satu mobil yang sama bersama dengan Aluna. Sementara Pak Eza dan Edwin ikut bersama Marvin.
Ada satu orang yang mereka tinggalkan di rumah·Chika. Gadis itu masih berlutut di ruang keluarga.
"Ini kapan aku bisa bangun?" keluh Chika saat semua orang pergi dari rumah.
"Maaf, Nona Chika, Non Aluna menyuruh saya mengawasi Anda. Anda dilarang bangun sebelum diberi izin," ujar Bik Nani.dengan raut wajah tegas.
Dia adalah kepala pelayan di Keluarga Anggara.
"Hei, kamu cuma pembantu ya. Ngapain ngelarang-larang aku?"
Chika hendak bangun dari posisinya, tapi langsung mendapat hadiah sabetan dari Bik Nani.
Wanita berusia lebih dari 50 tahun itu menunjukkan pesan yang dikirim oleh Aluna kepanya.
'BIK, JANGAN BIARKAN CHIKA BANGUN! SURUH DIA BERLUTUT SAMPAI KAMI PULANG. KALAU DIA TETAP MEMAKSA BANGUN, CAMBUK SAJA! JANGAN RAGU!"
***
GAES MAAF YA NGGAK UPDATE BEBERAPA HARI KARENA MEMANG ADA MASALAH URGENT DI REAL LIFE.
ini si nenek" rada" oleng