Siapa sangka tulisan dongengnya yang ia tulis diblog, menjadi penolong seorang remaja yang tengah putus asa. Sejak saat itu Jiva Arunika menjadi sahabat online Kai Gentala Bhalendra, akankah hubungan keduanya berlanjut hingga ke dunia nyata?
Cerita selengkapnya hanya di novel Sang Pendongeng ^^
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 24 - Apakah Dia Orangnya?
* Sebelum membaca, yuk kasih ⭐5 + komen positif tentang kaya ini agar aku semangat dalam menulis. 😊
.
.
.
Keesokan harinya Jiva kembali datang ke Maharaja group untuk melakukan meeting bersama Gema dan timnya, namun kali ini ia terlihat lebih profesional, bahkan sebelumnya ia telah mempelajari materi yang akan di bahas bersama Gema.
Setelah berdiskusi cukup panjang, Gema menunjukan program pengembangan 'Pelindung AI' untuk project kerja samanya. Ia menjelaskan bahwa program ini bisa dapat menganalisis data secara mendalam untuk memberikan rekomendasi produk yang tepat sesuai jenis dan kondisi kulit.
"Program ini nantinya akan ada di seluruh gerai. Jadi, konsumen bisa menggunakannya sebelum membeli produk," tutur Gema.
"Luar biasa," Jiva takjub dengan kecanggihan program Pelindung AI buatan Maharaja Group. "Ini artinya bisa memangkas jumlah dokter di klinik kecantikanku."
"Tepat. Salah satu tujuan kemajuan teknologi adalah meningkatkan efisiensi." Gema menceritakan jika dahulu saat pertama kali program ini di pasang untuk sistem keamanan lalu lintas maupun instansi perkantoran, mampu memangkas biaya tenaga kerja yang jumlahnya tidak sedikit.
Karena hanya butuh satu orang untuk mengawasi 300 kamera CCTV, sementara jika tanpa bantuan program Pelindung AI, satu orang hanya mampu mengawasi paling banyak 50 CCTV.
Sehingga kasus kejahatan dan kecelakaan saat itu begitu tinggi sebelum adanya program ini, tapi setelah menggunakan program ini semua kejadian yang tidak di inginkan dapat di cegah atau paling tidak cepat mendapatkan penanganan, sebab teknologi ini mampu menganalisa tanpa batas.
"Ya aku tahu itu," Jiva mengangguk, ia masih ingat berita yang menghebohkan dunia dimana sekitar dua belas tahun yang lalu Rendi Maharaja berhasil membuat program AI yang luar biasa. "Ayahmu langsung mendapatkan banyak penghargaan baik di dalam maupun luar negeri, aku dan keluargaku mengikuti perkembangan beritanya."
Jiva melirik jam di pergelangan tangannya, tiga puluh menit lagi pukul 19.00 malam. Waktu dimana Kai memintanya untuk bertemu dengannya di Flavor Frenzy. "Pak Gema, bagaimana kalau kita ke lab untuk melihat produk-produk unggulan kita?" ia memilih untuk terus bersama Gema agar pikirannya teralihkan dari ajakan makan malam Kai, ia tak berniat menemui pria itu.
"Mohon maaf, sepertinya pertemuan ini kita cukupkan sampai disini. Kita sambung besok pagi saja, sampai bertemu di lab." Gema bergegas keluar dari ruangan.
Jiva sempat mengejar untuk mencegahnya pergi, tapi Gema sudah terlebih dahulu menghilang dari pandangan Jiva. "Pria itu seperti siluman saja, cepat sekali menghilangnya," gerutu Jiva.
Walaupun sudah tak bersama Gema, ia tetap tak berniat menemui Kai. Ia mencoba mengabaikan rasa bersalahnya pada Kai. "Dua belas tahun yang lalu aku pernah mengabaikan Gita saat dia datang ke pesta ulang tahunku, seharusnya ini tidak sulit bagiku." Mengabaikan orang merupakan keahliannya, akhirnya ia memutuskan untuk pulang ke kediamannya.
Namun baru saja ia masuk mobil, Jiva kembali mendapat pesan dari Kai di YM nya.
Kai:
Aku akan segera sampai, aku akan menunggumu sampai kau datang.
"Uggh.. Keras kepala sekali pria itu," gerutu Jiva, ia melempar handphonenya ke bangku di sebelahnya.
***
Sementara itu di tempat berbeda Gita tengah menunggu Gala di luar ruang meeting, jam kerjanya sudah habis dua puluh menit yang lalu. Tapi ia belum pulang, Gita ingin memberikan jawaban atas pernyataan cinta Gala kemarin malam.
Apa yang di katakan neneknya ada benarnya, ia harus move on untuk itulah ia menunggu Gala selesai meeting. Ia ingin mengatakan secara langsung jika ia menerima pria itu sebagai kekasihnya.
Bosan menunggu Gala yang tak kunjung keluar dari ruang meeting, Gita membuka handphonenya. Ia penasaran dengan bentuk blog Sang Pendongeng yang di tulis oleh Jiva. "Wah bagus sekali blognya," gumam Gita.
Tampilan awal blog itu memang sesuai karekter Jiva yang begitu kuat, kemudian Gita membaca tulisan di halaman pertama: Anak Laki-laki yang Penuh Ketakutan. Setiap katanya sama persis seperti yang sering Jiva bacakan saat di panti, dia sama sekali tidak mengubahnya sedikitpun.
Tapi, saat Gita melihat animasi dari dongeng itu, ada inisial nama pembuatnya. "Kai..." gumam Gita. "Apakah ini adalah Kai yang ia tunggu selama ini?" Ia bergegas memasukan handphone ke tasnya dan berlari keluar swalayan
"Gita..."
Saat Gita berlari, tepat Gala keluar dari ruang meeting. Tapi sayangnya Gadis itu tak melihat Gala, ia terus berlari kencang menuju pintu belakang dan saat Gala mengejarnya Gita sudah tidak ada.
Gita pergi bersama temannya yang kebetulan lewat, ia meminta temannya untuk mengantarnya ke Flavor Frenzy. "Ngebut ya, Mel," pinta Gita pada Amel.
"Yee... Loe ini udah numpang banyak mau." Meski Amel protes pada Gita, tapi ia tetap menuruti permintaan teman baiknya itu.
Tidak peduli apakah pria itu Kai yang ia tunggu atau bukan, yang jelas ia tidak akan membiarkan Kai menunggu Jiva.
Dua belas tahun yang lalu, ia pernah terluka begitu dalam ketika Jiva tidak menepati janjinya untuk menjemputnya di stasiun, beruntung ia bertemu dengan ayah angkatnya yang menolongnya memberikan tempat untuk bermalam dan mengantarnya pulang ke Bandung.
Malam ini, Gita tidak ingin kejadian itu terulang pada orang lain terlebih orang itu bernama Kai.
Tiba di Flavor Frenzy Gita langsung turun dari motor sembari membuka helmnya. "Thanks ya, Mel." Ia bergegas berjalan menuju pintu restoran, sementara Amel langsung pergi meninggalkan Gita
Saat Gita mengulurkan tangannya untuk membuka pintu restoran, tiba-tiba saja ada seseorang dengan menarik lengannya. "Gita... Kau datang untuk menolongku?" tanya Jiva sumringah, ia menghembuskan napas leganya melihat kedatangan Gita.
Gita mengangguk. "Apa animator dongengmu bernama Kai?"
"Ya, namanya Kai." Jiva membenarkannya. "Kau mau kan menggantikan aku bertemu dengannya di dalam?"
Gita kembali mengangguk. "Ya, kalau kau tidak mau bertemu dengannya biar aku saja yang menemuinya."
"Oh Astaga... Kau baik sekali Gita. Aku sangat bersyukur memiliki teman sepertimu." Jiva buru-buru melepas jasnya kemudian memakaikannya ke tubuh Gita, ia juga mengambil lipstik dan memolesnya di bibir Gita.
Awalnya Gita sempat menolaknya. "Aku tidak mau pria itu mengira Sang Pendongeng adalah gembel." Sentuhan terakhir Jiva menyemprotkan minyak wangi ke tubuh Gita.
"Jiva, apa aku boleh berkenalan dengan menggunakan namaku? Aku tidak ingin terlalu banyak membohonginya," tanya Gita sebelum ia masuk menemui Kai.
"Tentu saja. Kau boleh menggunakan nama aslimu atau nama siapa pun yang kau mau, kau hanya tidak boleh menyebut apa pun tentang aku."
Gita mengangguk mengerti.
"Bagus. Selamat bersenang-senang, aku akan menunggu di rumahmu." Jiva tersenyum lebar, ia membalik tubuh Gita dan mendorongnya masuk.
Setelah Gita masuk, Jiva bergegas pergi menuju kediaman nenek Cempaka untuk menunggu Gita pulang. Ia penasaran dengan cerita pertemuan Gita dan Kai, apakah Gita bisa menjadi pengganti yang baik untuknya atau tidak?
Atau kalaupun emang benaran ada, apa yang membuatnya langsung tertarik sama Gita? 😕
galaa semoga kamu cepat balik pulang
kasihan banget kamu kiranaa