Ini hanya cerita ya.. Fiktif belaka, jadi jangan ditiru ya guys.
Ini adalah season ke 3 dari Istri Manja Tuan Kusuma
Chevania Sayna Krisnajaya adalah putri cantik dari pasangan Jingga Riani Putri Kusuma dan Edward Joseph Krisnajaya. Dia gadis cantik yg sangat baik hati ( jika tidak memiliki masalah dengannya). Setiap yg melihatnya akan luluh dengan kecantikan dan tingkah menggemaskannya.
Chevania dikelilingi orang - orang yg sangat menyayanginya. Chevania adalah anak dari keluarga bangsawan. Apakah dia akan hidup sombong dengan segala fasilitas yg dimiliki ataukah dia akan jadi gadis cantik yg penuh dengan kesederhanaan?
Ardiaz Sailendra Kusuma adalah putra dari pasangan Biru Anggara Putra Kusuma dan Emiliana Andara. Dia adalah remaja tampan dan cerdas yg menjadi incaran para gadis. Dia dikelilingi orang - orang yang berusaha mengambil keuntungan darinya dan juga mengambil hatinya. Bagaimanakah caranya bersikap? Apakah dia akan membiarkan para gadis memanfaatkannya atau menjauhi para gadis yg mendekatinya?
Cari tahu kisah keluarga Kusuma selanjutnya disini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gadis ini gila, dia tidak beda jauh dengan Diaz
Ji dan Ed memasuki kantor polisi dengan bergandengan tangan. Mereka terlihat sangat serasi. Fedi sedang diruang kunjungan bersama Tamy dan pengacaranya
" Permisi pak, kami ingin mengunjungi tahanan bernama Fedi "
Kata Ed pada polisi yang bertugas
" Anda bisa menunggu sebentar, karena tahanan bernama Fedi sedang menerima kunjungan! "
Jawab pak polisi dengan ramah
" Baik, terimakasih. Kami akan menunggu giliran kami "
Ed dan Ji duduk menunggu hingga tiba giliran mereka masuk. Tak berselang lama, Tamy keluar bersama seorang pengacara yang mengikutinya dari belakang
" Pak Edward, bu Jingga. Kebetulan sekali anda berdua berada disini. Saya senang bisa bertemu dengan anda berdua "
Sapa pengacara yang tiba - tiba melewati Tamy begitu melihat Ji
" Kami ingin mengunjungi salah satu tahanan disini. Apa yang sedang anda lakukan disini? "
Tanya balik Ji pada pengacara itu
" Saya disini untuk membela salah satu tahanan. Kalau boleh tahu anda akan mengunjuni siapa disini? "
" Kami datang kemari untuk mengunjungi pak Fedi "
Jawab Ed dengan santainya
" Apa anda kenal pak Fedi? Saya disini untuk menjadi pengacaranya "
Pengacara itu terlihat sangat penasaran
" Hanya sebatas kenal, kami tidak berhubungan baik. Permisi, kami harus masuk! "
Jawab Ed sinis
" Oh iya, maaf mengganggu. Silahkan! "
Ji dan Ed kembali melangkahkan kaki untuk masuk dan mengunjungi Fedi
" Halo, pak Fedi. Bagaimana perasaan anda setelah berada disini? "
Ed menyapa Fedi yang duduk di kursi kunjungan menunggu tamu yang berkunjung
" Pak Edward, bu Jingga. Bagaimana anda bisa berada disini? "
Tanya Fedi yang cukup terkejut
" Kami ingin melihat secara langsung kondisi anda, Apa anda menikmati berada disini? aku bisa mengatur semuanya untukmu "
Ji berkata dengan senyum sinis tersungging di bibirya
" Apa maksud anda? "
Fedi mengernyitkan dahi menatap heran pada Ji
" Maksudku,,, karena anda sudah berani mengusik keluargaku jadi anda pasti sudah siap dengan konsekuensinya kan? Anda pikir bisa memanfaatkan kami dengan mudah. Anda cukup memiliki nyali untuk berurusan langsung denganku "
Ji menyeringai kemudian dia mendekatkan wajahnya pada Fedi
" Anda harus ingat siapa namaku! Aku, Jingga Riani Putri Kusuma, tidak suka jika ada yang orang yang mengganggu ketenangan keluargaku. Aku bisa melakukan apa saja untuk keluargaku "
Ji berkata dengan penuh ketegasan. Fedi hanya diam membatu dengan wajah pucatnya menatap Ji dan Ed yang beranjak pergi dari hadapannya. Seluruh tubuhnya bergetar, dia hanya air mata yang mengalir sebagai tanda penyesalan
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Cheva sedang pergi ke mall karena bosan, tanpa sengaja dia melihat seorang pemuda yang tengah membuat lukisan dinding di salah satu bagian mall yang tengah di renovasi. Cheva pun berjalan mendekatinya
" Ternyata kak Lian pandai melukis juga ya? "
Lian hanya menoleh menatap Cheva kemudian kembali fokus pada lukisannya
" Pergilah! Jangan ganggu aku! "
Katanya dengan acuh tak acuh tanpa memandanga ke arah Cheva
" Kenapa? Aku hanya ingin melihat kakak melukis saja. Apa salahnya? "
Cheva berkata dengan manjanya
" Salahnya karena kamu telah mengganggu konsentrasiku "
" Aku tidak melakukan apa - apa "
Cheva menjawab dengan tampang tak berdosanya
" Fyuuhh,,, kenapa kamu sendirian? DImana pacarmu itu? "
Lian mulai tak berdaya karena tidak bisa mengusir Cheva
" Siapa? Kak Diaz? Aku kesini sendiri. Aku tidak tahu dia sedang sibuk apa "
Cheva menjawab dengan terlihat kesal
" Huh, aneh kamu ini kan pacarnya, bagaimana bisa kamu tidak tahu dia dimana? Biasanya para gadis akan sengaja menempel padanya kemanapun dia pergi "
Lian berbincang sambil terus melukis di dinding
" Aku tidak seperti mereka, lagi pula tidak ada gunanya aku mengikuti kak Diaz kemanapun. Membosankan jika aku harus selalu berada disampingnya. Aku seperti tembok baja yang harus melindungi dia dimanapun "
Keluh Cheva pada Lian
" Apa kak Lian begitu suka melukis? Bisakah nanti kakak melukis ku? "
" Tidak. Aku tidak berniat menjadikanmu modelku "
" Kenapa? Apa karena aku terlalu cantik? Sehingga membuat kak Lian kesulitan untuk melukis wajahku? "
Mau tidak mau Lian tersenyum mendengar perkataan Cheva
" Lihat! kak Lian tersenyum. Ini pertama kalinya aku melihat kakak tersenyum, kakak sangat tampan ketika sedang tersenyum "
Cheva menggoda Lian dengan senyum cerianya
" Sudah. Berhentilah menggangguku! Lebih baik kamu pergi! Jika ada yang melihat mu disini bersama denganku, maka besok sekolah akan heboh karena kamu mendekati sahabat dari pacarmu "
" Biarkan saja. Itu bukan urusan mereka, lagipula yang tahu kebenaran kalau aku menggodamu atau tidak kan hanya kita berdua "
Cheva bersikeras dengan apa yang dia katakan dan tidak ingin pergi dari sana
" Gadis ini gila, dia tidak beda jauh dengan Diaz, pantas sanja kalau mereka berdua memang cocok "
Gumam Lian dengan menggelengkan kepala berkali - kali dan memukul keningnya sendiri
" Apa kak Lian bekerja di mall ini? Atau,,, kakak disini hanya untuk melukis saja? "
Cheva yang mulai penasaran bertanya pada Lian
" Bukan urusanmu! Bisakah kamu berhenti bicara? "
Lian menoleh, menatap Cheva yang tengah memainkan bibirnya. Dia berusaha sekuat tenaga untuk menahan senyum, beruntung kali ini Cheva tidak melihatnya. Jika saja Cheva melihatnya maka sudah pasti Lian akan kembali di ejek olehnya
" Aku kan hanya ingin menemani kak Lian agar tidak merasa jenuh. Ya sudah kalau kakak tidak mau aku temani "
Cheva berjalan menjauh meninggalkan Lian
" Dasar muka spons. Aku hanya ingin menemaninya tapi dia malah mengusirku "
Cheva terus saja menggerutu kemudian dia merogoh tasnya untuk mengambil ponsel
Tuut tuut tuut
Cukup lama Cheva menunggu hingga panggilan tersambung. Kemudian terdengarlah suara menyapa dari ujung telepon
" Hallo, ada apa Va? "
Terdengar suara Diaz dari ujung telepon
" Kak Diaz ada dimana? "
Cheva balik bertanya pada Diaz
" Kebetulan kamu menghubungiku. Bisakah kamu datang ke jalan XX no 2? Ku merasa tidak nyaman disini? "
Jawab Diaz dengan yang sedang menghadiri sebuah pertemuan atas perintah Biru
" Kakak sedang ada pesta? "
Cheva mengernyitkan dahi mendengarnya
" Lebih tepatnya jamuan untuk penyambutan anaknya temen papi. Bisakah kamu menemaniku? Please... Kemari ya? "
Diaz dengan wajah memelasnya memohon bantuan Cheva
" Baiklah, aku akan datang kesana! "
" Good. Terimakasih adikku yang cantik "
Diaz tersenyum setelah mendapatkan persetujuan dari Cheva
" Hemn,, sampai jumpa "
Cheva mengakhiri panggilan diantara mereka dan segera bergegas untuk pergi ke alamat yang diberitahukan Diaz.
Karena ini diluar jam sekolah, jadi Cheva mengendarai mobil sportnya sendiri. Dia melaju diantara mobil - mobil lain yang melintasi jalanan kota. Desiran angin menghempaskan rambut indah Cheva, membuatnya melayang - layang karena bagian atas mobil yang terbuka. Tak lama dia tiba di alamat yang dimaksud
" Kak, aku sudah tiba di depan "
Cheva menghubungi Diaz begitu dia tiba
" Aku akan kesana sekarang! "
Diaz menutup teleponnya dan bergegas menjemput Cheva diluar
" Akhirnya kamu sampai juga. Aku bisa mati mendadak jika terus menghadapi gadis - gadis agresif itu "
Diaz mendekati Cheva dan melingkarkan tangannya di pundak Cheva
" Tidak usah berlebihan. Seperti kakak yang paling tampan saja. Cih "
Cheva berdecih mengejek Diaz
" Diaz, kenapa kemu keluar dari pesta begitu saja? Tadi aku mencarimu di dalam "
istri manja tuan kusuma
4x ku baca berulang2
bagus sekali