Veynana Anggraeni Wardana, siswi kelas XI SMA sejahtera. gadis manis manja, biang onar, dan hoby bolos sekaligus telat🤣🤣🤣
Justin Ervando Bramasta, siswa kelas XII SMA sejahtera. cowok tampan, tinggi, dan memiliki gen bule. Yang memiliki jiwa otoriter sebagai panglima perang namun memiliki otak yang cerdas yang tak pernah tergeser dari singgasana peringkat satu.
mereka di satukan dalam pernikahan sah secara agama. Namun di kenal oleh teman2nya sebagai kakak adik bersaudara jauh.🤣ribet banget yak!!
mari kita lihat bagaimana perjalanan cinta setengah sahh ini. cuzzz😘😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sweetyy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24 Medan Perang
Sejak duet maut nan romantis itu, hubungan Nana dan Ervan semakin membaik. Setiap hari mereka berangkat dan pergi sekolah bersama, sarapan dan makan bersama, hingga menyempatkan jalan pada akhir pekan.
Mereka seperti pasangan pacaran yang baru jadian. Padahal ada hubungan suci yang terjalin di antara mereka. Semua berjalan begitu indah akhir-akhir ini bagi Nana dan Ervan. Meskipun, Ervan masih sering cemburu pada kedekatan Nana dan Adi.
Meskipun begitu, Ervan tak pernah melarang mereka bertemu, karena Ervan tau hubungan mereka sudah seperti saudara.
**
Siang ini Nana Cs sedang mengikuti pelajaran olahraga. Nana sangat menikmati, karena taka da guru yang mengajar, jadi mereka bebas menguasai lapangan permainan.
Lapangan itu bukan seperti lapangan basket sesungguhnya yang indah dan menarik untuk dinikmati. Lebih seperti kumpulan perempuan yang bergerombol berlari kian kemari.
Berbeda dengan Nana, karena merasa sumpek bergerombol dengan teman-temannya, Nana dengan tubuh mungilnya menendang-nendang, membentur-benturkan, hingga melempar apapun yang ada di tangannya kepada teman-teman cewek sekelasnya.
“NANA… obat rabies kamu abis apa ya?” Ratna teman sekelas Nana tampak kesal.
“Abis sebel gue, kalian bisa main nggak sih. Main gerombol semua udah kayak semut aja. Ngerebutin bola. Ntar kalo kalian mau gue beliin satu-satu buat kalian.” Nana kan memang terlahir sombong.
“Kan, penyakit horang kayah kambuh.” Timpal Erna.
“Iya-iya sorry kalian main lagi san ague capek.” Erna keluar lapangan pertandingan. “Randi mau nemenin gue nggak?” Nana menghampiri sahabatnya itu di tribun.
“Kemana bos?” Tanya Randi.
“Bolos.” Jawab Nana santai.
“Siapa yang mau bolos.” Tanya Bu Inggrit dari kejauhan.
“Kan bos, lo sih bos keras banget.”
“Ehh bu Inggrit yang cantiknya kebangetan, nggak ada yang bilang bolos bu. Ini nih buk si Randi, polos banget dia buk, nggak berani nembak gebetannya.” Elak Nana.
“Siapa memang ceweknya?” Tanya Bu Inggrit mengikuti arah pembicaraan Nana.
“Ih ibu kepo deh, tapi Nana kasih bocoran deh khusus buat ibuk.” Nana mulai semangat, sedangkan obyek pembicaraannya hanya diam. Tau sahabatnya ini akan mulai melakukan hal-hal unik.
“Ibu tau kan cewek yang suka di depan?”
“Yang mana?” Bu inggrit mulai antusias.
“Yang itu lo buk yang suka lewat depan sekolah kita.” Nana berdrama ria.
“Yang suka bawa boneka bu, yang makeupnya unik. Yang suka jalan di depan sekolah. Yang suka nyanyi hareudang hareudang hareudang, panas panas panas,,,, gitu bu sambil goyang ngebor.” Nana tak lupa memperagakan goyang ngebor ala dirinya.
Teman-temannya yang ada di sana tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Nana bisa membuat guru BP nya terlihat begitu antusias.”Weeee parah lu na, itu mah si Supinah bu.” Martin akhirnya ikut berpendapat.
“Hei Markonah, tega banget ya lo sama Randi yang imut ini anda jodohkan dengan makhluk astral” Randi beracting terluka dan menangis seakan yang paling tertindas.
“Siapa memang Supinah?”Tanya Bu Inggrit yang memang masih belum paham.
“Yaelah bu, nggak paham-paham juga. Itu yang jadi artis nggak kesampean malah jadi artis depan sekolah kita.” Jawab Nana.
“Maksud kamu orang gila depan itu? Ada-ada saja kalian ini. Yaudah ibu tinggal awas aja ya kalau ada yang berani bolos.” Bu Inggrit memperingatkan mereka terutama Nana.
“Siap bu,” jawab mereka bersamaan.
Sepeninggal bu Inggrit mereka bersantai-santai ria duduk di tribun dan bercanda.
“Ran, ayo dong temenin gue.” Rayu Nana.
“Kemana sih bos, nggak mau ah kalo bolos. Bisa di penggal Ervan gue. Apalagi sekarang ketambahan noh pak polisi. Gila aja lo yang bangor gue yang di marahin.” Randi serius kali ini.
“Lo berani ngomelin gue? Salah mereka lah ngapain jadi marahin lo. Ngapain lo protesnya sama gue?” Nana mulai ikut meninggikan nada bicaranya.
“Iya-iya bos sorry, gitu aja ngambek. Udah nasib gue juga dimarahin mulu. Mau kemana sih? Hayuk deh berangkat.” Jawab Randi.
**
Swalayan depan sekolahnya lah kini Nana dan Randi berburu belanjaan. Tentu saja tujuan Nana adalah eskrim cornetto rasa coklat dan tentu tak lupa beberapa chiki dan coklat batang. Sungguh moodbooster yang menyenangkan.
Setelah membayar semua belanjaan, Nana berencana untuk nongkrong sebentar di depan swalayan yang ada tepat di seberang sekolahnya.
Ketika akan duduk di kursi yang tersedia, mereka di kagetkan dengan datangnya gerombolan anak SMA musuh yang datang dengan berlari membawa kresek-kresek yang tentu saja penuh dengan bom-bom Molotov berbentuk benda padat.
PRANKKKK terdengar kaca pecah. Dilihat telah banyak anak lelaki sekolahnya mulai keluar dan membalas lemparan-lemparan batu dari kubu lawan. Timpukan-timpukan akurat tak mampu terhindarkan, banyak juga yang tumbang karena terkena lemparan batu.
Nana akan berdiri namun dicegah oleh Ervan. “Jangan bos, diem aja dulu disini, keadaan lagi nggak bagus. Kalo sampe ntar mereka lihat kita. Udah habis kita.”
“Cemen amat lo jadi orang. Udah, kalo lo takut lo diem aja disini.” Nana kemudian beranjak berdiri. Dan TING.. Nana mendapatkan ide brilian saat melihat anak kecil tidak jauh darinya yang sama ketakutan sedang memegang ketapel.
“Ran, lo telfon bang Adi gih, dia hari ini ada jadwal patrol dia mungkin bisa langsung berangkat kesini.” Perintah Nana sebelum benar-benar meninggalkan Randi dan menghampiri beberapa anak kecil itu.
“Hei, apa kalian takut?” Nana menyapa anak-anak itu. “Kakak,, tolong kami. Kami takut.” Anak-anak itu berlari menghampiri Nana dan memeluk kakinya.
“Baiklah,, jangan takut kakak disini. Kakak boleh pinjem ketapelnya?” Tanya Nana dan di balas anggukan oleh mereka.
“Oke, sekarang kalian lihat kakak yang duduk di bangku swalayan? Hampiri dia dan tetaplah bersamanya.” Anak-anak itu lalu pergi menghampiri Randi.
“Oke, waktunya beraksi."
JEBRET JEBRET JEBRET, ****** LO
AU AU AU, “apa-apaan ini. Kenapa ada serangan dari belakang?? WADAW… pantat gueeee”
Sedikit demi sedikit pertahanan belakang tergoyahkan oleh tembakan maut yang di lancarkan oleh Nana.
Ditengan peperangannya Ervan menyadari sesuatu.”Ada apa ini, perasaan nggak ada yang kena lemparan kita, tapi kenapa kelihatan pada kesakitan gitu.” Ervan belum menyadari apa yang terjadi.
Sedangkan Randi yang masih terdiam menjaga beberapa anak kecil yang di tugaskan padanya, amat terjejut dengan aksi sahabatnya itu. “Alamak… ngapain sih itu si bos. Kalo dia kenapa-kenapa gue juga yang kena semprot. Ngalamat di cincang ini gue.”
Nana semakin gencar memburu anak-anak yang membuat kerusuhan di sekolahnya, dan beruntungnya tembakannya tak satupun ada yang meleset. “Seru juga ternyata ikut tawuran, nggak rugi gue suka main ketapel dulu. Kayaknya gue harus belajar pake pistol nih.” Dengan penuh semangat Nana berjuang membela tanah air sekolahnya.
“Wah kakak keren, terus kak terus.. ye.. kakak hebat. Kakak keren. Kakak luar biasa.” Sorakan dari anak-anak penyokong fasilitas ketapel Nana bersorak kagum. Tak melihat penjaga mereka yang tampak bingung harus melakukan apa.
**
Menyadari ada yang tidak beres beberapa anak sekolah musuh mencari asal perusak pertahanan mereka dan ternyata mereka menemukan pemandangan luar biasa. Seorang gadis manis dengan muka yang Nampak puas berhasil merusak sedikit pertahanan mereka.
“Berani sekali gadis itu. Lihat saja aku akan memberi perhitungan untukmu gadis manis.” Kata salah satu anak sekolah lawan yang di ketahui namanya adalah Rangga.”Tunggu saja aku akan menemuimu gadis nakal.”
si pak pol temen masa kecil nya Nana lagi . psti dah knal akrab
suka kisahnya veinana.. 😩
tapi lumayan konyol lah... lanjut ah..