Sebelum membaca bantu follow akun Ig: @siutayi
Segala pengorbanan dan penantian daniah terhadap yoga setelah bertahun - tahun lamanya menunggu janji terhadap lelaki yang ia cintai.
Nyatanya itu hanya janji palsu, yang ada yoga melamar delima adik kandung daniah kepada kedua orang tua nya dan itu semua membuat Daniah marah besar dan membencinya. Apakah Daniah akan menemukan belahan jiwa yang tepat?? ataukah akan kembali kepelukan yoga??
Bagaimana kisah Daniah selanjutnya??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon utayi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 24
"Nana, apa yang kau lakukan disini??" Teriak Jae Hwa, dengan cepat menjewer telinga adeknya itu yang kini kepergok bersembunyi dibalik pepohonan.
"Aw - aw oppa, ampun!" Pekik Nana, memegang telinga nya. "Dia siapa sayang??" tanya Febby menatap wanita itu dengan begis.
"Dia itu adek aku." Jawab Jae Hwa sekilas. "Astaga na, tuan tolong lepaskan telinga teman saya." Ucap Daniah yang datang karena melihat keributan itu dari kejauhan.
"Dan, tolongin aku." Nana merintih kesakitan.
"Tuan saya mohon," Daniah mengatupkan kedua tangannya dan seperti dilihat Jae Hwa melepaskan jeweran telinga nana. Nana pun bersembunyi dibalik punggung Daniah.
"Sekarang kamu pulang lah! Jangan main - main terus - terusan, ingat Nana kamu sudah dewasa." Tegas Jae Hwa lalu pergi begitu saja mengait lengan Febby.
"uh dasar oppa menyebalkan," cicit Nana, tapi tidak didengar oleh Daniah. "Daniah!" teriak yoga, ia menyusul wanita itu.
"Na mending cepetan kita pergi dari sini." Cercah Daniah, ia dengan cepat mengajak Nana berlari.
"Daniah tunggu!" teriak yoga, ia menghentikan langkahnya karena Daniah sudah semakin menjauh.
"Nana tunggu sebentar." Daniah menghentikan langkahnya dan menarik nafas nya dalam - dalam. Seperti nya sesak nafas nya kembali kambuh, "Aduh bagaimana ini?? kamu bawa obatnya kan??" tanya Nana panik, melihat ekspresi wajah Daniah begitu pucat pasi.
"Aku ngak bawa." Lirih Daniah.
"Bruk." Daniah terjatuh, tetapi untung nya Nana terlebih dahulu memapahnya.
••
"Bertahanlah Daniah. aku akan membawamu kerumah sakit." Nana menancap gas mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia tidak peduli dengan jalanan begitu macet, tetapi ia tetap membunyikan klakson mobil nya pertanda bahwa dirinya dalam darurat.
"Dokter tolong teman saya!!" beberapa perawat yang bekerja disana, segera membawa Daniah ke ruangan ICU.
Untungnya saja Daniah, tidak terlambat dibawa kerumah sakit karena kehilangan nafas nya dan sekarang Daniah butuh oksigen dan suntikan tenaga alias infus.
"Bagaimana dok keadaan teman saya??" Tanya Nana saat dokter itu keluar.
"Pasien keadaan nya baik. hanya saja ia kekurangan oksigen dan tenaga. dan resep obatnya bisa anda tembus di kasir depan." Dokter itu menyerahkan resep obat dan total pembayaran nya.
"Baik dok. terima kasih." Ucap Nana, ia segera pergi menuju tempat pembayaran obat.
"Totalnya lima ratus ribu, dek."
"Astaga aku lupa bawa uang lagi. gimana nih??" batin Nana.
"tunggu sebentar, mbak." Nana segera menelepon seseorang dan setelah itu.
"Nana." teriaknya. "apanya yang terluka?? kenapa bisa sampai masuk rumah sakit hah??" Panik Jae Hwa, memeriksa bagian tubuh saudara nya yang terluka.
"Oppa, bukan aku tapi temanku. Daniah."
"Sekarang aku butuh biaya untuk bayar obat, oppa bisa kan bantu aku??" Nana mengedipkan kedua matanya.
Jae Hwa menghembuskan nafas nya lega tetapi ada sedikit masa bodo baginya.
"Ck, dasar menyusahkan." Ucap Jae Hwa.
Setelah membayar biaya pengobatan Daniah, "Makasih ya oppa." Nana tersenyum senang. "Ya udah oppa pergi dulu." Ucap jae Hwa ingin beranjak tapi dicengah Nana.
"Apa lagi??"
"Oppa harus ikut temui Daniah. Bukankah oppa mengenalnya kan?? Dan sekarang biar Nana yang mengenalkan oppa dengan Daniah." Nana menarik lengan Jae Hwa secara paksa.
Sebetulnya Jae Hwa mau saja menemui Daniah selagi dia juga sekretaris nya, tetapi masalahnya ia tadi saat akan pergi belum berpamitan pada kekasih nya Febby saat sedang sibuk memerankan aktingnya.
tapi ya sudahlah, Nana juga tetap memaksa.
••
"Apa??? Daniah masuk rumah sakit!" teriak mama Dina. "Ya sudah aunty akan segera kesana." Mama Dina mematikan ponselnya.
"Pa, Daniah masuk rumah sakit."
"Daniah masuk rumah sakit??" batin yoga yang berada diruang tamu.
"Ya papa tahu. kalau begitu kita kerumah sakit sekarang." Papa Teo bangkit dari tempat duduknya dan mengambil kunci mobil nya.
"Delima, yoga kamu mau ikut gakk nak??" tanya mama Dina.
Yoga beranjak dari duduknya, tapi tangannya sudah ditahan delima. "Enggak ma, mending mama sama papa aja. delima sama yoga jaga rumah aja." Ucap delima.
"Ya sudah kalian jaga rumah saja. mama sama papa pergi dulu." Ucap mama Dina.
"Delima kenapa kamu ngak mau menjenguk Kakak kamu?? dengan alasan jaga rumah" tanya yoga setelah mama Dina dan papa Teo sudah pergi.
"males untuk apa. biarin ajalah, dia masuk rumah sakit itu bagus siapa juga suruh jadi pelakor. mending mati sekalian." Ucap delima pergi begitu saja.
Yoga hanya terdiam, mengutuk kebodohan nya sendiri. Mengapa ia bisa jatuh cinta pada delima yang begitu sifatnya kasar dan pendendam itu baru ia ketahui. pikirnya.
••
Bersambung