Perselingkuhan? Itulah yang dilakukan Liora, perselingkuhan yang tidak sengaja dilakukannya kala dipaksa meminum minuman keras. Seorang pemuda rupawan yang merenggut kesuciannya. Kesucian yang seharusnya dijaga untuk suaminya. Walaupun dirinya menikah hanya karena hutang budi.
Suami yang cacat, buruk rupa akibat kebakaran. Sang suami yang telah pergi meninggalkannya ke luar negeri untuk urusan bisnis, selama lima tahun.
Dirinya menangis terisak, merutuki kebodohannya yang menikmati malam dengan pria lain. Pemuda yang mengulurkan tangannya, tiba-tiba memeluknya dari belakang.
"Terimakasih," ucap sang pemuda, mengecup punggungnya. Namun wanita itu hanya menangis.
"Apa yang harus aku katakan pada suamiku saat dia pulang nanti?! Aku sudah memiliki suami! Dasar sialan!" umpatnya memukul sang pemuda.
Sang pemuda mengenyitkan keningnya, ini juga yang pertama baginya. Namun, meniduri istri sendiri memang terasa menyenangkan.
"Rahasiakan dari suamimu, jadikan aku simpananmu,"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KOHAPU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
On Line
Helai demi helai pakaian telah dimasukkannya. Wanita yang kembali menyisir rambut suaminya. Ini adalah hari keberangkatan Arga."Sudah tampan..." ucap Liora mengecup pipinya.
"Jangan nakal, tunggu aku pulang," ucapnya tersenyum.
"Aku akan setia, hingga aku jenuh..." jawaban ambigu dari Liora, penuh senyuman tertawa kecil.
"Aku tidak akan lama, jaga dirimu! Jangan mendekati pria lain!" Arga mulai bangkit meraih foto pernikahan mereka meletakkannya ke dalam koper yang tengah dikemas Liora.
Wanita itu tertunduk tersenyum lirih."Masih dua jam lagi, masih ada waktu. Apa kamu tidak berniat..." kata-kata Liora disela.
"Kita sudah membicarakan ini kan? Saat aku pulang nanti kita akan melakukannya. Aku hanya ingin membuktikan kesetiaanmu padaku," ucap Arga tersenyum lembut.
Pernikahan tanpa kepercayaan? Wajah wanita itu kembali berpura-pura tersenyum menahan rasa sakit yang semakin menghujam hatinya."Kita lihat, sampai dimana bebek ini akan bertahan..." lagi-lagi kata-kata ambigu penuh tawa, sesuatu yang tidak dianggap serius oleh Arga.
Bodoh bukan? Hanya memikirkan dirinya sendiri. Ketidak percayaan diri yang merusak dan menusuk hati istrinya. Mungkin jika Kairan tidak menjemput mereka akan lebih baik, Arga tidak akan memperbaiki rupanya saat ini. Liora tidak akan merasa diabaikan.
Namun saat inilah, mungkin saat Arga pulang nanti, akan benar-benar terlihat segalanya, bagaimana menyakitkan ketika kehilangan. Apa yang membuat rasa cinta bertahan begitu lama? Perasaan yang berbalas, berusaha bersama apapun yang terjadi.
Namun yang dilakukan Arga saat ini sebaliknya, menganggap kesempurnaan dirinya adalah tolak ukur kebahagiaan istrinya.
"Setelah ini aku akan melanjutkan kuliah. Aku akan kembali bekerja di ruko sambil kuliah, aku sudah bicara dengan pemilik ruko," ucap Liora, memasukkan beberapa barang lainnya ke dalam koper suaminya.
"Tinggal disini saja, supir akan mengantarmu. Ayah dan ibu juga tidak akan mungkin keberatan. Kamu tidak perlu bekerja, hanya konsentrasi kuliah," pinta Arga.
"Surat kontrak yang aku tandatangani masih ada. Aku juga ingin hidup lebih bebas mencari kesibukan agar tidak merindukanmu," alasan yang diucapkan Liora. Surat kontrak? Sungguh konyol, surat kontrak yang ditandatanganinya menekan harga dirinya hanya untuk menikah dengan Arga. Namun, hanya berakhir pada perasaan suaminya yang sedangkal ini.
Arga tersenyum, memberikan kartu ATM dan buku tabungan pada istrinya."Gunakan dengan baik, aku membuatnya atas namamu. Nomor PINnya tanggal pernikahan kita. Setiap bulan aku akan mengirim uang ke akun bankmu."
"Aku tidak bekerja, tapi digaji..." sarkas Liora tersenyum meraih kartu. Menatap kartu itu terlihat kagum, aslinya? Dirinya benar-benar muak.
"Dasar..." Arga tertawa kecil, tidak benar-benar memahami sifat istrinya yang terlihat seolah-olah baik-baik saja. Mungkin seperti wanita lain hanya dengan sehelai kartu, bebek kecilnya sudah bahagia.
*
Hingga dua jam kemudian, mobil yang akan dikendarai Arga terlihat. Juan ada di sana, membukakan pintu untuk majikannya. Arga yang melambaikan tangan ke arah istrinya yang melihat keberangkatannya dari balkon kamar mereka.
Mata tajam Juan menelisik, bibir wanita itu yang tersenyum terlihat gemetar, salah satu tangan yang mengepal.
"Aku mencintaimu," teriak Arga dari bawah sana.
"Aku juga," teriak Liora, masih setia tersenyum.
Hingga mobil mulai melaju meninggalkan rumah di pusat kota yang cukup besar itu. Angin menerpa rambut Arga, pemuda yang menunduk tersenyum sesekali.
"Jadi dia bukan wanita penghibur?" tanya Juan yang duduk di kursi penumpang bagian depan, dijawab dengan anggukan kepala oleh Arga.
"Kamu berani meninggalkannya tanpa kejelasan?" Pemuda itu kembali bertanya.
"Dia bukan wanita penghibur, Liora orang yang baik, dia akan setia menungguku. Lagipula aku belum melakukan malam pertama dengannya. Seperti bisnis, semua perlu taruhan dan kepastian agar tidak rugi. Karena itu aku menjadikan keperawanannya sebagai bukti kesetiaannya," jawaban enteng dari Arga.
Namun, Juan terdiam sejenak menghela napas berkali-kali."Karena dia bukan wanita penghibur aku malah cemas. Dengar nasehatku! Wanita penghibur akan tertarik dan tidak meninggalkanmu karena uangmu. Tapi wanita baik-baik tidak akan melakukannya, Liora akan membencimu dan meninggalkanmu begitu kamu pulang nantinya."
"Jangan bercanda, dia begitu mencintaiku. Jadi..." kata-kata Arga disela.
"Ini hanya nasehat dariku, Liora manusia bukan malaikat, yang memiliki hati sekeras berlian. Kamu tidak memberikan kepercayaan padanya dan sekarang meninggalkannya. Kita pergi dalam waktu yang lama, setidaknya kamu seharusnya membawanya." Juan mulai meraih phonecellnya membaca beberapa pesan yang masuk.
"Karena itu aku sudah menjelaskan padanya. Dia mengerti dan setuju berarti..." Kata-kata Arga lagi-lagi disela.
"Aku malas menjelaskan pada orang yang menganggap hati seperti masalah bisnis. Hanya peringatan, karena Lisa mengkhianatimu, kamu menghukum Liora. Itu tidak adil..." Hanya itu yang dikatakan Juan. Kata-kata yang tidak ditanggapi Arga.
Menghela napas kasar ingin waktu segera berlalu. Meraba bekas luka di wajahnya sendiri. Membayangkan Liora akan berlari ke dalam pelukannya beberapa tahun lagi, segera setelah dirinya sampai di bandara.
*
Tapi apa benar, segera setelah kepergian Arga senyuman di wajah wanita memudar air matanya mengalir. Dirinya tidak dihargai sama sekali, berjalan mengambil tas ransel yang tidak begitu besar. Dirinya tidak mengambil barang-barang apapun.
Kartu ATM dan buku tabungan hanya diletakkannya di laci. Mengapa? Tidak ingin memiliki hutang budi lagi. Sudah belajar mencintai pemuda dengan wajah yang rusak. Namun segalanya seperti tidak ada artinya. Berhasil mencintainya dengan tulus, menekan harga dirinya di hadapan Arga dan mertuanya hanya untuk mendapatkan restu.
Tapi apa? Pengantin yang tidak disentuh di malam pertamanya. Ditinggalkan, entah kapan suaminya akan pulang. Perasaan cinta dapat pudar begitu juga perasaannya.
"Liora kamu mau kemana?" tanya Intan padanya.
"Aku mau bekerja sambil kuliah. Mengambil jurusan kebidanan, dari pada tidak ada kesibukan. Aku juga tidak mempunyai anak..." ucapnya tersenyum berjalan pergi.
Intan hanya menghela napas kasar mengerti segalanya. Tidak ada yang akan menghapus rasa sepi mematunya. Mengekangnya? Itu bukanlah keputusan yang baik, mungkin dengan mencari kesibukan Liora dapat menghilangkan rasa sepi. Hingga Arga kembali.
Wanita yang berjalan cepat, mengambil kartu kredit di dompetnya."Tunggu! Gunakan ini untuk biaya hidup dan kuliahmu,"
"Tidak perlu Arga sudah memberikan kartu ATM untukku. Ibu jaga kesehatan ya?" ucap Liora berlalu keluar dengan wajah masih setia tersenyum. Memang benar bukan? Arga memberikan kartu padanya, kartu yang tidak digunakannya.
Intan menghela napas kasar, merasa lebih lega. Mungkin dengan membiayai kuliah Liora Arga akan dapat lebih mengikat istrinya.
Tapi apa benar? Mobil taksi online melaju kembali menuju ruko. Semuanya akan dimulai dari awal, hingga dirinya cukup jenuh menunggu.
Hingga mobil taksi online berhenti di depan ruko. Seorang pemuda ada di dalamnya."Tidak ada diskon!" teriaknya.
Seorang pemuda yang terlihat seperti keturunan Tionghoa. Inilah anak pemilik ruko, seseorang yang akan membuat Liora selalu memijit pelipisnya sendiri.
Seorang pemuda yang dihukum ibunya karena menghabiskan uang jutaan rupiah hanya untuk top up game online. Jurusan bisnis dan manajemen mungkin akan kuliah satu universitas dengannya, benar-benar permintaan gila dari sang pemilik ruko agar Liora mendidik putra tunggalnya.
"Sialan!" umpatnya dengan suara kecil.
yg aku khawatirkan David, kalau Lim sih kagak
bisa jadi rival Arga nih selain Lim
selingkuhan Liora suaminya sendiri, gmn saat tau nanti akan semakin membenci Arga atau gmn
kepikiran dgn anaknya Lisa yg di adopsi Liora, jadi masalah gak ya nanti nya
walaupun ditinggal untuk bisnis dan berobat agak nyesek ya lima lho