Seorang CEO penderita Post Traumatic Relationship syndrome, tidak bisa jatuh cinta lagi ketika kehilangan calon istrinya dikejutkan ketika melihat ada seorang gadis begitu mirip dengan calon istrinya yang telah tiada.
Tanpa berpikir panjang, gadis malang itu dipaksa menjadi pengantin pengganti sang CEO.
Aluna, gadis berusia 25 tahun yang dalam titik terendah dalam hidupnya.
Ayahnya terkena serangan jantung, calon suaminya selingkuh dengan sahabatnya sendiri, dan hutang menumpuk untuk biaya pengobatan ayahnya.
Rasanya dunia tempat ia berpijak dipenuhi oleh duri kaca yang menyakitinya.
Sampai ketika dia bertemu dengan seorang CEO bernama Edgar Brown (30), pengusaha terkaya namun terkenal dingin dan kejam.
Pertemuan itu membawa Aluna ke kehidupan yang jauh berbeda, semua masalah hidup dan finansial semuanya terpecahkan atas bantuan Edgar.
Namun ada bayaran untuk semua itu, dimana Aluna harus menjadi pengganti untuk Edgar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anak Kost, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23 : Duduk dipangkuan Edgar.
Episode 23 : Duduk dipangkuan Edgar.
***
Di ruang tamu ...
Aluna melangkah dengan hati yang berat namun pasrah, ketika ia melihat kediaman Edgar rasanya dia menjadi semakin kecil.
Menurut Aluna, lelaki ini terlalu kaya untuk ia tangani.
"Sayang ... duduklah." seru Edgar dengan wajah angkuhnya dan senyumannya yang penuh dengan rasa percaya diri berlebihan.
Dengan diam, Aluna duduk di kursi sofa yang posisinya berhadapan dengan Edgar Brown.
'Belum apa-apa sudah memanggil sayang, aku semakin takut menghadapi hari hari bersama lelaki ini! semakin aku bayangkan semakin banyak imajinasi dewasa!'
Aluna menahan dirinya untuk banyak berkomentar, sekarang ini dia hanya ingin mengajukan syarat dari dirinya di surat kontrak yang sebenarnya sudah ia tuliskan sendiri.
"Mana surat kontrak nya? berikan kepadaku." seru Edgar menatap Aluna dengan sangat intens.
Aluna dengan sengaja memang tidak berani menatap mata Edgar, karena jika dia bertemu pandang dengan Edgar maka Aluna akan merasa seolah-olah dia tersedot oleh ketajaman mata lelaki itu.
Aluna segera merogoh tas nya dan mengambil surat kontrak itu, dia hendak menyerahkan nya dengan sopan.
Tetapi ...
"Datang kesini, meja ini terlalu besar memisahkan kita, aku tidak bisa menjangkau surat itu jika jarak nya sejauh ini ..." seru Edgar Brown bahkan tidak berusaha sedikitpun untuk meraih surat yang sebenarnya sangat dekat darinya.
Karena Aluna sudah meletakkan surat kontrak itu lebih dekat ke arah Edgar.
"Tuan, tapi surat kontrak nya tepat berada di depan mu, kenapa ..."
Belum sempat Aluna melanjutkan ucapannya, Edgar langsung berpangku tangan dan wajah yang tadi tersenyum berubah menjadi dingin.
"Bawel! jangan banyak tanya dan banyak tingkah!"
"Aku menyuruh mu kesini maka kau harus mendekat!"
"Jangan membantah sedikitpun, bukankah kau sudah tanda tangan kontrak nya?"
Seru Edgar terlihat sangat serius.
Ketika melihat itu hawa dingin serasa menusuk tulang Aluna, lelaki yang ada di hadapannya ini selama ini tersenyum akan tetapi ketika dia membuat ekspresi wajah serius maka kengeriannya akan terlihat jelas.
'Mengerikan, menakutkan! tanganku sampai dingin dan bergetar oleh nya ... aku tidak boleh membuat masalah dengannya, aku mungkin akan dilenyapkan olehnya dalam sekejap!'
Aluna megasa sangat ketakutan dalam dirinya, tetapi ini semua jauh lebih baik ketimbang tidak memiliki uang dan di hina seenak jidat.
Aluna mengambil berkas itu lagi dan melangkah menuju Edgar yang mengikuti langkahnya dengan tatapan tajam itu.
"Tuan ... ini berkas nya." seru Aluna menundukkan wajahnya dan menyerahkan dokumen itu dengan sangat hormat dan sopan.
"Pffft!"
Edgar terkekeh kecil, dia segera menarik tangan Aluna dan membuatnya duduk di pangkuannya.
"Sayang ... kau sejak tadi menghindari tatapan ku, apakah kau masih malu karena aku menyentuh buah dada mu?"
"Atau kah kau takut kepada ku?"
Bisik Edgar segera menahan tangan Aluna dengan sangat kencang, dan salah satu tangannya lagi mencengkeram dagu Aluna agar wajah Aluna menatap ke arahnya.
Aluna tentu saja syok ketika tubuhnya tiba-tiba saja berada di atas pangkuan orang lain, hal ini belum pernah terjadi seumur hidupnya.
Bahkan Deffan tidak pernah memangku nya seperti ini.
Aluna menelan salivanya karena terlalu gugup, posisi ini terlalu provokatif dan terasa sangat nakal.
Pandangannya juga tetap tidak berani melihat mata Edgar, sungguh sulit dijelaskan tetapi Aluna megasa sangat takut kepada lelaki ini.
.
.
.
.
gak nyambung lah dengan sindrom"nya atau penyakit apalah itu. karena pd nyatanya mau fiona salah atau tdk ttp fiona yang diinginkan.