Lanjutan Kisah dari Caelvita-119 yang sudah resmi menjabat yakni tokoh utama andalan Felix bersama dengan Pemimpin Alvauden Cain dan juga Tan, Teo dan Tom yang masih belum diketahui bagaimana kabarnya. Di season kedua ini, kita akan bisa melihat bagaimana perubahan Tiga Kembar.
Setelah Perang Besar Pertama Caelvita-119, Viviandem sudah dibangkitkan dan semua aktivitas di Mundebris kembali berjalan normal. Hingga terdapat masalah pertama yang muncul di Penjara Aluias. Disinilah awal mula konflik di season kedua ini dimulai.
Di season dua ini juga akan lebih menunjukkan bagaiamana permusuhan antara Aluias dan Sanguiber. Bagaimana kedua Viviandem dari Kerajaan yang berbeda ini selalu saja tidak pernah sependapat. Tapi Felix sendiri lahir dari Ayah yang seorang Raja Aluias dan Ibu yang seorang Ratu Sanguiber.
Apakah dengan itu, Aluias dan Sanguiber bisa berdamai? atau tetap saja tidak memberi perbedaan besar?!
Silahkan simak kisahnya, selamat membaca!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ittiiiy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 23 : New Normal Bemfapirav
"Bagaimana cara menggunakan ini?!" Cairo merasa senang karena mendapat senjata tapi tidak tahu cara menggunakannya sama saja kalau tidak bisa diandalkan untuk melindungi diri malah menjadi pengganggu saja pada akhirnya.
"Kenapa kau menggunakannya seperti palu?!" Camden heran.
"Bukankah begitu seharusnya pemukul bisbol lakukan ...." Cairo lebih heran lagi.
Sementara Cairo tidak nyaman dengan senjata barunya itu membuat kelompok berjubah coklat memiliki celah untuk mendominasi serangan. Cairo mendapat serangan telak dengan cara keroyokan lebih tepatnya.
"Ouch, pasti sakit sekali ... tenang saja, nanti bisa kita obati!" teriak Camden.
Cairo kesal dan melempar senjata yang diberikan oleh Camden tadi karena sama sekali tidak membantu malah menghalangi pergerakannya saja.
"Kelihatan kalau dia punya dasar yang kuat menandakan kalau dia banyak latihan tapi caranya bertarung sangat tidak profesional sangat kentara kalau dia belum berpengalaman." kata Camden mengamati dari atas pohon.
"Ya, dia sangat buruk soal itu ...." kata Pohon yang ditempati duduk oleh Camden.
Pohon lainnya yang ada disekitar sana juga terus menghindar untuk menghindar agar tidak mendapat serangan. Sudah biasa sebenarnya mereka menghindar dari pertarungan para Quiris. Para pohon kebanyakan lebih tua daripada Quiris disana. Jadi sudah tahu bagaimana memprediksi karena sudah melihat banyak pertarungan sebelumnya. Tapi pertarungan antar Cairo dan Kelompok berjubah coklat itu sangatlah tidak bisa diprediksi.
"Ow, aku sudah menandaimu Quiris muda! Kau akan membayar tagihan besar untuk ini! Kupastikan tunggakan pembayaranmu akan membengkak!" kata Pohon yang terkena senjata mengomel.
Cairo terlempar dan mengenai pohon yang ada Camden diatasnya sedang duduk. Pohon itu mengeluarkan akarnya dari dalam tanah dan melempar Cairo menjauh.
"Aw!" Cairo mengeluh kesakitan, bukannya dibantu tapi seperti seluruh alam mengganggunya saat ini. Seperti sedang bertarung di Mundclariss dan diganggu oleh banyak orang yang sedang menonton, begitulah yang dirasakan oleh Cairo saat ini. Hanya saja tanaman disini yang dimaksud.
"Tapi, bukankah dia tidak terlalu seburuk itu?!" kata Camden menyenggol pohon.
"Entahlah ... kau lebih tua dariku seharusnya lebih tahu soal itu!" kata Pohon itu.
"Ow, usia bukanlah segalanya kawan! Kadang yang lebih muda bisa lebih dewasa dan yang tua lebih kekanak-kanakan. Siapa peduli soal usia, kita bisa hidup bebas ... mau itu menjadi dewasa atau kekanak-kanakan, yang jelas kita bahagia soal itu." kata Camden.
"Dan ... kau baru saja membuktikan sendiri betapa tuanya dirimu!" kata Pohon.
"Hahh ... aku juga tidak tahu sejak kapan aku menjadi seperti kakek-kakek cerewet yang dulunya kubenci." kata Camden.
...****************...
Felix dan Cain memasuki Bemfapirav, bukan tepat di rumah Banks. Tapi agak sedikit jauh darisana, karena ingin melihat keadaan Bemfapirav juga sekalian.
Sama seperti Mundebris, Bemfapirav juga sudah kembali normal. Bemfapirav yang dulunya sepi kini jadi ramai lagi karena Zewhit sudah bebas keluar dari Memoriasepirav mereka tanpa takut tertangkap oleh anak buah Efrain lagi.
"Aku tidak tahu apa harus senang soal ini atau tidak ...." Cain tidak tahan dengan suara aneh menyeramkan dan tatapan melotot para Zewhit, "Melihat banyak Zewhit begini ...."
"Jangan khawatir, mereka itu hanya memperhatikanku saja bukan kau!" kata Felix.
"Kau pikir aku risih soal perhatian mereka?! Bahkan aku ngeri sendiri disini, menurutmu bagaimana dengan mereka nanti?!" kata Cain yang ternyata memikirkan soal Tiga Kembar.
"Hanya karena kelihatannya mereka begitu, bukan berarti mereka seperti yang kau pikirkan." kata Felix.
"Apa maksudmu orangtua?!" kata Cain.
"Tatapan mereka yang seperti akan membunuh itu tidaklah seperti yang kau bayangkan ... mereka hanya kesulitan melihat saja dan kesulitan menggerakkan mata makanya harus membuka mata lebar-lebar untuk bisa melihat. Kita harus maklum dengan kondisi semua makhluk disetiap dunia ...." kata Felix.
"Perlu waktu terbiasa soal itu! Biar aku lihat ... ah, mungkin 100 tahun yang akan datang aku bisa beradaptasi dan memaklumi mereka." kata Cain sarkastik.
"Aku tidak bisa memaksanya kau tahu itu!" kata Felix.
"Kau Caelvita, mereka pasti akan mendengar." kata Cain.
"Bukan mereka yang harus beradaptasi dengan kita tapi kitalah yang harus beradaptasi dengan mereka." kata Felix.
"Hahh ... menyebalkan, aku tidak mau tahu ya kalau Teo akan terkena serangan jantung setiap menitnya!" kata Cain.
Selama berjalan di Bemfapirav sama seperti berjalan di kota mati, walau ada banyak orang bisa dilihat tapi mereka tidak benar-benar hidup. Kota mati untuk mereka yang telah mati. Felix masih sangat menyayangkan soal banyaknya Zewhit cangkang, itu juga yang membuat Cain tidak terlalu suka dengan Zewhit. Karena bukannya mereka mencoba meminta bantuan, lebih memilih egois untuk melakukannya sendiri dan memilih kehidupan yang tidak bermakna. Padahal ada Leaure yang siap membantu tanpa imbalan apapun.
...****************...
Cairo mulai kelihatan tersudutkan seiring berjalannya waktu pertarungan yang tentunya Cairo kalah soal stamina dan kemampuan bertarung yang hanya mengandalkan kekuatan fisik saja.
"Kau tidak tahu seberapa bergunanya senjata yang kau abaikan itu!" kata Camden menggoyangkan kakinya seperti bermain ayunan diatas pohon.
"Aku tidak butuh, itu hanya mengganggu dan menghalangi saja." kata Cairo.
"Itu karena kau belum mengenalnya saja, saat kalian saling kenal pasti akan nyaman satu sama lain dan jadi sahabat sejati." kata Camden.
Cairo muak rasanya harus mendengar keanehan lainnya dari Camden saat nyawanya sedang terancam. Rencananya Cairo hanya akan mengeluarkan Pedang Aluiasnya saja yang terus dibawanya dipunggung kalau sudah dalam keadaan benar-benar mendesak. Tapi Cairo memberanikan diri lagi mengambil resiko untuk menggunakan senjata yang diberikan oleh Camden tadi.
Bahkan lawan mencoba menggunakannya tadi tapi tidak tahu juga cara menggunakannya dengan benar. Jadi hanya diabaikan juga.
"Mereka tidak tahu saja seberapa berharganya senjata itu ...." kata Camden dalam hati.
Cairo kembali meraih senjata aneh itu, masih digunakan dengan cara sama seperti tadi yakni digunakan seperti palu pemukul.
"Hem ...." saat Cairo menyerang lawan, ada sesuatu yang dirasakan Cairo saat mengayunkan senjata itu. Hal yang tidak diperhatikannya tadi, "Ini ... ah, kau bukan pemukul ya?!" Cairo tidak sadar sedang tersenyum saat hampir kehilangan nyawa, "Ow, hampir saja ...." untungnya Cairo bisa menghindar, "Terimakasih pada Kakek Felix yang sudah melatih habis-habisan sehingga terbayarkan sekarang." Cairo mengingat latihan masa kecilnya yang keras, latihan menghindar hingga membuat banyak bekas luka tertinggal bukan hanya kenangan pahit yang tertinggal. Tapi latihan itu berbuah manis juga, Cairo merasa bangga melihat bekas luka yang didapatnya waktu itu bisa menyelamatkannya sekarang.
"Sepertinya dia sudah menyadari ...." kata Camden.
"Kenapa tidak kau beritahu saja bagaimana menggunakannya!" kata Pohon.
"Aku ingin tahu seberapa kuat indera perasanya, dia harus tahu cara merasakan mana makanan yang enak sehingga bisa tahu cara menikmati makanan itu ... sama dengan senjata, dia harus tahu kekuatan senjata itu untuk bisa dipergunakan sebaik mungkin. Menggunakan segala macam cara dan bahan untuk membuat makanan lebih enak ... menggunakan segala hal yang ada disekitar untuk membantu." kata Camden.
"Dia bisa mati saat kau selesai membaca puisimu anehmu itu!" kata Pohon.
"Ah, lawannya ini hanya anak ingusan ... mana mungkin bisa membunuhnya. Kalaupun dia mati karena mereka ini, aku sudah tahu kalau dia tidaklah sehebat itu untuk waktuku yang berharga." kata Camden.
...-BERSAMBUNG-...
doaku menyertaimu...🤲🤲🤲😁😁😁
ikut deg²an yaaaahhh🤭