Bismillah... Kisah ini aku ambil dari beberapa orang yang memiliki pengalaman yang sama. Aku menggabungkannya menjadi sebuah kisah yang mungkin banyak sekali terjadi di kehidupan ini.
Gerd Anxiety adalah Masalah pencernaan, seperti heartburn, mual, dan sakit perut adalah gejala umum yang bisa ditimbulkan baik oleh GERD maupun anxiety. Kalau di masyarakat lebih di kenal dengan sakit asam lambung akut.
Novel ini bercerita tentang perjuangan seorang wanita yang ingin sembuh dari penyakit yang dia derita. Berbagai cobaan hidup, jatuh bangun dalam menghadapi kehidupan ini hingga dia akhirnya sembuh dan sukses.
Jangan lupa pilih menu Favorit ya sebelum dibaca 🥰🥰
*****
Deg.. deg.. deg..
Tiba - tiba saja aku merasa sesak dan kesulitan bernafas. Aku segera meraba dadaku, jantungku sangat kencang sekali berdetak. Keringat dingin mulai membasahi tubuhku. Pakaianku mulai basah karenanya.
Lututku bergetar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon winda siregar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24
Tiba acara pesta anaknya Mbak Yuni. Pagi - pagi sekali aku dan Mas Fadil pergi berbelanja ke pasar. Tadi malam aku meminta mertua untuk menginap di rumahku untuk membantu usaha perdanaku.
Bukan aku tidak percaya diri tapi saat ini aku memang sangat membutuhkan bantuan baik secara rohani ataupun fisik.
Kami membeli semua bahan - bahan untuk membuat minuman. Setelah semua lengkap kami pulang dan langsung meracik minuman tersebut dibantu mertua perempuanku.
Sebelum jam sebelas minuman ini harus sudah sampai di rumah Mbak Yuni. Untung saja jarak rumah kami tidak jauh, jadi begitu minuman ini selesai aku buat langsung diantar suamiku ke rumahnya.
Sembari menunggu suami pergi aku membersihkan rumah dan bersiap - siap untuk undangan bersama suami dan anak - anakku nanti.
Sekitar jam satu siang aku dan suami juga anak - anak tiba di pesta pernikahan anak Mbak Yuni. Teman - teman kerjaku sudah berkumpul di sana.
Aku melihat mereka sedang menikmati minuman yang aku buat.
"Gi minuman ini katanya kamu yang buat ya?" tanya salah seorang agent yang bekerja di kantorku.
"Iya Bu" jawabku sopan, karena umur beliau sudah sangat jauh diatasku.
"Enak lho Gi.. segeeeer... bisa nih dilanjutkan usahanya. Kamu buat di botol - botol terus jual. Kalau ada orang kantor yang mau kamu bawa" usul Ibu itu yang bernama Irma.
"Rencananya juga pengen seperti itu" sambutku.
"Nanti kalau kamu jual, Ibu akan sering beli. Ibu suka sekali Gi minuman buatan kamu ini" ungkap Bu Irma.
"Alhamdulillah" sahutku.
"Daftar langsung di aplikasi Gi. Sekarang kan banyak aplikasi untuk jualan online" sambung Bu Evi teman kantor yang lain.
"Gak bisa Bu, harus ada yang tetap di rumah. Sementara di rumah Anggi ada mertua, dia gak ngerti disuruh jualan begitu. Lagian gak enak suruh - suruh mertua, durhaka. Pelan - pelan aja stock di rumah kalau ada yang mau pesan baru Anggi bawa atau antar pakai go - send jg bisa" Jawabku.
"Kue - kue Anggi juga kayaknya enak - enak. Dia sering posting, udah semakin banyak pinternya. Dia sering foto tart, cantik - cantik" puji temanku yang bernama Mbak Ani.
Aku tersenyum mendengar pujian mereka.
"Alhamdulillah Bu.. lumayan untuk menjernihkan pikiran saat di rumah" jawabku.
"Iya ya dari pada mikirin kantor jadi sakit. Aku sampai takut ketemu orang, takut di tagih sana sini Padahalkan kita gak makan uangnya" sambut Bu Evi.
"Yaaah begitulah hidup ada pasang surutnya, dulu kita enak bekerja. Sekarang mungkin kita disuruh istirahat" ucap Bu Irma.
"Ibu - ibu enak emang sudah tua, sudah waktunya pensiun dan istirahat. Kalau saya, anak - anak saya masih kecil Bu. Saat sekarang inilah memang saya harus bekerja" ujarku.
"Iya Gi, kasihan lihat kamu sampai sakit asam lambung akut gitu. Semoga cepat sembuh ya Gi" doa Bu Evi.
"Aamiin... " disambut oleh yang lain.
Terkadang bertemu teman - teman seperti ini adalah salah satu obat untuk segala macam penyakit. Benar kalau katanya silaturahmi ini bisa memperpanjang umur.
Yah seperti saat ini kami bertemu, bercanda melepas rindu. Setelah lama tidak bertemu karena keadaan perusahaan yang sudah tidak nyaman.
Menjelang sore hari kami bubar dari acara pernikahan anak Mbak Yuni. Aku bersama suami dan anak - anakku kembali pulang ke rumah.
****
Satu bulan kemudian.
Rencananya besok adalah hari terakhir aku ke dokter. Aku merasa penyakitku sudah lebih membaik saat ini. Walau belum bisa sembuh sepenuhnya karena memang asam lambung akan kumat lagi saat telat makan atau salah makan.
Tapi setidaknya serangan panik yang dokter katakan itu, tidak pernah lagi aku alami. Aku merasa seperti terlahir kembali seperti sesorang yang berbeda.
Aku lebih optimistis dalam menghadapi masalah. Lebih semangat hidup, buat usaha dan juga semangat mengawasi pembangunan dapur rumah yang sebentar lagi akan kami tempati.
Hari ini ketepatan kedua orang tuaku menginap di rumahku. Karena tadi Papa juga ikutan mengawasi rumahku bersama mertua laki - laki.
Setelah selesai makan malam kami duduk santai di rumah TV. Si kakak sedang belajar sedangkan adiknya sedang bermain dengan ayahnya.
"Pa, Ma.. besok adalah hari terakhir Anggi ke dokter" ucapku memulai pembicaraan.
"Lho kamu sudah sembuh total Gi? Sakit kamu gak pernah kambuh?" tanya Mama.
"Alhamdulillah sudah dua bulan ini tidak pernah kambuh Ma. Walau asam lambung nya pernah kumat beberapa kali tapi serangan paniknya sudah tidak lagi" jawabku.
"Syukurlah kalau begitu" sambut Papa.
"Disini ada sesuatu yang ingin Anggi katakan kepada Papa dan Mama" ucapku.
Papa dan Mama menatap ke arahku.
"Anggi ingat pesan dokter, agar Anggi bisa sembuh total Anggi harus mengeluarkan semua permasalahan yang ada di hati Anggi dan tidak memendamnya hingga berlarut - larut. Jadi pada kesempat ini Anggi ingin bicara sesuatu sama Papa dan Mama" ungkapku.
"Kamu mau bicara apa Nak?" tanya Papa penuh kasih sayang.
"Pa.. Ma.. maaf kalau selama ini Anggi tidak bisa memenuhi harapan Papa dan Mama. Mungkin Anggi banyak mengecewakan Papa dan Mama. Anggi sadar dalam hidup ini banyak hal yang tidak bisa Anggi raih, oleh sebab itu Anggi menerima keadaan hidup Anggi. Mungkin bagi Papa dan Mama hidup kami susah dibanding adik - adik yang lain. Tapi percayalah apa yang Papa dan Mama lihat tidak seburuk itu. Anggi dan keluarga tetap bahagia, tidak kekurangan apapun. Walau memang kami hidup dengan sederhana, tapi InsyaAllah belum pernah sekalipun kami tidak makan. Sebenarnya masih banyak orang yang lebih susah lagi dari kami. Karena itu Anggi mohon kepada Papa dan Mama, doakan saja Anggi dan keluarga kecil Anggi hidup bahagia versi kami. Mungkin tidak bisa semewah adik - adik tapi percayalah kami bahagia. Anggi tidak mau jadi beban pikiran Papa dan Mama, terlebih Papa. Anak - anak Anggi... itu tanggung jawab kami Pa, sekuat tenaga akan Anggi sekolahkan, Papa jangan mengkhawatirkan mereka. Cukup doakan saja kami dan beri dukungan. Itu akan menjadi kekuatan Anggi untuk berjuang dan sembuh. Kalau Papa terus memikirkan Anggi, Anggi juga merasa terbebani karena saat ini maaf.. Anggi tidak sanggup punya banyak beban. Semua tentang kehidupan Anggi yang Allah gariskan untuk Anggi, Anggi terima Pa. Anggi ikhlas, Papa jangan terbebani ya.. Papa cukup nikmati hidup, jangan lagi pikirkan Anggi. Anggi sudah besar, Anggi bertanggung jawab terhadap hidup Anggi " pintaku sambil terisak.
Mama ikut terisak disampingku. Mungkin apa yang aku katakan ini sudah pernah disampaikan oleh adikku Arif kepada Papa. Sehingga Papa bisa mengerti keadaanku saat ini.
"Papa mengerti.. Yang namanya orang tua sampai matipun tetap memikirkan anak - anaknya. Tapi apa yang kamu alami sekarang ini Papa juga ikhlas Nak. Hiduplah bahagia dengan caramu. Yakinlah roda hidup berputar, Papa yakin tidak selamanya hidup kalian akan seperti ini. Tetap semangat dan sama - sama berjuang kalian pasti akan sukses" pesan Papa.
Mama langsung memelukku dan kami menangis terisak bersama.
"Papa dan Mama sayang kamu Anggi. Kami hanya ingin kamu bahagia" ucap Mama.
"InsyaAllah Anggi bahagia Ma, doakan terus ya Ma" sambutku.
.
.
BERSAMBUNG
nonelnya seperti kehidupan kita sehari'', benar'' hidup seperti nyata kita alami,
luar biasa sekali pengalaman yang bisa kita petik