Kehidupan rumah tangga Riana baik-baik saja, sampai suatu malam dia tak sengaja bertemu dengan Almeer. Seorang pemuda yang hadir ke dalam hidupnya dan membuat biduk rumah tangganya menjadi kacau.
Rumah tangga Riana tak dapat lagi diselamatkan, setelah suaminya mengetahui Riana sedang mengandung anak dari pria lain.
Bagaimana lika-liku percintaan Riana dan Almeer?
Akankah mereka menemukan kebahagiaan?
Salahkah apa yang Riana lakukan?
Ikuti kisah selengkapnya.
Follow IG : @poel_story27
Cover By : @wnc_design_didesc
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Poel Story27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Percayalah, Aku Bersungguh-sungguh
Tunagan? Satu kata itu membuat Riana terbelalak tidak percaya, dia langsung mendorong Almeer menjauh sebelum Fenny menyentuhnya.
Sambil mendecakkan lidahnya dengan kesal, Fenny kembali menatap kembali sinis pada Riana. "Siapa kamu? Ada hubungan apa dengan tunanganku?''
Kata 'Tunanagan' yang kembali tercetus dari mulut Fenny, membuat Riana yakin bahwa dia memang tidak salah dengar. Wanita cantik bertubuh semampai, memiliki rambut panjang berwarna coklat ini adalah tunangan Almeer.
"Aku bukan siapa-siapa, dan aku tidak memiliki hubungan dengan tunanganmu," sahut Riana, lalu mengalihkan pandangannya pada Almeer. "Sebaiknya kamu urus tunanganmu. Jangan mengikutiku!"
Setelah berkata seperti itu, Riana pun melangkah cepat meninggalkan mereka. Almeer hendak menyusul Riana, tapi Fenny menahan tangannya.
"Kak Al, mau ke mana?" cegah Fenny.
Almeer menepis tangan Fenny, sambari menatapnya dengan kesal. "Tentu saja mengejar calon istriku! Dan kau, kau bukan tunanganku, jadi jangan pernah mengaku-aku sebagai tunanganku."
Almeer hendak melangkah lagi, tapi Fenny kembali menahannya. "Apa? Calon istri? Apa aku tidak salah dengar? Kau jangan mengada-ada, Kak! Aku lihat wanita itu jauh lebih tua darimu. Dan ingat, kita ini sudah dijodohkan!"
Sekali lagi Almeer menepis tangan Fenny. "Ya, dia memang calon istriku! Lalu apa masalahnya jika dia lebih tua dariku? Dan kau juga harus tahu, aku tidak menerima perjdohan kita!" tegasnya.
Setelah mengakhiri kalimatnya, Almeer segera menyusul Riana. Menghiraukan Fenny yang mengumpat, sambil menghetak kesal di koridor rumah sakit.
***
Almeer yang setengah berlari dengan cepat berhasil menyusul Riana, dia menemukan wanitanya itu di parkiran rumah sakit.
Riana berdecak kesal. "Untuk apa kamu menyusulku? Sana urus tunaganmu itu!" ketusnya.
Alih-alih menurut, Almeer malah menyeringai lalu berbisik di telinga Riana. "Kamu terdengar seperti wanita yang sedang cemburu, Sayang. Tapi itu bukan masalah, karena itu berarti aku sudah ada di hatimu!"
Riana mendorong tubuh Almeer menjauh darinya. "Kamu!" Riana menunjuk wajah Almeer. "Jangan terlalu percaya diri! Untuk apa aku cemburu? Kamu bukan siapa-siapa bagiku!"
Almeer menghela napasnya, dia terluka. Lagi-lagi Riana menegaskan bahwa dia bukan siapa-siapa, padahal sebelumnya mereka sudah pernah berbagi malam penuh gairah, hingga menghasilkan benih yang kini dikandung Riana.
Tapi Almeer tidak ingin meninggikan egonya, tidak masalah untuk mengalah sekarang. Almeer berjanji pada diri sendiri, selagi dia bernapas maka dia tidak akan menyerah untuk meluluhkan Riana, dan menjadikan wanita itu sebagai tawanan cintanya untuk selamanya.
Almeer kembali mendekat, lalu merangkul pinggang Riana.
"Ikut aku!" paksanya.
Riana mencoba meronta, tapi tangan kekar itu terlalu lengket dan terus menuntunnya menuju sebuah mobil keluaran eropa, yang berharga fantastis.
Lampu mobil itu berkedip di saat Almeer menekan remotnya, lalu dia membuka pintu dan mempersilakan Riana masuk seperti seorang ratu.
Meski dengan sedikit paksaan, Riana pun duduk jok mobil sport mewah pabarikan Italia, yang berlogo banteng emas tersebut.
Ini bukan pertama kali Riana menaiki mobil mewah, karena mantan suaminya juga memiliki beberapa koleksi mobil dengan harga miliaran. Tapi mobil milik Almeer terasa berbeda, mobil ini didesain untuk kawula muda, sehingga memberikan kesan seolah dia adalah gadis muda yang akan pergi hang out bersama sang kekasih.
Setelah menutup pintunya, Almeer bergegas mengitari mobil lalu duduk di belakang kemudi, selajutnya melajukan mobil tersebut meninggalkan parkiran rumah sakit.
Keheningan terasa pekat selama perjalanan, Riana terus memalingkan muka ke arah jendela.
Sampai akhirnya terdengar protes dari mulut Riana, karena tahu mobil yang dikemudikan Almeer tidak mengarah ke rumahnya. "Kita mau ke mana, sih? Ini bukan jalan ke rumahku!"
"Kita makan dulu, ya Sayang!"
Lagi-lagi sapaan sayang dari mulut Almeer itu membuat Riana mencebik. Tapi entah mengapa kata-kata itu rasanya begitu manis, dan sukses membuat jatungnya berdebar tak menentu.
"Aku masih kenyang, antarkan saja aku pulang!" Riana menolak dengan ketus.
Krucuk ... krucuk!
Suara cacing yang berdemo di perut Riana terdengar cukup keras, sehingga Almeer juga dapat mendengarnya.
"Bibirmu itu bisa berbohong, Sayang. Tapi tidak dengan perutmu!" Almeer tergelak penuh kemenangan.
Riana menunduk malu, rasanya sungguh menyebalkan, karena perutnya sendiri pun tidak bisa diajak bekerja sama.
Hari ini hanya sarapan pagi saja yang masuk ke perut Riana, Setelah itu dia pergi ke supermarket, lalu menemani Aeyza di rumah sakit hingga malam. Jadi wajar jika perutnya melakukan protes keras, karena sudah terlambat diisi sejak siang hari.
Beberapa saat kemudian Almeer memasukkan mobilnya ke parkiran sebuah restoran. Begitu mobil itu berhenti, Almeer mencondongkan tubuhnya untuk membuka seat belt Riana, yang sekali lagi berhasil mengirimkan desiran aneh ke tubuh wanita itu.
Almeer turun dari mobil, lalu bergegas membukakan pintu untuk Riana, dan mempersilakannya turun.
Mereka berjalan memasuki restoran, dengan tangan Almeer yang tanpa permisi melingkar di pinggang Riana. Kali ini Riana tidak melakukan protes, karena tahu hasilnya akan percuma. Ditambah lagi dia sudah tidak memiliki energi untuk berdebat, karena belum makan seharian ini.
Mengabaikan tatapan dari pengunjung lain, mereka melangkah lurus memasuki restoran, kemudian duduk di salah satu kursi di ruangan VVIP.
Begitu pelayan datang mengantar makanan, mereka pun memulai santap malamnya.
"Kamu tidak malu makan malam berdua dengan tante-tante?" Kali ini Riana yang besuara terlebih dulu.
"Tante-tante?" Almeer menaikkan sebelah alis matanya.
''Kamu itu hampir seumuran dengan keponakanku! jadi sebutan apa lagi yang pantas untukku selain tante-tante?"
"Aku tidak peduli, yang aku inginkan hanya satu. Berada di dekat anakku, dengan ibunya juga tentu saja!" sahut Almeer dengan seringaian menggodanya.
Riana tersenyum hambar, seringaian di wajah Almeer membuat Riana merasa perkataan Almeer hanyalah gombalan kosong.
"Percayalah, aku bersungguh- sungguh ingin menikahimu, An!" Almeer menambahkan dengan nada serius.
Riana menggelengkan kepala. "Kamu jangan main-main, Al. Pernikahan itu sakral, kamu tidak boleh mempermainkannya meski hanya sekedar kata-kata."
Almeer menghela napas dalam-dalam. "Aku tidak main-main, An. Bahkan aku sudah mencari segala informasi tentangmu setelah malam itu, setelah malam penuh gairah yang membuat aku merasa terikat denganmu."
"Sejak hari itu aku selalu bersamamu setiap hari, kecuali seminggu belakangan ini karena aku harus pergi meninjau sebuah proyek," tambah Almeer.
Riana mengkerutkan dahi. "Apa maksud kamu?"
"Apa kamu sudah Lupa dengan Aldi Bagaskara asisten cupumu itu? Aku rela menyamar dan menjadi asistenmu, hanya untuk mengenalmu lebih dekat, An!"
"Jadi Aldi itu kamu?" tanya Riana, yang dijawab anggukan cepat dari Almeer.
'Ya, Tuhan, pastas saja dia selalu bicara to the point, ternyata mereka orang yang sama,' gumam Riana dalam hati.
''Menikahlah denganku, An!" Suara Almeer membuat Riana mendongakkan kepala.
Hatinya tidak bisa berbohong, dia berbunga-bunga mendengar permintaan Almeer. Tapi Riana juga tidak bisa mengabaikan dalamnya jurang perbedaan di antara mereka, belum lagi pembicaraan antara Almeer dengan Aeyza di rumah sakit tadi yang belum hilang dari ingatannya.
'Nggak apa-apa, Bang. Semua ini jauh lebih baik daripada mommy dan daddy tidak menerima Zian sebagai menantunya,' perkataan Aeyza itu membuat Riana dapat membayangkan seperti apa kerasnya orang tua Almeer.
Jika suami Aeyza adalah pria penurut, yang berbakti kepada mertua saja tidak mendapat sambutan baik? Bagaimana dengan dirinya menyandang status seorang janda?
Riana tidak ingin berharap banyak dari hubungan mereka!
Bersambung.
Jangan lupa like, dan komentarnya, ya.
Terimakasih.
semangaaaat semua perempuan