Teror negeri Jawata, sosok Bocah Malapetaka yang mampu membasmi seluruh negeri dengan api. Seorang penguasa Sekte Kakilangit, Paduka Jayasinggih justru menginginkan kekuatan Bocah Malapetaka, yakni Dunia Bawah yang menyimpan kekuatan ribuan Pasukan Ular. Di bawah kendalinya, pasukan pembantai memburu Bocah Malapetaka untuk dibunuh.
Di sisi lain, sekumpulan praja dikirim ke Kakilangit untuk misi latih tanding. Namun sebenarnya mereka hendak dibantai dan diubah menjadi tentara zombie.
Satu kejahatan tersingkap. Bocah Malapetaka mematahkan ketangguhan Sekte Kakilangit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hidayanthi alifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Murid Pengobatan (2)
Suasana manjadi hening di sekitar ambang pintu kelas, semua mata tertuju pada Kayaning yang berhadapan dengan beberapa murid tersohor di kelas tabib. Tidak ada yang menyangka kalau murid baru itu bisa menjadi galak. Padahal sebenarnya, dalam benak Kayaning tertawa karena semua yang dikatakannya baru saja hanyalah setelah gertakan saja, tetapi mampu membius mereka dalam kebisuan.
Juga karena merasa asyik melihat semua mendadak takut, ia pun menambahi ”Kami adalah kalajengking, jadi jangan salahkan kami jika kalian tersengat racun kami! Salahkan diri kalian yang mengusik!” langkah Kayaning mundur tanpa sadar dan ketika berbalik, rasanya ia menubruk seseorang.
Brak!!!
Nyaris saja seorang murid tabib senior itu terjatuh. Untung saja masih terkendali, namun setumpuk buku yang dibawanya berjatuhan dan beberapa toples terbuat dari tanah liat terlanjur pecah jadi puing-puing tak terhitung di lantai.
”Kayaning!" teriak beberapa murid yang melihat kejadian itu.
Kali ini raut muka Kayaning padam tak dapat disembunyikan. Sedangkan murid senior menatap Kayaning setelah keduanya memungut buku-buku yang berjatuhan.
Hampir semuanya terkesiap, tak bisa menduga-duga apa yang selanjutnya terjadi setelah Kayaning menubruk murid senior sekaligus seorang asisten Guru Tabib.
Namun tidak demikian pada Seruni, diam-diam tersenyum sinis, ”Rasakan!”
”Bantu akau membereskan dan membawanya kembali ke ruang peracikan obat!” pinta murid senior. Kayaning tanpa menjawab apapun menurut saja. Toh ia juga yang mengakibatkan buku-buku sampai berjatuhan. Beberapa botol berisi ramuan, pecah tak bisa kembali seperti semula.
Padahal sebentar lagi, pelajaran tak dapat tertunda, manakala Guru Tabib tiba tetapi bahan praktek berantakan. Semua murid memasuki ruang kelas, sedangkan Kayaning menemani murid senior ke ruang peracikan.
”Apa kamu yang bernama Kayaning?” tanya murid senior, sesampainya di ujung pintu ruang peracikan obat. Lalu keduanya memasuki ruangan besar. Pertama kalinya Kayaning menginjakkan kaki di sana.
”Ya,” jawab Kayaning. Murid senior bingung karena harus memanggil apa terhadap.
”Namaku Kayaning Sendani. Aku murid tingkat akhir di kelas tabib,” kata Kayaning, menaiki satu bangku untuk mengambil kendi serupa dengan yang pecah sebelumnya.
”Taruh di sini,” kata murid senior.
”Inikah ruang peracikan obat?” pandangan Kayaning menyusuri rak dan meja.
"Ada apa?" murid senior melihat gelagat aneh, cara Kayaning memperhatikan sekeliling ruangan, seperti sedang mencari sesuatu.
”Mencari apa?” tanya murid senior seraya mendekat. Tak disangka, ia menanggapi seserius itu.
”Ng ... itu ...,” terlanjur berbicara dan tidak bisa mengelak dari pertanyaan balik, Kayaning menunjuk ke suatu kendi berisi potongan akar-akar hitam, tiap ruasnya ditumbuhi sesuatu mirip taji unggas.
”Oh, itu ... untuk sementara ini, para dewan tabib menyebut hasil temuan baru ini sebagai Kantil Naga. Sejenis akar-akaran yang ditemukan di dekat sumber telaga di dekat Istana Putri. Semua yang ada di ruangan ini adalah herbal temuan terbaru, mungkin obat, mungkin juga racun," kata murid senior. Ia sempat melirik pada Kayaning serius mengamati potongan akar dalam kendi yang di tangannya.
"Ah, Kantil Naga?!" sedikit terkejut, Kayaning memperhatikan herbal yang baru pertama kali dilihatnya.
”Seperti ulasan para dewan juga tentang khasiat akar jenis ini, mereka berkesimpulan bahwa Kantil Naga hanya bermanfaat sebagai pereda demam,” lanjut senior.
”Kurang tepat! Ini bukan sekedar akar! Jika sudah dewasa umurnya kan menjadi umbi. Kami menyebutnya Rimpang Tindih. Tumbuhan obat yang ajaib untuk banyak penyakit bahkan luka berat sekalipun!” terlalu tiba-tiba jika Kayaning harus menjelaskan pengetahuannya tentang akar tumbuhan yang menurutnya sudah tidak asing lagi.
”Apa kau pernah melihat ini sebelumnya?” tanya senior.
”Pernah," jawab Kayaning.
"Di mana?” tanya senior lagi.
”Di ...,” Kayaning. Untung saja masih tertahan di lidahnya sehingga urung dikatakannya.
”Di hutan tempat tinggal kami tentunya,” jawabnya berdalih.
”Hutan mana?”
”Tempat kami di suatu dataran seberang Jawata yang jauh,” jawab Kayaning lagi dengan hati-hati, ”Rimpang tindih adalah penangkal sihir, penyembuh sakit gila dan mampu memulihkan kondisi tubuh akibat luka sangat berat,” terangnya.
”Dari mana kau tahu itu?”
”Setidaknya begitu menurut leluhur kami di sana,” jawab Kayaning.
”O, ya?” senior menatap lekat mata Kayaning. Senior hampir menanyakan lebih rinci lagi tentang tempat asal yang dimaksud, namun Kayaning segera mengingatkan, ”Pelajaran di kelas pasti sudah dimulai!”
”Baiklah, kita ke sana!” pinta senior, mendorong meja kecil beroda empat dan penuh aneka bahan racikan obat di atasnya. Sedangkan Kayaning membawakan sebagian buku-buku yang diperlukan.
”Suku kalian di hutan tidak benar-benar meminum darah serigala, bukan?” senior mengingatkan Kayaning akan perkataannya pada saat kejadian di depan kelas belum lama tadi.
Kayaning tersipu, ”Sebenarnya, aku hanya sekedar menakuti mereka.”
”Sungguh tidak menyenangkan jika di suatu tempat, kehadiran kita tidak cukup diterima. Tetapi aku bersedia untuk membantumu jika kau membutuhkan teman belajar,” kata senior selangkah di depannya.
* * *
Salam dari NALA dan PENDEKAR TOPENG SERIBU 🙏🏻
sehat selalu dan sukses terus 🤲