Follow IG : renitaria7796
Aran Odelia Courtney seorang raja berkuasa yang menyukai gadis bernama Sara Helowit. Raja menginginkan Sara menjadi selir keempat puluh satu. Namun sayangnya Sara sudah memiliki seorang kekasih.
Bagaimana Aran akan menaklukkan Sara? Lalu mampukah sang kekasih menyelamatkan Sara dari belenggu Aran?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon renita april, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Taktik
"Aku melihat beberapa prajurit kerajaan menembus desa Fordem dan melakukan pembersihan di sana," kata Simon.
"Tujuan kita selanjutnya, adalah desa Fordam. Jika mereka melakukan penyisiran, itu artinya prajurit kerajaan berada di sekitaran Howard," ucap Calder.
"Apa kita tidak menyerangnya?" tanya Elios.
"Prajurit kerajaan sangat banyak. Kita harus menjebak mereka untuk melumpuhkan pasukan raja Aran," sahut Charles.
Calder membentangkan peta wilayah negara Whiteland dan menunjuk desa yang sekarang telah mereka kuasai. Pasukan Calder terdiri dari tiga puluh orang, tetapi mereka, adalah para ksatria pilihan.
"Kemungkinan raja Aran akan menyerang kita dalam waktu sehari. Kita harus melarikan diri ke desa suci tempat para pendeta serta pemuka agama bermukim. Desa suci jalan pintas menuju howard," kata Calder.
"Bagaimana kalau sang raja dan pasukannya mengepung kita dari sana? Mereka bisa menyisir dari dua arah," ucap Bear.
Calder mengangguk, "Kamu benar, Bear. Ini, adalah pertarungan terbesar kita. Kita harus melumpuhkan para bawahan Aran dulu. Ranulf, si monster itu sangat bersemangat memburu para pemberontak."
"Aku punya rencana," kata Elios.
"Katakan," ucap Calder si pemimpin.
Elios tersenyum kemudian berbisik di telinga Calder dan berhasil membuat pria itu tersenyum senang. Mereka bisa mengalahkan Aran dengan rencana yang Elios buat.
...****************...
"Kita sudah mengamankan desa-desa yang akan pemberontak itu lewati. Aku yakin sekali tujuan mereka, adalah istana," tebak Ranulf.
"Tujuan mereka memang sangat jelas. Menguasai istana, tetapi aku akan menghabisi mereka dengan tanganku sebelum menyentuh istana," ucap Aran.
"Entah rencana apalagi yang Calder buat untuk terus menyerang kita."
"Aku sangat menyesal untuk tidak memenggal kepala pria itu dan membiarkannya lolos. Aku kira dia akan tobat, tetapi malah semakin ingin menentangku," kata Aran.
Duke Calder, adalah seorang bangsawan yang menentang kerajaan Whiteland gara-gara ayah Aran menghukum mati orang tua dari Calder. Orang tua Calder di duga telah menyalahgunakan kekuasaan untuk memperkaya diri sendiri.
Pertempuran pertama, Aran melepas Calder untuk memberi kesempatan untuk pria itu menyadari kesalahannya, tetapi Calder malah tidak sadar-sadar.
"Besok kita harus mengakhiri pertempuran ini. Habisi semua pemberontak itu tanpa sisa," kata Aran.
...****************...
"Ratu, saya melihat dokter istana berkunjung ke istana bagian selatan," ucap Hulya.
"Dokter Ophelia mengunjungi istana dingin?" Jessica memandang lekat dayangnya. "Apa selir Sara sakit?"
"Mungkin saja, Ratu."
"Veronica, kamu panggil ratu Izzy kemari dan Hulya, panggil dokter Ophelia menghadapku."
"Baik, Yang Mulia," ucap serempak para dayang.
Jessica tersenyum sinis setelah kepergian dua dayangnya. Ia beranjak dari duduknya menuju kusen jendela seraya memandang bagian istana selatan yang tampak dari jendela kamar.
"Meski Aran tidak mengakuinya, tetapi kamu berhasil mengalihkan pandangan suamiku, Sara. Aku tidak akan membiarkan siapa pun memiliki Aran," gumam Jessica.
Pintu ruangan dibuka. Ratu Izzy dan dayangnya masuk ke ruangan. "Salam kepada Ratu Jessica, sang rembulan kerajaan Whiteland yang tidak pernah tenggelam."
"Ratu Izzy, duduklah." Jessica melirik Veronica. "Suruh pelayan menyiapkan cemilan dan juga teh."
"Baik Ratu."
Jessica tersenyum memandang ratu kedua yang sudah cukup membaik semenjak peristiwa yang menimpanya.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Jessica.
"Seperti yang kamu lihat, aku baik. Ada apa kamu menyuruhku kemari?"
"Aku dengar Sara sedang sakit, jadi aku ingin menjenguknya bersamamu. Lagian dia selir terhormat dan sesama kekasih dari baginda, kita harus akur, kan?" ucap Jessi.
Izzy menaikan sebelah alisnya. "Tumben. Biasanya kamu tidak begini."
"Kita akan tahu keadaan Sara setelah dokter Ophelia datang."
Hulya datang membawa dokter Ophelia ke ruangan ratu Jessica. Dokter memberi salam dan mempersilakan wanita paruh baya itu untuk duduk.
"Dokter, aku dengar selir Sara tengah sakit," kata Jessica.
Ophelia tersentak, "Ha-hanya masuk angin biasa, Ratu."
"Apa kamu sudah memeriksanya dengan teliti?"
Ophelia mengangguk cepat, "Sudah dan keadaannya sudah membaik sekarang."
"Syukurlah, karena kami berdua akan menjenguknya," sahut Izzy.
"Iy-iya, Ratu," jawab Ophelia.
"Terima kasih, Dokter. Maaf karena telah memanggil dokter yang sibuk ini," ucap Jessica.
Ophelia beranjak dari duduknya, memberi salam, lalu keluar dari ruangan dengan di antar oleh Hulya.
"Bagaimana menurutmu?" tanya Jessica.
"Apa?" Izzy tidak mengerti akan pertanyaan dari Jessica.
"Kamu yakin selir Sara hanya masuk angin? Aku rasa Sara tengah mengandung. Dia sering bersama raja dan pasti ada seorang pewaris di dalan rahimnya," tebak Jessica.
"Bisa jadi." Mata Izzy berkilat marah. "Anakku dilenyapkan olehnya dan sekarang dia mengandung. Sungguh membuatku ingin menghabisinya."
"Tenang, Ratu. Saat baginda pulang, aku akan memintanya untuk terus bersamamu," kata Jessica iba.
"Terima kasih, Ratu. Saya permisi untuk kembali ke kamar."
Jessica tersenyum manis mengantar Izzy keluar dari ruangannya. Ia tersenyum sinis memandang kepergian dari istri kedua Aran itu.
"Aku tidak sabar untuk menunggu hasilnya," gumam Jessica.
...****************...
"Kalian mengantarkan kami makanan lagi?" tanya Esme heran.
"Astaga, Esme! Kami ini hanya pelayan rendahan. Disuruh antar, maka kami akan lakukan. Jika tidak disuruh, maka kami akan diam saja," jawab sang pelayan wanita yang kemarin mengantar makanan untuk mereka.
"Aku aneh saja. Kalian bilang jatah kami untuk tiga hari ke depan, dan hari ini kalian mengantar lagi."
"Kami juga tidak tahu. Istana utama mengatakan untuk mengantarkan kalian makanan, maka kami lakukan. Kalian mau terima atau tidak?" tanya pelayan satunya.
"Ambil saja, Esme. Makanan ini untuk persediaan saja," kata Lily.
Esme mengangguk, "Baiklah, kami menerimanya. Terima kasih."
Dua pelayan itu pergi setelah menyerahkan sekeranjang buah, roti serta daging asap. Esme dan Lily tersenyum karena mereka mendapatkan aneka buah hari ini.
"Lihat, Putri. Ada buah anggur, apel, roti dan juga daging asap. Putri mau yang mana?" tanya Esme.
"Berikan aku roti campur daging. Aku sangat lapar melihatnya," kata Sara.
Esme mengangguk, lalu menyiapkan makanan yang diminta Sara, tetapi Lily menahan gerakan dari rekannya itu.
"Kenapa?" tanya Esme.
"Maafkan atas kelancangan saya, Putri. Makanan ini harus diperiksa dulu," kata Lily.
Sara tertawa, "Aku bukan raja, Lily. Tidak akan ada yang ingin melenyapkanku."
"Tidak, Sara. Makanan ini memang harus diperiksa," kata Esme.
"Biar aku yang periksa," sahut Lily, lalu mencubit sedikit roti dan daging asap itu kemudian memakannya. "Aku rasa tidak ada racun."
"Apa aku boleh memakannya?" tanya Sara.
Esme dan Lily mengangguk, "Boleh."
Sara mengulurkan tangan untuk mengambil roti dari tangan Esme. Ia memang memimpikan daging asap sebagai menu makan siangnya, dan syukurlah keinginannya itu sampai.
"Rasanya benar-benar enak," kata Sara.
"Makan yang banyak agar kandunganmu sehat," kata Lily.
"Kalian makan juga. Makanan ini sangat banyak. Aku tidak akan bisa menghabiskannya."
"Kami tidak akan segan," sahut Esme dan Lily.
Bersambung
Krn istana bukan cuma rumah utk suami, istri dan anak, tp ada bnyk kehidupan didalamnya yg saling menjatuhkan utk bertahan hidup
Jessica juga yg jadi penyebab kematian ibunya sara