Erika yang polos dan miskin jatuh cinta pada Evans, lelaki tampan dan kaya, lelaki yang sangat diidam-idamkan banyak wanita.
Mencintai Evans sama seperti menggenggam mata pisau, semakin menggenggamnya erat semakin berdarah-darahlah yang kamu rasakan.
Rasa kecewa dan sakit hati, itulah yang dirasakan Erika sejak bersama Evans. Tapi Erika tidak mampu melepaskan lelaki itu.
Mampukah Erika meraih hati Evans sepenuhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sun Shine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Suka
Visual Erika 👆
Evans menangkup wajah Erika menempelkan bibirnya ke bibir Erika dengan erat. Hanya menempelkan saja.
"Mmmhhh.. mmmhhh!" Erika panik sendiri, berupaya mendorong tangan Evans dari wajahnya. Kecupan itu benar-benar singkat karena Evans segera melepasnya.
Erika terkejut. Matanya melotot pada Evans. Evans tersenyum melihat ekspresi Erika.
"Ngapain kalian?" Sontak mereka melihat ke sumber suara. Petugas kesehatan menatap tajam pada mereka.
"Kalau mau ciuman di luar! Jangan di sini!" tukas petugas itu.
"Maaf, Bu. Lepas kontrol," jawab Evans ringan.
"Apa-apaan Kak Evans?" Erika menganga mendengar ucapan Evans.
Petugas kesehatan tidak menggubris perkataan Evans. Tetapi matanya beralih pada Erika. "Bagaimana keadaanmu? Apa kepalamu pusing?" tanya petugas kesehatan.
"Sudah tidak lagi, Bu," jawab Erika dengan wajah masih memerah menahan malu.
"Ya sudah, kalau sudah merasa enakan, keluarlah. Jangan pacaran di sini," ucap petugas itu sedikit ketus.
"Baik, Bu." Evans menarik tangan Erika, menuntunnya untuk segera turun dari tempat tidur.
"Terimakasih, Bu," ucap Erika singkat sambil menunduk.
"Sama-sama." Petugas kesehatan menghela nafas.
"Hmmm... Dasar anak muda zaman now! Malangnya nasibku yang janda ini.. Hiks."
Evans dan Erika bergegas ke luar. Evans masih memegang erat tangan Erika.
"Kak Evans." Tanpa menyahuti, Evans tetap menarik tangan Erika.
"Kak Evans, kita mau ke mana?" tanya Erika kemudian.
Mereka terus berjalan sampai akhirnya menuju kantin.
"Kenapa ke sini, Kak?"
"Mungkin kamu lapar makanya pingsan. Aku pesankan makanan yang lunak ya, Erika?" tawar Evans. Erika mengangguk. Suara Evans terdengar lembut membuat hati Erika bergetar.
Mereka makan bersama. Erika makan pelan-pelan sementara Evans hanya memperhatikan Erika.
"Kamu kurusan, Erika." Erika menatap Evans.
Tanpa menanggapinya, Erika malah bertanya, "Kenapa tadi Kakak menciumku?"
"Apa kamu marah?" Evans bertanya balik.
"Aku butuh penjelasan, Kak."
"Habiskan dulu makananmu. Nanti kita bicara." Erika cepat-cepat memakan makanannya. Tanpa dia sadari, dia lebih bersemangat
"Pelan-pelan makannya, Erika. Lambungmu kan masih lemah."
"Eum, iya Kak."
Sebenarnya, apa yang terjadi? Sekarang mereka malah makan bersama. Kenapa keadaan berubah-ubah begitu cepat? Erika masih tidak paham untuk semua ini. Bukankah Evans membencinya? Bahkan dia berpacaran dengan Anna saat ini. Aahh! Erika baru kepikiran, Anna bisa marah besar kalau melihatnya bersama dengan Evans. Erika pun semakin buru-buru menghabiskan makanannya.
"Kak, jelaskan sekarang."
"Minum dulu teh herbalnya, Erika. Ini baik untuk lambungmu." Evans mendekatkan secangkir teh herbal yang baru saja dia pesan.
"Iya masih panas, Kak. Jelaskan dulu."
Evans memandang Erika beberapa saat.
"Aku suka kamu, Erika."
Deg!! Kata-kata itu meluncur dengan hangat dari bibir Evans.
"Apa?" Suara Erika terdengar pelan. Dia masih mencerna kata-kata Evans yang singkat itu.
"Minumlah. Mumpung masih hangat," ucap Evans kembali. Erika meminum teh itu beberapa teguk mana tahu bisa mengurangi detak jantungnya yang saat ini berjalan dengan lebih cepat. Erika diam sejenak. Lalu berbicara kembali, mengerahkan seluruh keberaniannya untuk menyinggung sesuatu yang kemungkinan besar memancing kemarahan Evans, karena mungkin hanya alasan itulah makanya mereka putus saat itu.
"Bukankah Kakak membenciku karena beberapa bulan yang lalu sewaktu menciumku, Kak Evans langsung dipukul sama Kak Danish?" Erika mengucapkannya lambat dan terdengar hati-hati. Evans sedikit mengerutkan kening. Sebenarnya dia tidak suka Erika menyinggung pria itu. Tetapi dia berupaya menjaga ekspresinya sebelum menjawab Erika.
Bersambung..
Visual Evans👆
Klik Like 😉