Giwang gadis desa yang menikah dengan pujaan hatinya, tapi dia di tinggalkan suaminya setelah tujuh hari menikah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anita Rachman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Giwang membersihkan semua peralatan dapur sembari memperhatikan para koki memasak di dapur. Dengan cepat Giwang mengingat bahan-bahan yang di gunakan untuk setiap menu.
"Aku akan mencobanya di rumah," gumam Giwang senang. Dia senang bekerja di Restoran Zero selain mendapatkan makanan yang mewah para pekerja di Restoran sangat ramah. Tapi ada satu wanita yang sangat bersikap dingin kepadanya yaitu Lusi manajer Restoran Zero.
Lusi menghampiri Giwang yang sedang makan. "Hei anak baru," ujar Lusi.
"Iya Bu," sahut Giwang sembari mendekat.
"Jangan pernah dekati atau menaruh hati dengan Chef Robi," bisik Lusi.
Giwang mengerutkan dahinya memandang wanita di depannya. Dia tidak mengerti maksud Lusi.
"Iya," sahut Giwang tanpa mau menanyakan maksud dari ucapan wanita itu.
Giwang kembali duduk dan makan dengan para pelayan. "Jangan hiraukan omongannya," bisik salah satu pelayan wanita.
"Aku enggak mengerti, kenapa Ibu Lusi mengatakan jangan dekati Chef Robi, maksudnya apa coba?" tanya Giwang bingung.
Pelayan wanita itu tersenyum. "Dia itu ngebet banget dengan Chef Robi tapi Chef Robi terlalu cuek dan tidak menghiraukannya dan sekarang kamu hadir jadi dia merasa kamu saingannya," jelas pelayan itu.
"Aku saingannya?" tanya Giwang tidak percaya. Pelayan wanita itu menganggukkan kepalanya.
"Jangan ngaco, aku dan dia beda status sosial. Aku tidak sebanding dengannya, dia kaya dan aku miskin," ujar Giwang.
"Tapi kamu cantik," sahut pelayan itu. Giwang diam.
Apa benar aku cantik? Kalau aku cantik kenapa Mas Agung meninggalkanku.
Giwang teringat tentang suaminya. "Hei jangan melamun ayo cepat makan. Kalau malam Restoran ini akan penuh dan siapkan energi mu," ujar pelayan itu.
Giwang tersenyum dia menikmati makanan itu. Makanan yang sangat lezat menurutnya dan dari jauh ada yang terus memperhatikannya yang bukan lain adalah pemilik Restoran Chef Robi.
Jam enam sore pelayan dan para koki mulai sibuk. Restoran mulai di penuhi pengunjung. Giwang juga terlihat sibuk membersihkan peralatan masak yang hanya bisa di cuci dengan tangan, tapi mata dan pikirannya terus bekerja mencoba mengingat bahan dari setiap menu.
Adlan masuk ke dalam Restoran. Selalu makan di Restoran sepupunya. Dia duduk di tempat biasa dan memesan menu yang selalu menjadi favoritnya. Adlan menunggu makannya di siapkan, dia ingin ke dapur tapi Lusi menahannya.
"Maaf Pak, jangan masuk ke dapur, tim kami sedang sangat sibuk, nanti akan saya bilang ke Chef Robi kalau Bapak ingin menemuinya," ujar Lusi.
"Baiklah," Adlan kembali duduk di kursinya. Lusi ke dapur dan menuju ruangan Chef Robi.
"Chef, ada Pak Adlan di depan tadi dia ingin masuk tapi saya larang, karena takut mengganggu konsentrasi para tim," ujarnya.
Chef Robi menganggukkan kepalanya dan berjalan keluar dari ruangannya. Dia berhenti sebentar dan melihat Giwang yang sedang sibuk mencuci. Dan semua itu di perhatikan Lusi. Chef Robi ingin mendekati Giwang.
"Chef ayo," Lusi sengaja mengalihkan pria itu agar tidak mendekati Giwang.
Chef Robi mengikuti Lusi menuju bagian depan Restoran. Chef Robi menyapa semua pengunjung Restoran setelah menyapa semua pengunjung, dia duduk di depan sepupunya.
Adlan terlihat sedang menikmati makanannya. "Sampai kapan kamu makan di luar?" tanya Chef Robi.
"Sampai aku mempunyai istri," sahut Adlan.
"Ya sudah menikah," ujar Chef Robi.
"Menikah dengan siapa?" tanya Adlan balik.
"Menikah dengan pilihan Tante," sahut Chef Robi.
"Ha ha ha," Adlan tertawa.
"Aku tidak menyukai perjodohan," sahutnya sembari menatap sepupunya. "Kenapa kamu saja yang tidak menikah?" tanya Adlan balik.
Chef Robi tersenyum. "Apa arti senyuman itu?" tanya Adlan penasaran. "Apa kamu sudah menyukai seorang gadis?" tanya Adlan balik.
"Aku tidak tau, tapi aku tertarik dengan gadis itu," sahut Chef Robi.
Adlan menganggukkan kepalanya sembari tersenyum. "Siapa gadis itu?" tanya Adlan penasaran.
Chef Robi hanya tersenyum. "Aku baru bertemu dengannya hari ini dan aku langsung tertarik dengannya," ujar Chef Robi.
"Wow hebat, aku penasaran dengan gadismu," ujar Adlan.
"Lupakan tentang aku," Chef Robi menatap sepupunya dengan lekat. "Apa kamu belum melupakan Veronica?" tanyanya.
"Aku memang pernah susah move on dari almarhumah Veronica tapi semenjak aku melihat gadis itu aku mulai bisa melupakan Veronica," jelasnya.
"Hebat juga gadismu," ujar Chef Robi.
"Bukan gadisku, aku belum mengenalnya bahkan belum pernah berbicara dengannya," sahut Adlan.
"Hah!" Chef Robi heran dan tidak percaya. "Apa kamu hanya melihatnya sekali dan langsung tertarik?" tanya sepupunya.
"Sepertinya bukan sekali aku bertemunya dengannya. Mungkin ada beberapa kali tapi aku lupa kapan bertemu dengannya dan terakhir aku melihatnya kemarin ketika mau menyeberang," ujarnya membayangkan gadis yang terus mengisi kepalanya.
"Mungkin dia jodohmu," ujar Chef Robi.
"Mungkin juga gadis yang kamu maksud jodohmu," sahut Adlan.
Chef Robi hanya tersenyum. Dia ingin mengenal sosok Giwang lebih dekat. Sedangkan Adlan masih saja mencari gadis misterius itu yang kenyataannya telah ada di dekatnya dan dia tidak mengetahui itu.
Jam sepuluh malam Restoran telah tutup para pekerja mulai pulang. Tapi Giwang masih harus membersihkan dapur seorang diri.
"Giwang," ujar Chef Robi.
"Iya Chef," sahut Giwang.
"Ini sudah malam pulanglah," ujar Chef Robi.
"Iya sebentar lagi," sahut Giwang sembari membersihkan dapur. Dan dia melihat makanan di atas meja.
"Apa ini mau di buang?" tanya Giwang.
"Iya buang saja, besok sudah tidak layak di sajikan untuk pengunjung," sahut Chef Robi.
"Hem, boleh saya bawa pulang mubazir kalau di buang," ujar Giwang.
"Bawa saja semuanya."
Giwang senang, dia dapat memberikan makanan lezat untuk Ibu Ima.
"Chef tidak pulang?" tanya Giwang.
"Saya tinggal di sini tepatnya di lantai atas," sahut Chef Robi.
Giwang menganggukkan kepalanya. "Saya permisi terima kasih banyak," ujarnya pamit dan berlalu.
"Tunggu!" teriak Chef Robi.
"Saya akan mengantarkan kamu pulang," ujar Chef Robi.
Giwang teringat pesan Lusi. "Enggak usah terima kasih, Chef sudah sangat baik saya tidak mau berutang budi," ujar Giwang menolak.
"Tidak Giwang, ini sudah malam di luar banyak orang jahat," Chef Robi kekeh ingin mengantar Giwang.
"Jangan khawatir Chef, saya sudah membawa alat pengejut listrik," ujar Giwang sembari menunjukkan alat itu.
"Apa kamu yakin tidak mau di antar?" tanya Chef Robi lagi.
Giwang menganggukkan kepalanya. Dia segera pamit pulang. Menunggu bus di halte seorang diri dan harus waspada jika ada pria jahat mendekatinya.
Giwang sampai di rumah hampir jam sebelas malam. "Ya ampun nak kenapa lama banget," ujar Ibu Ima khawatir.
"Aku lupa menghubungi Ibu, kalau aku di terima bekerja di Restoran termahal di kota ini," ujarnya.
"Alhamdulillah," Ibu Ima memeluk Giwang.
Giwang menyebutkan gaji yang di dapatnya. "Tapi Ibu takut kalau kamu pulang malam setiap hari," ujar Ibu Ima khawatir.
"Aku hanya minta doa sama Ibu, semoga aku selalu di lindungi dan semoga dengan bekerja di sana ilmu ku tentang kuliner bertambah," ujar Giwang dan menyerahkan sebungkus makanan yang di bawanya dari Restoran.
Ibu Ima mencoba mencicipi makanan itu. "Enak banget," ujar Ibu Ima.
"Iya Bu, semua makanan di sana lezat dan harganya tidak ada di bawah dua juta," sahut Giwang.
"Waduh masaknya pakai apa sampai harga satu menu di atas satu juta," ujar Ibu Ima ngeri membayangkan kehidupan orang kaya.
Giwang meninggalkan Ibu Ima yang sedang menikmati makanannya. Dia menghampiri malaikat kecilnya.
"Sayang maafkan Ibu ya," ujarnya sembari menciumi anaknya. "Ibu harus bekerja semuanya Ibu lakukan untuk kita," Giwang mengajak bayinya berbicara, padahal anaknya tidak mengerti yang diucapkannya. Dia ingin menebus waktunya yang hilang dengan berkomunikasi dengan anaknya.
Bersambung...
Follow Instagram : anita_rachman83
seputar novel hanya di info di instagram tidak ada di grup.
🌷🌷
Plagiarisme melanggar Undang-undang Hak Cipta Nomor 28 Tahun 2014!