Abiyasha Harsha Pranacipta kehilangan ingatannya lima tahun lalu karena sebuah insiden kecelakaan hebat. Selama itu pula ia berusaha mengembalikan ingatannya mengenai wanita yang selalu muncul dalam mimpi buruknya.
Yasmine Abichara, seorang sekretaris direktur baru sebuah perusahaan besar di Jakarta merasa kaget ketika mengetahui bosnya adalah pria dimasa lalu yang ingin ia lupakan. Timbulnya benih-benih cinta di hati Yasmine membuatnya bertanya-tanya, mampukah ia mencintai Abiyasha saat pria itu memiliki hubungan erat dengan masa lalunya? Dan bagaimana hubungannya dengan Rio saat Yasmine tahu sejak awal tidak ada cinta untuk pria itu sedikitpun?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuanitaaw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
|Bagian 21|
Amara tersenyum puas dari balik pelukan Abiyasha. Ia menyadari kalau hal-hal semacam itu benar-benar membantunya banyak. Amara bukan hanya ahli dalam berhias. Tapi ia juga pandai memanipulasi orang lain. Hingga Abiyasha pun ikut dalam permainannya. Amara tidak menyukai Yasmine dan menganggap kalau wanita itu adalah penghalang baginya untuk mendekati Abiyasha. Sebuah hama yang harus secepatnya dibasmi.
Ia senang ketika melihat ekspresi wanita itu melemah di hadapannya. Ini adalah peringatan untuk Yasmine agar wanita itu tidak beranggapan kalau dirinya dan Amara sederajat. Wanita itu tidak bisa dibandingkan bahkan dengan ujung kukunya sekalipun.
"Kakimu masih sakit?" tanya Abiyasha begitu mereka memasuki mobil. Ronald yang duduk dan mengemudi di depan tidak menunjukkan tanda-tanda ingin ikut campur.
Amara mengangguk pelan. "Ya, rasanya seperti tulang kakiku mau copot saja. Antarkan aku pulang, Bi."
"Pulang? Kau harus ke rumah sakit, Amara!" kata Abiyasha. "Ron, kita ke rumah sakit sekarang."
Mendengar hal itu, Amara menjadi gugup dan ketakutan. Bagaimana kalau Abiyasha tahu semuanya? "Tidak-tidak. Aku tidak mau ke rumah sakit!" Amara menggelengkan kepalanya. "Aku akan mendapatkan perawatan di rumah saja. Kau cukup antarkan aku pulang dan kembalilah ke kantormu!"
Abiyasha melirik jam tangannya. Lima menit lagi meeting akan dilaksanakan di auditorium. Ia harus berusaha agar tepat waktu. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi kalau dirinya terlambat.
"Kau yakin?"
"Ya."
Pandangannya menerawang mengingat Yasmine yang ketakutan. Wanita itu pasti syok karena Amara memarahinya sedemikian rupa. Padahal tabrakan adalah hal yang tidak disengaja. Pasti wanita itu juga merasakan sakit yang sama seperti yang dirasakan Amara.
Amara sangat berlebihan tadi. Abiyasha harus bicara pada Yasmine nanti dan bertanya apakah ia baik-baik saja atau tidak.
...***...
Yasmine menatap banyak orang di ruang auditorium. Terdiri dari beberapa petinggi perusahaan. Semuanya menunggu sang Direktur Utama untuk mempresentasikan pencapaian perusahaan bulan lalu. Tentu saja hal ini sangat mempengaruhi datangnya investor yang akan menanamkan modal pada perusahaannya. Tapi bagaimana rapat bisa berjalan ketika Abiyasha bahkan tidak ada di tempat?
Lima belas menit menunggu tanpa adanya tanda-tanda kehadiran Abiyasha. Yasmine bertanya-tanya di mana dia? Apa yang sedang pria itu lakukan ketika bersama Amara sampai melupakan meeting bulanan ini. Bahkan semua orang yang menunggu Abiyasha sudah mulai berbisik-bisik karena terlalu lama menunggu
Yasmine mencoba menghubungi Abiyasha. Ponselnya mati. Ia menatap laptop berisi presentasi yang sudah ia siapkan di atas meja podium. Ia meringis ketika melihat siku tangannya berdarah. Tapi Yasmine tidak punya waktu untuk menahan mereka lebih lama lagi. Ia tidak ingin Abiyasha dipermalukan atau dianggap sebagai pemimpin yang tidak kompeten dalam perusahaan.
Yasmine mendekati Maya yang juga berdiri kaku di belakang ruangan. Maya juga terlihat kebingungan.
"Maya, bisa tolong ambilkan jasku pada gantungan mantel di ruangan Pak Abiyasha?"
Maya menatapnya heran. Lalu wanita itu mengangguk. Selang semenit kemudian, Maya datang dengan tergopoh-gopoh sembari membawa jas gelapnya. Wanita itu menatapnya dengan penuh tanda tanya ketika Yasmine memakainya dengan cepat. "Apa yang akan anda lakukan?" Tanya Maya.
"Aku harus melakukan presentasinya. Aku tidak bisa menunda lebih lama lagi!" kata Yasmine mantap. Meskipun dalam hatinya ia memiliki ketakutan menghadapi semua orang di depan sana.
"Bagaimana kalau ada kesalahan? Apa anda tidak mau menunggu sampai Pak Biyash datang?" Maya memegangi tangan Yasmine. Seolah melarangnya untuk maju dan melakukan presentasi.
"Sampai kapan kita harus menunggunya? Dia tidak bisa datang hari ini, Maya. Aku tidak bisa membiarkan orang-orang itu menggunjing Pak Abi dan menjelek-jelekkannya." Yasmine menatap podium sekali lagi. "Aku tidak tahu apakah presentasiku akan berjalan baik atau tidak. Tapi aku akan melakukannya. Apapun yang terjadi nanti, aku akan menanggung semua konsekuensinya."
"Tapi..."
"Tidak ada tapi. Aku akan maju sekarang!"
Yasmine maju dengan langkah lebar-lebar. Kepercayaan dirinya sedikit menguap ketika seseorang terang-terang menanyakan siapa dirinya dan kenapa ia bisa mengambil alih meeting bulanan yang membahas tentang kemajuan perusahaan selama sebulan ini.
"Selamat siang..." sapa Yasmine gugup. Ia menarik napas panjang. Kegugupannya tidak akan mengubah apapun. Tekadnya lah yang harus merubah kesempitan menjadi sebuah peluang hari ini. "Saya akan memimpin jalannya rapat pada siang hari ini."
Suara gaduh dan berisik memenuhi seantero ruang rapat yang berisikan sekitar dua ratus orang. Yasmine menarik napas lagi dan menyadari kalau luka pada sikunya memang menyakitkan. Tapi ia tidak bisa berhenti di sini.
Yasmine menatap presentasinya. Lalu tanpa basa-basi ia mengambil alih semua pandangan agar tertuju padanya. "Baik, langsung saja, saya akan mulai pada slide pertama."
...***...
Abiyasha menurunkan Amara di tempat tidurnya. Wanita itu mengernyit sakit ketika Abiyasha mendudukkan wanita itu.
Amara tersenyum simpul menatap Abiyasha yang bersikap lembut padanya. Bahkan meskipun langit terbelah menjadi dua pria itu tidak akan pernah meliriknya. Tapi hari ini berbeda. Abiyasha bersedia mengantarnya pulang. Amara tidak menyesal atas apa yang ia lakukan barusan. Bahkan ia bersedia melakukannya setiap hari asalkan Abiyasha selalu di sampingnya.
"Aku akan menelepon Dokter. Agar kau bisa di rawat di rumah. Sekarang aku harus pergi. Kau baik-baik saja, kan?" tanya Abiyasha.
Kebaikan Abiyasha membuat Amara menginginkan sesuatu yang lebih. Amara mengakui kalau dirinya sudah serakah karena berpikiran semacam itu. Tapi hari ini ia tidak akan membiarkan pria itu pulang dengan mudah.
"Bi, kau tidak mau menemaniku sebentar saja?" tanya Amara. "Hanya ada kita berdua saat ini. Kau tidak mau—"
Abiyasha mengernyit. "Apa maksudmu? Aku tidak mengerti!"
Amara meraih tangan Abi, lalu meremasnya lembut. Nadanya berubah sensual. "Apa kau tidak ingin menghabiskan hari ini bersamaku? Toh sebentar lagi kita akan bertunangan."
Abiyasha mengernyit. Lalu ketika ia memahami apa yang Amara katakan, pria itu tersenyum miring. "Begitu ya? Jadi kau ingin aku menghabiskan hari denganmu?"
Bak gayung bersambut, Amara tersenyum lebar ketika Abiyasha duduk di samping wanita itu begitu rapat. Abiyasha mendekatkan wajahnya pada Amara dan wanita itu menunggu dengan sepenuh hati.
Mata Abiyasha menggelap. Hanya satu senti sebelum bibir mereka bersentuhan. Abiyasha menghentikannya. "Sayangnya aku tidak berniat melakukannya, Amara!"
Senyum Amara memudar. Tubuhnya kaku. Ia mendapat penolakan semacam itu secara terang-terangan. Masih belum pulih dari keterkejutannya, Amara hanya bisa menganga. "Apa maksud...mu?"
Abiyasha buru-buru bangun dari tempatnya. Pria itu mundur dan menatap Amara dengan tatapan dingin. "Apa kau berpikir kalau aku akan menghabiskan waktu denganmu dan merendahkan diriku sendiri? Kau salah. Aku tidak akan pernah melakukannya!"
Amara menatap pria itu kaget.
"Kuanggap hal ini tidak pernah terjadi. Aku harus kembali ke kantor. Klienku menunggu. Kau pasti bisa mengurus dirimu sendiri, kan, Amara?" Setelah mengatakan itu, Abiyasha membalikkan badan, keluar dari kamar, dan menutup pintu dengan keras.
Amara merasa tertolak. Harga dirinya terasa hancur lebur tak bersisa. Kali ini ia gagal lagi. Tapi dirinya tidak akan pernah menyerah. Abiyasha harus membayar apa yang baru saja ia lakukan. Kalau perlu harus mencium kakinya suatu hari.
Wanita itu turun dari tempat tidurnya, lalu berjalan santai menuju jendela. Tidak ada indikasi yang menunjukkan kalau kaki wanita itu sakit atau kesleo. Ia berjalan dengan normal. Pandangan wanita itu menerawang.
"Kau lihat saja. Aku akan mendapatkanmu!" kata Amara tersenyum licik.
...***...
...Bab ini kupersembahkan untukmu, yang sedang kudoakan setiap langkahnya....
...IG : @_yuanitaaw...
Dulu aku punya keinginan menulis biografi (kisah hidupku pribadi)...pengen berbagi pengalaman & pembelajaran hidup.... tapi.... sulit.... mo mulai darimana.... makanya salut sama novelis2 sptmu....yg bisa menuangkan ide secara bebas....meski mungkin sambil merasa tertekan yaa.... tipa hari kayak yg dikejar2 biar bisa up.... hahaha...
semangat Yuanita....
bikin gemezzzz deh.....😣😣😣😣